Ilusi

Ilusi
BAB 32 (Part 1)


__ADS_3

Siang tadi, pada jam 14:30, Rasya sedang memandangi foto Aku dan Greysie. Saat sedang asyik memandangi foto, Rasya mendengar suara langkah kaki semakin mendekat padanya.


Kemudian, ia membuka laci yang berada tepat di depannya lalu mengambil pistol miliknya. Pistol itu di arahkannya ke pintu yang berwarna cokelat tersebut.


Gagang pintu perlahan bergerak, pintu terbuka. Seseorang dengan wajah tak asing muncul dari balik pintu itu.


"Baaaaaaa, Hahaha" ucap Aric.


Dorrr......!, tembakan di lepas.


Hal itu membuat Aric terjatuh ke lantai. Ia terbaring dengan posisi tengkurap.


"Woy udah, gak usah pura-pura mati" tegur Rasya.


"Lo nembak gua tadi broo," masih terbaring di lantai, "jadi gua mati sekarang" ujar Aric.


Mereka berdua pun berbincang, membahas mengenai Aku dan Greysie yang menjadi seorang tersangka kasus pembunuhan berantai.


Aric juga memberitahu Rasya bahwa dia pernah bertemu dengan Greysie secara tak sengaja di rumah sakit.


********


Malamnya. Greysie telah lama menunggu Ayahnya sadar dari pingsannya.


"How is it? you know my voice?" bisik Greysie.


"Look!" ucap Greysie, menatap mata Ayhnya dengan tatapan tajam.


"Hmm?! Hmmm, hmmm!" ucap Ayahnya, memberontak.


Greysie lalu mengambil sebuah pemukul basseball. Kemudian, ia berdiri tepat di depan ayahnya sambil memegang pemukul itu.


Greysie memejamkan mata dan mengingat semua kembali kekejaman Ayahnya padanya dan juga pada Ibunya. Ia menguatkan cengkraman tangannya pada pemukul basseball, dan mengayunkan ke atas.


Napas Greysie memberat. Ia teringat ketika Ayahnya terus memukulinya sampai ia terkena pannict attact.


Greysie juga terus teringat saat ia ingin melakukan pencobaan bunuh diri karena mendengar setiap perkataan kasar dari Ayahnya ataupun pukuli terus-menerus.


Tak ada satupun kenangan indah yang terlukis di benak Greysie saat bersama Ayahnya. Hal itu membuat Greysie semakin menggenggam erat pemukul basseball sedang napasnya semakin memberat dan cepat.


Semakin Greysie mencoba untuk mencari kenangan indah bersama Ayahnya, ia malah semakin dendam dan benci karena teringat akan kenangan buruknya saja.


Perlahan wajahku mulai nampak di dalam ingatan Greysie. Aku tersenyum padanya, hal itu membuat Greysie juga ikut tersenyum sambil memegang kuat pemukul basseball sedengkan tangan Greysie yang tadinya gemetar menjadi semakin mengeratkan kekuatannya.


Greysie lalu membuka matanya. Ia tersenyum sambil menatap tajam Ayahnya.


Bruk...! Pak....! Bruk....! Pak.....!


Greysie memukuli kepala Ayahnya sebanyak dua kali, kemudian ia lanjut memukuli tubuh Ayahnya sampai Ayahnya jatuh dengan kursi.


Setelah Ayahnya terjatuh. Greysie perlahan mendekati Ayahnya dan mematahkan kaki serta tangan Ayahnya dengan tangannya sendiri.


Aaaaaaaaaaghh.......!


Teriak Ayahnya kesakitan. Ayah Greysie tak melihat wajah Greysie karena ia masih memakai masker, topi dan juga tudung di kepalanya.


"Ap... Aaaaaghh......! Apa ka, muhh Greyy...? Pliss.... Maafinnn... Papa... Aaaaaaghhh......!"


Greysie membuang jauh-jauh sifat tak teganya. Kini yang ada di dalam pikiran Greysie adalah menyiksa Ayahnya sampai ia merasa puas.


"Papa udah kalau tau ini gua" batin Greysie.


"Aku punya fotomu bersama dengan selingkuhanmu. Jika ini sampai tersebar, maka saham perusahaanmu akan anjlok, nama baikmu akan tercemar. Apalagi jika media sampai tau siapa yang sudah membuatmu menjadi seperti ini, ngerti?" bisik Greysie, mengancam.


Setelah puas menyiksa Ayahnya sendiri. Greysie lalu memasukan Ayanya ke dalam bagasi mobilnya. Waktu sudah menunjukan tepat pukul 01:30 tengah malam. Gemuruh terdengar tak lama setelah kilatan cahaya biru dari balik-balik awan tebal kehitaman itu.


