
Besoknya, Rasya datang bersama seorang dokter. Itu adalah dokter yang merawat Ayah Greysie dan menjahit lukaku sebelumnya.
"Hai, emm... Lista kamu udah mendingan?" tanya Rasya. Aku mengangguk, tersenyum padanya.
Greysie dan Rasya saling sapa dengan senyuman. Sedangkan dokter Aric datang untuk memeriksa keadaanku.
"Em, kenalin ini...," melihat Aric, "temen aku namanya dr. Aric, em... dia dokter ahli bedah di rumah sakit ini" jelas Rasya pada kami.
Dokter Aric kemudian berjabat tangan dengan Greysie untuk saling memperkenal diri masing-masing.
"Salam kenal," berjabat, "emm," tersenyum, " yaa, nama aku Aric" ujar dr. Aric.
"Salam kenal," balas senyum, "Aku Greysie" ucap Greysie.
"Salam kenal," berjabat denganku, "aku Aric" ujar dr. Aric.
"Cal," senyum tipis, "lista" jawabku, lirih.
"Eh, jadi.. Aric mau ngecek keadaan kamu Lista" jelas Rasya. Aku mengangguk tersenyum tipis.
Dokter Aric mulai memeriksa lukaku, lalu mengganti perbannya. Sesekali Rasya dan Aric saling melirik satu sama lain, lalu melihat kami.
Suasana ruangan nampak sunyi senyap seakan ada ketegangan antara aku dan Greysie. Sementara itu, Aric yang sedang mengganti perban di perutku merasa seperti berada di tengah perang dingin antara kami.
"Oky, em.. udah selesai," melihatku, "Callista sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu" ujar dr. Aric.
"Kapan Saya boleh pulang, dok?" tanyaku dengan mimik wajah ceria, memecah keheningan siang hari ini, aku terus tersenyum.
Mendengar perkataanku, membuat Aric mulai mengomel. Sementara Greysie tersenyum, ia terlihat sangat senang melihatku di omeli oleh dokter seperti ini. Ia tak henti tersenyum sambil memandangi dokter Aric, aku melihatnya.
Kemudian, aku secara sengaja bertanya serta mengeraskan suaraku pada Greysie. Greysie dan Aric terkejut mendengarku, mereka berdua pun refleks saling melihat, akhirnya mereka beradu pandang.
********
Sementara itu, di sebuah apartemen Heafen sedang melihat-lihat fotoku bersama Rasya. Ia kemuian segera menelpon Aaron yang mengirim foto itu padanya.
"Kapan ini?" tanya Heafen.
"Sekitar tiga minggu-an yang lalu, Bro" jawab Aaron.
"Apa lu kenal sama cowok di sebelahnya?" tanya Heafen lagi.
"Hm, gua gak kenal bro, tapi mukanya kelihatan bagus, keknya mantan lu suka sama dia" jawab Aaron.
"Minggu depan gua bakal balik ke indo. Lo kumpulin anak-anak" perintah Heafen.
"Siap bro" ucap Heafen.
#
Di rumah sakit, Greysie sedang berada di dalam toilet, ia membayangkan saat sedang beradu pandang bersama dokter Aric sebelumnya, lalu tersenyum tipis.
Saat Greysie berjalan keluar dari toilet sampai di lorong rumah sakit, ia tak sengaja bertabrakan dengan dokter Aric.
Brakkk......!
"Eh, maaf," saling tatap, "Maaf, kamu gak pp?" tanya dr. Aric.
"Em, iya," beradu pandang, "iya gak pp" jawab Greysie, tersenyum.
Mereka saling tersenyum dengan suasana yang masih canggung, kemudian mereka berjalan berdampingan di lorong rumah sakit.
#
Kini Greysie dan Aric sedang berada di atap gedung rumah sakit. Mereka duduk berdampingan di kursi yang terbuat dari kayu dengan warna cokelat kehitaman.
"Kamu udah berapa lama temenan sama Callista?" tanya dr. Aric.
"Em, bulan depan udah tahun ke empat kita sahabatan" jawab Greysie.
"Hm," mengangguk, "Berarti kalian sahabatan dari kelas tiga Smp" ucap Aric
"Mm, Ya. Waktu itu aku murid pindahan di sekolahnya, tapi aku kenal Cara sehari sebelum aku masuk" ujar Greysie.
Mereka terus membicarakan mengenai aku sampai saat Greysie menceritakan tentang ia yang pernah ingin melompat dari atas gedung yang tinggi.
Mereka terus berbincang dan menjadi semakin dekat. Greysie terbilang sedang curhat pada Aric mengenai aku. Selama ini, ia merasa bingung sendiri menghadapi sikapku yang tak pernah terbuka dengannya, meskipun ia adalah sahabatku sendiri.
"Hm, mungkin masalah yang Callista pendem lebih berat dari yang kamu pikirin" ucap Aric.
"Hmf," menghela napas, "Iya aku tahu, tapi.. aku kan sahabat dia" sambung Greysie, kecewa.
#
Sementara itu, di dalam kamar rumah sakit. Aku sedang berbicara dengan Rasya, kami tertawa dan saling memandang.
"Em, aku mau nanya pendapat kamu boleh gak?" tanya Rasya.
"Iya, boleh" jawabku, lirih.
"Em, menurut kamu.. Kenapa ya setiap orang punya rahasia?" tanya Rasya.
"Hmm... Aku boleh pakai kata ungkapan gak?" tanyaku, tersenyum kecil.
"Yah, sure" jawab Rasya, juga tersenyum.
Kamudian, aku menjelaskan dengan mengibaratkan suatu hal pada Rasya. Di mana perasaan nyaman adalah suatu hal yang sulit untuk di dapatkan, dan manusia adalah makhluk yang tak bisa menerima sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
"Tapi.. Apa kamu merasa nyaman kalau terus nutup sebuah rahasia? Apa kamu gak ngerasa sesak terus nyimpen itu?" tanya Rasya.
