
"Berani sekali manusia Rendahan seperti kalian melukai dewa!!! " Dengan muka merah padam Indra berusaha menahan Rasa sakit.
"Ahhh, maaf soal itu, tangan ku sedikit terpeleset tadi" balas rudolf dengan santai, Kemudian mengambil Sapu tangan untuk mengelap Noda darah di pedangnya, Rudolf adalah orang yang sangat pembersih.
"Cihhhh, Kalian seperti sampah yang terus berdatangan..... ThunderStrom!! "
Tiba tiba angin Bertiup dengan kencang nya, Menciptakan Sebuah angin Tornado yang selimuti Badai petir.
Awan Gelap terus berkerumun membuat hari seperti malam yang datang lebih awal.
semua penduduk kota dapat merasakan bahwa sedang terjadi badai besar, bahkan jika Nightmare sudah membuat ilusi yang menutupi seluruh kota.
Blaaarrrr!!!!
Kilatan petir yang mengamuk langsung menyambar.
sebuah Lubang kegelapan muncul menyerap Sambaran petir tersebut.
Rufolf mengunakan Skill blackhole yang mampu menciptakan Lubang Hitam. meskipun ukuran nya masih sangat kecil.
"Bagaimana Bisa manusia seperti mu, memiliki sihir Lubang hitam?!! " Indra terus mengamuk membuat Badai petir berputar semakin dahsyat. bahkan sambaran petir nya menyambar ke berbagai Area, membuat Banyak Gedung dan bangunan terbakar.
"Kau mengaku dewa tapi membuat kerusakan di bumi, kau sama tidak hal seekor Monster " Rudolf mengacung kan pedangnya ke arah indra.
__ADS_1
Indra mengeram Merasa dirinya begitu dihina habis habisan.
"aku tidak peduli jika aku dewa atau monster selagi bisa membunuh kalian semua sudah Cukup bagi ku" Indra telah hilang penuh atas kontrol kekuatan nya dan menciptakan Badai yang semakin besar, bisa di pastikan dalam satu kali sambaran kota langsung hancur jadi abu.
"Tampaknya Tidak ada cara lain lagi, Jubah kegelapan!! " Bayangan Hitam keluar dan menyelimuti Tubuh rudolf membuat tubuh nya sekeras baja, mata nya bersinar kebiruan. Hingga ujung mata pedangnya menjadi hitam.
Skill elemental kegelapan, Menyerap Cahaya.
Rudolf memasuki Mode terkuat nya, Jubah kegelapan.
"Kakak Kumohon hentikan semua ini!!! " Ashura tiba tiba muncul sambil berteriak kearah indra.
"Ashura? " Indra melihat kearah ashura meskipun sedikit demi sedikit kesadaran nya mulai menghilang.
"Hentikan semua ini kakak, Kumohon. Jika kau datang kesini untuk menjemput ku, maka aku akan menuruti keinginan mu!! " Ucap ashura setitik air matanya membasahi pipinya.
"Hahh?, Adikku kau masih saja lemah seperti dulu, Hahahaha buat apa aku membawa mu kembali, Dewi lemah seperti mu tidak pantas menginjak kaki di alam para dewa, Aku bisa membunuh mu sekarang juga!!!, HAHHAHAHA!? " Tubuh indra sudah kehilangan kesadaran nya.
"Jangan sakiti mereka lagi kakak_
ashura memandangi semua orang, tiffany, kumba, lightmare, nightmare, dan pria tua yang tidak dikenalnya ( Rudolf).
"Sejak dulu kau selalu takut pada ku Ashura, kenapa kau terus menjadi sepengecut ini ha? "
__ADS_1
Tubuh ashura gemetar ketakutan, Meskipun bisa jadi ashura lebih kuat dari indra, Namun rasa takut yang menyelimuti Ashura sejak dulu tidak bisa hilang.
"Jadi biar Ayah senang, aku akan membunuh mu dan membawakan mayat mu pada ibu mu" Dengan senyuman jahat, Indra melontarkan Tombak petir kearah Ashura.
Ashura hanya terdiam, Dirinya memang sangat pengecut tidak sanggup menghadapi kakaknya yanh selalu membulinya sejak dulu.
"Ashura!!, Awasss!!, pergi dari sana!! " Semua orang memperingati Ashura.
Rudolf berusaha secepat mungkin untuk bisa menyelamatkan ashura.
STASSHHH!!!
Tombak petir tersebut Berhasil ditangkis.
"Kau bukanlah pengecut Ashura!! " Teriak Pria yang datang menyelamatkan ashura, Tubuh di selimuti Petir biru, rambut peraknya terangkat seperti terbang kesana kemari, karena aliran listrik statis yang ada di tubuhnya.
"Kau itu kuat ashura, Di dunia yang seperti ini membutuhkan Wanita kuat seperti dirimu"
Mata ashura berkaca kaca merasa bahagia mendengar perkataan pria yang baru saja menyelamatkan nya.
"Jadi menikahlah dengan ku sekarang!!" Teriak Rei dengan penuh semangat, menghancurkan momen romantis yang baru saja dia ciptakan.
"Tentu saja aku tidak mau, Dasar Rei Bodoh!! " Ashura menonjok Rei hingga terpental, Wajah ashura memerah malu, padahal dia sudah merasakan sedikit bahagia.
__ADS_1