Greysie melihat catatan di dalam mobilnya yang bertuliskan "Simpen ini di dalam kantung baju Papa kamu" (arah panah menunjuk alat perekam suara yang berukuran kecil).


Setelah membaca catatan dariku, Greysie lalu mengambil alat perekam suara itu dan menyimpannya ke kantung baju Ayahnya.


Malam itu, hujan semakin deras. Mobil hitam Greysie berhenti di sebuah taman. Greysie juga masih memakai jubah berwarna hitam, kemudian ia keluar dari mobil dan membuka bagasi, lalu mengeluarkan Ayahnya dari bagasi mobilnya.


#


Sebelumnya. Setelah pergi meninggalian Greysie. Aku segera menyalakan motor dan segera pergi dari sana.


Di perjalanan, kepalaku terasa sangat pusing, hampir saja aku menabrak pembatas jalan.


Seseampainya di dalam rumahku. Darahku terus mengalir sampai menetes di lantai.


Sedangkan aku terus mencari sebuah penutup tombol. Namun aku telah kehilangan sebagian fokusku sampai tak ingat di mana letak penutup tombol tersebut.


Setelah aku berhasil membuka pintu ruangan rahasia. Aku masuk dengan langkah kaki yang tak seimbang. Mataku sesekali terpejam, sedang kepalaku teramat sangat pusing. Rasyanya aku akan pingsan saat itu juga.


Setelah mengambil kotak P3k, aku langsung mengobati lukaku di dalam kamar mandi ruangan rahasia ini.


Di dalamnya. Pisau masih menancap tepat di bagian kiri perutku. Lalu aku mencoba untuk mencabut pisau itu sekuat tenaga.


"Aargggh, haaa, hmf," menahan napas. Lalu tanganku berhenti, sementara napasku menjadi pendek, serta cepat.


Keringat juga terus mengalir membasahi sekujur tubuhku, sedangkan bibirku juga ikut memucat.


"Satu tarikan. Sat," menelan ludah, "satu tarikan, Ra. Tangan lo jangan berhenti" batinku.


"A, argh," mencoba menarik pisau lagi. Namun tak bisa melakukannya, karana rasanya sangat teramat sakit bukan main.


"Fokus Ra, Fokus!" batinku, memarahi diriku sendiri.


"Lo bisa, lo bisa. Lo harus bisa. Tahan Ra, lo harus tahan. Pokoknya lo harus bisa tahan" batinku lagi-lagi mengoceh sendiri.


Kemudian kedua tanganku sudah memegang pisau tersebut. Kepalaku juga menjadi sangat pusing di banding sebelumnya. Sedangkan bibirku semakin memucat saja, seluruh anggota tubuhku juga terus gemetar.


"Satu, dua, ti," mencabut sekuat tenanga, "Aaaaaaaghaah," gemetar langsung tergeletas lemas, "huh, huh, huh," bernapas cepat.


"Hmfz, jha.. ang- an, ping- saan, Ra" ucapku, lirih.


Mataku semakin terasa berat, lalu aku pun pingsan selama satu jam lamanya.


Setelah sejam kemudian, waktu sudah menunjukan pukul 02:19 tengah malam. Greysie memarkirkan mobilnya di garasi rumahku, ia membuka pintu lalu masuk.


Di dalam kamar, Greysie mencariku namun aku tak ada di sana, sehingga ia terus menelponku, akan tetapi ternyata hpku ada di dalam laci.


"Kok gak di angket sihh?" batinya.


Kemudian, karena hal itu Greysie memilih pergi untuk mencariku keluar. Untung saja Greysie juga tidak memperhatikan lantai di rumahku, yang di mana ada darahku yang menetes.


Lampu rumahku juga hanya sebagian yang menyala karena sudah tengah malam, jadi hal biasa jika lampu di matikan sebagian.


Di dalam wc, ruangan rahasia.


Banguuuuuun......!


Alam bawah sadarku menyuruh untuk bangun, dan seketika mataku terbuka lebar, sedang aku menarik napas panjang, kemudian terbangun duduk dengan napas yang terengah sambil memegang perut.


Darahku juga sudah memenuhi lantai di dalam kamar mandi ruangan itu.


"Haaaa, huh, huh, uhuk, uhuk..," napas lemah.


Kemudian, aku membuka kotak Pk3 dengan tangan gemetar. Terdapat botol kecil yang berisikan cairan putih di dalamnya, lalu aku menuangkan cairan obat itu ke lukaku.


"Arghh, haaa," merintih.


Setelah selesai mengobati lukaku sendiri, aku lalu membersihkan darah yang terkena tangan serta sekujur tubuhku.