"Hmf," tersenyum, "Kamu tau gak? Di dunia ini.. Gak semua rahasia harus di ketahui, ada rahasia yang lebih baik tetap menjadi rahasia daripada harus di ungkapkan" ujarku.
Rasya termenung setelah mendengar perketaanku, ia mengingat kembali kejadian sekitar satu tahun lalu, di mana adiknya meninggal karena di bunuh oleh pembunuh berantai.
"Maafin aku, Rasya. Aku udah jahat sama kamu dan adik kamu. Kamu seharusnya jangan senyum saat lihat muka aku yang jahat ini. Aku makin merasa bersalah" batinku.
Beberapa saat kemudian, Rasya pamit padaku. Ia terus tersenyum sambil memandangiku, sedangkan aku juga masih tersenyum dengan memakai topeng di wajahku.
#
Sementara itu, di atap rumah sakit. Aric dan Greysie berjalan berdampingan sampai mereka turun ke lantai bawah.
"Em, kalau gitu... Aku... Pergi ke sana ya. Ada pasien yang harus aku cek keadaanya" pamit Aric, melambai pada Greysie.
"Iya" ucap Greysie, melambai.
Greysie kemudian masuk ke dalam kamar. Di dalam aku sedang diam merenung memikirkan banyak hal.
"Raa?" panggil Greysie. Aku menoleh ke arahnya.
"Maafin, aku" ucap Greysie.
Aku tak mau mendengarnya dan hanya membalikan badan sambil menatap sendu.
"Ra, pliss maafin aku" ucap Greysie, memohon maaf.
Greysie pindah posisi untuk melihat wajahku. Namun aku membalikan badan lagi karena tak ingin melihatnya.
Greysie lalu mengubah posisi tempat tidurku menjadi duduk. Ia lalu pindah posisi lagi untuk melihatku sementara aku membuang wajah tak ingin melihatnya.
"Ra, maafin Grey ya?" ucap Greysie, mengalihkan wajahku padanya.
Mendengar hal itu, membuat bibirku gemetar menahan tangis. Isak tangis pun terdengar.
"Kamu jahat, Grey. Kamu udah bohongin aku dengan alasan Ayah kamu, dan ngancurin semua rencana aku. Kenapa lakuin hal itu?" tanyaku, gemetar menahan tangis.
"Maafin aku karena udah ngancurin semua rencana kamu, Ra." ujar Greysie.
"Kamu kenapa makai Ayah kamu sebagai alasan untuk bohongin aku? Alasan itu buat aku sakit banget, Grey. Kamu gak tau seberapa bersalahnya aku sama Ayah aku. Kenapa gak cari alasan lain aja selain itu? Aku gak bisa kalau soal Ayah, itu buat aku jadi lemah. Kamu seneng aku kaya gini, Grey?" ujarku, dengan isak tangis pilu.
"Maafin aku, aku beneran gak tau, Ra. Pliss maafin aku" ujar Greysie, memeluk erat.
"Kamu udah tau selama ini, Ra. Tapi kamu malah milih diem dan baru luapin semuanya sekarang. Kamu kenapa gini sikapnya, Ra? Selalu mendem perasaan sampai buat kamu gak bisa nahan semuanya lagi. Aku juga gak bisa tau kalau kamu gak mau cerita. Gimana aku bisa paham, Ra?" batin Greysie.
#
Sementara itu, di rumah Rasya. Ia merenung mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu.
Pliss, pliss jangan bunuh aku... Kak tolong aku...!
Angeline...? Dek...! Dekk...! Angeline....!
Korban kali ini merupakan anak dari pasangan Jendral TNI Graham Friedmen dan Brigjen Pol Elba Ritter. Korban ditemukan oleh warga dalam keadaan sudah tak bernyawa di sekitar pinggiran sungai.
Setelah teringat hal itu, Rasya kemudian menghapus air matanya. Ia meremas foto yang ada di tangannya, lalu membuangnya. Sementara matanya menatap penuh amarah.
Itu adalah selembaran foto kenangan Sma. Di foto itu terlihat ada Aric, Bryan dan juga Rasya. Wajah mereka penuh kebahagiaan layaknya remaja pada umumnya.
********
Besoknya, di dalam kamar rumah sakit. Aku masih tertidur. Greysie sedang pergi ke toilet.
Tak lama kemudian Rasya datang untuk menjenguk aku lagi. Ia melihatku tidur dengan wajah polos tak berdosa.
"Kalau lagi tidur kek gini, kamu kelihatan kek bayi yang baru lahir" batin Rasya, ia tersenyum.
(Suara pintu terbuka).
"Rasya?" tegur Greysie, ia melihat Rasya melamun.
"Ehh Grey" sahut Rasya, melihatnya.
"Are you okay?" tanya Greysie, berjalan menghampirinya.
"Yaa, i'm okay" jawab Rasya, tersenyum.
"Okay, Cara masih tidur ya?" ujar Greysie.
"Hm, iya. Kamu dari mana?" tanya Rasya.
"Aku ketoilet bentar tadi, kamu udah lama di sini?" tanya Greysie.
"Hm, gak juga. Aku baru sampai 10 menit yang lalu" jawab Rasya.
"Hm" ucap Greysie, mengangguk.
Di saat sedang asyik berbicara, mereka mendengarku mengingau dan merintih.
"Hmf, pergi, pergi kamu"
"Pergii!" teriakku. Aku terbangun.
"Raa, Ra kamu kenapa?" tanya Greysie, cemas.
"Kalian... Aku..." ucapku, melirik sekitar.
Sementara itu, keringatku terus mengalir keluar dari pori-pori kulitku. Sedang wajahku nampak pucat dengan tatapan sayu.
"Raa" ucap Greysie, menatap sedih. Lalu aku melihat kearahnya.
"Grey pliss.. Jangan sekarang" pintaku, memegang tangannya.
