
"Seneng apanya. Lebih baik gak ninggalin jejak daripada gua harus biarin lo pergi sendiri. Lo kenapa sih gak pernah dengerin omongan gua?" tanyaku, kesal.
"Ckk" gerutu Greysie kecil.
"Gua denger nying" ucapku, kesal.
"Raa, tapi kan aku cuman kepengen bantuin kamu biar semuanya cepet selesai" ujar Greysie, melembut.
"Kenapa pengen cepet-cepet? Udah bosan lagi? Makannya pengen cepet? Kan gua udah bilang kalau semua ini bakal butuh waktu yang lama. Kalau lo gak bisa, jangan ikutin gua. Udah sana pergi aja" jelasku, marah.
"Lo minta di hukum, Ra? Gua gak suka kalau lo marah-marah gini" ucap Greysie, menatap biasa.
"Ah? Emm, gak, gak.. Hehehe, aku bercanda Grey. Hahahaha" ujarku, tertawa canggung.
Di saat aku ingin berdiri, Greysie langsung meraih tanganku sambil tersenyum licik.
"Jangan pergi, atau gua hukum sekarang. Duduk!" perintah Greysie, mendominasi.
Sebagai Alpha Female Greysie sering memimpin dan mendominasi kekuasaan atas aku dan rencanaku. Sedangkan aku sebagai Sigma Female selalu membiarakan dirinya, meskipun terkadang di satu situasi aku tidak akan mengikuti kemauannya dengan alasan tertentu ataupun sedang tidak ingin di kendalikan oleh dirinya.
Aku dengan terpaksa duduk untuk menuruti kemauannya. Saat ini aku sedang tidak mood jika harus berdebat dengannya.
"Salah gak sih gua sahabatan sama lo?" tanyaku pelan, hampir tak terdengar.
"Gua bisa denger" bisik Greysie di telingaku.
"Tadi itu kamu kenapa, Ra? Ngapain lompat ke kolam renang sampai gak sadar?" tanya Greysie.
"Emm..." jawabku, kaku sambil berpikir.
"Sebenarnya siapa yang udah bunuh keluarga kamu, Ra? Keluarga Milstone atau pembunuh berantai sih? Kamu gak pernah cerita, aku masih bingung sampai sekarang" tanya Greysie, penasaran.
"Em, itu.. Pokoknya mereka penyebab keluarga aku berantakan. Udah gak usah nanya-nanya lagi ahh!" jelasku, lalu membentak.
"Berarti.. Emamg pembunuh berantai yang udah bunuh keluarga kamu? Secara kamu bilang mereka itu hanya penyebab, berarti bukan mereka yang bunuh langsung kan?" tanya Greysie, memastikan kebenaran pendapatnya.
"Ckk!" ucapku, menendang meja di depanku.
Kemudian aku segera berdiri sedangkan tangan Greysie yang berusaha menahan tanganku, aku tepis dengan kasar.
"Selalu gini kalau di tanya tentang keluarganya. Sial banget sihh" batin Greysie.
"Ra, mau kemana lagi? Ahh, kamu biasanya kalau lagi marah gini selalu ngilang. Gak usah pergi lagii, maaf aku nanya soal itu, hm?" ucap Greysie, menghalangi langkahku.
Greysie berada di hadapanku sambil memegang kedua lenganku. Sedangkan aku tak ingin melihat wajahnya.
"Gimana caranya supaya aku bisa cepetan bantuin Cara selesaiin semua ini? Apa aku harus libatin polisi? Tapi... Aku harus tau dulu alasan kenapa Cara sering teriak-teriak gak jelas kek tadi. Apa Cara trauma juga? Tapi kenapa? Aku pikir cuman aku yang sering down gara-gara Papa. Jangan-jangan Cara juga gitu?" batin Greysie, tak henti bertanya.
__ADS_1
"Ra, tenang dulu hm?" ucap Greysie, mengkode dengan raut wajah memohon.
