Ilusi

Ilusi
BAB 13 (Part 3)


__ADS_3

Jika ingin mengerti rasa sakitnya, tatap saja matanya. Maka kau akan menemukan jawaban.


********


"Hm, menurut gua, gua adalah orang jahat yang di anggap baik oleh orang-orang" ucapku, pelan.


"Hah? lo ngomong seseuatu?" tanya Riska, melepas dari pelukannya.


"Hm, gak, gak ada" jawabku, tersenyum.


"Lo ke rumah gua ya, setiap hari minggu. Jam 09:00. Jangan telat, gua gak suka nunggu soalnya" ucapku, lalu aku berdiri.


"Hah? ngapain? Gua juga gak tau rumah lo di mana" ujar Riska, melihatku berdiri.


"Udah dateng aja. Nanti gua kirim alamatnya sama lo, gua pergi dulu, takutnya Greysie nyariin gua karena kelamaan di sini" jawabku, lalu aku pergi.


"Emang lo punya nomer gua" ucap Riska, sedikit berteriak.


"Udah tenang aja. Gampang" ucapku, melambai, tetapi aku tak melihat dirinya.


Minggu kemudian. Jam 09:20. Aku sedang duduk di sofa rumahku, masih menunggu kedatangan Riska.


Ting nung.... ting nung.....!


Bell rumahku berbunyi. Aku melihat jam tanganku, lalu berdiri. Kakiku pelan melangkah ke arah pintu. Kemudian aku membukakan pintunya.


"Kok telat? gua bilang kan jam 9 tepat" ucapku, bertanya.


"Ya elah, cuman telat dikit doang" jawab Riska, sedang bibirnya menggerutu pelan.


"Bagi gua waktu itu penting. And urusan gua banyak. Besok lo jangan telat" ujarku, mengomel.


"Ya, ya.. Ok. Hufff, napasih. Lo gak nyuruh gua masuk nih?" gerutu Riska, lalu bertanya.


"Mmff, iya... Silahkan masuk" ucapku, sopan. Lalu aku tersenyum.


Riska kemudian duduk di sofa. Aku mengamati dirinya. Lau tersenyum lagi.


"Lo mau minum apa? nanti gua buatin" ucapku, bertanya.


"Mm, terserah lo aja. Di sini gak ada bibi ya? sampai lo yang mau nyiapin minumnya" ujar Riska, bertanya.


"Gak ada" jawabku, singkat. Lalu aku segera berdiri.


"Orang tua lo kemana?" tanya Riska. Aku melihatnya sebentar, lalu berjalan ke arah dapur.


"Mereka udah gak ada" jawabku, sedang kakiku masih melangkah pelan ke dapur.


Riska kebingungan dengan situasi yang ia ciptakan akibat pertanyaannya. Ia merasa bingung harus berkata apa.


Beberapa menit kemudian. Aku kembali dari dapur, membawakan minuman padanya.


"Em, thank u, and... gua... turut.. Berduka cita, maaf gua gak tau" ucap Riska, kaku.


"Santai, gak pp" ucapku, tersenyum.


"Makan mau gak? Lo udah makan belum?" tanyaku. Sedangkan Riskan sedang minum.


"Em, gak perlu. Gua gak laper" jawab Riska.


"Jadi kita mau ngapain ini?" lanjut Riska, bertanya.


"Gua mau latih elo" jawabku, tersenyum.


"Haah? Latih apaan?" tanya Riska, keheranan.


"Ngelukis" jawabku singkat, lalu aku berdiri.


"Emang lo tau dari mana kalau gua bisa ngelukis? Kalau gua gak bisa, lo mau maksa gua?" tanya Riska, tersenyum ejek.


"Gak tau dari mana-mana. Gua yakin lo udah punya bakat, cuman gak di asah aja" ujarku, berjalan pergi ke kamarku untuk mengambil peralatan.


"Kok tu anak serba tau sih" batin Riska, bertanya.


Beberapa saat kemudian. Aku kembali dari kamar, sedang tanganku penuh dengan peralatan melukis.

__ADS_1


"Kok lo bisa tau sih?" tanya Riska. Sedangkan aku sibuk menyiap sketsa latihan.


"Ya tau aja. Makannya kalau jadi orang jangan malas" jawabku, sedikit meledeknya.


"Hnh, di tanya malah gak jawab" gerutu Riska bersandar di sofa, sambil bersilang kaki dan tangan.


"Gua juga bakal ngelatih skill bermain piano, elo. Tapi latihannya bakal lebih fokus ngelukis aja. Nanti lo kecapean" ucapku, sambil merapikan alat-alat melukis.


"Kok lo bisa tau semua sih, njirr" tanya Riska, bangun dari senderannya.


"Udah, gak usah nanyain yang gak penting" jawabku.


"Puff, ngeselin banget ni orang" batin Riska, bola matanya memutar karena malas.


