
(Plot kejadian seputar Bab 1, Part 1-3). Setelah aku berbisik, ia langsung memeluk erat diriku sambil meraba bagian belakangku.
Sedangkan tanganku yang telah mengambil pisau sedari tadi dari kantung jubahku langsung menggenggam erat pisau tersebut, manatap dingin. Ingin sekali rasanya segera membunuhnya saat ini.
"Aku mau ke rumah om, boleh gak?" tanyaku berbisik pelan di telinganya.
Sedangkan nafasku yang masuki telinganya membuatnya menjadi sangat frustasi bukan main. Ia langsung menarik tanganku sampai masuk ke dalam mobil miliknya.
Di perjalanan, ia terus saja melihat ke arahku sedang tangannya masih mengelus, bahkan meraba pahaku. Namun, aku segera menahan tangannya sambil tersenyum manis.
"Aku lebih suka di rumah om aja" ujarku, berbisik sambil tersenyum.
Hal tersebut makin membuat Simon Hiller frustasi, ia segera menancap gas mobil miliknya sampai kami berada di depan pintu gerbang rumahnya. Satpan kemudian membukakan pintu gerbang tersebut.
Setelah sampai di depan rumahnya, ia langsung merangkulku masuk ke dalam rumahnya. Namun aku tetap saja selalu menghindari pergerakan tanganya, sehingga membuat ia benar-benar merasa akan gila saja di buatku.
"Kejar aku, om" ucapku tersenyum berjalan mundur, lalu berlari kecil ke kamar di lantai satu.
Simon Hiller tersenyum dengan tatapan penuh nafsu saat melihatku, lalu ia segera mengejarku. Setelah itu, aku masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Simon Hiller. Ia juga langsung menunci pintu dan segera memelukku dari belakang, namun aku terus menghindarinya.
Mataku sedari tadi selalu melirik cctv yang ada di dalam rumah ini, sedang tanganku juga mengetuk-ngetuk pelan sambil berpikir. Aku juga telah menaruh obat cair ke dalam minuman yang ada di meja, tepatnya di dekat tempat tidur tersebut.
"Eeitt!," memegang bibirnya, "gimana kalau kita minum dulu sebelum memulainya?" tanyaku tersenyum manis.
__ADS_1
Sedangkan Simon Hiller langsung meneguk minuman tersebut tanpa basa basi, ia segera ingin menciumku. Namun, aku malah menunduk. Perlahan tawa kecilku mulai terdengar, sedangkan Simon Hiller menatap heran padaku. Kemudian akuu segara mengangkat kepala, sedang mimik wajahku berubah menjadi tatapan dingin. Lalu aku berkata.
"Bukannya, om lagi ngantuk sekarang?" tanyaku, menatap dingin.
Sontak, keseimbangan tubuh Simon Hiller mulai hilang, ia juga memegang kepala karena merasa sangat pusing. Sedangkan matanya terasa sangat berat menahan rasa kantuk.
"A, pa, yang kamu, laku, kan pada..." ujarnya tak selesai, kemudian ia terjatuh. Namun matanya masih terbuka sesekali.
Aku yang melihatnya langsung melangkahi dirinya. Kemudian aku pergi mencari ruang kontrol Cctv dan segera menghapus video sebelumnya dan mematikan semua kamera, mulai dari kamera depan gerbang hingga dalam kamera di dalam rumahnya. Setelah itu, aku kembali ke kamar.
"Om ikut aku, ya" ujarku, menaruh tangan kanannya untuk melingkari area leherku.
Rumah ini sangat sunyi, semua Art juga telah tidur karena memang waktu juga sudah tengah malam. Kemudian, aku membawanya sampai di hutan perumahan elit tersebut. Aku mengikatnya pada salah satu pohon di hutan tersebut.
Simon Hiller juga masih setengah sadar, kemudian aku mendekatkan wajahku pada telinganya dan berbisik pelan padanya.
Aku membuka tas hitam tersebut, tas itu telah berada di hutan itu karena sebelumnya aku telah menaruhnya di sana. Tanganku meraba tas hitam itu untuk memilih peralatan yang akan aku pakai untuk membunuhnya.