Kemudian dengan badan yang masih belum seimbang, aku membersihkan semua darahku yang menetes di lantai rumahku.


Namun, aku lupa membersihkan darah yang ada di dekat pintu ruangan rahasia. Hal itu karena kepalaku terasa sangat pusing.


Setelah selesai membersihkan noda darah di lantai rumahku, aku kemudian berjalan pelan ke arah kamarku sambil menopang diriku dengan dinding.


Seampainya di dalam kamar, aku duduk di tempat tidur, sementara kedua tanganku gemetar saat memegang dua butir obat antibiotik. Lalu aku segera meminum obatnya bersama dengan air putih di tangan kananku.


Setelah meminum obat, aku langsung kehilangan kesadaranku lagi. Artinya pingsan setelah meminum obat tersebut.


Beberapa jam kemudian. Waktu menunjukan pukul 04:50 pagi. Greysie baru sampai setelah lama mencariku dengan hasil nihil. Ia lalu masuk ke rumahku sampai ke dalam kamar.


Greysie memutar gagang pintu, ia melihatku sudah tertidur pulas dengan posisi tak teratur. Greysie segera menghampiriku, ia berdiri tepat di depanku sambil bersilang tangan saat menatapku tidur.


Mata Greysie melirik aku dari atas sampai bawah, ia juga melirik gelas yang pecah di lantai. Keningnya mengkerut, sedang tangannya langsung bergerak untuk menepuk pipiku.


"Raa?" ucap Greysie, menepuk pipi. Namun tak ada jawaban dariku.


"Kok dingin banget badan Cara" batin Greysie, sedang jantungnya mulai memompa darahnya dengan sangat cepat.


"Raa?" ucap Greysie sekali lagi sambil meremas pipiku agar aku bangun.


"Hmmf," suara napasku menyauti panggilannya.


Hal itu membuat Greysie bernapas lega sambil menundukan kepalanya.


"Kamu sakit, Ra?" tanya Greysie, cemas.


Mendengarnya, aku segera mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk bersikap sok kuat. Lalu aku bangun dan langsung berdiri. Sedangkan Greysie hanya bisa melihatku.


Setelah berdiri, aku malah diam. Sedangkan Greysie menatap heran padaku. Aku diam karena kepalaku sangat pusing, lalu Greysie segera berdiri di hadapanku, ia melihat aku sedang memejamkan mata.


"Ra, are you okay?" tanya Greysie, memegang kedua pundakku dengan tatapan cemas.


Mendengarnya, sontak mataku terbuka. Aku tak ingin Greysie tau tentang hal ini jika tidak dia akan pergi membunuh Ayahnya sekarang.


"Ng, gak pp" jawabku, lirih.


"Muka kamu pucet banget, Ra" ucap Greysie.


Sementara itu, tanganku bergerak refleks untuk memegang kepalaku. Rasanya seperti aku akan pingsan saat itu juga, namun otakku memaksa badanku untuk tetep berdiri tegak.


"Duduk dulu, Ra. Kamu sakit kepala? Bentar aku ambilin obat buat kamu" ujar Greysie segera mengambil obat untukku.


Greysie membuka kotak obat dan memberiku obat sakit kepala. Sedangkan aku langsung meminumnya agar ia tak merasa curiga.


"Mending kamu tidur lagi, Ra. Maaf aku bangunin kamu tadi" ucap Greysie, menyuruhku tidur.


Kemudian aku kembali berbaring. Sedangkan Greysie pergi mengambil baskom yang berukuran sedang berisikan air hangat.


Greysie merasa bingung mengapa seluruh tubuhku sangat dingin. Lalu ia segera menyelimuti tubuhku dengan selimut dan menaruh kain dengan perasasan air hangat ke kening hingga leherku.


Tak lama kemudian, Greysie tertidur dengan posisi duduk, sedangkan tanganya masih memegang tanganku.


Beberapa jam kemudian. Waktu sudah menunjukan pukul 06:50 pagi. Perlahan mataku terbuka, di mana aku langsung melihat wajah Greysie yang sedang tertidur. Lalu aku bangun dari baringku dengan perlahan agar tak membangunkan dirinya.


Aku juga memakaikan selimutku padanya dan segera pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku langsung meminum obat antibiotik sebanyak 3 butir tanpa makan terlebih dahulu. Untung saja aku juga tidak overdosis karena meminumnya.


Beberapa saat kemudian, aku keluar dari dalam kamar mandi. Kepalaku juga tak sepusing semalam, namun badanku masih terasa sangat lemas.


Saat sedang berjalan keluar tiba-tiba aku melihat lantai seperti bergoyang yang di mana membuat keseimbangan tubuhku menghilang. Hal itu membuat aku hampir saja terjatuh jika Greysie tak segera menahan tubuhku.


