
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika aku lagi-lagi terbangun dari mimpi yang sama tentang rasa sakitku selama ini.
********
Greysie termenung sangat lama, sesekali ia memegang kepalanya. Berdiri lalu duduk lagi, berjalan kesana kemari, bercekak pinggang, bersender di dinding, menarik napas dan langsung menarikku keluar dari tempat psikolog tersebut.
"Grey..." panggilku pelan. Namun ia hanya diam, tangannya sangat dingin saat memegangku. Ia kemudian membuka pintu mobil miliknya dan menyuruhku masuk.
"Masuk" perintah Greysie. Aku meliriknya dan menuruti perintahnya.
Greysie kemudian menyalakan mobil miliknya, ia membawaku ke tempat yang sangat jauh dan sunyi. Mobilnya berhenti di sebuah hutan belantara.
"Tunggu sini" perintah Greysie. Aku kebingungan dan hanya menuruti perkataannya. Greysie keluar dari mobil, ia lalu berdiri di dekat salah satu pohon besar di hutan tersebut.
"Aaaaaaaaaaaah, fuckk, fuuuckkk" teriak Greysie. Aku terkejut mendengarnya, lalu segera keluar dari mobil dan langsung menghampirinya.
"Grey....!" teriakku. Aku langsung menghampirinya.
"Why u screaming? you okay?" tanyaku mencemaskan keadaannya.
Greysie lagi-lagi tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam dan langsung menarik tanganku lagi sampai ke pintu mobil. Greysie membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk.
"Masuk!" perintah Greysie. Aku menghela napas berat, namun tetap menurutinya.
Mobil Greysie melaju. Sepertinya dia sangat marah. Ia sesekali menghentikan mobil untuk menenangkan pikirannya. Aku hanya bisa mengamati kelakuannya.
"Bu el ngatain apa tentang gua? kok ni anak marah banget, dia marah ke gua atau orang lain? batinku terus bertanya.
"Tapi... keknya dia marah ke orang lain, kalau marah ke gua pasti langsung ngomong tanpa basa basi" batinku. Aku terus melihat ke arahnya.
"Grey, aku gak mau kamu ngelakuin sesuatu yang lain, kamu berhenti, stop jangan mikir itu" ucapku melihat kearahnya.
Sontak Greysie langsung memberhentikan mobil miliknya. Ia lalu melihat kearahku dengan wajah yang masih memerah karena menahan emosi.
"Udah, loe diam aja!" bentak Greysie.
__ADS_1
"Gua gak mau, ti-tik! loe jangan ngelakuin hal-hal lain" ucapku mengeraskan suara.
"Emang gua mikiran apaan? loe bisa baca pikiran gua, hah? bisa baca?! ujar Greysie memarahiku.
"Gua tau apa yang ada di pikiran loe sekarang, kalau loe mau ngelakuin hal lain, kita gak usah sahabatan lagi" tegasku, membuat Greysie sangat tak suka.
"Diam gak? loe diam aja anj**ing!" cela Greysie. Itu adalah pertama kalinya dia mengataiku.
"What? what the fu*ck? why did you say to me? anj**ng? loe ngatain gua anj**ng, fu*ck you!" bentakku.
"Kenapa emangnya, gak suka? gak suka kalau gua ngomong gitu ke eloo, hah? makannya kalau gua suruh diam, ya diam aja!" ucap Greysie menyombong, tak peduli. Aku menghela napas berat. Kemudian aku terdiam karena malas berdebat dengannya.
Greysie membawa mobilnya selaju mungkin sampai di depan gerbang rumahnya. Satpam lalu membukakan pintu gerbang. Sesampainya di depan rumahnya, kami keluar dari mobil. Greysie langsung menghampiriku lagi dan menarik tanganku.
Kami berjalan ke arah lift, tangan kanan Greysie langsung memencet tombol di dalam lift, karena tangan kirinya masih menggenggam erat tanganku.
Sesampainya di lantai atas, ia langsung menarikku untuk pergi ke kamarnya. Greysie memaksaku duduk di tempat tidur. Ia lalu mengambil kotak obat milikku, dan mengambil 3 butir obat untukku.
"Minum!" perintah Greysie. Tangannya berada di depan wajahku, aku meliriknya ke atas, lalu mengrykan kening dengan mimik keheranan.
"Gak, gua gak mau" ucapku menolak.
Greysie tak senang mendengarnya. Ia lalu membuka mulutku dengan tangan kirinya dan memasukan obat itu ke dalam mulutku.
"Telen gak! telen cepetan!" perintah Greysie memolototiku, sedang tangannya masih memegang bagian mulutkku. Aku dengan terpaksa menelan obat tidur tersebut.