Greysie menghapus air matanya. Sedangkan Rasya melihat kami, ia memahami situasi dan segera berpamitan pada kami. Kemudian ia pergi meninggalkan kami berdua.
"Raa, aku mohon sama kamu. Aku sahabat kamu, pliss aku mohon.. Cerita ke aku, ada apa sebenarnya? Kamu kenapa? Aku...mohon" pinta Greysie, memegang erat tanganku.
Mata Greysie berkaca-kaca saat melihatku. Sedangkan aku tak sanggup melihat wajahnya dan berusaha untuk tidak menangis.
"Ak, ku..." ujarku, meneteskan air mata.
"Grey, ada rasa sakit yang gak bisa di ungkapkan dengan kata, hanya aku, bayanganku dan tuhan aja yang tahu" batinku.
"Ak.. ak..." ucapku, tak bisa berkata.
"Lihat aku, Ra" ucap Greysie, mengalihkan wajahku padanya.
Sementara itu, aku tak sanggup melihat wajah serta tatapan matanya. Rasanya aku seperti tak sangggup untuk berkata sedang air mataku terus saja mencari jalan untuk keluar.
"Ra, kamu kenapa selalu diam? Pliss.. aku gak.. pliss lihat aku" ucap Greysie, memohon.
"Pliss jangan diam aja Raa.. Aku gak suka kalau kamu diem terus kek gini" pinta Greysie.
"Raaa" panggil Greysie, memegang pundakku.
"Raa, pliss jangan diem aja..." ucap Greysie, memaksaku bicara padanya.
Setelah itu aku menoleh ke arahnya untuk melihat dan menatapnya dalam.
"Apa aku terlalu diam buat kamu? Mencari kebenaran gak perlu terlalu jauh, Grey. Cukup tatap mata aku aja itu akan menjelaskan semuanya" ujarku lirih, gemetar meneteskan air mata.
"Ap... Ak, aku gak ngerti maksud kamu" jelasnya masih memegang tanganku.
"Kamu sahabat aku kan Grey? Harusnya kamu tau, aku sering gitu ke kamu" ujarku, sedang air mataku terus mencari jalan untuk keluar.
"Aku.. Aku gak... Aku sahabat yang buruk bagi kamu, aku gak tau kamu, aku gak kenal sama kamu, aku gak tau rasa sakit kamu, aku.. aku beneran, hmff" ujar Greysie, mulai menangis.
"Aku gak tau, aku harus gimana Raaa?" tanya Greysie, menangis pilu.
"Aku harus gimana Raa? Aku bukan kamu, aku bukan kamu yang bisa tau rasa sakit orang lain hanya dengan natap matanya aja. Aku harus gimana? Huhuuu, aku harus gimana? Aku bingung Raa, aku beneran bingung. Aku gak tau harus gimanaaa" ujar Greysie, menangis terseduh-seduh.
Tangisan Greysie pecah siang hari itu, ia menangis terseduh-seduh sambil memegang tanganku, kepalanya di sandarkannya di tanganku sedang air matanya jatuh menyentuh kulitku.
Sedangkan aku terus memalingkan wajah darinya, karena aku tak sanggup melihatnya. Air mataku menetes, bibirku gemetar dan suaraku tak terdengar, aku hanya menangis dalam diam.
"Aku juga gak tau Grey, aku bingung harus gimana. Apa aku mati aja?" batinku.
__ADS_1
********
Sementara itu, di bandara. Heafen baru saja sampai. Ia sedang bertelponan dengan Aaron.
"Lo di mana, bro" tanya Heafen.
"Udah di bandara, bro. Lo make baju warna apa?" tanya Aaron.
"Gua pakai jaket warna item, baju dalem warna putih" jelas Heafen.
"Em," melirik sekitar beranda, "Eeeh... eh gua lihat lo bro," melambai, "bro di sini" ucap Aaron, memanggil Heafen.
Heafen membuka kacamata miliknya, ia melambai pada Aaron, kemudian menghampirinya.
"Gimana kabar lo bro" tanya Aaron, berjabat pelukan pria.
"Ok aja bro, jadi gimana lo udah kumpulin anak-anak?" tanya Heafen.
"Yoi udah bro" jawab Aaron.
Mereka kemudian pergi ke mobil Aaron. Sementara Aaron langsung mengantar Heafen ke apartemen Heafen.
Sesampainya di aparteman Heafen. Mereka masih membahas hal yang sama di dalam mobil, yakni tentang geng motor Rendi, hubungan aku dan Rasya dan juga informasi pribadi Rasya. Heafen kemudian mengambil telpon miliknya untuk menelponku.
Di rumah sakit, telpon milikku berbunyi. Aku dan Greysie masih terlibat dalam perang dingin, kami tak berbicara sepetah kata pun.
Saat aku ingin mengambil telponku, Greysie berdiri dan mengambilkannya untukku. Kamudian aku segera menjawab panggilan telpon tsb.
"Heafen?" batinku.
"Halo, Ra" sapa Heafen, lembut di telingaku.
"Iya, halo Heafen" ucapku, pelan.
"Kamu lagi di mana?" tanya Heafen, lembut.
"Aku...," melirik Greysie, "lagi di... em.. di Rumah" jawabku.
"Kamu gak sekolah?" tanya Heafen.
"Emm, gak. Aku gak enak badan soalnya" jawabku.
Greysie melihatku sedang tangannya masih bersilang. Ia menatap biasa padaku.
"Kamu sakit? Aku kesana, ya?" ujar Heafen.
"Kamu udah pulang ke indo?" tanyaku, penasaran.
"Iya, aku barusan pulang. Aku kesana yaa" ujar Hefaen.
"Em, besok aja kamu kesini Heafen, soalnya.. aku lagi.. pengen istirahat aja hari ini" pintaku.
"Hm, yaudah. Besok aku ke rumah kamu yaa" ujar Heafen.
