
(Plot Kejadian di Bab IV-V).
Sebelumnya, setelah aku selesai menelpon ayah Greysie, aku mengembalikan telpon genggam tersebut kepada pemiliknya. Lalu aku segara pulang ke rumahku.
Saat itu, waktu masih menunjukan pukul 21:40 malam. Greysie sedang duduk manis di sova sambil menunggu kedatanganku, wajahnya terlihat sangat tidak enak jika di pandang. Tentu saja dia sedang marah besar padaku.
Aku baru saja sampai di depan rumahku, kemudian membuka pintu. Sedangkan Greysie langsung berada di depan wajahku, aku hampir menabraknya jika refleksku tak secepat itu.
"Greyy" ucapku, dengan mimik heran.
"Lo itu sadar gak sihh, kalau gua masih kesel bangett sama elo soal Riska kemarin" ujar Greysie, berteriak di telingaku.
Hal itu membuat aku sampai menutup mata, dan seketika membuat aku juga menunduk sampai menekuk lutut dan segera menahan badanku dengan tangan kiriku di lantai. Sedangkan tangan kananku juga telah menutup telinga kananku.
"Mmff...," tanganku menutup telinga.
Setelah itu, aku tersadar dan membuka mataku sambil menengok ke atas untuk melihat Greysie. Kemudian, aku berdiri sambil menatap tajam padanya dan langsung menarik tangannya sampai ke dalam kamarku.
"Lo hobi banget buat gua kesel!" gerutuku sendiri sambil terus menarik tangan Greysie.
Sesampainya di dalam kamarku, aku langsung mendudukan paksa Greysie ke tempat tidur.
"Lo harus di hukum" ujarku, menatap tajam.
Kemudian, aku segera pergi ke depan tv untuk mengambil benda yang terlihat seperti mic tsb. Sesekali aku juga menatap tajam pada Greysie.
Aku juga telah mengambil remot tv, sedangkan tanganku segera mencari sebuah judul lagu di layar besar tersebut.
Sementara itu, Greysie tersenyum kecil sambil bersilang tangan dan kaki saat melihatku.
Sebuah melodi indah mulai memenuhi isi kamarku, sedangkan aku langsung bernyanyi di lirik berikutnya.
"You have my heart," tersenyum melihatnya, "And we'll never be worlds apart, Maybe in magazines," berjalan menghampirinya," But you'll still be my star," memberikan pose hati," Baby, 'cause in the dark," wajah sedih, "You can't see shiny cars.. And that's when you need me there.. With you I'll always share," memeluk erat."
"Because.. When the sun shines, we'll shine together, Told you I'll be here forever," berdiri sambil berjalan mudur, "Said I'll always be your friend," menunjuk dirinya sambil tersenyum, "Took an oath, I'ma stick it out to the end," terus bernyanyi sambil tersenyum melihatnya, "Now that it's raining more than ever, Know that we'll still have each other," menghampirinya," You can stand under my umbrella," menaruh tangan kiriku ke atas kepalanya seperti sebuah payung, "You can stand under my umbrella," terus tersenyum, "ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, eh, eh-eh," aku berjalan mudur.
"These fancy things.. will never come in between, You're part of my entity, here for infinity.. When the war has took its part, When the world has dealt its cards," mengulurkan tangan padanya, "If the hand is hard, Together we'll mend your heart..," Greysie meraih tanganku dan mengikutiku berdiri.
"Because.. When the sun shines, we shine together, Told you I'll be here forever, Said I'll always be your friend," tersenyum, "Took an oath, I'ma stick it out to the end," mengait jari kelingking padanya,
"Now that it's raining more than ever. Know that we'll still have each other, You can stand under my umbrella," terus bernyanyi, "You can stand under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, eh, eh-eh," aku terus bernyanyi sambil tersenyum.
__ADS_1
"You can run into my arms," meregangkan tanganku ke samping kiri, "It's okay, don't be alarmed," Greysie langsung memelukku, "Come into me," aku memberikan mic padanya.
"There's no distance in between our love.." lanjut Greysie bernyanyi.
"So gon' and let the rain pour, I'll be all you need and more, haaaa. Because. When the sun shines, we shine together, Told you I'll be here forever. Said I'll always be your friend," aku tersenyum melihatnya bernyanyi, "Took an oath, I'ma stick it out to the end. Now that it's raining more than ever, Know that we'll still have each other, You can stand under my umbrella," Greysie menaruh tangan kanannya seperti payung di atas kepalaku, "You can stand under my umbrella," aku masih tersenyum melihatnya, "ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh. Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, eh, eh-eh" Greysie terus bernyanyi dengan sangat tulus.
"It's raining, raining. Ooh, baby, it's raining, Raining" Greysie memberikan mic padaku.
"Baby, come into me. Come into me. It's raining, raining. Ooh, baby, it's raining, raining.You can always come into me. Come into me. It's pouring rain. It's pouring rain. Come into me. Come into me. It's pouring rain. It's pouring rain, come into me," kami terus bernyanyi bersama sambil tersenyum bahagia.
Jam 01:02 tengah malam. Aku sudah tertidur lelap. Sedangkan Greysie masih mengerjakan seseuatu di laptop miliknya.
Beberapa menit berlalu sampai waktu munjukan pukul 01:50 tengah malam. Laptop milik Greysie lowbet dan ia lupa membawa charger miliknya, sehingga ia terpaksa harus membangunkan aku untuk menanyakan charger milikku, karena ia tak bisa menemukan tas milikku sedari tadi.
"Ra, boleh pinjem charger laptop gak" tanya Greysie, mengecek sekitar.
Namun ia tak bisa menemukan charger laptop miliku. Kejadian selanjutnya seperti di bab sebelumnya.
