
Polisi segera memasukan Bryan ke dalam mobil dan membawanya ke kantor polisi.
Setelah Bryan pergi. Ayah dan Ibu Rasya juga segera pergi meninggalkan kedua orang tua Bryan.
"Telfon pengecara saya, cepatt!" perintah Ayah Bryan pada salah satu anak buah mereka.
Beberapa saat kemudian. Pengacara Ayah Bryan telah sampai. Mereka duduk di ruang tamu, bersama dengan banyaknya anak buah mereka.
"Itu hal yang mudah Pak Walker. Cctv di mobil itu tidak memperlihatkan wajah orang di dalamnya. Kita bisa menjadikan orang lain sebagai kambing hitam pada kasus ini. Saya juga ingin mengusulkan, kambing hitam ini haruslah menjadi seorang pembunuh berantai. Dan... Soal transaki atas nama pak Bryan, kita bisa memberi alasan bahwa itu adalah hadiah dari pak Bryan untuk seseorang yang akan menjadi kambing hitam saat ini. Saya sudah menyiapkan semua buktinya. Pak Bryan juga tidak pernah menggunakan mobil itu secara langsung. Anak Pak Walker sangat pintar seperti Bapak. Ini... Adalah foto-foto supir pribadi pak Bryan yang sedang membukakan mobil untuknya" jelas Pengacara tsb.
Mendengar penjelasan pengacara tersebut membuat Ayah Bryan tersenyum licik.
"Anda benar, Pak. Kita limpahkan semua kesalahan pada supir pak Bryan" lanjut Pengecara, juga tersenyum licik.
Setelah itu, ayah Bryan bersama pengacara pribadinya pun melimpahkan semua kesalahan pada supir pribadi Bryan.
Sedangkan supir pribadi Bryan hanya bisa menerima semuanya, dia di ancam bahwa semua keluarganya akan di bunuh jika menolak, dan jika menerima tentu saja anak dan istrinya akan baik-baik saja dan mendapatkan jaminan.
********
Sementara itu, di dalam rumahku. Greysie sedang mengobati luka di tangannya.
"Arrgghh, Fuckk!" ucap Greysie, membalut tangannya dengan perban.
Setelah selesai, Greysie keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiriku yang sedang tertidur tersebut.
"Ckk! Siall!" gerutu Greysie, melihatku.
Besoknya. Di kantor Polisi.
Agus datang dan segera berbisik pada Rasya dan Antony yang sedang mengintrogasi Bryan.
Melihat hal itu, bibir Bryan terangkat. Ia tersenyum licik sambil mengangkat satu alisnya saat melihat wajah Rasya.
"Apahh?!" ucap Rasya, memukul meja.
"Iya, pak" jawab Agus, singkat.
Rasya yang diliputi perasaan marah bukan main segera menghajar Bryan lagi sampai semua wajahnya memerah, pelipis mata dan bibirnya juga pecah.
"Pak, pak Rasya harus tenang. Pak Rasya!" ucap Agus & Antony, mencoba menghentikan Rasya.
Beberapa saat kemudian. Bryan di bebaskan atas semua kesalahan. Di depan kantor polisi telah banyak wartawan dari berbagai media televisi.
"Pak, bagaimana tanggapan keluarga anda atas tuduhan ini? Apa kalian akan balas menuntut keluarga Graham Friedman?" tanya Wartawan, kemeja putih.
"Pak, Pak Bryan. Apa benar supir Pak Bryan adalah seorang pembunuh berantai? Bagaimana tanggapan anda soal ini?" tanya wartawan, kemeja merah hitam.
__ADS_1
"Pak, pak. Pak, pak" ujar Wartawan serempak.
Bryan tak memedulikan, ia hanya berjalan menuju mobilnya dan segera pergi.
Setelah mobil Bryan pergi, mobil polisi juga datang dengan membawa supir pribadi Bryan sebelumnya.
"Itu, itu... Itu pembunuh berantai" ujar Wartawan serempak. Mereka segera mengerumungi mobil polisi tersebut.
"Pak Setiawan, apa benar bapak adalah pembunuh berantai? Apa alasan bapak membunuh para korban?" tanya wartawan.
"Hnhnhn, hehehehHahahahaha. Emang pembunuh berantai perlu alasan untuk membunuh orang lain?!" tanya Setiawan, memelototi wartawan wanita itu.
Hal itu membuat wartawan itu ketakutan dan sedikit manjauh dari Setiwan.
Kemudian, mereka masuk ke dalam kantor polisi. Di dalam Rasya yang sedang di tahan oleh Agus dan juga Antony itu segera melepaskan diri dan berlari, lalu memukul Setiawan.
"Kenapa?! Kenapa lo mau?!" tanya Rasya, memegang kerah Setiawan.
"Hn, heheheHahahah. Mau? Apa maksud anda? Apa kau kakaknya? Ooh, iya saya ingat. Dia terus memanggil-manggil nama anda di saat-saat terakhirnya. Sayang sekali" ejek Setiawan.
