I'M BACK FROM NIRVANA

I'M BACK FROM NIRVANA
Chpt - 22.300 Rencana Pembunuhan


__ADS_3

Rudolf berhasil membawa tasya kembali dengan selamat, kediaman Tessia langsung menyambut kedatangan Rudolf dengan penuh syukur, Nona Tasya berhasil di selamat kan.


Namun ke khawatir Tessia menyelimuti dirinya, Ketika tidak melihat Said bersama mereka, Apakah Said baik baik saja?, Itu lah yang dipikirkan oleh Tessia.


Para ajudan langsung mempersiapkan kedatangan tersebut dari memperketat kembali penjagaan, Dan mengecek kembali kamar nona Tasya.


Roger......


Aman terkendali....


Tasya segera dibawa ke kasur miliknya, Lalu dibaringkan diatasnya, Tubuhnya tampak dingin. Memar diwajah nya membuat siapa saja yang melihat nya ikut bersedih, Mengapa wanita malang tersebut mengalami kejadian seperti ini.


Penghangat ruangan bernyala, Menghangatkan ruangan di barengi dengan aroma terapi herbal.


Bagi seorang ibu seperti Tessia, Sungguh sangat disayangkan peristiwa tersebut dialami oleh putrinya, Siapa juga yang mau putri tercinta nya diculik lalu disekap, kemudian dibunuh.


Sesekali Tessia menanyakn keadaan Said kepada Rudolf, Dan Rudolf meyakinkan bahwa Said pasti akan baik baik saja.


2 jam kemudian........


Mimpi buruk, Siapa juga yang menginginkan nya, Rasa takut akan kegelapan ruangan sempit membuat seseorang takut akannya.


Tasya dalam tidur nya bermimpi buruk, Rintihan ketakutan terdengar, Air matanya mulai mengalir, kenangan lamanya juga ikut masuk kedalam mimpi tersebut.


"Arggggghhhhhhh!!!!!!!" Teriak Tasya yang kemudian terbangun dari tidur nya.


Semua orang ketakutan, Tessia langsung memeluk erat Tasya kemudian menangis.


"Ibuuuu Ak- kuu S- angat Ta- kut Bu..!!" Tasya menangis sekencang mungkin dipelukan ibunya.


"Syukurlah kau baik baik saja Tasya" Tessia mengelus kepala Tasya dengan lembut, kedua nya saling menangis.


Semua yang melihat merasa lega.


Tiffany kemudian mendekat dan naik keatas kasur.


"kakak, Apakah kau baik baik saja?." Ujar Tiffany memegang ujung baju Tasya.


Meskipun dalam keadaan yang sulit untuk berbicara Tasya hanya mengangguk dan memegang wajah Tiffany.

__ADS_1


Pelayan kemudian masuk membawakan makanan, Sebuah bubur hangat.


Tessia mengambil bubur tersebut, Lalu menyuapi Tasya, Tiffany pun ikut minta disuapin meskipun bubur tersebut milik kakaknya.


keadaan sangat tenang untuk sesaat, Hingga matahari terbit dengan terangnya.


Namun wajah khawatir Tessia tidaklah dapat disembunyikan, Said sedari tadi belum kembali.


Mengapa Tessia begitu khawatir kepada Said, Apakah dirinya bersalah memaksa kan kehendaknya kepada Said.


"Ibu kenapa? Wajah mu terlihat sangat cemas, Bukankah aku sekarang baik baik saja bu, Tidak perlu khawatir" Ucap Tasya setelah menerima suapan ibunya.


Tessia hendak menjawab lalu.


"Tentu saja ibu keliatan cemas, Kakak Said sedari tadi belum kembali, Ano - ne kakak Said juga ikut menyelamatkan kakak tadi malam" Ucap Tiffany dengan polosnya, Tanpa melihat sekitar.


"Apa...?!!, Said? Ikut menyelamatkan ku, Gak mungkin kan lagi pula dia hanya pecundang membunuh semut pun tak sanggup" Tasya sangat tidak percaya dengan ucapan Tiffany.


Tessia hanya diam.


"Kenapa kakak gak percaya sihh, Kakak Said itu hebat lho" Balas Tiffany tidak terima.


"Heehhhh, Mau sekali aku diselamatkan olehnya, Lebih aku tidak usah diselamatkan dari pada harus diselamatkan olehnya" Ucap Tasya dengan remehnya, Sepertinya dia sudah lupa dengan kejadian yang dialami nya.


Tessia kemudian menampar.