Besoknya Greysie tak ada di dalam kamarku, ternyata ia pergi untuk mengurus sesuatu. Sedangkan aku juga harus melakukan sesuatu.
Malamnya. Aku telah lama menunggu kedatangan para tamuku di bangunan tua tersebut.
Beberapa saat kemudian, Bryan datang ke bangunan itu untuk menunggu Ayah Greysie. Ia tak tahu kalau ada seorang predator yang sedang menunggunya juga. Siapa lagi kalau bukan aku.
Aku sedang berada di lantai atas sambil melihat mereka yang berada di bawahku. Lau, aku tersenyum sambil memencet tombol. Tanganku yang tadinya masih bersilang menjadi posisi siap. Sedangkan kakiku melangkah untuk berjalan.
Sementara itu, di bawah sana. Mereka mulai batuk-batuk karena menghirup asap. Tak lama kemudian mereka pun pingsan.
Sedangkan aku sudah sampai di lantai bawah sambil melihat mereka. Kakiku mengecek lengan dan wajah salah satu anak buah Bryan.
"Hm, mereka sangat tidak berguna. Terlalu mudah untuk di buat jadi seperti ini" gumamku, sambil melihat sekelilingku yang telah di penuhi tubuh anak buah Bryan dan juga Bryan sendiri.
Kemudian, aku mengikat Bryan dan anak buahnya di sebuah ruangan lain di dalam bangunan tua ini. Semua mulut mereka juga tersumpal dengan kaus kaki mereka sendiri.
Beberapa jam kemudian. Ayah Greysie bersama anak buahnya telah sampai. Saat masuk, mereka langsung di sugukan dengan semprotan gas yang membuat mereka batuk-batuk, merasa pusing sampai tertidur.
Aku menyeret Ayah Greysie yang sedang pingsan tersebut. Namun ternyata ia masih setengah sadar, sedang ia berusaha mengambil pisau miliknya untuk melukaiku.
Di saat Ayah Greysie ingin menusuk perutku, aku langsung menangkap tangannya, sehingga ia tak bisa melakukannya. Namun, aku malah mendengar suara yang tak asing sampai membuat fokusku menghilang.
"Raa," mendengar panggilan tsb membuat fokusku hilang sambil menengok ke kanan. Sementara Ayah Greysie langsung mengambil kesempatan tersebut untuk menusuk perurtku.
__ADS_1
Hal itu membuat aku langsung beralih pandangan untuk melihat Ayah Greysie, sedangkan tanganku berusaha untuk menahan tangannya agar ia tak bisa menancapkan pisau itu lebih dalam ke perutku.
"Argh, emff" merintih sakit sambil mencoba untuk menahan tangannya. Namun Ayah Greysie makin berusaha keras untuk menusuk perutku dengan sisa-sisa tenaganya.
Hal tsb membuat aku terduduk seperti posisi orang yang tengah berada di aba-aba pertama lomba lari, namun sambil memegang perut.
Darah terus mengalir deras pada bagian yang terkena tusukan tsb. Sedangkan seluruh anggota tubuhku menjadi sangat lemas.
********
Motorku melaju. Namun kepalaku mulai terasa sangat pusing, hampir saja aku menabrak pembatas jalan.
Seseampainya di depan rumahku, aku langsung membuka pintu dan berlari ke arah ruangan rahasia di dalam ruamhku.
Darahku juga terus mengalir. Sedangkan aku terus mencari penutup tombol, namun aku telah kehilangan sebagian fokusku sampai tak ingat di mana letak penutup tombol tersebut.
Setelah aku membuka pintunya. Aku masuk menopang diriku dengan pintu bahkan dinding, namun aku malah terjatuh. Kepalaku menjadi sangat pusing. Mataku sesekali terpejam.
Namun aku memaksa kesadaranku untuk tetap terjaga. Jangan sampai aku pingsan, itu akan menjadi sangat gawat. Memaksa kesadaran agar tetap terjaga itu rasanya sangat tidak enak. Seperti akan kehilangan diriku selamanya.
Aku terus berusaha bangun meskipun sangat sulit. Setelah beberapa kali mencoba untuk bangun, akhirnya bisa. Aku berjalan pelan untuk mencari kotak pk3 dan segera masuk ke dalam kamar mandi ruangan rahasia ini.
Di dalamnya. Pisau masih menancap di bagian kiri perutku. Aku berusaha keras untuk mencabut pisau tsb.
"Aargggh, haaa, hmf," menahan napas. Lalu tanganku berhenti, sementara napasku menjadi pendek, serta cepat.
Keringat juga terus mengalir membasahi sekujur tubuhku, sedangkan bibirku juga ikut memucat.
"Satu tarikan. Sat," menelan ludah, "satu tarikan, Ra. Tangan lo jangan berhenti" batinku.
"A, argh," aku mencoba menarik pisau lagi. Namun tak bisa melakukannya, karana ini rasanya sangat teramat sakit bukan main.
"Fokus Ra, Fokus!" batinku, memarahi diriku sendiri.
"Lo bisa, lo bisa. Lo harus bisa. Tahan Ra, lo harus tahan. Pokoknya lo harus bisa tahan" batinku lagi-lagi mengoceh sendiri.
Kemudian kedua tanganku sudah memegang pisau tersebut. Kepalaku juga menjadi sangat pusing di banding sebelumnya. Sedangkan bibirku semakin memucat saja, seluruh anggota tubuhku juga terus gemetar.
"Satu, dua, ti," mencabut sekuat tenanga, "aaaaaaahh," gemetar langsung tergeletas lemas, "huh, huh, huh," napasku cepat dan gemetar,
"Hmfz, jha.. ang- an, ping- saan, Ra" ucapku, lirih.
__ADS_1
Bersambung...