"Raa" ucap Greysie memegang kedua lengan atas tanganku.


"Kamu gak pp? Kita ke rumah sakit gimana?" tanya Greysie dengan wajah cemasnya.

__ADS_1


"Kamu gak usah sekolah hari ini. Biar aku anterin ke rumah sakit, kita harus ngecek keadaan kamu" ujar Greysie mengantarkan aku ke tempat tidur.


Di tempat tidur, aku duduk sambil memegang kepala dengan kedua tanganku. Sedangkan Greysie juga mengikutiku duduk sambil terus melihatku.


"Ra, kamu gak pp?" tanya Greysie, mengintip wajahku yang sedang menunduk.


"Aku gak papa" jawabku, langsung beridiri.


Seketika tenagaku terasa seperti terisi kembali, meskipun tak sepenuhnya.


"Raa. Kamu.." ujar Greysie tak selasai.


Aku langsung berjalan ke arah lemari pakaianku dan segera memakai seragam sekolah milikku. Sedangkan Greysie hanya bisa menatapku, ia tak bisa memaksaku jika sudah seperti itu.


Tak lama kemudian, Greysie segera mandi. Beberapa saat kemudian setelah ia selesai mandi. Kami pun berangkat ke sekolah.


Tiba di sekolah, kami belajar seperti biasanya. Sementara itu, Riska terus melirikku dengan wajah kesalnya. Ia kesal kerena semalam telponku tiba-tiba mati saat ia menelponku.


Beberapa jam kemudian, bell istirahat berbunyi. Greysie mengajak pergi ke kantin untuk makan.


"Ra, kok kamu pucet banget?" tanya Greysie dengan mimik wajah cemas.


"Hah? Em, aku demam semalam" jawabku.


"Demam? Demam apanya orang badan dia semaleman dingin semua. Kalau demam pasti anget, tapi semalam malah dingin" batin Greysie. Sedangkan keningnya mengkerut.


"Kok gak bilang? sekarang kamu gimana, masih sakit gak?" tanya Greysie, memeriksa kening hingga leherku.


"Dingin banget, ni anak lagi bohong sama gua. Lebih baik gua ikutin aja dulu" batin Greysie.


"Dingin banget badan kamu, Ra" ujar Greysie sambil mengelap keringatku yang mengalir.


"Semalam kamu kemana, Ra. Aku nyariin kamu," mengerytkan kening," heyy, kamu lihatin apaan sih. Aku dari tadi ngomong malah di kacangin" tegur Greysie dengan nada kesal.


"Fans kamu banyak banget" ujarku, meledeknya.


"Hah?," melihat mereka, "hm, keknya mereka suka sama kamu, Ra" ujar Greysie.


"Mereka itu lihatin kamu bukan aku Grey," menatap ejek, "hahahaha," ledekku lagi.


Sementara itu, ke lima siswa pemain basket berparas tampan tersebut tertawa dan tersenyum saat melihat kami.


"Lihat tu Than," melirikku, "Cara lihatin gua" ucap Alfie, tersenyum.


"Hm, kegeeran lu bro" ledek Athan.


"Bro, kalau kalian berdua gak bisa dapetin si Cara ma Greysie, gentian lah bro, siapa tau mereka sukanya sama salah satu dari kita," mengkode Andre dan Dion, "ya kan bro" ucap Axel.


"Yoi," mengangkat satu alis, "broo" jawab Andre.


"Boleh juga tu bro" sambung Dion tersenyum.


"Aelah bro, kalian incer aja anggota Hell's Anggel itu, atau si Cassie, mereka semua kan juga cantik" balas Athan.


"Iya, banyak kok cewek cantik di kelas, bukan cuman mereka berdua aja" sahut Alfie.


"Ya emang bro, tapi siapa sih di sekolah ini yang gak ngincer dua cewek bersahabat itu" ledek Axel.


"Udah, kalian incar yang lain aja bro" ucap Athan.


"Iya, intinya si Cara udah jadi incaran gua dari lama, jadi kalian jangan gangguin" seru Alfie.


"Hahaha, yaelah becanda doang bro" ledek Axel.


"Hahaha, serius banget lu berdua bro" sambung Andre.


"Bener lagi, hahaha" sahut Dion menepuk pundak temannya itu.


Sementara itu,


"Hmm," menyipitkan mata, " si Alfie itu suka sama kamu, kelihatan dari mukanya" ujar Greysie.


"Iya biarin aja, itu juga si Athan suka sama kamu" sambungku.


"Hm," tersenyum, "menurut aku dia suka sama kamu deh" ucap Greysie.


