Ilusi

Ilusi
BAB 37 (Part 1)


__ADS_3

Setelah itu, polisi memberikan pakaianku yang aku kenakan sebelum aku masuk penjara.


Wajahku nampak terlihat seperti orang yang kelelahan dan memar. Mataku bengkak, sementara bibirku juga sangat pucat. Setelah keluar dari penjara, aku segera menghindari semua cctv dan menghentikan taksi.


"Anterin saya ke alamat xxxx" ujarku, menatap keluar jendela.


Supir taksi kemudian menjalankan mobilnya. Ia mengantarkan aku sampai ke rumahku. Beberapa saat kemudian setelah sampai di depan rumahku, aku segera keluar dari mobil.


"Tunggu di sini. Uang saya ada di dalam" ujarku, keluar dari mobil.


Sementara itu, di kantor polisi. Greysie datang untuk menjemputku. Namun aku tak ada di sana. Ia pun segera menyusul ke rumahku.


Di dalam rumahku, aku mengambil uang dan segera memberikannya pada supir taksi. Setelah itu, aku kembali masuk dan mengganti pakaianku. Lalu aku membuang hanpdhonku yang di berikan polisi sebelumnya bersamaan dengan pakainku. Aku mengambil kunci motor milikku dan segera pergi dari sana.


Di perjalanan. Air mataku terkadang menetes jika mengingat semuanya kembali. Kemudian aku berhenti di sebuah tokoh baju dan membeli beberapa pakaian baru untukku.


Setelah membelinya. Aku segera meninggalkan tempat itu dan pergi lagi dan menghindari semua jalanan yang terdapat cctv. Greysie tak boleh menemukan aku karena aku sangat tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini.


Beberapa saat kemudian. Aku sampai di sebuah kos-kosan. Setelah itu, aku berbicara pada pemilik kos untuk menyewa salah satu kamar kos milik mereka.


Mereka terus menatapku dari atas sampai bawah karena aku memakai topi, jaket hitam, masker hitam, kaca mata hitam dan celana jeans yang juga berwarna hitam.


Semua anggota tubuhku tertutup sampai rambutku karena aku menggunakan tudung dari jaket yang aku kenakan.


"Untuk berapa lama ya?" tanya pemilik kos, dengan raut wajah curiga.


"Katakan saja berapa, saya akan membayarnya" ujarku.


"Emm, karena ini adalah kosan elit..." ujar pemilik kos tak selesai.


"Saya gak peduli soal itu. Katakan saja kalian ingin saya bayar berapa?" tanyaku, menyela.


"Hmm," melirik motorku lalu melirik pakaianku lagi dari atas sampai bawah.


"Sepertinya dia orang ada. Tapi kelakuannya sangat mencurigakan. Kenapa pakaiannya seperti itu?" batin pemilik kos.


"Baiklah... Untuk sewa sebulan harganya 5 juta 6 ratus ribu" ujar pemilik kos.


Sementara itu, aku langsung mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompet milikku dan memberikan padanya.


"Okey," menghitung uang, "Ini kuncinya. Kamar kamu ada di ujung sana" ujar pemilik kos.


Tanpa basa-basi. Aku langsung mengambil kunci dari tanganya, dan segera pergi ke kamar yang ia sebutkan. Sesampainya di depan pintu, aku langsung membuka pintu dan menutupnya kembali rapat-rapat.


Di dalam kamar, terdapat tempat tidur, tv berukuran sedang, lemari dan juga perlengkapan lainnya. Sesuai dengan harga sewanya, isi kos itu memang lengkap.


Kemudian, aku langsung berbaring di atas ranjang sambil membuka kacamata, masker, dan juga topi milikku.


Sementara itu, Greysie juga telah sampai di rumahku. Ia melihat aku tak ada di sana dan segera menelponku.


"Pliss, angkat Raa" ujar Greysie, lirih dan gemetar.


Zzt, zzt, zzt.....


Suara getaran hp terdengar dari dalam kamarku. Greysie kemudian mencarinya. Ia mengecek di bawah sofa, ternyata hpku berada di sana.


Setelah mengambil hpku. Bibir Greysie kembali gemetar menahan tangis.


"Raa... Huhuuuu" ujar Greysie, duduk di tempat tidur sambil menangis terseduh-seduh.