Setelah selesai menelpon. Greysie lalu merebut telponku. Ia melihat 20 panggilan tak terjawab dari Riska dan juga notifikasi chat yang sempat terbaca matanya sebelum ia mematikan daya telpon milikku.
Ra, lo udah baikan? Kalau udah telp balik.
P. Ra?
"Sebenarnya ada hubungan apa lo sama Riska, ngaku lo!" tanya Greysie, datar.
"Gak ada" jawabku, lalu berbalik badan.
"Ckk!" gerutu Greysie.
Greysie lalu mengambil makananku dan duduk di kursi yang berada dekat tempat tidur.
"Makanan lo ini dimakan!" ucap Greysie.
"Hey, lo mau makan ini atau gua yang makan elo" ujar Greysie, kesal.
Kemudian aku berbalik badan, menatapnya dengan tatapan sendu. Greysie yang menyadari perubahan eskpresi di wajahku memilih untuk diam. Ia lalu menyuapiku bubur.
"Kenapa dari kemarin perasaanku gak enak banget. Something wrong, kedepannya bakalan kejadian sesuatu yang di luar dugaan. Apa ini menyangkut Papanya Grey? Kok aku rasa sikap Grey bakalan makin berubah, dari kemarin sikapnya emang udah kelihatan berubahnya. Grey sampai harus ngerusak rencanaku dan ngebunuh Vanya sendirian. Harus banget ya Grey kasih aku obat tidur malam itu? Kamu rencanain apa sebenarnya? Gak tau kenapa, aku juga ngerasa kedepannya semua itu bakalan jadi boomerang untuk kita" batinku.
"Sebenarnya selama ini aku lemah banget, Grey. Biasanya aku cuman bersikap sok kuat di depan kamu. Aku harap aku bisa kuat kalau sikap kamu bener-bener berubah kedepannya" lanjut batinku.
Setelah selesai makan, Greysie segera menaruh semua makananya dan ia duduk di sofa sambil melihatku. Kami sama-sama diam, dan tak ada yang memulai pembicaraan.
"Malam itu gua lihat darah di sekitar tombol. Sebelumnya pas di bangunan itu Cara langsung pergi gitu aja. Sebelumya dia halangin gua untuk lihat perutnya saat itu, terus katanya dia sakit. Pas gua balik ke rumahnya Cara gak ada di sana tapi hpnya ada berarti dia udah pulang malam itu dan dia masih ada di dalam rumahnya, tapi mungkin di tempat yang gua gak tau. Keknya ada ruangan rahasia di rumah Cara. Pas malam setelahnya juga Cara gak ada di mana-mana di rumahnya, terus tiba-tiba aja dia muncul di hadapan gua. Cara juga bilang dia dapet luka itu dua minggu yang lalu. Berarti malam itu pas ninggalin gua di bangunan itu dia udah luka, tapi siapa? Siapa yang udah lukain dia? Bukannya semua orang udah pingsan malam itu?" batin Greysie.
Greysie lalu terbayang saat Ayahnya menepis tanganku di rumah sakit. Ayahnya selalu melirik kami dengan wajah ketakutan. Hal itu membuat Greysie merasa bingung karena menurut Greysie Ayahnya hanya tau kalau semua itu adalah perbuatannya saja.
"Gua harus cari tau soal ini. Apa bener Cara di celakain orang suruhan Bryan dan Andrian?" batin Greysie.
********
Besoknya, kami bersiap-siap untuk pulang. Greysie memaksaku untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin aku berada di sana agar bisa menjagaku. Sementara Rasya dan Aric membantu kami mengurus semuanya.
(Telpon Berdering).
"Iya Lia?" ucapku, menaruh telpon di telingaku.
"Kakak beneran pulang ke rumah kak Grey?" tanya Lia.
"Hm, iya. Aku di paksa sama dia soalnya, kenapa Lia?"
"Hmm, gak pp kak. Cuman... aku dan ibu bakalan jagain kakak kalau kakak pulang ke rumah kakak, tapi hari ini kakak benaran udah di bolehin pulang?" tanya Lia.
"Hm, iya. Ini kita udah di dalem mobil Rasya" jawabku, melihat keluar jendela mobil.
"Emm, maaf kak. Aku gak bisa bantuin kakak beberes barang-barang hari ini" ujar Lia.
"Iya, gak pp. Kamu kan sekolah, malah di sini ada orang yang gak sekolah," melirik Greysie, "terus kalau misal Papa dia sampai tau dia bolos lagi hari ini, aku yang gak tenang, terus dianya malah tenang-tenang aja bikin orang kesel" ujarku, menyindir Greysie.
"Maksud kakak, kak Grey?" tanya Lia.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia" jawabku.
Rasya dan Aric hanya tersenyum melihatkku dari kaca mobil. Sedangkan Greysie terus menatapku.
"Papa aku lagi sakit, dia gak bisa mukul aku lagi" sela Greysie.
Rasya dan Aric hanya diam dan melirik kami. Mereka juga penasaran dengan semua hal yang terjadi. Mulai dari trauma dan masa laluku, kemudian Greysie dengan permasalahan bersama ayahnya.
"Loe seneng papa loe sakit?" tanyaku, serius melihat Greysie.
Greysie menatapku, ia tak senang karena mendengar perkataan yang keluar dari mulutku. Sedangkan aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu.
"Kamu mau acting lagi sekarang, Ra?" batin Greysie.
Sementara itu, aku nampak tak peduli dengan mimik pertanyaan di wajah Greysie.
"Kamu mau cari ribut lagi sama aku sekarang?" sindir Greysie, tak senang.
Aku tak merespon Greysie, aku hanya melihatnya sebentar, kemudian tersenyum dan kembali bersender di kaca mobil.
"Hey, i'm talking to you!" bentak Greysie.
Rasya dan Aric terkejut, mereka melirik kami dengan mimik kebingungan.