"Mau sampai kapan kau terus merendahkan nya, Jika bukan karena nya kau pasti sudah mati" Wajah Tessia memerah padam, Sungguh sangat disayangkan bagi seorang ibu menampar putrinya hanya demi membela orang lain.


"Ibuu?!!! Apa yang kau lakukan?, Mengapa kau selalu membela pecundang tersebut, Memangnya kenapa jika dia ikut menyelamatkan ku, Toh lihat lah dia tidak kembali lagi pula seorang pecundang ikut sama saja mencari mati" Balas Tasya dengan kesal terhadap ibunya.


Sesaat Tessia hendak menampar kembali Tasya, Namun di tahan oleh Rudolf.


"Itu tidak benar nona, Lagi pula tuan Said lah yang telah menyelamatkan nona" Ucap Rudolf.


"Paman, kenapa kau ikutan membela pecundang itu, Lihat sendiri kan kau lah yang datang menyelamatkan ku, Dan menghabiskan para penjahat tersebut." Tidak adil bagi Tasya rasanya.


"Bukan saya melakukan itu nona, Tuan Said lah yang telah menghabisi mereka semua, Tugas ku hanya membawa nona kembali, Sedangkan Tuan Said yang membereskan pengganggu tersebut, Asal nona tau tuan Said lebih kuat dari saya" Balas Rudolf dengan sopan, Dan menjelaskan dengan detail.


"Haa??? Sekarang kau bilang pecundang itu lebih kuat dari mu paman, Apakah kau sudah di cuci otaknya" Tasya tempak menganggap itu sebuah lelucon.

__ADS_1


Bukkk!!!


tiba tiba Tessia melemparkan semua berkas kedepan Tasya.


"Apa ini bu? " Tasya kemudian mengambil nya, Dan memeriksaknya.


Tertulis disana, Laporan rencana pembunuh.


"kau tau itu adalah laporan rencana pembunuhan yang telah digagalkan oleh said dalam waktu seminggu, Itu bukanlah sebuah kebohongan, Laporan disitu tertulis akurat bahkan para pelaku semua berhasil ditangkap oleh Said dan sekarang mereka masih dintrogasi." Tessia menjelaskan dengan tenang.


"Hehh??!! Gak mu- mung kin kan? " Tasya terkejut bahkan dirinya sangat ketakutan, Di laporan tersebut tertulis bahwa rencana pembunuhan yang telah digagal kan oleh Said tertulis sebanyak 300 rencana pembunuhan yang telah digagalkan oleh Said.


"Jadi selama ini Said melindungi ku?, Lalu mengapa aku tidak mengetahui nya? "


"Apakah nona tidak menyadari nya?" Tanya Rudolf.


"Heh? Memangnya apa itu" Tasya sangat penasaran.


"Tuan Said selama seminggu terakhir ikut berjaga dimalam hari hingga waktu fajar datang. " Ucap Rudolf


"Jadi itu sebabnya Said sering tidur dikelas? " Tasya sangat tidak percaya bahwa Said yang sering tidur di kelas itu telah terjaga semalaman hanya untuk menjaga nya.


"Ada satu hal lagi yang tidak nona sadari, Bahkan disekolah tuan Said juga berhasil menggagalkan rencana pembunuhan lainnya, Seperti ibu pemilik kantin yang memasukkan racun kedalam makanan, Lalu salah teman nona yang telah terhipnotis yang hampir saja menusuk nona dari belakang" Rudolf menjelaskan hal lainnya.


"Gak mungkin gak mungkin, Jadi itu sebabnya ibu pemilik kantin disekolah diganti lalu teman ku yang tidak masuk tanpa kabar" Tasya menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Pecundang yang selalu dia rendahkan ternyata selalu melindungi dirinya, Betapa bodohnya diri Tasya, Ujarnya dalam hati.


Pandangannya tentang Said mulai berubah.


"Lalu bagaimana keadaan Said sekarang??" Tanya Tasya.


"Saya berharap dia baik baik saja" Balas Rudol kemudian menundukkan pandangannya.


"Apa maksudnya paman?"


"Nona, Ditempat nona disekap terdapat salah seorang yang sangat berbahaya bahkan saya sendiri pasti akan kesulitan melawan nya, kemungkinan tuan Said saat ini berhadapan dengan orang tersebut yang dikenal dengan Guildmaster Assasins Sir Lancelot"


"ke- kenapa ?, Said harus melakukan ini, kenapa dia tidak menyayangi nyawanya sendiri, Kenapa???" kedua mata Tasya mulai mengalir air mata, Dirinya merasa sangat bersalah terhadap Said.

__ADS_1


Dibalik semua itu senyuman terbuka lebar, mengharapkan jika Said tidak kembali lagi.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2