
"Ra!" teriak Greysie, memanggil.
"Ah? Emm.. Ee..." ujarku, kaku.
"Apa syaratnya?" tanya Greysie, penasaran.
"Emm, aku.. Aku izinin kamu Grey, tapi gak sekarang" jawabku, menjelaskan.
"Hm," mengkerutkan bibir, "itu syaratnya?" tanya Greysie, sekali lagi. Sedang keningnya mengkerut.
"Gak, syaratnya aku bakal kasih tau saat waktunya udah tiba" jelasku, ekspresi biasa.
"Ckk! Ngeselin" gerutu Greysie, pelan.
"Mulai sekarang gak usah nanya soal ini lagi. Aku kan udah bilang bakalan izinin kamu, tapi gak sekarang. Jadi aku gak mau denger yang kek gini lagi dari mulut kamu selanjutnya" perintahku biasa, namun mendominasi.
"Ckk! Tapi ka..." ucap Greysie tak selesai.
Aku langsung membukam mulutnya dengan tangan kiriku dan menatapnya dingin.
"Ngebantah? Lagi? Hah?" tanyaku dingin, berdiri di hadapannya.
Hal tersebut membuat Greysie harus mendongak untuk melihat aku ke atas.
Kening Greysie semakin mengkerut, ia tak bisa menahan ekspresi wajahnya yang kesal tersebut.
"Mmfin" ucap Greysie tak jelas.
"Grey, dengerin ini baik-baik. Aku ngelarang kamu buat ngelakuin sesuatu tanpa se-izin aku, ngerti?!" perintahku, masih membungkam mulutnya.
"Kalau kedepannya gua nunjukin sikap yang aneh..." jelasku tak selesai, langsung terhenti.
Hal itu membuat kening Greysie semakin mengkerut. Ia sangat menunggu kalimat yang akan aku katakan selanjutnya.
"Gak, gua gak boleh bilang soal ini" batinku, semantara aku masih menatap Greysie dengan wajah berpikir.
"Maksud kamu apa, Ra?" tanya Greysie, membuka paksa tanganku dari mulutnya.
"Yang mana?" tanyaku kembali, meskipun aku tau apa maksud dari pertanyaannya.
"Itu tadi yang barusan, soal sikap kamu kedepannya" jawab Greysie, menatap tanya.
__ADS_1
Setelah itu, aku hanya duduk di samping Greysie dan bersender di sofa tersebut sambil melihat plafon kamarku.
"Orang nanya gak di jawab, ngeselin banget ni manusia satu" batin Greysie, menatap kesal padaku.
"Aaahh," memegang kepala, " fuc*k, i'm so sick of my self" ujarku sangat pelan, sambil menunduk.
"Kamu marah lagi sama aku, Ra?" tanya Greysie, mengikutiku menunduk untuk melihat wajahku.
"Lo ada cara gak sih supaya hilangin pikiran gua? Pengen lupa ingatan aja. Gua capek" tanyaku langsung melihat ke arah Greysie.
Sementara Greysie tidak peka dengan maksud dari perktaanku. Keningnya semakin mengkerut sambil menatap heran padaku.
"Kok ngomong gitu? Mau lupain aku juga? Kamu pengen lupain aku karena udah jadi beban pikiran kamu?" tanya Greysie.
"Gak bantu sama sekali. Gua mau minta tolong ke elo boleh gak?" mengomel dan bertanya.
"Soal?" tanya Greysie, semakin heran.
"Bunuh gua sekarang!" ucapku lantang dengan ekpresi datar.
"Apah?! Ngomong apa lo barusan?!" tanya Greysie, membentak dengan nada emosi.
"Lo mau lupain balas dendam elo?! Jadi semua rencana kita selama ini bakal lo biarain sia-sia gitu?! Hah?! Terus janji lo ke gua gimana?!" tanya Greysie, masih dengan nada emosi.
"Kalau udah mati pasti gak bakalan kepikiran soal dendam atau janji lagi" jawabku, biasa lalu bersender di sofa.
"Ckk! Bersiki lo!" bentak Greysie, menendang meja di hadapannya.
Greysie lalu berdiri dan menghancurkan kamarku. Ia membanting dan menendang semua barang yang ada di dalam kamarku. Hal itu membuat kamarku menjadi sangat berantakan. Barang pecah di mana-mana.
Sementara aku hanya diam duduk di sofa. Terlihat wajahku nampak tak begitu peduli.
Tak berselang lama, Greysie muncul di hadapanku dan langsung membanting tv dengan layar besar tersebut. Sedangkan aku hanya menatapnya biasa.
