
"Grey, aku mohon. Jangan giniin aku. Aku beneran gak.. Aku.." ucapku, lirih. Memohon dengan isak tangis, sedangkan tanganku memegang kaki Greysie.
"Why u so evil to me? Aku salah apa Grey sampai buat kamu kek gini? Pliss, maafin aku, jangan hianatin aku kek gini" ujarku, masih memohon dengan isak tangis.
"Udah Ra! Lo ngapain pegang-pegang. Mending lo bangun. Bangun Ra!" ucap Greysie berusaha membuatku berdiri dan menyuruh duduk di tempat tidur.
"Lo duduk! Lo juga gak usah ngelag terus, Ra!" bentak Greysie, memaksaku duduk. Namun, aku langsung berdiri lagi sambil menatapnya lesu.
"Hohoh hn," gemetar menahan tangis, "fuc*k this shitt, you so mean. You fuc*ing evil! why you doing this to me? why Grey? aaah," memegang kepala, lalu berjongkok, "i hate, i hated it" ujarku, lirih gemetar dengan isak tangis pilu. Greysie hanya diam, menatapku yang jongkok di depannya.
"I hate you so much. I hate yyou. Kita bukan sahabat lagi mulai saat ini," melihatnya ke atas, "aku gak mau anggep kamu sahabat lagi. I really, really hate you Grey" ujarku, lirih masih dengan isak tangis, menatap dengan tatapan sayu.
"Aahh, hahaaaa," memegang kening kiri dengan tangan kiri," huhuuu, bundaa, haayaah, jemput aku sekaraang~ aaaa, mmff. Tiyaa~ jemput kakak deek, haaa mff. Bawa akuu, aku," menelan ludah, "aku mau ikut kalian aja, haaa~ hmm~ ahahAaa, bundaaa~ ak, uu gak punya, hemm, aku gak punya siapa-siapa lagii, emm Bundaaa, bundaa" ucapku dengan isak tangis, gemetar sambil menarik air bening yang menyucur deras, sedang tangan kananku juga menopang di lantai.
Tangisku pecah saat itu. Suaraku kadang tersentak karena melap air mata dan menarik ingus. Sedangkan Greysie hanya terus diam sambil menatapku, tangannya sedari tadi mengepal, lalu Greysie tak mau lagi melihatku, ia selalu membuang muka.
"Bundaa, haya, aah," tersentak, "jemp, uut, haaku, bundaa, bundaaa hmz," menelan ludah, " bundaa" ucapku, lirih.
Kepalaku menjadi sangat pusing karena menangis terseduh-seduh. Lalu, aku pingsan saat itu juga. Greysie yang tadinya hanya diam langsung berjongkok untuk menahanku.
"Bundaa~" ucapku, lirih dengan isak tangis. Lalu, mataku terpejam sempurna.
Kemudian, sejak kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku tak mau lagi makan. Mulutku selalu terkunci, bicarapun aku tak mau. Aku tak peduli dengan polisi yang selalu datang untuk memintai keterangan. Rasya dan Aric kebingungan, sedangkan Greysie hanya diam. Selama berhari-hari aku tak mau makan, sedangkan infus selalu aku cabut.
Tanganku selalu menggam bagian lukaku sampai darahnya terus mengalir. Itu aku lakukan sampai berkali kali sampai pada hari berikutnya aku melakukannya, kondisiku sudah semakin parah, karena lemah, tak mau makan, selalu mencabut infus, dan selalu menyakiti diri sendiri sehingga jahitan-jahitan lukaku terbuka lagi.
Sabtu, malam. Greysie menyuapiku bubur untuk makan. Satu suapan itu berada di bibirku, sedang mulutku masih tertutup. Aku duduk, lalu melihatnya dengan tatapan lesu, mataku bengkak karena menangis tiap malam.
__ADS_1
"Ra, lo harus makan! Gua gak ijinin lo mati. Makan Ra! Makan!" ucap Greysie menyuapiku sendok berisi bubur di bibirku.
Namun, aku hanya memuntahkan darah sampai terkena wajahnya. Lalu setelah itu, aku mengalami kejang-kejang sedang napasku tersentak. Greysie panik dan langsung memanggil dokter Aric.
"Dokter! Dokter...!" teriak Greysie, melihat keluar pintu, sesekali ia memencet tombol darurat.
Dokter Aric datang, langsung memeriksaku. Para suster juga menyiapkan masker oksigen untuk membantuku bernapas. Aric memeriksa denyut nadi, jantung, mata juga komputer detak jantung, lalu aric menggeleng sambil melihat Greysie.
