Ilusi

Ilusi
BAB 13 (Part 1)


__ADS_3

Tidak ada yang lebih tajam di dunia ini selain lidah manusia. Satu kalimat saja bisa menghancurkan kehidupan seseorang, tidak ada gunanya mengatakan berhati-hatilah dalam memilih kata saat berbicara karena manusia adalah pelupa yang sering berkata Khilaf.


********


Mimik wajah Aaron serius, saat mendengarkan penjelasan dari Heafen, ia sesekali mengangguk paham.


"Lo kenapa bisa putus, bro sama cewek lo?" tanya Aaron, mengambil rokok di kantung celananya.


Mata Heafen pelan meliriknya, membuat tangan Aaron terhenti sejenak. Aaron lupa kalau Heafen tidak suka dia merokok di depan Heafen.


"Satu batang aja, bro" ujar Aaron, sedikit memohon.


"Kalau mau ngerokok, lo keluar aja, jangan di depan gua" ujar Haefen.


"Gak jadi lah bro, gua mau denger cerita lo dulu" seru Aaron, langsung bersandar di sofa tersebut.


Heafen masih dengan aktivitas yang sama, di mana ia melihat-lihat kembali foto kami. Kenangan-kenangan indah mulai terlintas di benak Heafen, membuatnya tersenyum sesekali.


"Semenjak gua putus sama cewek gua, gua jadi sadar kalau gak ada kebahagiaan yang benar-benar nyata di dunia ini" ungkap Heafen.


Aaron bangun dari sandarannya, ia duduk dengan posisi siap mendengarkan Heafen untuk bercerita padanya.


"Sesayang itu ya lo sama mantan lo, bro?" tanya Aaron serius. Heafen menghela napas berat.


"Bagi gua, gak ada yang bisa gantiin Cara, dia udah terlanjur ngisi hati gua, sampai gak ada sisa buat cewek lain" jawab Heafen, ibu jarinya masih sibuk menggeser foto kami bersama. Aaron masih setia mendegar Heafen.


"Sebenarnya gua juga gak tau alasan kenapa dia sampai minta putus. Padahal semuanya baik-baik aja, malah gua pernah minta kejelasan sama dia, tapi dia bilang kalau gak ada alasan sama sekali, ya gua gak terimalah, seenggaknya gua harus tau kenapa. Tapi sampai sekarang dia gak pernah kasih tau alasannya" ujar Heafen.


"Berarti lo masih nunggu sampai sekarang? hebat juga lo bro, nungguin cewek lo sampai dua setengah tahun" seru Aaron, tak percaya.


"Tapi kemarin gua mutusin buat nolak keputusan sepihak Cara, gua bilang kalau status dia masih sebagai cewek gua. Selama ini gua diem, karena gua lihat dia juga nutup hati buat orang lain, sampai si Rasya itu datang. Ya, gua gak terimalah" ujar Heafen, ia segera tidur di sofa.


"Hm, gua dukung lo bro, seharusnya dari dulu lo ambil tindakan tegas gitu ke cewek lo" ucap Aaron.


"Woy, dia itu cewek gua, lo pikir gua bakalan kasar ke dia?" seru Heafen, melirik marah Aaron.


"Haha, sorry bro" ucap Aaron, tertawa sedikit mengejek.


"Lo gak bakalan pernah ngerti, kecuali lo ngerasain hal yang sama. Di dunia ini, ada orang yang jatuh cinta sampai cintanya bener-bener habis buat satu orang yang udah klep banget, yang udah nayaman banget" ujar Haefen.

__ADS_1


"Hn, bucin banget lo bro, hahah" ledek Aaron.


"Gua keknya bakalan lanjutin kuliah gua di sini, gua gak bisa biarin polisi itu deketin cewek gua lagi, menurut lo gimana?" tanya Heafen.


"Hm, gua mana-mana lo aja bro, tapi lo yakin kalau bokap lo bakal ngijinin? kemarin aja, bokap lo biarin lo di kantor polisi selama dua minggu" ujar Aaron, bertanya.


"Hm, soal bokap, urusannya belakangan" jawab Heafen. Ia kemudian melihat lagi layar hp miliknya, tangannya tak sengaja mengklik pada notifikasi youtube.


Namun, Heafen segara bangun. Ia ingin pergi mengambil minuman, lalu menaruh hp miliknya di atas meja. Video yt terputar secara otomatis, setelah Heafen tak sengaja mengklik notifikasi tersebut.


Iklan yt terputar. Setelah itu langsung terdengar penjelasan dari youtube tersebut.


"Cara Callista, salah satu siswi di sekolah Sma Permata. Menjadi korban kekejaman oleh pelaku yang belum di ketahui identitasnya. Polisi juga masih belum mengetahui apa motif dari pelaku sampai menembak dan menusuk korban berkali-kali. Polisi masih belum yakin, apakah ini ulah pembunuh berantai yang memulai aksinya baru-baru ini atau ulah seseorang yang menaruh dendam kepada korban"


Langkah kaki Heafen terhenti, ketika ia mendengar penjelasan dari youtube tersebut. Aaron yang mendengar juga langsung menengok Heafen dengan wajah terkejut.


Heafen langsung berlari mengambil Hp milinya, lalu membesarkan volume suara di video yt tersebut.