Setelah emosinya terluapkan, Greysie lalu berdiri menghadapku dengan kedua lututnya yang di tekuk kebelang. Ia lalu menyenderkan kepalanya di pangkuanku dan mulai memeluk erat sambil menangis sesegukan.
Aku sebelumnya mencoba untuk tak peduli, namun tangan kiriku bergerak secara refleks untuk mengusap rambutnya.
"Jangan tinggalin aku, Ra. Aku gak mau sendiri. Kamu jangan ucapin ka, ta- kata itu lagiii.. Ak, aku.. Gak mau jauh, kalau kamu ngomong kek gitu, aku jadi ngerasa jauh dari kamu, Raa. Huhuuu. Ak, uu, bissaa bunuh semua orang di dunia ini demi kamu, Ra" ujar Greysie, masih menangis sambil bersender di pangkuanku.
"Kamu mau aku bunuh siapa? Aku bakal bunuh mereka sekarang, hm? Keluarga Walker atau Cassie? Bryan? Atau ayah dan Ibu Cassie? Sebut aja Raa, aku bakal bunuh mereka sekarang. Pliss jangan minta aku buat lakuin hal itu ke kamu. Jangan ngeluarin kata-kata itu lagi. Huhuhuuu" pinta Greysie, menangis sesegukan sambil mendongak untuk melihatku.
__ADS_1
Sementara itu, aku melihatnya dengan ekspresi datar. Tak lama setelah itu, bibirku pelan tersenyum dengan tatapan berbohong.
Aku menghapus tiap-tiap air matanya yang jatuh mengaliri pipinya dengan tangan kananku.
"Jujur aku pengen mati aja sekarang" batinku, namun aku tetap tersenyum memandang Greysie.
"Maaf, Grey. Aku tadi cuman becanda doang. Hahahah. Bleee" ujarku, lalu menjulurkan lidah dengan wajah mengejek.
Hal itu membuat Greysie segera melepas pelukannya. Ia pun berdiri dan menatap kesal padaku.
"Ta*ikkk!" cela Greysie.
Setelah itu, Greysie langsung pergi dari hadapanku. Ia tak ingin melihat wajahku karena kesal, jadilah ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Sedangkan aku yang menatapnya keluar dari kamarku langsung meneteskan air mata.
Beberapa menit kemudian. Greysie tiba di depan rumahku. Ia segera membuka pintu mobilnya, namun terhenti sejenak karena berpikir.
Greysie teringat saat dia melihatku tak sadarkan diri karena melompat ke dalam kolam renang.
"Wait.. Kalau gua pergi.. Gak, gak bisa. Atau dia sengaja usir gua secara halus kek gini? Transparan? sengaja buat gua kesel? Supaya gua ninggalin dia? Sendiri? Anying. Berani banget manip gua sekarang" batin Greysie.
Greysie segera menutup pintu mobil miliknya. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Kemudian Greysie langsung berlari untuk segera menemuiku di kamar. Ia takut jika aku akan melalukan sesuatu lagi.
Sementara itu, di dalam kamar. Aku masih menangis kecil sambil menunduk dan memegang kepala dengan kedua tanganku.
"Bunda, Tiya.. Kenapa kalian ninggalin aku sendiri? Kenapa? Apa bunda sama Tiya udah gak sayang lagi sama aku? Kenapa kalian pergi gitu aja. Aku kangen kalian, aku pengen ikut kalian. Pliss jemput aku sekarang sebelum aku bener-bener jadi manusia terjahat di dunia ini. Bunda, Tiya. Aku bener- bener, aku.. Udah beneran masuk ke dalam jurang ibliss... jangan benci sama aku, maafin aku. Ma, aff. Ma, afin haakuu. Huhuhuuu. Salah aku apa bunda? Kenapa aku kek gini? Aku gak mau berubah jadi ibliss, huhuuu. Kenapa aku kek gini?? Kenapa?" gumamku, terus menangis terseduh-seduh.
"Tolong aku Bunda. Tolong kakak Tiya. Tolong Cara Hayaah" gumamku sambil menarik rambut.
"Siapapun. Pliss, tolong aku" batinku.
Sementara itu, Greysie sudah berada di pintu kamarku. Ia melihatku sedang menangis kecil sambil menarik rambut.
Melihat hal itu, Greysie segera menghampiriku. Ia duduk di sebelahku dan mulai memeluk erat diriku sambil menangis.
"Kamu kenapa gak pernah cerita masalah kamu sama aku, Ra. Aku bersumpah bakalan bunuh keluarga Milstone dan Walker dengan tangan aku sendiri" batin Greysie.
Bersambung...
__ADS_1