Greysie hanya menangis kecil, wajah cemasnya baru terlihat lagi. Setelah itu, Aric langsung menghampiri Greysie, memegang pundakknya.
"Grey, hey Grey. Kamu.. ini.. Callista kenapa sampai gini? Dia gak mau hidup lagi. Kamu ngomong apa ke dia Grey. Kamu beneran udah gak peduli lagi sama dia? kalian sebenarnya kenapa Grey? kenanapa?" tanya Aric, serius. Greysie hanya diam sambil melirikku.
"Apa kamu sebegitu bencinya sama Callista, Grey?" tanya Aric, menatap tanya.
"Aku gak benci sama Cara" ucap Greysie, lirih.
"Terus kalian kenapa sampai jadi gini Grey? Aku bingung sama kalian berdua. Kalian ada masalah apa?" tanya Aric dengan mimik serius.
"Kamu harus apa? harus apa Grey?" tanya Aric, tangannya masih memegang pundak Greysie.
"Aku harus lakuin ini" batin Greysie, sambil menatap Aric. Mereka beradu pandang.
Dua minggu kemudian. Aku di bawah polisi ke kantor untuk di introgasi. Aku juga telah resmi menjadi tersangka utama atas kasus pembunuhan berantai yang terjadi selama dua tahun terakhir, termasuk pembunuhan ayah Greysie.
Dua minggu sebelumnya, setelah aku mengalami kejang. Greysie langsung meminta polisi untuk memborgol kedua tanganku agar aku tak bisa lagi menyakiti diriku sendiri.
Greysie hanya berdiri sambil melihat polisi membawaku ke kantor polisi, wajahnya menatap biasa padaku, dan aku berkesimpulan bahwa dia sangat membenciku saat ini.
__ADS_1
"Grey, Grey! Grey! Pliss" ucapku memanggil, sedang polwan memegang tanganku untuk membawaku pergi.
"Tunggu pak, bu. Biarin aku bicara bentar sama Grey. Pliss, bentar aja" ucapku, sedikit memberontak.
"Mohon maaf. Anda harus ikut kami sekarang ke kantor polisi. Kalian bisa bicara nanti" ucap seorang polisi berumur 40-an tahun.
"Lepasinn, pliss pak bentar aja. Grey! Grey pliss. Grey! Lepasin pak, lepasin!" ucapku, badanku terus memberontak ingin melepaskan diri.
Kemudian, aku mendorong kedua polisi yang memegangku. Lalu, aku langsung berlari menghampiri Greysie, dan ingin membuka lengan panjang bajunya yang menutupi tangannya, namun ia menahan tanganku, membuat aku membuka paksa lengan bajunya.
Setelah melihat tangannya, aku langsung terdiam menatapnya, Kami lagi-lagi beradu pandang. Polisi menghampiriku, langsung memborgol tanganku. Sedangkan aku berjalan mundur sambil menatap Greysie dan membiarkan polisi untuk membawaku pergi.
Di luar rumah sakit, telah banyak wartawan yang berkumpul, mereka menunggu sedari pagi hanya untuk merekamku agar menjadi berita besar bagi stasiun tv mereka.
"Mbak Cara. Apakah mbak Cara mengakui kalau semuanya adalah ulah mbak Cara?" tanya wartawan wanita, ikat rambut, kemeja hitam.
"Mbak Cara. Mbak Cara" teriak semua wartawan serempak, sedang polisi terus membawaku menuju mobil mereka.
"Mbak Cara. Apa benar Mbak Cara telah membunuh ayah dari sahabat mbak Cara sendiri? tanya wartwan cewek, kemeja merah.
"Mbak, mbak. Apa alasan mbak Cara sampai membunuh semua korban? Apa hanya karena ingin membalaskan dendam kepada perusahaan Electrikal atas perbuatan mereka pada keluarga mbak Cara?" tanya reporter cewek, berkacamata.
"Iya, dan apa alasan mbak Cara juga membunuh teman sekolah mbak Cara sendiri? Apakah karena sebelumnya mereka telah membully mbak Cara?" lanjut reporter jilbab hitam, bertanya.
Kami terus berjalan pelan, di kerumuni reporter dari berbagai stasiun televisi. Kemudian, setelah sampai di depan mobil, polisi langsung membukakan pintu mobil, menyuruhku masuk.
Setelah itu, aku melirik keluar jendela untuk melihat setiap sorotan kamera yang di arahkan padaku. Semuanya nampak sangat silau, membuat mataku terpejam. Aku berpaling kedepan dengan mata masih terpejam.
__ADS_1
Kemudian, air mata kiriku menetes, sedang bibirku ikut gemetar karena manahan tangis pilu yang berusaha keluar.
Bersambung...