"Lo denger omongan gua baik-baik. Melukis bukan tentang keindahan aja, tapi bagaimana cara elo buat nuangin perasaan lo ke dalam lukisan. Setiap lukisan punya makna tersendiri dari pelukisnya. Jadi kalau perasaan lo nyatu sama lukisan lo, maknanya bakalan tersampaikan sama orang lain yang lihat lukisan elo. Sama halnya seperti sebuah tulisan yang sampai ke hati pendengarnya, melalui telinga mereka" jelasku, sambil memberikan kuas padanya.


Empat minggu kemudian. Riska semakin mahir dengan tangannya. Aku tak memaksanya untuk segera bisa. Terkadang aku menyuruhnya untuk bersantai. Karena menurutku seseorang seharusnya senang bukan tertekan, jika menginginkan makna dari karyanya tersampaikan.


Riska juga sudah semakin mahir bermain piano. Katanya bermain piano menjadi hobi barunya. Sebelumnya dia tidak suka kerena paksaan dari ayahnya. Tetapi setelah ia berlatih selama Empat minggu, membuatnya semakin suka.


Saat ini. Aku menyuruh Riska untuk melukis diriku, agar aku bisa melihat kemajuannya.


"Lo mau juga gak kalau gua latih skill biola lo? Tapi keknya harus bayar sihh, masa gratis mulu. Orang lain yang lest sama gua biayanya lumayan" tanyaku, meledeknya.


"Hah? Lo bisa biola juga?" tanya Riska, keheranan.


"Hm, lo mau apa enggak?" tanyaku lagi, tanganku masih bersilang.


"Njirr, kok lo bisa semua sih? terus.. dari mana lo bisa tau kalau gua juga bisa biola dikit?" tanya Riska, mengrytkan alis.


"Ya, itu pokoknya tau. Bokap lo nyuruh lo latihan tiga itu kan" ucapku, meyakinkan.


"Njirr... terus- terus, lo bisa apalagi?" tanya Riska, penasaran. Tangannya berhenti melukis.


"Gua bisa tidur, bisa makan, bisa napas juga" jawabku, biasa.


"Keknya lo emang sengaja buat nyebelin. Setiap di tanya gak pernah jawab. Buat kesel aja" ujar Riska, wajahnya memalas karena kesal.


"Haha, hahahaaa," aku tertawa setelah mendengarnya. Sedangkan Riska menatapku keheranan.


Besoknya di sekolah. Riska sedang berada di atap sekolah. Ia mencariku, tapi aku tak ada di sana.


Kemudian Riska masih berdiri, bersender di tembok pembatas di atap sekolah untuk menungguku. Matanya juga terus melihat ke bawah. Di bawah siswa-siswa sedang bermain basket. Tak lama kemudian, aku datang.


Riska tak menyadari keberadaanku. Lalu aku berjalan pelan menghampirinya.


"Lo suka sama si Alfie?" tanyaku, menepuk pundaknya, membuat Riska terkejut.


"Anjiirr, kaget gua nying" ucap Riska.


"Hn, hahahaha. Sorry, lo serius banget soalnya lihatin dia" ujarku, tertawa.


"Njirr, heyy, lo tau dari mana kalau gua lihatin si Alfie?" tanya Riska, mimik heran tak percaya.


"Ya tau aja, suka kan lo sama dia. Mau gua bantuin?" jawabku, lalu bertanya.


"Hn, lagi-lagi gak jawab. Kalau orang bertanya itu di jawab, nying" ucap Greysie, mengomel.


"Iya, iya.. gua tau aja, soalnya kelihatan dari muka elo" jawabku, tersenyum ledek.


"Kok bisa? Lo kok bisa tau semua sih? Pantesan si Greysie suka temenan sama elo, pasti lo orangnya peka dan pengertian banget" ungkap Riska, masih menatap heran tak percaya.


"Hn, hahahaaa, kalian lucu. Padahal mata kalian udah ngejelasin semuanya. Masa gak tau" ucapku, tertawa.


Satu minggu kemudian. Aku sedang berkunjung ke rumah Riska. Ia tak mengetahui jika aku akan datang ke rumahnya.


Ting nung... Ting nung...!


Tak lama kemudian, seorang Art membukakan pintu rumah Riska untukku. Aku masuk dan duduk di sofa, sambil membawa barang seperti bingkai besar.


Ayah Riska datang.


"Halo om, apa kabar?" ucapku, bersalaman.


"Om baik, kamu gimana kabarnya? Ayo, duduk" tanya Ayahnya, kemudian duduk.

__ADS_1


"Aku baik om," jawabku, lalu ikut duduk.


"Em, aku ke sini untuk bawain om lukisan ini" lanjutku, memberikan lukisan padanya.


"Oh ya? Kamu baik banget sampai bela-belain bawain om, makasih ya" ucap Ayah Riska, tersenyum.


"Haha, iya sama-sama om" balasku, tersenyum.


"Om boleh buka?" tanya Ayah Riska, masih tersenyum.


"Iya, iya.. Silahkam om" jawabku, juga tersenyum.


Ayah Riska mulai membuka bingkai lukisan tersebut. Matanya terpesona melihat lukisan itu.