Setelah beberapa saat menangis, Greysie segera menelpon Hendry dan memintanya untuk mencari tentang keberadaanku.


"Pliss, temuin Cara secepatnya om. Dia pasti... Aku mau minta maaf sama Cara, dia pasti sakit banget saat ini" ujar Greysie.


"Iya, kamu tenang yaa. Om akan usahain untuk nemuin Cara secepatnya" ujar Hendry.


Setelah selesai menelpon Hendry, Greysie juga segera pergi untuk mencariku sendiri.


Sementara itu, di dalam kos. Aku masih terbaring dan tak bergerak sedikitpun sampai besoknya.


Besoknya, Greysie masih mencariku. Ia terus mengecek rumahku dan berharap aku akan berada di sana. Namun nyatanya aku tak pernah balik lagi ke rumahku.


Sementara itu, di dalam kos aku masih terbaring dan merasakan nyeri di semua lukaku. Apalagi luka yang berada di perut sebelah kiri, rasa nyerinya semakin tak terhankan. Aku bangun dari baringku dengan rasa pusing. Selain pusing, kepalaku juga sangat sakit karena terus saja menangis.


Setelah itu, aku memutar tv untuk menonton berita. Di berita selalu saja membicarakan tentang keluarga Milstone dan Walker sebagai pelaku pembunuhan berantai.


Mereka memperebutkan harta sampai saling membunuh satu sama lain. Aku tahu betul kalau semua itu tidaklah benar. Karena aku yakin pasti Greysie yang telah melakukannya.


Setelah itu, aku mengambil hanphone baru yang sebelumnya aku beli bersamaan dengan beberapa pakaiaanku.

__ADS_1


Di layar telpon, aku segera mendownload aplikasi baru. Setelah mendownloadnya, aku segera memesan makanan di apk itu.


Beberapa saat kemudian. Orderanku telah di terima dan kurir mengechatku di aplikasi.


Pesanannya.... Segera di antar ke tempat tujuan.


Halo, mbak. Pesanannya akan segera di antar.


Saya akan bayar lebih. Bapak boleh gak singgah ke apotik dan belikan saya obat anti nyeri, perban, betadin, antiseptik, obat antibiotik, dan..... (masih mengetik nama-nama obat, lalu mengirim chat).


Bisa mbak. Apa masih ada tambahan lain mbak?


Air putih saja.


Baik, mbak. Pesanan akan segera saya antarkan.


Terima kasih.


Setelah selesai membalas chat kurir. Aku langsung duduk bersender ke dinding, di atas tempat tidur. Wajahku menatap sayu, memikirkan banyal hal yang telah terjadi, kemudian air mataku menetes kembali. Isak tangis kecilpun kembali terdengar memenuhi ruangan.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan di pintu kamar kosku terdengar.


Tuk, tuk... Permisi mbak, saya mau anter pesanannya.


Kemudian, aku berdiri dan memakai kembali kacamata hitam, masker dan juga topi di kepalaku.


"Ini pesanannya mbak" ujar kurir, memberikan semua pesananku.


"Semua... totalnya 550 ribu mbak, karena obatannya mahal-mahal" ujar kurir.


Kemudian, aku menyimpan pesananku ke atas meja dan segera mengambil dompetku.


"Makasih" ujarku, menutup pintu.


"Ehh, ini uangnya kelebihan mbak" ucap kurir, menghentikan aku menutup pintu.


"Gak pp. Untuk bapak aja" ujarku, segera menutup pintu.


"Beneran mba? Ya allah, terima kasih. Terima kasih mbak" ujar kurir, menunduk dan terus berterima kasih sampai pintu kosku tertutup.


"Ya allah, baik banget mbaknya" gumam kurir.


Malamnya, aku terbangun karena bermimpi tentang semuanya. Hal itu, membuatku menangis lagi sampai terseduh-seduh.


Kemudian aku mendekatkan diriku ke dinding (masih di atas rajang) dan duduk menyender sambil menangis terseduh-seduh, memukul dada dan mencengkram luka di perutku. Suara isak tangis kembali memenuhi kamar kos, tempatku berada.


"Bundaaa... Cara kangen sama Bundaa..." gumamku, gemetar dengan isak tangis.


Beberapa jam kemudian, aku pun tertidur lagi dengan posisi duduk.