"Yaelah, terus aja gitu Grey, Grey" ucapku, menggelengkan kepala.


"Hm? gitu gimana?" tanya Geysie.


"Ya, terus aja jadi orang yang gak pekaan" jawabku.


"Emang iya?" tanyanya lagi.


"Hedeoh, "memukul kepala, "gak nyadar lagi" ucapku.


"Hahahaha. Hm keknya iya, tapi kan ada kamu yang jadi pengamat handal" ledeknya. Aku hanya menatapnya dengan wajah biasa.


"Tapi..," wajah serius, "jangan pikir aku bakal lupa dengan pertanyaan aku tadi, kamu tuh hobi banget ya mengalihkan topik pembicaraan, aku tadi nanya ke kamu, kok malah bahas yang lain," menatapku, "aku bisa lihat loh dari muka kamu, kamu pucat banget, Ra" ungkapnya.


"Emm," menatap bingung, "Ak.." ucapku.


Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba nada dering telpon milik Greysie berbunyi, ia pun menjawabnya. Itu adalah Ibunya yang menelpon.


"Grey, papa kamu masuk rumah sakit, dia di serang orang, sekarang papa kamu masih di operasi" jelas ibunya di telpon, ia menangis


"Apa mahh?!" ucap Greysie, berdiri.


Ibunya menjelaskan semua yang dia ketahui mengenai kejadian yang menimpa ayahnya. Greysie bergegas setelah mendengar hal itu, sedangkan aku masih terlihat pura-pura bingung.


"Ada apa sebenarnya? Apa Grey udah? Hm, syukurlah kalau Grey nepatin janjinya" batinku.


"Papa aku masuk rumah sakit Ra, dia di serang" jawab Greysie berjalan pergi.


"Kamu," mengikutinya, "khawatir Grey?" tanyaku.


"Aku harus acting terus kan?" batin Greysie. Sementara aku mengkode dengan alis.


"Of Course yaa," melihatku, "that's my dad Ra," wajah bingung, "kok kamu nanya?" ujar Greysie.


"Emm," melirik kening serta pupil matanya, "i'm sorry just.. forget it" jawabku.


Setelah itu, kami langsung pergi ke rumah sakit. Sementara siswa-siswi di sana nampak kebingungan.


Riska juga nampak penasaran, ia melihat chatnya padaku sedari tadi malam masih tercentang satu.


"Kok mereka buru-buru gitu?" batin Riska.


"Mereka kenapa lagi? Apa Bryan udah kasih pelajaran sama Ayahnya Greysie? Tapi sampai sekarang kok Bryan gak bisa-bisa di hubungin" batin Cassie.


"Keknya terjadi sesuatu sama mereka" ujar Alfie, sambil melirik teman-temannya.


"Iya, apa kita tanya aja?" saran Athan.


Tetapi, sebelum mereka bisa bertanya pada kami. Kami sudah menghilang dari pandangan mereka semua.


Di mobil,


"Papa aku kenapa, Ra? Siapa yang udah nyerang dia?" ujar Greysie, menangis.


"Kamu yang sabar ya Grey. Mungkin dia benci sama Papa kamu" ujarku, mengusap rambutnya.


Greysie melihatku, ia ingin tersenyum. Tetapi dia berusaha untuk tetap menahannya. Seperti kataku pada Greysie semalam. Kami harus tetap ber-acting meskipun hanya kami berdua saja yang berada di dalam suatu ruangan.


********


Tiba di rumah sakit. Greysie langsung berlari mencari ruangan Unit Gawat Darurat (UGD). Sedangkan aku mengikutinya. Selang beberapa menit, kami pun sampai di depan ruang UGD.


Di sana ibu Greysie sedang duduk di ruang tunggu, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Maahh, " memeluk ibunya, "papa kenapa mah?" tanya Greysie, memeluk.


Greysie memeluk ibunya sambil tersenyum kecil dan pura-pura menangis.


"Mama juga gak tau Grey" jawab ibunya, menangis pilu.


Dokter dan suster terlihat sibuk membelah daging berwarna merah bercampur darah bercucuran itu. Aku menatap Greysie dan ibunya. Operasi dilakukan selama beberapa jam.


Setelah selesai mengoperasi. Dokter keluar dari ruangan dan langsung di hadapkan dengan banyak pertanyaan dari kami.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Ibu Greysie, cemas.


Dokter Aric pun menjelaskan mengenai keadaan Ayah Greysie. Ia menjelaskan bahwa Ayah Greysie hanya mengalami geger otak ringan, akan tetapi kaki dan tangan Ayahnya menglami patah tulang, hal itu membuat Ayah Greysie tak akan pernah bisa berjalan normal kembali.