"Duduk dulu, duduk dulu Ra. Kamu tenang dulu ya. Tenangin diri dulu" lanjut Greysie, berusaha menenangkan aku.
Kemudian aku duduk mengikuti kemauannya. Sedangkan Greysie masih berdiri sambil menatapku.
"Selama ini Cara selalu nolak kalau aku minta dia nginep atau tinggal di rumah aku aja. Apa jangan-jangan setiap Cara di rumahnya dia sering kek gitu? Lompat ke kolam? Hah? Gak-gak, kalau dia kehabisan napas kek tadi gimana?" batin Greysie, sedang keningnya mengkerut.
"Kalau aku tadi gak ada pasti Cara, pasti Cara.. ini gak bisa di biarin, aku gak bakalan izinin Cara sendirian lagi mulai sekarang. Kalau dia pengen ke rumahnya lebih baik aku ikutin dia, jangan sampai dia ngelakuin hal gila selain lompat ke kolam di saat aku gak ada" batin Greysie.
Sementara Greysie masih bertengkar dengan dirinya sendiri. Ingatannya terus berjalan mengingat saat di mana ia melihatku tak ada di tempat tidur sebelumnya.
Flashback. Greysie terbangun. Ia melihatku tak ada di tempat tidur, lalu pergi mengecek kamar mandi namun aku tak ada di sana.
"Ra?" panggil Greysie, mengecek sekitar.
Kemudian Greysie mengambil handhponenya untuk menelponku.
Tuut, tuut, tuut, tuut... Nomor yang anda tuju..
"Kok gak di angket sih" gumam Greysie, sambil jarinya memencet panggilan lagi.
Tuut, tuut, tuut...
Sementara itu, aku sedang berjalan ke arah kolam renang. Suara getaran panggilan telpon terus berbunyi di kantung celanaku, namun aku tak mendengarnya. Aku hanya berjalan seperti orang yang sedang melamun, tak memperhatikan sekitar. Kakiku hanya terus melangkah.
Di dalam kamar. Greysie membuka aplikasi untuk melihat lokasiku saat ini.
Setelah itu, Greysie terus berjalan mengikuti arah dari Gps tsb.
"Kolam renang? Cara lagi berenang sekarang?" gumam Greysie, terus berjalan.
"Ra? Raa?" panggil Greysie, mengeraskan suaranya.
Sementara itu, aku telah melompat ke dalam kolam renang tersebut.
"Raa? Raa kamu lagi berenang sekarang?" tanya Greysie, memanggil.
Jarak antara kolam renang dengan Greysie sekitar 30 meter. Akan tetapi Greysie melangkah pelan, ia tak tau kalau aku sudah lama melompat ke dalam kolam renang.
Tiba di kolam renang. Semuanya nampak sunyi, aku tak ada di sana. Sedangkan mata Greysie terus mencari keberadaanku.
"Caraa?" panggil Greysie, melirik sekitar.
"Lokasinya udah bener di sini. Tapi kok gak ada" batin Greysie, sambil melihat hp miliknya.
"Raa?" panggil Greysie mencipitkan matanya untuk melihat ke dalam kolam renang.
__ADS_1
Sekilas Greysie seperti melihat bayanganku di dalam kolam renang tersebut.
"Ra?," membulatkan mata, "Ra? Omaygat Ra?!" ucap Greysie, membuang hpnya dan melompat.
Di dalam kolam renang. Mata Greysie semakin membulat karena terkejut melihat aku sudah tak sadarkan diri.
Kemudian Greysie berenang menghampiriku, ia meraih tanganku. Lalu melingkari tangan kirinya di area perutku dan berenang menggunakan tangan kanannya.
Di tepi kolam.
"Uhuk, uhuk, huuk, eghh" Greysie terbatuk-batuk karena dari tadi ia juga menelan air kolam saat berusaha mengangkatku ke atas.