"Aric, aku mau nanya boleh gak?" tanyaku, masih bersender di kaca mobil.
"Emm, iya..." balas Aric, ia melihatku dari kaca mobil.
"Kok, kamu yang bawa mobil bukannya Rasya?" tanyaku, bersender di kursi dengan tangan bersilang. Rasya seketika melihat kearahku.
"Kamu mau aku yang bawa mobil?" tanya Rasya.
"Biarin Aric jawab dulu" ujarku.
"Emm, gak pp... kita emang biasa sering gantian nyetir kalau pergi bareng" jawab Aric, kaku.
"Hmm, ok" balasku.
"Emang kenapa Callista?" tanya Aric.
"Hmm, gak pp sih, it just... sebenarnya aku mau nanya yang lain tadi, tapi malah nanya itu, Hehe" jelasku, lalu tersenyum.
"Kamu mau nanya apaan? tanya aja gak pp, aku bakalan jawab" sambung Aric.
"Serius kamu yakin? kamu yakin bisa jawab?" tanyaku, masih bersender di kursi mobil.
"Iya aku seirus, emang kamu mau nanya apaan?" ujar Aric.
"Hm," melirik Greysie, "Kalau feeling gua bener, lebih baik gua minta sekarang" batinku.
"Do you like my best friend?" tanyaku, tersenyum.
Greysie seketika melihatku, matanya melotot dengan raut wajah keheranan. Ia tak menyangka jika aku akan bertanya seperti itu. Pertanyaan itu membuatnya merasa malu.
"Emm," melihat Greysie dari kaca mobil, "Aku... Yaa, i like her" jawab Aric.
Greysie yang mendengarnya pun tersenyum tipis. Sementara itu ekspresiku terlihat biasa saja kerena aku sudah tahu akan hal itu.
"Terus... kalian udah jadian belum?" tanyaku, ekpresi biasa.
"Emm..." ujar Aric, kaku. Ia terlihat bingung dan masih menatap Greysie dari kaca mobil.
"Raa..." sela Greysie, memegang tanganku.
Mimik wajah Greysie mengartikan agar aku berhenti bertanya pada Aric.
"Kamu serius suka sama Grey? aku perlu tau kamu serius atau gak" tanyaku, tak memedulikan Greysie.
"Iya, aku serius" jawab Aric, lantang dan tegas.
"Okey.. aku bakalan percaya sama kamu karena kamu temen Rasya. Aku boleh minta tolong gak sama kamu?" tanyaku.
"Iya boleh, kamu mau minta tolong soal apa?" tanya Aric.
Rasya dan Greysie hanya diam mendengar kami berbicara satu sama lain. Terkadang mereka juga melihat ke arahku dengan mimik wajah penasaran.
"Aku... aku mau kamu jagain Grey, dia udah ngalamin banyak hal yang sulit selama ini. Tolong kamu jagain dia, jangan sampai kamu sakitin dia. Aku gak mau sahabat aku nangis, aku gak mau dia sakit, aku gak mau ada seseorang yang nyakitin Grey lagi secara fisik dan mental seperti yang dilakuin papanya selama ini" ujarku, lalu bangun dari senderan.
"I just.. i want she's happy, dia pantas bahagia, selama ini dia udah terlalu banyak menderita. Kamu harus janji ke aku kalau kamu bakal buat Grey bahagia, dia harus bahagia, supaya aku juga bisa tenang kalau nanti aku udah gak ada" pintaku, menatap penuh harap.
Greysie menatapku setelah mendengar perkataanku. Jantungnya berdetak cepat, sedang perasaan takutnya seperti mengalir di dalam darahnya membuat jantungnya memompa darah semakin cepat. Sementara itu Rasya juga terkejut mendengarku berkata demikan.
"Ra... kamu kok ngomong gitu sih?" tanya Greysie gemetar, meneteskan air mata.
"Jawab aku Aric, kamu bisa janji ke aku gak?" tanyaku, penuh harap.
"Iya, aku janji. Aku bakal buat Grey merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Aku janji akan jagain dia, dan gak bakalan sakitin dia, aku janji" ujar Aric, sambil melihat aku dan Greysie dari kaca mobil.
"Aku harap... Kamu bisa tepatin janji kamu" ucapku.
"Lista, kamu kok ngomong gitu?" tanya Rasya, menoleh ke arahku.
"Aku cuman... punya firasat, keknya bakalan terjadi sesuatu sama aku, and... sebelum semua itu terjadi, aku harus mastiin kalau ada orang yang tulus yang bisa jagain sahabat aku menggantikan aku" terangku, kemudian melihat Greysie.
Sementara itu, Greysie terlihat tak tahan saat mendengar semua perkataan yang aku lontarkan.
"Ric, berhenti!" perintah Greysie dengan tangisan.
"Aku bilang berhenti!" teriak Greysie.
Ciiiiitt.........!
Sontak Aric menghentikan mobil secara mendadak. Ia lalu menoleh ke arah belakang untuk melihat kami.
Greysie menatapku, wajahnya penuh air mata sedang tatapannya seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.
Sementara itu, Rasya juga terkejut mendengar pekataanku. Ia merasa trauma mendengar perkataan seperti itu karena sebelum adiknya meninggal, adiknya juga pernah berpesan padanya agar selalu bahagia.
"Aku gak mau denger yang kek gini, kamu jangan ngomong kek gitu, huhuuu" ucap Greysie, menangis menatap sedih.
"Hmff, aku gak suka, aku gak mau. Kamu udah janji ke aku, pokoknya aku gak mau, kamu bilang kamu itu orang yang bisa jaga janji? terus kenapa ngomong gini? kenapa?" tanya Greysie, sedang air matanya mengalir deras melewati bulu mata bawah lentiknya.
"Aku... takut kalau itu bakalan jadi janji pertama yang bakal aku langgar" jelasku, gemetar.