Satu hari berlalu. Rasya sedang berbicara pada Aric, mereka di pertemukan secara tak sengaja karena kejadian ini.


Beberapa hari berlalu, tiap menit dan jam berganti kami berada di rumah sakit untuk menjaga Ayah Greysie secara bergantian. Aku tak sempat merawat lukaku sendiri, wajahku juga semakin pucat saja.


Sementara itu, Greysie nampak menahan diri untuk bertanya padaku kerena kami masih berada dalam suasana yang tak kondusif.


Hari ini, Ayahnya perlahan mulai membuka matanya, ia mulai sadar.


"Pahh?" ucap Greysie.


Sontak, aku dan ibunya langsung berdiri untuk melihatnya, saat bangun ayahnya langsung melihat ke arah kami.


Matanya membulat, ia terlihat seperti orang yang sedang ketakutan, keringat juga terus mengalir dari keningnya. Greysie melihat ke arahku, lalu aku meliriknya dengan ekspresi biasa.


"Pahh? Papa gak pp?" tanya Greysie.


"Kamu gak pp?" ujar ibunya, juga bertanya.


"Ada apa," menatap matanya, "dengannya? Apa dia udah tau kalau semua itu perbuatan aku dan Grey? Tapi saat itu kan kita lagi pakai masker. Apa jangan-jangan? Jangan-jangan dia denger percakapan gua sama Grey? Oh... God, shitt!" umpatku, dalam hati.


"Om gak pp?" tanyaku, memegang tangannya.


Namun, Ayah Greysie langsung menepis tanganku seakan ingin menjauh dari kami.


"Hnh, sialan. Dia beneran tau" batinku.


Aku langsung melirik Greysie, sementara ia mengkode dengan alisnya seakan berkata setuju.


#


Hari ini, tepatnya di hari minggu. Aku baru memeriksa telpon milikku dan melihat telah banyak pesan wattsapp dan panggilan tak terjawab dari Riska. Kemudian, aku segera mengirimkan chat padanya.


Gua ke situ (mengirim chat).


"Grey, aku mau pergi kerja tugas kelompok dulu" pamitku, melangkah pergi.


"Ra, kamu gak pp? kamu pucet..." ujar Greysie tak selesai.


"Aku pergi" ucapku, menutup pintu rumah sakit.


Di depan rumah sakit, aku menaiki motorku. Rasanya kepalaku juga sangat pusing. Sudah beberapa hari aku tak mengganti perbannya dan lukaku selelu berdenyut.


Beberapa saat kemudian, tiba di depan rumah Riska. Aku langsung menyender di dekat pintu sambil memencet bell rumah.


Ting nung..... Ting nung.....

__ADS_1


"Gak tahannn, pengen pingsan rasanya" batinku.


Tak berselang lama, Riska membukakan pintu dan menarikku sampai ke dalam kamarnya.


"Lo sengaja gak..." ujar Riska, tak selesai.


Tubuhku bergerak jatuh, sementara Riska juga refleks menahanku. Ia lalu membaringkanku ke tempat tidur. Sementara aku bernapas cepat, mataku terpejam sesekali sedang keringatku terus mengalir membasahi area wajahku.


"Huh, huh, huh," menelan ludah, "huh, egmf," merintih dan bernapas lemah.


"Ra, lo kenapa? Sakit?" tanya Riska, memeriksa keningku.


Riska merasakan dingin saat memegang keningku, lalu dengan ceketan ia pergi untuk mengambil air hangat. Setelah mengambil air hangat, Riska lalu mengompres dan mengelap keringatku.


Kemudian, Riska membuka jaket hitam milikku dan menyimpannya. Setelah menyimpan jaketku, ia lalu duduk kembali sambil mengompres air hangat.


"Ra, gua pindahin posisi lo dulu" pamit Riska, membantu memperbaiki posisi baringku.


Setelah membantuku, Riska melepas tangannya dari area perut dan belakangku. Saat melepas tangannya, mata Riska membulat karena di tangan kanannya penuh dengan darah. Ia pikir sebelumnya itu adalah keringatku.


"Ra? D-darahh... Lo, lo kenapa?" tanya Riska, cemas.


Riska lalu membuka bawah bajuku dan melihat darah sudah menembus perban.


"Ra? Lo kenapa? Lo... Gua bawa lo ke rumah sakit sekarang" ujar Riska, segera membantuku berdiri.


"Hnfgak, gak. Jangan bawa gua ke rumah sakit, Pliss... Grey gak boleh sampai tau, hmghf.. Dia gak boleh tau. Kalau ke rumah sakit, pasti bakalan di suruh nginep sampai berhari-harii. Guaa... gak bisa... Jangan sampai Grey tau" ujarku, lemah.