"Waahh, ini bagus banget Cara. Ini beneran buat om?" tanya Ayah Riska.


"Iya om. Itu di buat khusus buat om" jawabku, tersenyum.


"Kamu emang seniman sejati" ucap Ayah Riska, menggelengkan kepala karena terpesona dengan lukisan di hadapannya.


Lukisan itu bergambar seorang ayah dan anak perempuanya yang sedang berjalan di sebuah jembatan kecil dengan lebar satu meter.


Di bawah jembatan kecil tersebut terdapat sungai yang indah, pepohonan dan rumput rimbang berwarna hijau gelap hampir kehitaman. Sedangkan ayah dan anak perempuan di dalam lukisan tersebut seperti akan terpisah satu sama lain, seakan menjauh.


"Itu bukan aku yang ngelukis om" ucapku, tersenyum.


"Hah? Jadi kalau bukan kamu, siapa yang ngelukis lukisan sebagus ini?" tanya Ayah Riska, tak percaya.


"Anak om, Riska" jawabku, masih tersenyum.


"Hah? kamu bilang siapa barusan? Anak om?" tanya Ayah Riska, masih tak percaya.


"Iya, Riska anak om. Dia ngelukis ini sendiri. Aku lihat sendiri dia ngelukis, dia pinter dan berbakat. Aku sebagai temennya aja bangga sama dia" jawabku, dengan senyuman.


Wajah Ayah Riska masih seperti orang yang tak percaya dengan apa yang aku katakan. Menurutnya tak mungkin kalau itu lukisan anaknya.


"Om, aku boleh ngomong ke om, gak?" tanyaku.


"Em, iya boleh" jawab Ayah Riska, pelan.


"Lukisan yang om pegang itu emang dilukis sendiri sama Riska. Aku nyuruh dia buat ngelukis sesuatu dari hatinya. Dan hasilnya adalah karya yang indah itu. Aku tau kalau om pengen Riska masuk jurusan seni. Tapi om menurut aku, seseorang gak akan pernah bisa kalau dia gak seneng, malah cuman buat mereka merasa tertekan. Riska sampai bisa hasilin karya seindah di tangan om itu karena saat dia ngelukis dia seneng dan gak tertekan sama sekali. Coba om bayangin kalau Riska terus merasa seneng. Dia pasti bisa ngasilin karya yang lebih bagus dari ini. Bahkan bisa ngalahin pelukis-pelukis terkenal di luar sana. Aku harap om bisa selalu ngedukung impian Riska karena lukisan itu adalah bukti kalau Riska serius dengan impiannya" jelasku.


Ayah Riska sedikit termenung karena melihat lukisan di tangannya. Ia merasakan makna dari lukisan tersebut. Seperti ayah dan anak yang semakin menjauh satu sama lain karena tak ada komunikasi yang baik di antara mereka. Seperti halnya gambar lukisan jembatan kecil yang kayunya sebagian lapuk hingga berlubang.


"Menurut aku, bagi seorang anak perempuan. Ayah mereka adalah panutan sekaligus cinta pertama mereka. Tapi.. aku gak punya banyak waktu yang bisa aku habiskan dengan ayah aku. Sedangkan om dan Riska masih punya kesempatan buat ngabisin waktu kalian bersama. Jangan sampai Riska ngerasain apa yang aku rasain sekarang, om" lanjutku.


Sementara itu, Riska sedari tadi sedang mengintip kami berbicara. Aku juga sudah menyadari keberadaanya dari tadi.


Riska tadinya berada di dalam kamarnya. Namun, Art memberitahu dia, bahwa ada seorang anak seumurnya sedang berbicara dengan ayahnya. Sehingga membyat Riska penasaran dan ingin melihat.


Beberapa menit berlalu. Aku pamit pada ayahnya. Lalu aku menengok Riska, sambil tersenyum padanya.


"Kamu naik apa ke sini? Biar supir om anterin pulang" ucap Ayahnya, berdiri.


"Em, gak usah om. Aku naik motor tadi ke sini. Kalau gitu aku pamit om" jawabku.


Setelah aku pergi.


"Riskaaa..." panggil Ayahnya, membuat Riska terkejut, lalu segera manghampiri ayahnya.


"Iya, Pah" jawab Riska, menghampiri.


"Kamu...." ucap Ayahnya, langsung memeluk Riska.


"Mulai sekarang papa akan selalu dukung impian kamu. Papa juga bakal kasih tau mama kamu" ujar Ayahnya, mengelus rambut Riska.


"Beneran pah?" tanya Riska, tak percaya.


"Iya bener. Mulai sekarang kamu boleh ambil jurusan yang kamu suka. Papa akan selalu dukung, asalkan kamu serius dengan pilihan kamu" jawab ayahnya, memegang pundak dan mengelus rambut Riska.


"Makasih pah, i love you pah" ucap Riska, memeluk erat.


"Papa juga sayang kamu" ujar Ayahnya, membalas pelukan sambil mengelus rambut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2