Aku tak sanggup menahan air mataku yang sibuk mencari jalan untuk keluar, akhirnya ia jatuh dan menetes.
"Stopp! aku gak mau dengerrr," menutup telinga, "Kamu diem! aku gak mau dengerr!" bentak Greysie, dengan air mata.
Greysie tak tahan berada di dalam mobil, ia pun membuka pintu dan keluar dari mobil sambil menangis belakang mobil. Air matanya jatuh bagai hujan badai seolah tak akan pernah berhenti.
Suasana jalanan sunyi menemani tangisan mendalam dari Greysie, sedang angin kencang berhembus membawa dedaunan kering dari pohon-pohon di hutan. Aku keluar mengikutinya dan langsung memeluknya.
Tangan Greysie gemetar sedang napasnya seperti tersentak tak beraturan. Sepertinya panic attacknya kambuh.
"Hey, hey," megang wajahnya, "Grey, Grey, tarik napas dalam-dalam, hey, hey, dengerin aku" ucapku, menghapus tiap-tiap tetesan air matanya yang jatuh.
"Grey... hey look at me," memegang wajah, "Grey, listen to me, listen to me. Aku janji, aku janji sama kamu, aku beneran janji, aku akan tetap di sini jagain kamu, aku gak akan tinggalin kamu" ujarku, memeluk erat Greysie.
"Aku janji, kamu tarik napas dalam-dalam, dengerin aku, aku janji, aku janji" lanjutku, melepas pelukan dan menatapnya.
"Lihat aku, lihat... aku Grey. Aku janji, kamu denger kan? aku janji" ujarku, mengusap rambut yang menghalangi wajahnya.
"Hmf, kamu beneran janji?" tanya Greysie gemetar, napasnya masih tersentak.
"Iya, aku janji sama kamu. Kamu harus tenang sekarang, tarik napas dalam-dalam, aku di sini sekarang bareng kamu, aku gak kemana-mana" ujarku, lalu meneteskan air mata sambil memeluk erat dirinya.
"Maafin aku Grey, itu adalah kebohongan pertama yang aku buat dengan perkataan janji, maafin aku" batinku.
__ADS_1
Air mataku menetes membuat aku menangis dalam diam. Setelah Greysie sudah tenang kembali, aku lalu membantunya berdiri dan masuk ke dalam mobil. Sementara iru, Aric dan Rasya juga membantu kami.
Di perjalanan, kami semua hanya diam. Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Sementara itu, isak tangis dari mulut Greysie masih terdengar mengisi keheningan siang hari ini. Aku ingin memeluknya tetapi ia tak membiarkan aku melakukannya.
"Grey... maafin aku, sebelum kamu benci sama aku. Aku mau minta maaf, maafin aku" pintaku, memeluknya. Namun Greysie melepaskan tanganku darinya.
"Ergh, mff, haah," merintih.
"Are you okay?" tanya Rasya, melihatku.
Greysie melihatku lagi, wajahnya terlihat cemas, sedangkan aku mengangguk iya pada Rasya sambil memegang perutku.
"Hmff, ya.. aku..." jawabku, melihat tanganku.
Sementara itu, Greysie juga melihat tanganku yang di mana basah dengan darah. Ternyata darah sudah menembus bajuku, dan aku tak sadar dengan hal itu.
"Itu darah, Raa!" ucap Greysie, menaikan volume suaranya.
"I'm okay Grey.. keknya ini karena aku buru-buru keluar tadi... gak sengaja kena pintu mobil" jelasku, menatap maaf.
"Kamu kenapa sih nyebelin banget?" keluh Greysie, kesal namun juga cemas.
"I'm sorry, Grey" pintaku, memohon maaf.
"Kita harus obatin luka kamu. Nanti bakal infeksi kalau di biarin, bentar lagi kita sampai" sela Aric, mengomeliku.
Beberapa saat kemudian, tiba di rumah Greysie tepatnya di dalam kamarnya.
"Kamu jangan banyak gerak dulu Callista, dan lukanya jangan sampai kena air" ujar Aric, berdiri.
"Mm, iya and.. thank you karena kalian udah nganterin kita, aku minta maaf soal kejadin tadi" ucapku, melihat Rasya dan Aric.
"Gak pp, kita bisa ngerti" ujar Aric, lalu tersenyum.
"Lista, aku... boleh ngomong berdua sama kamu gak?" tanya Rasya sedikit canggung.
"Hm? emm, iy-yya" jawabku, sedikit terbata.
Sementara itu, Aric dan Greysie saling melirik dan mereka berdua pun bergegas keluar kamar.
"Kamu kenapa ngomong gitu, Lista?" tanya Rasya.
"Ngomong... Gitu gimana maksudnya?" tanyaku, tanpa menjawabnya.
"Ngomong kek tadi ke Aric pas di mobil, kenapa?" tanya Rasya lagi.
"Emm, gak pp. Aku.. cuman.. punya firasat buruk bakal terjadi sesuatu ke aku nantinya. Jadi.. aku cuman mau mastiin Grey baik-baik aja dan dia di jaga sama orang yang tepat" jelasku.
"Kamu gak boleh ngomong gitu, Lista. Firasat itu belum tentu benar" ujar Rasya.
"Tapi selama ini firasat aku gak pernah salah. Kamu mau tau gak apa untungnya jadi seorang introvert?" tanyaku. Rasya menggelengkan kepalanya.
"Firasat mereka selalu bener, itu juga.. bisa jadi penolong buat mereka. Apalagi kalau mereka punya firasat buruk akan sesuatu, and mereka mau ikutin firasat mereka yang berkata tidak, mereka mungkin bisa terhindar dari bahaya" jelasku.
"Em, kamu gak takut sama kegelapan?" tanya Rasya, beralih dari topik pembicaraan.
"Hah?" ucapku, mengrytkan kening.
"Kamu gak takut sama gelap?" tanya Rasya, mengulangi.