"Tapi luka lo parah banget ini!" bentak Riska.


"Pliss, gua gak bisa biarin Grey tau soal ini" ujarku, memohon mengenggam kuat tangan Riska.


"Kalau Grey tau dia bisa hilang kendali. Gak boleh, itu gak boleh terjadi" batinku.


"Rumah sakit lain gimana? Grey jagain Papanya di rumah sakit Medical itu kan?" saran Riska.


"Gua udahh bilangm... Nanti bakal di paksa nginep kalau ke rumah sakit, terus nanti Grey curiga kalau gua gak balik-balik" jelasku, bernapas lemah.


"Alesannya kenapa, Ra? Kenapa Greysie gak boleh tau soal ini? Bukannya dia sahabat elo?" tanya Riska.


"Gua gak bisa jelassinn. Pliss, plisss..." jelasku, masih bernapas lemah.


Riska dengan terpaksa menuruti keinginanku. Kemudian, ia mengambil kotak P3k untuk mengobati lukaku.


Setelah itu, Riska segera membuka perban di perutku. Darah masih keluar dari bekas tusukan itu, sementara Riska takut sendiri saat melihat lukaku yang parah.


Kemudian, ia mengelap darah yang terus mengalir. Namun berapa kali ia mencoba untuk mengelap darahku, darah itu terus saja keluar.


Karena darahku terus saja keluar, Riska segera menyuruh bibi untuk membelikan sebuah alat yang di gunakan untuk melekatkan kulit/daging manusia.


Beberapa saat kemudian, bibi memberikan alat itu pada Riska. Kemudian, Riska segera menggunakannya untukku.


"Ra, ini bakal sakit banget" ucap Riska.


"Gak pp, aku gak pp" ujarku, lemah.


Kemudian, Riska segera menancapkan alat itu ke area yang terkena tusukan di perutku. Hal itu membuatku berteriak sakit.


"Arrghh... Wait, wait," menahan tangan Riska.


"Wait, Ka. Wait... hmgfg," bernapas lemah.


Tanganku gemetar saat memegang tangannya, sementara itu wajah dan bibirku semakin pucat saja.


"Tahan, Ra. Dikit lagi lukanya bakal ke tutup semua" ujar Riska.


Riska lalu menaruh kembali alat itu ke bagian lukaku sambil menekan tombol untuk merekatkan kulit/daging.


"Aaaghhaaa... Hmghh....," bertiak, dan bernapas lemah.


Setelah selesai, Riska lalu menuangkan obat ke dalam luka tusukan di perutku, membuatku kembali merintih menahan sakit.


Kemudian, setelah ia selesai menuangkan obat. Riska lalu membalut lukaku dengan perban, sementara aku menjadi semakin lemah.


Mataku sesekali terpejam sedang napasku semakin cepat dan lemah. Setelah itu, Riska memberikan obat antibiotik padaku.


Lo istrahatt aja dulu Ra... Biar gua yang ngerjain tugas kelompoknya.


Aku melihat wajah Riska menjadi buram, sementara suaranya bergelombang dan mengecil di pendengaran telingaku. Kemudian, aku pun tertidur.


Besoknya. Aku terbangun terkejut dan melihat sekitar. Kemudian, aku bangun dari baringku.


Saat aku ingin membuka pintu, Riska terlebih dulu membuka pintunya dari luar.


"Mau kemana lo, Ra?" tanya Riska.


"Ke rumah sakit, nanti Grey nyariin gua" jawabku, melangkah pergi.


"Lo mau naik motor dengan kondisi kek gitu? Biar gua anterin" ujar Riska.


"Gak, gak perlu. Gua pergi sendiri" tolakku.


"Emang lo pikir gue minta izin ke elo?" tanya Riska, mengambil kunci mobil miliknya.


Setelah itu, Riska menarik tanganku sampai di depan mobilnya.


"Kalau temen lo lihat ini..." ujarku, tak selesai.


"Udah, lo diam aja" ucap Riska, menutup pintu mobil.


#


Sesampainya di depan rumah sakit. Aku segera keluar dari mobilnya.


"Lo anterin sampai sini aja. Gua turun sekarang. Btw makasih udah ngobatin luka gua" ujarku, membuka pintu mobil.


"Lo kenapa?" tanya Riska.


"Maksudnya?" tanyaku.


"Lo sampai luka kek gitu tu kenapa? Kelihatannya kek luka tusukan, apa bener?" tanya Riska.


"Ke gores benda tajam. Gua pergi. Thank u" jawabku, keluar dari mobil.


Riska menatapku keluar. Ia merasa heran dengan sikapku yang selalu seper ini.


"Sebenarnya kenapa sih?" batin Riska.