Besoknya, saat aku terbangun. Kepalaku menjadi semakin pusing sementara rasa nyeri pada lukaku semakin tak tertahankan. Kemudian aku melihat tanganku, ternyata sudah di penuhi darah milikku.


"Bunda....," gemetar.


"Aku ingin ikut kalian aja" gumamku, gemetar menahan tangis.


Setelah melihat tanganku, aku memilih untuk berdiam diri terlebih dahulu, sampai beberapa menit. Setelah itu baru aku bergerak beranjak dari tempat tidur.


Namun kepalaku menjadi semakin pusing. Hampir saja aku terjatuh, tapi aku segera menahan diriku dengan memegang ranjang dan kembali duduk di tempat tidur.


"Heghmn....," merintih, memang perut.


Setelah itu, aku melihat lagi tangaku di mana darah sudah memenuhi tanganku. Beberapa menit setelah beriam diri, aku segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti semua perban di badanku.


"A, agha... Hmgff...," merintih saat membuka perban.


Setelah semua perban terbuka. Aku melihat darahku terus keluar dari dalam lukaku. Entah jahitannya terbuka atau tidak aku juga tak tau.


Kemudian, aku segera mengambil perban dari dalam kantung plastik. Ada beberapa macam obat yang aku pesan di dalamnya. Namun aku hanya memakai satu obat saja untuk lukaku, yakni cairan antibiotik.


Setelah selesai memasang perban yang dengan sengaja aku tebalkan di semua lukaku, aku kembali duduk di tempat tidur, sementara tanganku memegang obat anti nyeri.


Aku masih berdiam diri, melihat obat di tanganku. Sementara itu, tanganku yang memegangnya terus saja gemetar. Tak lama setelah itu, aku membuang obat itu dari tanganku.


Setelah membuang obat, air mata kiriku menetes dan aku menyenderkan kepalaku di kedua telapak tanganku.


Aku melihat makanan yang aku pesan belum kusentuh sedikitpun. Akhirnya aku memutuskan untuk memakannya, tetapi hanya beberapa sendok saja aku langsung berhenti karena tidak berselera makan.


Beberapa hari berlalu. Aku masih dengan kegiatan yang sama, yaitu berbaring, tidur dan menangis. Jika malam tiba, aku selalu menggigil karena demam.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk... Haa, huuu," terbatuk-batuk, bernapas lemah.


"Uhuk, uhuk... Huekk, aahh...,"


Kemudian, aku bangun dan berlari ke kamar mandi, lalu memuntahkan darah.


"Uhuk, uhuk... Huek, erghh...," terduduk, bersender ke dinding kamar mandi.


Mataku kelihatan sangat kelelahan. Sedangkan tatapan mataku sangat sayu, ada rasa sedih yang mendalam di dalam tatapan mataku.


Setelah itu, aku kembali berbaring ke tempat tidur dan tertidur lagi.


Sementara itu, di rumah Greysie. Ia masih mencemaskan keadaanku. Tetapi Hendry belum bisa menemukan keberadaanku.


"Gimana om? Cara ada di mana?" tanya Greysie, cemas.


"Maafin om Grey. Om belum bisa nemuin Cara. Setelah keluar dari kantor polisi kemarin Cara pergi ke rumhanya, terus dia pergi lagi menggunakan motornya dan menghilang. Om gak bisa nemuin satu cctv pun yang ngerekam Cara" ujar Hendry.


"Huhuuu...," Greysie malah menangis.


"Om bakal usahain nemuin Cara. Kamu yang sabar ya. Doain aja semoga Cara gak pp" ujar Hendry.


"Hmm, pliss om cepetan. Aku takut Cara kenapa-napa" pinta Greysie.


"Iya, iya. Om akan usahain" ujar Hendry.


Setelah itu, Greysie menutup telponnya. Ia pun kembali menangis sampai terseduh-seduh.


Besoknya, di hari minggu. Pada pukul 14:05 siang. Di kosan, aku baru terbangun. Lalu melirik sekitar kamar dengan perasaan aneh. Rasanya sangat pusing, juga sakit di bagian kepala dan semua lukaku. Lalu aku memaksa diriku untuk bangun, duduk di tempat tidur.