Greysie langsung memberiku minum. Tak lama setelah itu, aku menjadi sangat mengantuk. Greysie masih berdiri di depanku. Aku kemudian tertidur, kepalaku bersender di bagian perutnya.
"Maafin gua" batin Greysie, air matanya menetes. Ia lalu membaringkanku perlahan di tempat tidur.
Besoknya, saat aku terbangun. Greysie menyuruhku untuk meminum obat tidur lagi dengan dosis yang sama. Hal itu terus berlangsung selama dua hari.
Tiga hari kemudian. Aku terbangun karena bermimpi seperti melihat bayangan hitam datang untuk menemuiku. Bola mataku melirik sekitar untuk mencari keberadaan Greysie.
"Grey..." panggilku. Tak ada jawaban, semuanya nampak sunyi. Aku memeriksa lukaku masih di perban, tandanya Greysie masih mengganti perban di perutku.
__ADS_1
Setelah itu, aku berjalan pelan ke arah pintu. Lalu membukanya. Keadaan sunyi ini, membuatku merasa seperti tak enak, entah mengapa perasaanku sangat tidak enak. Setelah itu, aku pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Bibi juga gak ada, jadi sunyi banget" batinku terus bertanya-tanya.
Kemudian aku pergi lagi ke kamar. Mataku juga tak berhenti mencari keberadaan setiap orang di dalam rumah ini. Perasaanku sangat tidak enak, aku tertidur selama dua hari, dan saat aku bangun tak ada seorangpun yang aku temui. Aku memutar gagang pintu kamar. Pintunya terbuka, lalu aku mulai mencari telpon milikku.
Setelah menemukan Hp milikku, aku mulai menelpon Greysie. Namun ia tak mengangkat telpon dariku. Sementara aku masih menelponnya, suara getaran terdengar di telingaku. Aku memeriksa laci, ternyata Hp Greysie ada di sana, dia tak membawanya.
"Tumben Hpnya geter" batinku, lalu aku mengecek telpon miliknya.
"Hm, ternyata udah ganti nada dering yang kemarin" batinku. Aku sedikit tersenyum. Namun di layar Hp milik Greysie terlihat banyak notifikasi dari media sosial miliknya.
Jariku tak sengaja mengklik pada notifikasi instagram. Mataku membulat ketika membacanya.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun, turut berduka cita atas berpulangnya, bapak Arya Allen Wijaya. Semoga Greysie dan Ibunya di berikan ketabahan dan Almarhum bapaknya di ampuni segala dosanya. Amin."
Itu adalah story ig milik salah satu murid di sekolah kami yang menandai Greysie di instagram miliknya. Aku terkejut sampai menyenggol barang di meja dekat tempat tidur, lalu aku terduduk karena kakiku melemas seketika. Aku berusaha bangun dari dudukku dan berlari pelan ke arah pintu, memutar gagang pintu dan segera berlari ke arah lift.
"C' mon, c'mon" ucapku memencet tombol, namun lift itu tak juga terbuka.
Karena tak sabar, aku pun langsung berlari menuruni tangga di setiap lantai. Saat aku sampai di tangga lantai dua, aku hampir saja terpeleset dan jatuh ke bawah. Bagaimana tidak, kepalaku masih pusing karena obat tidur, aku juga baru saja bangun dan mengetahui semuanya, kemuduan langsung berlari, padahal seluruh badanku masih terasa sangat lemas.
"Arrgh" merintih sambil memegang perut.
Lalu aku berlari lagi sampai ke lantai satu. Kakiku makin lemas, langkahku juga masih belum sempurna.
Sementara itu, di lantai satu. Banyak orang sedang mengaji untuk mendoakan Ayah Greysie. Aku baru sampai di ujung tangga lantai satu, melihat keramaian di dalam rumah ini. Rumah yang biasanya sangat kosong dan sunyi, kini menjadi penuh dan ramai.
Greysie melihatku sedang berlari menuruni tangga, ia kemudian berdiri meninggalkan ibunya. Ia berlari menghampiriku, aku hampir terjatuh, namun Greysie menangkap tanganku.
"Grey..." lirihku pelan, melihatnya.
Wajah Greysie terlihat sangat berbeda dari biasanya, di mana aku mengenal dirinya. Aku bisa langsung mengetahui semuanya dari tatapan matanya.
Tatapan marah serta benci terlihat sangat jelas di mata Greysie. Wajah datar serta bibir pucatnya yang mengerucut, membuat perasaanku menjadi sangat aneh.
__ADS_1
Bersambung...