Setelah itu, aku masuk ke dalam rumah sakit sampai ke depan kamar Ayah Greysie. Di depan kamar ada Greysie yang sedang duduk di kursi.


"Grey..." sapaku.


"Raa? Dari mana aja lo?" tanya Greysie, kesal.


"Maaf, kemarin aku ketiduran" jawabku.


"Ketiduran di rumah Riska? Udah mulai terang-terangan ya lo, Ra? Ngapain balik ke sini lagi? Kenapa gak sekalian aja tinggal bareng dia" ujar Greysie, marah.


"Grey kenapa selalu marah-marah?" tanyaku, memeluk erat.


"Ini juga... Lo pakai baju dia juga? Ckk!" ucap Greysie, berdiri.


"Aaahh, pengen teriak gua anjing" batinku.


"Grey..." panggilku, namun ia tak mau menjawab dan hanya berjalan masuk ke dalam kamar rawat.


Bebarapa jam berlalu sampai besoknya. Greysie masih merajuk padaku, dan aku juga masih bingung bagaimana cara untuk membujuknya.


Hari ini, Ayah Greysie sudah di perbolehkan untuk pulang. Tetapi dia belum pernah berbicara sepatah kata pun saat sadar sampai sekarang.


#


Di rumah Greysie, tepatnya kamar orang tuanya. Mereka segera membaringkan ayah Greysie, tak lama kemudian kami pun keluar dan membiarkan Ayahnya untuk beristirahat.


"Mahh," duduk di kursi, "mama yang ngurus perusahaan papa sekarang?" tanya Greysie.


"Iya sayang, kalau kamu udah kuliah dan lulus, mama mau kamu yang ngambil alih perusahaan papa kamu, karena mama juga udah ngurus perusahaan mama sendiri" jelas ibunya.


Sementara itu, aku hanya diam melihat mereka berbicara. Dari kemarin aku juga tak berbicara pada Greysie.


"Cara kenapa diem mulu sih? Harusnya dia jelasin soal yang kemarin. Apa dia sakit?" batin Greysie, sambil ia terus melirikku.


"Mana mukanya dia pucet banget lagi. Apa gua harus ngalah lagi kali ini? Hmf, biarlah gua ngalah aja dulu" lanjut batin Greysie.


"Grey..." panggilku pelan.


"Hmm?" ucap Greysie melihat kearahku.


"Aku mau ke rumah bentar" balasku.


"Emm," menatap tanya, "Aku ikut. Kamu mau ngapain?" tanya Greysie.


"Em, mau ngurus something, kamu gak perlu ikut, mending jagain papa kamu, kan masih sakit" jelasku.


"Biar tante yang jagain om, Grey ikut aja gak pp" sela Ibunya.


"Emm, aku..." ucapku.


"Ok, thank you mah" sahut Greysie langsung menarik tanganku dan mengajak pergi.


Di luar rumah,


"Kamu ngapain ngikut?" tanyaku bersilang tangan.


Aku menyandar ke dinding dan melihatnya sedang membuka pintu mobil milknya.


"Emangnya kenapa kalau aku ikut?" tanya Gryesie. Ia lalu masuk ke dalam mobil. Sedangkan aku tak menjawab pertanyaannya.


Greysie melihatku dengan tatapan penasaran, lalu ia segera menyalakan mobil miliknya.


"Aku naik motor Grey" ucapku berjalan, lalu menaiki motorku.


Motorku sebenarnya ada 3 unit. Dua sering kupakai untuk kegiatan sehari-hari san satunya lagi untuk kegiatan pembunuhan. Di rumahku juga ada satu mobil mewah milikku, namun aku jarang memakainya.


Sementara itu, mobil pribadi Greysie ada lima. Ia juga memiliki motor sendiri sebanyak 2 unit. Akan tetapi ia jarang memakai motornya.


"Hah?," melihatku berjalan, "Kok baru bilang?" tanya Greysie.


Sementara itu, aku tak menjawabnya lagi. Kemudian, Greysie keluar dari mobilnya dan menaiki motorku, lalu aku menyalakan motor.


Di perjalanan Greysie terlihat merenung, ia merasa bingung dengan banyak pertanyaan di benaknya.


"Ra, kamu gak pp? Dari kemarin kamu kelihatan pucat banget, kamu sakit?" tanya Greysie.


"Bicaranya ntar aja, aku lagi fokus lihat jalan!" bentakku.


Mendengerku, membuat Greysie menghela napas pelan. Menurutnya ini sangatlah aneh karena biasanya aku akan tetap berbicara dengannya meskipun sambil membawa motor.


"Ckk! Gua harus cari tau sendiri" batin Greysie.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2