"Kondisi korban sebelumnya sangat kritis. Korban kehilangan banyak darah. Menurut keterangan polisi, korban di tusuk sebanyak tiga kali dan di tembak sebanyak lima kali. Tusukan pisau terkena di bagian dada kiri dan bagian perut korban. Sedangkan peluru hampir saja mengenai organ vitalnya, sehingga dokter harus mengoperasi korban selama berjam-jam. Sekarang keadaan korban sedang koma"


Heafen dan Aaron dari tadi sudah berlari ke mobil mereka, sambil mendengarkan berita di youtube tersebut. Aaron membaca artikel untuk mencari rumah sakit tempat aku di rawat.


Beberapa saat kemudian. Mereka berdua sampai di rumah sakit Medical Houspitals, langsung bertanya pada resepsionis.


"Sus, pasien atas nama Cara Callista di rawat di ruangan mana?" tanya Heafen, wajah cemasnya terlihat sangat jelas.


Suster langsung mencek komputer di depannya, matanya mencari namaku, mencari ruangan tempat aku di rawat.


Setelah operasi, aku langsung di pindahkan ke ruang ICU (intensive care unit).


Kemudian Heafen dan Aaron berlari menuju ruang Icu. Rasa takut menyelimuti Heafen, ia sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi.


********


Sementara itu, di sekolah. Cassie sedang berbicara berdua dengan Riska untuk menanamkan benih-benih kebencian padaku. Mereka berada di atap sekolah.


"Sekarang lo percaya kalau semua itu emang perbuatan si Cara" ucap Cassie bertanya.


Riska masih memeriksa foto-foto di hp Cassie. Itu adalah foto tas hitam yang di mana berisikan pisau, topi, kaus tangan dan juga sepasang sepatu berwarna hitam.

__ADS_1


Selain itu, ada juga videoku yang sedang memakai jubah hitam. Foto seseorang yang sedang asyik membunuh ayah Greysie, seperti isi flashdick Greysie, juga ada.


"Gua juga yakin kalau si Cara yang nakut-nakitin elo, karena itu bukan gua. Lo yakin gak nemuin apapun saat itu?" tanya Cassie.


"Ada, tapi itu milik elo! bukan milik Cara" jawab Riska, ia masih ragu dengan ucapan Cassie.


"Milik gua? lo yakin? emang apaan?" tanya Cassie, ia penasaran.


Riska kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Itu adalah anting-anting sebelah kiri. Cassie kemudian tersenyum, tangannya menggeledah kantung baju sekolahnya, lalu mengambil pasangan dari anting tersebut.


"Hn, lo tau siapa yang ngasih gua anting ini?" ujar Cassie memperlihatkan anting tersebut. Riska hanya menatap biasa.


"Si Cara, dia sengaja ngasih gua anting ini buat ngefitnah gua, ini bukan anting gua, tapi anting dia" jelas Cassie.


Namun, Riska tak langsung begitu saja percaya dengan ucapan Cassie.


"Hn, ngapain si Cara ngasih lo anting, emang loe sahabat dia? emang lo si Greysie?" ujar Riska, tersenyum ejek.


"Ya buat ngefitah gua lah, lo aja yang gampang banget percaya sama omongan Cara" ucap Cassie.


"Emang siapa yang bilang si Cara ngomong ke gua kalau itu, elo? kenak kan lo! lo pikir gua bisa buat lo permainin, jangan kegeeran lo, lo pikir saat itu gua percaya sama lo? gua cuman mau buktiin aja perkataan lo, apa bener si Greysie beneran marah ke Cara" ujar Riska, mencela.


"Tapi omongan gua bener kan? kalau si Greysie emang beneran marah, berarti si Cara emang salah, Greysie kan sebelumnya gak pernah kek gitu, dia gak bakalan diem aja kalau ada orang yang gangguin Cara, tapi lo udah buktiin sendiri kan, si Greysie beneran gak peduli sama si Cara" ujar Cassie.


"Ya.. siapa tau elo yang lagi fitnah si Cara sekarang! lagian, emang lo siapa? sampai si Cara mau banget buat gefitnah lo, emang lo ada urusan apa sama dia, kegeeran banget, nying" ujar Riska, memaki.


"Njirr gak percayaan banget, kok lo selalu ngebalin si Cara sampai segitunya, padahal selama ini dia nginjek-injek harga diri elo" ucap Cassie, membentak.


"Nying, ngelunjak ni anak, itu urusan gua bukan urusan elo! lo udah selesai buat cerita? mending gua pergi, buang-buang waktu gua aja" cela Riska.


"Okay, tunggu! si Cara itu benci sama gua, karena dia pikir ayah gua udah ngerampas ide ayah dia, terus dia nyalahin ayah gua atas kematian keluarganya. Makannya dia fitnah gua, dia pengen gua menderita" jelas Cassie.


"Hnh, mungkin bokap lo emang beneran udah nyuri ide bokap dia" ujar Riska, menatap ejek.


"Okay, kalau lo masih gak percaya, gua punya bukti lain. Saat itu gua nyuruh orang buat geledah rumah si Cara, gua juga nyuruh mereka buat ngevidieoin, terus mereka nemuin tas yang lo liat tadi, di bawah tempat tidur Cara" jelas Cassie. Ia memperlihatkan Video pada Riska.


Mimik wajah Riska seketika berubah, setelah ia melihat video itu. Ia mulai percaya dengan perkataan Cassie. Kemudian, tangan Riska pelan, sedikit meremas hp Cassie.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2