Saat ini. Greysie tersadar dari lamunanya, masih menatapku dengan mimik wajah penuh tanya.
"Ra, maafin aku karena udah jadi orang yang lemah" ucap Greysie tiba-tiba yang membuat aku sampai harus menengok sumber suara tsb.
"Aku.. Kamu kan tau Ra, kalau aku dari kecil udah trauma karena denger Papa sama Mama aku berantem terus. Papa juga sering mukul aku, sering nuntut ini dan itu. Semua itu buat aku gak tahan, Ra. Aku capek, makannya aku sering lukain diri aku sendiri atau juga pengen bunuh diri. Kamu pasti gak mau kan kalau aku jadi sumber kelemahan kamu?" ujar Greysie dengan tatapan sedih dan kecewa.
"Apa kamu lompat ke kolam renang karena aku? Karena omongan aku semalam? Maafin aku, sekali lagi maafin aku Ra. Tapi kamu harus ngertiin aku juga, kamu kan udah tau gimana kehidupan aku. Gimana setersiksanya aku karena perbuatan Papa aku" jelas Greysie, menatap mohon.
Sementara aku yang mendengarnya sedari tadi sudah membayangkan di saat aku membunuh ayahku sendiri, bahkan hal itu menjadi trauma yang berat bagiku, aku tak ingin menerima hal itu.
Tetapi Greysie terus meminta sesuatu hal yang selalu aku hindari, yaitu membunuh ayah sendiri.
Aku tak ingin dia menjadi trauma sepertiku, tetapi apakah itu adalah pemikiranku? Ataukah aku hanya tidak ingin melakukannya lagi karena hal itu dapat membuat traumaku menjadi lebih parah dari sebelumya?
Benar saja, jika aku menuruti kemauan Greysie. Hal itu dapat membuat diriku yang lain tertawa bahagia, dia selalu menang atas diriku. Sedangkan aku yang bersusah payah untuk menyingkirkannya selalu tak bisa.
Dia selalu menang atas kemauannya, apa aku harus menurutinya lagi kali ini? aku menjadi seorang pembunuh ayahku sendiri, itu karena dirinya. Aku ingin balas dendam dan menjadi seorang pembunuh berantai, itu juga karena dirinya. Apa aku juga harus membunuh Ayah sahabatku sendiri untuk kemenangannya kali ini?
Bagaimana bisa aku membiarkan hal itu terjadi? Aku sangat tidak suka jika dia selalu menang atas diriku.
Tapi di sisi lain, perkataan Greysie memang benar adanya. Dia selalu tersiksa karena ayahnya. Jika aku tak ada untuk menghentikan dirinya di saat dia ingin bunuh diri, mungkin semua hal yang buruk akan benar-benar terjadi padanya.
Namun persetan dengan diriku sendiri. Aku lebih menyayangi sahabatku di banding diriku. Aku akan membiarkannya kali ini.
"Aku.. Aku.." ucapku, kaku.
"Aku, bakal, bakalan... Aku bakal izinin kamu Grey, tapi dengan syarat" lanjutku, berkata.
Mendengar ucapanku, bibir Greysie terangkat. Ia mulai tersenyum sedang rasa senang menyeliputi dirinya.
"Beneran?" tanya Greysie, tersenyum senang dan tak percaya.
"Iya, tapi ada syaratnya" jawabku.
"Apa syaratnya?" tanya Greysie dengan mimik senang luar biasa.
__ADS_1
"Tapi Grey, setelah ini.. Mungkin trauma aku bakal sering muncul, padahal aku gak pengen kamu tau soal itu. Tapi aku yakin kalau aku setuju dengan semua ini, mungkin aku bakal jadi orang terlemah yang pernah kamu tau. Apa kamu bisa tahan saat lihat aku kek gitu? Aku gak mau kamu ngelakuin hal yang lebih gila kalau kamu tau aku trauma, atau alasan di balik trauma aku" batinku.
Bersambung...