Mendengar ejekan tersebut membuat Rasya semakin marah. Ia pun memukul Setiawan sampai harus di tahan beberapa polisi.
********
Sementara itu, di rumahku. Hari ini seharunya sudah kami bersekolah. Tetapi aku masih belum sadar dan Greysie malah memilih untuk menjagaku sambil melihat berita di Tv.
Jantung Greysie mulai memompah darahnya menjadi sangat cepat, sedang tangannya menjadi gemetar.
Kemudian, Greysie segera menjawab telpon tersebut.
"Ha- halo, Pah" sapa Greysie, pelan.
"Di mana kamu semalaman?! Pulang cepat!" perintah Ayah Greysie.
"I- Iya Pah. Aku pulang sekarang" jawab Greysie, gemetar.
Setelah menerima telpon dari Ayahnya, Greysie segera bergegas. Ia melihatku sebentar kemudian pergi.
Sesampainya di rumahnya. Dengan terburu-buru Greysie segera masuk ke dalam rumahnya.
Di sana, Ayahnya telah menunggu kedatangan Greysie. Ia pun berjalan ke arah ayahnya.
Plaakkkk..........!
Tamparan keras melayang di wajah Greysie. Sementara Greysie menatap ayahnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Berani-beraninya kamu natap saya seperti itu!" ucap Ayahnya, segera memukul dan menendang Greysie.
__ADS_1
"Pah, papa sakitt" ucap Greysie dengan isak tangis kecil.
"Saya sudah duga kamu gak sekolah hari ini. Mau jadi apa kamu, hah?!" teriak Ayah Greysie.
"Berapa kali saya harus bilang?! Jangan mempermalukan saya! Dasar anak gak tau di untung!" cela Ayah Greysie, menunjuk wajah Greysie.
Tangan Greysie mengepal. Rasanya dia akan membunuh ayahnya sendiri. Pemikiran itu sudah ada sejak ia kecil, bahkan sebelum bertemu denganku. Dan rasa benci terhadap ayahnya semakin besar seiring bertambahnya usianya.
"Pahh. Cara lagi sakit, ak-ku harus jagain dia" ujar Greysie, dengan isak tangis.
"Ckkk!! Ngebantah lagi kamu. Seharusnya kamu tetap diam! Kalau teman kamu itu sakit, biarin orang lain yang ngurus dia. Kenapa harus kamu?! Biarin aja dia sendiri, mau sakit, mau mati! Biarin aja! Yang harus kamu lakukan itu jangan sampai mempermalukan saya! Ingat?!!" ujar Ayah Graysie, bercekak pinggan melihat Greysie.
Sementara Greysie yang mendengarnya terus berusaha untuk menahan tangannya, ia sangat marah saat ini. Kata-kata yang tak ingin di dengarnya bahkan dari mulutku, malah di ucapkan oleh Ayahnya sendiri.
Greysie menarik hembuskan napas berat, ia menatap benci ayahnya sambil mengepalkan tangan.
Melihat wajah Greysie yang seperti itu membuat ayahnya juga tak kalah emosi. Ia pun memukul Greysie sampai Greysie tergeletak lemah tak berdaya.
Setelah puas memukuli Greysie, ayahnya segera pergi meninggalkan rumah. Sementara itu para Art baru bisa menolong Greysie karena mereka sebelumnya juga takut dan tak berani ikut campur.
"Neng... Huhuuuu" ucap Art, menangis.
"A, ku mau pergi, bi" ujar Greysie, melepas semua genggaman tangan Art, dan segera pergi.
"Neng, neng mau kemana? Neng, lukanya neng harus di obat dulu. Neng!" teriak 3 Art, bersamaan.
Greysie segera pergi, menancap gas mobil miliknya. Ia melaju membawa mobil dengan badan yang masih lemah.
"Grey, aku janji. Tapi gak sekarang. Ada saatnya, gak sekarang"
Suaraku terus menggema di kepala Greysie. Beberapa saat kemudian, Greysie sampai di rumahku. Ia pun berlari sampai ke kamarku.
Di dalam kamar, aku masih tertidur pulas dengan wajah polos tak berdosa.
Greysie melihatku kemudian menangis sesegukan sambil memengan kepala dengan kedua tangannya.
"Ra, maafin aku. Aku.. Aku udah gak tahan. Pliss bangunnn, huhuuu... Aku udah gak tahan, aku gak bisa tahan. Bangun, Raaa~" ujar Greysie sambil menangis sesegukan.
Aku tak juga bangun, kemudian Greysie dengan perasaan amarah serta sedih yang mendalamnya itu mengambil pisau dari kantung celananya.
"Raa, banguuunn~" ucap Greysie sekali lagi, sedangkan pisau tajam sudah berada di urat nadinya.
"Maafin, aku" ucap Greysie, mengiris pergelangan tangannya, tepatnya di urat nadi miliknya.
Darah menyucur deras dari tangan Greysie sampai mengalir deras di lantai. Ia mulai merasa pusing, kemudian pingsan.
Bersambung...
__ADS_1