"Em, aku sama sekali gak takut sama kegelapan. Yang aku takutkan hanyalah.. aku gak akan bisa keluar dari kegelapan itu, emangnya kenapa?" tanyaku, penasaran.
"Gak, gak papa. Aku cuman ingin tau pandangan kamu aja" jelas Rasya.
"Kamu lagi scanning aku nih ceritanya?" tanyaku, sedikit tersenyum.
"Emm, gak.. aku cuman.. pengen kenal kamu lebih deket aja" jawab Rasya.
"Ooh," mengangguk, "hahaha, hmm" ucapku, tersenyum menulusuri wajahnya.
"Kenapa senyum?" tanya Rasya.
Rasya tersenyum malu-malu. Ia menjadi salah tingkah karena aku terus saja menatap wajahnya sambil tersenyum lembut.
"Mmm," mengertukan bibir, "Gak.. papa sihh" jawabku tersenyum, lalu mengangkat kedua alis.
"Hmm, Lista?" ucap Rasya, masih tersenyum.
"Mm?" sahutku pelan.
Sementara itu mataku sesekali terpejam. Entah mengapa rasanya aku sangat mengantuk.
"Aku... sebenarnya aku udah suka sama kamu dari awal kita ketemu, kamu.. mau gak jadi pacar aku?" ujar Rasya.
Tak ada jawaban dari mulutku. Mataku juga sudah terpejam sempurna karena aku tertidur.
"Lista? Kamu tidur? Lista?" panggil Rasya, sedikit menepuk tanganku. Namun aku tak merespon.
"Keknya Lista tidur. Apa Aric tadi nyuntik obat tidur ke Lista?" batin Rasya, bertanya.
Di luar kamar, Aric dan Greysie sedang berbicara. Mereka membahas tentang kami yang terlihat sangat lemah. Namun Aric berusaha untuk menyemangati Greysie (Bab 8, Part 1).
Lalu tak sampai 10 menit, Rasya pun keluar dari dalam kamar, ia menghampiri Greysie dan Aric.
"Em, Lista udah tidur, sepertinya dia kecapean" jelas Rasya, lalu duduk di sofa dekat Aric.
"Hm, aku kasih Callista obat tidur tadi, dia kelihatan capek banget" terang Aric, memegang kedua telapak tangannya.
"Capek?" tanya Greysie, mengganti posisi duduknya menjadi serius dengan tatapan penasaran.
"Iya, Callista sepertinya lagi banyak pikiran. Kalian akhir-akhir ini sering berantem kek tadi?" tanya Aric, sambil melihat Greysie.
"Em, terakhir... seminggu yang lalu, tapi itu bukan berantem, aku... gak tau cara jelasinnya, it's complicated" jelas Greysie, menunduk memikirkan banyak hal.
"Hm, mungkin dia mikirin hal itu. Aku saranin Callista jangan terlalu banyak mikir, dia kek lagi bingung, sepertinya sangat sulit bagi dia untuk menjelaskan hal itu dengan orang lain" jelas Aric.
"Kok kamu bisa tau?" tanya Greysie, penasaran.
"Kami para dokter bisa tau kalau misal ada pasien yang lagi stress. Mereka sering ngeluh pusing and nanya penyebab mereka bisa pusing/sakit kepala, padahal penyebabnya adalah stress itu sendiri" terang Aric.
"Aku boleh nanya gak, Grey?" sela Rasya, sedang wajahnya terlihat penasaran.
"Em, iya boleh" jawab Greysie.
"Kalian kenapa sampai bisa di celakai orang kek gini? kalian harus bilang sama aku supaya aku juga bisa bantuin. Keadaan Lista sekarang ini, itu karena kalian nutup-nutupin semuanya, kalau kalian bilang aku pasti bakalan bantuin kalian" jelas Rasya.
"Sial. Gua harus jelasin gimana?" batin Greysie.
"Em," menatap bingung, "Em, kita... aku juga gak tau, tapi musuh kita banyak" jelas Greysie.
"Musuh? musuh gimana maksud kamu Grey?" tanya Rasya, menatap heran.
"Em... entahlah, i don't know" jawab Greysie, mengangkat kedua bahunya.
"Grey... kamu tau gak, adik aku dulu di celakain orang karena dia gak mau cerita ke aku. Kalau aja adik aku cerita, mungkin sekarang dia masih bareng sama aku. Kamu gak mau Lista kenapa-kenapa kan?" tanya Rasya.
"Pasti Angeline. Sorry banget, Sya" batin Greysie.
"Emm aku gak mau, tapi..." ucap Greysie, bingung.
"Grey, pliss" celetuk Rasya, memohon.
"Gua bilang aja Cassie dan Bryan kali ya? Lagi pula mereka emang harus aku jebak dengan masalah ini" batin Greysie.
"Hm, okey. Tapi aku gak yakin soal ini. Emm, sebenarnya kita curiga sama Cassie dan pacarnya Bryan" ucap Greysie.
Greysie lalu menjelaskan semuanya pada Rasya dan Aric. Mulai dari kejadian rumahku yang terlihat seperti di geledah sampai saat tingkah Cassie yang terlihat aneh.
Sementara itu, Rasya dan Aric menyimak setiap penjelasan dari Greysie. Mereka lalu berhadap-hadapan karena terkejut.
"Kalian kenapa?" tanya Greysie, mengerytkan kening.
"Emm, sebenarnya dulu Bryan itu temen kita" jelas Aric.
Aric sesekali melirik Rasya dan menatap ragu pada Greysie.
"Dulu? Berarti sekarang udah nggak?" tanya Greysie, menatap heran.
"Em, iya. Ada masalah antara kita bertiga. Aku sama Aric sempat nuduh dia atas kasus yang nimpah adik aku dulu" jelas Rasya, berdiri.