Semuanya nampak buram. Lalu aku mengambil remot untuk menyalakan tv. Di tv masih memberitakan tentang keluarga Milstone dan Walker. Kemudian, beritanya berganti dengan pembahasan yang baru.


Besok semua sekolah akan melaksanakan ujian nasional. Seluruh siswa sedang mempersiapkan diri untuk ujian. Para guru juga.....


Penjelasan dari tv masih terdengar di telingaku, namun semakin mengecil. Kemudian, aku mengambil dua butir obat lalu memaska diriku untuk meminumnya.


Sebelumnya, jika aku menangis aku sengaja memutar tv dengan volume full agar orang lain tak mendengarku menangis.


Setelah itu, aku memakan satu roti di atas meja. Namun tak sampai habis. Kemudian, aku kembali terbating lemas. Rasanya seluruh kekuatanku seakan menghilang.


Besoknya. Aku terbangun pada jam 03:08 pagi. Setelah bangun, aku segera mengemasi barang-barangku dan bergegas pergi dari sana.


Motorku melaju dengan kecepatan sedang sampai tiba di rumahku. Di depan rumahku, aku membuka pintu dengan tangan gemetar dan berjalan dengan badan yang lemah.


Sesampainya di dalam kamar. Aku langsung berbaring lagi. Semua barang-barangku sebelumnya, aku simpan di atas meja. Sedangkan obatan yang aku beli, aku simpan di dalam laci, bersamaan dengan obatan dari rumah sakit sebelumnya yang yak pernah aku minum.


Beberapa jam berlalu. Waktu sudah menunjukan pukul 06: 50 pagi. Aku terbangun lagi dan langsung berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku mandi dengan rasa nyeri karena lukaku terkena air.


"Uhuk, uhuk...aahh, sial...egmm..." ujarku, bernapas lemah.


"Uhuk, uhuk, uhuk.... Huek, erghh..., uhugh..." terbatuk-batuk dan memuntahkan darah lagi.


Karena melihat darah yang aku muntahkan, aku pun menunduk dan tertawa kecil sampai terbahak-bahak.


"Hahahahnhhikhik... Hehahahahaaaiishh... Hahahahaha.... Fuuuuckk... Huuuuff... Sialan...hnhnhikhikhik...Hnm...uhuk, uhuk, uhuk.. Huek, huekk... Eghm..., hikhikhik," melihat tangan yang di penuhi darah, "Hahahahahikhik.... Uhueeggh.... Haaaa fuuuuh... Hnhhikhikhik... fuuuuh....," terhenti tertawa sambil menghela napas pelan.


Setelah tertawa tak jelas dan selesai mandi. Aku segera mengganti pakaian dengan seragam sekolah Sma Permata.


Sementara itu, pemilik kos memeriksa satu persatu kosan miliknya. Itu di lakukannya untuk sekedar melihat keadaan orang-orang yang menghuni kos miliknya.


"Hmm, kosan paling ujung sana. Dia gak pernah keluar kamar. Kadang cuman kurir aja yang datang untuk mengantarkan makanan. Sebaiknya saya periksa keadaannya, siapa tau dia lagi sakit" batin pemilik kos.


Pemilik kos itu pun segera melangkah menuju kamar kos yang aku huni sebelumnya. Saat sampai, ia melihat ada kertas tertempel di depan pintu yang bertuliskan.


Terima kasih. Kosnya bisa di sewakan kembali.


"Hah? Anak itu sudah pergi? Terus uangnya gimana? Dia sudah terlanjur bayar untuk sebulan. Baru juga seminggu beberapa hari dia tinggal di sini. Kenapa sudah pergi?" batin pemilik kos.


Pemilik kos kemudian membalikan kertas dan melihat ada tulisan lain di belakangnya.


Gak perlu mikirin uangnya. Bapak sewakan saja kosnya kembali. Terima kasih.


"Hm, sepertinya dia ada masalah. Di lihat dari tulisan tangannya sepertinya dia adalah orang baik dan sering bantuin orang-orang. Apa dia baik-baik saja sekarang?" batin pemilik kos.


Sementera itu, di rumah Greysie. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun mematikan tv dan berangkat menggunakan mobilnya.


Di perjalanan, Greysie terus berharap jika hari ini aku akan datang ke sekolah.


"Raaa, kamu di mana...?" batin Greysie.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2