Sebuah kapak berukuran sedang keluar, namun aku malah mengerytkan bibir. Setelah itu aku mengambil gregaji, palu dan juga pisau. Namun, aku masih saja menggeleng kecil
Sampai pada peralatan berikutnya, wajahku yang sbelumnya nampak bingung berubah menjadi mimik ceria, karena melihat benda di tanganku. Benda itu adalah sebuah gunting rumput yang berukuran besar.
Kemudian aku mulai menusuk dan memotong bagian kem****nya. Ia meringis, menahan kesakitan yang luar biasa. Darahnya juga mengalir deras, bersamaan dengan keringat dinginnya. Namun, ia tak bisa berteriak karena aku menyumpal mulutnya dengan kain.
__ADS_1
Setelah itu, aku mengambil pisau dan memotong beberapa jarinya. Selama beberapa jam, aku membiarkan dirinya merasa tersiksa. Saat aku puas menyiksa dirinya, tanganku mengambil kapak yang berada di dalam tas hitam tersebut dan langsung menancapkannya di kepala Simon Hiller. Darahnya memuncrat sampai mengenai wajahku, namun hal itu malah membuatku tersenyum senang dan makin bersemangat untuk membelah kepala dan otaknya tetrsebut.
Besoknya. Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Namun, setelah aku sampai di sekolah aku tak bisa menemukan keberadaan Greysie, dia juga tak menjawab telpon dariku.
Hal itu membuatku merasa sangat cemas terhadapnya. Aku berbikir bahwa dia mungkin telah melakukan seseuatu yang gila lagi terhadap dirinya sendiri, sehingga aku memutuskan untuk mengecek ke rumahnya.
Greysie harus terlibat dengan polisi, dan aku sangat tidak suka dengan hal itu, sehingga membuatku sangat marah sampai memukul siswa-siswi dari Sma Harapan.
Di sebuah taman, tempat favorite aku dan Greysie. Kamu sedang berjalan, namun seorang siswi dari sekolah Sma Harapan tak sengaja menyenggolku hingga membuatku terjatuh. Namanya adalah Mela.
Greysie membantuku berdiri, sedangkan Mela jug tak henti meminta maaf padaku. Lalu aku bertanya padanya sampai siswa-siswi lain sekolah Sma Harapan muncul, mereka datang untuk mencari Mela.
Kemudian, aku mendorong Mela ke arah Kesya dan Kesya segera memukul kepala Mela berkali-kali, aku yang melihatnya langsung berjalan pelan menghampiri Mela dan menyamai posisi badan kami. Wajahku pelan mendekat padanya, kemudian aku membisikan sesuatu di telinganya sambil tersenyum saat melihat wajah Kesya.
"Kamu.. mau aku bunuh dia untukmu?" tanyaku, berbisik pada Mela sambil tersenyum. Lalu melirik Kesya.
Mata mela membulat karena terkejut saat ia mendengar perkataan yang keluar dari mulutku. Ia mengrytkan kening sambil menatap heran sekan tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Ia juga hanya diam sambil melirik aku yang telah berdiri.
Setelah berdiri, aku langsung memukuli Kesya serta teman-temannya sampai mereka tergeletak lemas tak berdaya. Wajah mereka lebam dan terus mengeluarkan darah.
Sedangkan aku hanya tersenyum puas meraskan darah yang tersentuh oleh kulit tanganku. Rasanya sulit untuk di gambarkan, jantungku berdebar kencang di karenakan hal itu, seperti akan membunuh mereka saat ini juga. Namun aku harus mengendalikan diriku, terlalu banyak mata yang melihat. Tetapi, mereka harus tetap di larikan ke rumah sakit karena terluka parah akibat perbuatanku.
Polisi datang dan langsung membawaku ke kantor polisi untuk di introgasi. Aku menjawab pertanyaan mereka dengan sangat jujur. Alasan aku memukuli mereka hanya karena saat itu aku sedang kesal dan mereka membuatku makin merasa kesal saja.
__ADS_1
Bagaimana bisa mereka membully seseorang di depan mataku, apa mereka ingin segera mati di tanganku?
Bersambung...