Rasya merasa tidak nyaman saat membicarakan permasalahan ini. Kemudian ia mengkode Aric untuk segara pulang, sementara Aric mau tidak mau harus mematuhi temannya. Kemudian mereka segera berpamitan pada Greysie.
"Em, kita pamit pulang dulu Grey" pamit Rasya, tersenyum tipis, sedang kakinya melangkah pergi. Aric pun berdiri.
"Ehh, iya. Kita balik dulu, Grey. Em... Soalnya mau ngurus sesuatu" sambung Aric, bertingkah kaku.
Sementara itu Greysie ikut berdiri dan berjalan berdampingan dengan mereka.
"Oh, iya... Hati-hati di jalan kalian" ucap Greysie, mengikuti langkah mereka.
Greysie mengantar mereka sampai di depan rumahnya. Suara klakson mobil Rasya berbunyi, mereka pamit pergi, sedangkan Greysie melambai tangan dan tersenyum.
**********
Malamnya, pada pukul 20:18. Anak-anak geng motor Alaska berkumpul di depan markas mereka. Mereka berencana untuk menghajar Rasya.
"Malam ini kita serang dia. Alaska" ujar Heafen, mengangkat tangannya.
"Alaska, huuuuu" seru semua anak-anak geng motor Alaska. Mereka kemudian naik ke motor mereka masing-masing.
Sementara itu, setelah mengantar Aric. Rasya segera pulang ke rumahnya. Namun sedari tadi ia juga telah menyadari bahwa ada satu motor yang mengikutinya dari belakang.
Tak lama kemudian geng motor Alaska datang mendahului mobil miliknya. Rasya menghentikan mobilnya secara mendadak untuk menghindari tabrakan.
Ciiiiiiiit..........!
"Ada urusan apa mereka sama Gua" batin Rasya.
"Keluar lo" seru anak-anak geng motor Alaska.
Rasya keluar dari mobil miliknya, Heafen juga turun dari motornya, lalu menghampiri Rasya. Mereka berhadap muka dan bertatap tegas.
"Ada urusan apa bocah kek kalian sama gua?" tanya Rasya, emosi.
"Gua mau peringatin sama lo kalau Cara itu pacar gua, lo jangan berani deketin dia lagi" jelas Heafen, tegas.
"Hnh, setau gua Lista gak punya pacar" cetus Rasya, tersenyum remeh.
"Hn, dia itu pacar gua, mending lo jauhin dia, atau gua kasih pelajaran sama lo" maki Heafen.
Anak geng Alaska memasang badan bersiap untuk menghajar Rasya. Lalu Rasya melirik sekelilingnya.
"Kalau gua gak mau, lo mau ngapain?" ejek Rasya, kemudian tersenyum.
"Punya nyali juga lo" cela Heafen.
Heafen berjalan mundur sambil memberikan kode pada semua anggota geng motornya untuk menghajar Rasya.
Perkelahian sengit terjadi. Rasya babak belur kerena di hajar oleh 15 anggota geng motor Alaska termasuk Heafen.
"Ingat baik-baik hari ini, kalau lo masih deketin Cara lagi, lo bakal terima akibatnya" ucap Heafen, menepuk wajah Rasya.
Mereka semua segera pergi meninggalkan Rasya sendiri. Sementara itu, Rasya segera bangkit dan mencari telpon miliknya karena sedari tadi telponnya berdering.
Hanphone Rasya berada di bawah mobilnya, ia pun segera mengambil dan menelpon balik.
"Halo Lista" sapa Rasya, di telpon.
"Iya, halo Sya" ucapku.
"Em, kamu tadi kenapa nelpon?" tanya Rasya sambil membuka pintu mobilnya.
"Kamu lagi di mana sekarang?" tanyaku.
"Em, lagi di rumah" jawab Rasya, pelan.
"Ooh, aku sebenarnya cuman... mau bilang ke kamu kalau besok mantan aku bakal dateng ke rumah Grey buat jenguk aku, and.. aku gak mau kalau kalian sampai ketemu, nanti kalian berantem lagi. Jadi besok kamu jangan ke sini" pintaku.
Rasya yang sudah menjalankan mobilnya pun berhenti mendadak.
"Bukannya kalian udah putus ya? tapi kok kek masih deket?" tanya Rasya.
"Em, it's complicated Sya, kita emang udah putus, tapi... Aku..." ujarku.
"Tapi kamu masih suka sama dia?" sela Rasya, bertanya.
"Em, kamu beneran lagi di rumah kamu sekarang? atau kamu udah ketemu sama Heafen?" tanyaku tanpa menjawabnya.
"Iya, aku di rumah" jawab Rasya, singkat.
"Em, aku mau minta maaf sama kamu, aku bingung gimana jelasinnya, aku sama Heafen sebenarnya baik-baik aja, kita gak ada konflik sama sekali, tapi aku mutusin dia secara sepihak saat itu dan dia gak terima, and aku udah kekeh sama keputusan aku, maybe Heafen masih berharap bakal balikan lagi sama aku, tapi aku gak bakal mau kok, karena dulu itu adalah keputusan aku, mau aku masih ada rasa sayang atau gak ke dia, aku gak bisa buat balikan lagi, kalau aku gak konsiten sama omongan aku sendiri, tujuan aku gak bakal selesai, that's my principle" jelasku panjang kali lebar.
"Tujuan?" tanya Rasya.
"Em, ya maksud aku tujan.. tujuan hidup, emm, like.. Eeeh.. Setiap manusia pasti punya tujuan hidup kan?" jawabku.
"Hmm, iya" ucap Rasya.
"Kalau gitu aku tutup, dah" ujarku.
Tut........!
Telpon di matikan. Rasya refleks melihat hpnya dan segera menjalankan kembali mobilnya.
__ADS_1
"Gua harus cari tau soal si mantan Lista ini. Besok gua juga harus ke rumah, Grey. Enak aja ngancem gua, dia pikir gua takut apa? " batin Rasya.
Bersambung...