
Setelah memberiku obat tidur. Greysie berdiam diri sangat lama, ia memikirkan rencana untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Namun Greysie menjadi sulit berkonsentrasi kerena terus saja teringat akan traumaku selama ini dan ia tak menghetahui hal itu.
"Ckk! Fuckk!" ucap Greysie, membating barang.
"Jadi selama ini itu alasan Cara trauma? Kenapa gua gak sadar sih?! Kenapa?! Kenapa?! Dan gua malah minta Cara buat ngelakuin sesuatu yang buat Cara jadi ke inget sama traumanya" ujar Greysie, berkata sendiri.
"Maafin aku, Raa... Plis maafin aku. Aku gak tau kalau kamu nahan perasaan yang sesakit ini. Pantesan kamu gak pernah mau cerita, kalau kamu cerita kamu pasti bakalan ke inget terus. Kalau kamu ke inget, kamu pasti bakalan... Bakal ngelakuin hal-hal yang gak ingin kamu lakuin di depan aku. Pasti kamu kesulitan buat nahan semuanya sendiri. Maafin, akuu... Huhuuu, maafin akuu" ujar Greysie, menangis terseduh-seduh.
Greysie lalu duduk di tempat tidur sambil memandangiku yang sedang tertidur.
"Aku janji akan selesain semua ini dengen cepat. Kamu gak perlu khawatir lagi, aku bakal bales perbuatan mereka sama kamu dan keluarga kamu. Mereka udah buat Ayah kamu jadi pembunuh Bunda dan Adik kamu dan buat kamu jadi pembunuh Ayah kamu sendiri" batin Greysie.
"Pasti sakit banget ya Ra? Selama ini aku maksa kamu buat nurutin kemauan aku, padahal kamu trauma dengan hal itu. Maafin aku karena udah nyerang kelemahan kamu. Pantes aja setelah kamu buat janji sama aku, trauma kamu sering muncul. Tapi kalau trauma kamu gak muncul saat itu... mungkin sampai sekarang aku juga gak akan pernah tau dengan rasa sakit kamu ini" lanjut Greysie, membatin.
"Dulu itu Cara pernah hampir ngebunuh gua. Apa saat ngebunuh Ayahnya dulu Cara juga gak sadar kek gitu? Terus pas dia udah, semuanya udah terlambat untuk nyesel" gumam Greysie.
Greysie kemudian menyiapkan sebuah kamera untuk keperluan rencananya nanti. Ia juga selalu mendengarkan percakapan dari rumah Cassie.
#
Besoknya. Saat aku terbangun, Greysie langsung menyuruhku untuk meminum obat tidur lagi dengan dosis yang sama.
"Grey?" ucapku, menatapnya.
"Minum, Ra" ujar Greysie lembut, sambil memberikan obat.
"Pliss cerita dulu ke aku, kenapa? Kamu ngerencanain apa sekarang? Apa aku gak boleh tau soal itu?" tanyaku, lirih.
"Minum dulu ini" ujar Greysie, lembut.
Aku melihat obat di tangan Greysie, lalu menatapnya dengan tatapan dalam. Kemudian aku mengambil obat dari tangannya dan segera meminum semuanya.
Setelah meminum obat, Greysie memintaku untuk berbaring kembali dan aku hanya bisa menuruti kemauannya. Ia segera pergi namun aku menahan tangannya.
"Grey, janji jangan ngelakuin hal-hal aneh" pintaku.
"Iya, kamu tenang aja" ujar Greysie, tersenyum sambil duduk.
Mataku sesekali terpejam. Tak lama setelah itu, aku pun tertidur kembali. Greysie kemudian melepas genggaman tanganku darinya dan ia segera pergi.
Sementara itu, di sekolah. Riska, Putri, Zey, Mindy dan Raya menghampiri Cassie yang sedang duduk di tempatnya.
"Ikut kita sekarang!" perintah Mindy.
Cassie mendongak untuk melihat Mindy beserta teman-temannya. Karena Cassie hanya diam, Zey segera menarik paksa tangan Cassie dan membawanya sampai ke belakang sekolah.
Sementara itu, para sahabat-sabat Cassie sebelumnya hanya diam dan tak memedulikan Cassie.
"Kasian juga si Cassie" ujar Adel.
"Ckk! Lo ngapain kasian sama dia?! Lo lupa kalau orang tua dia itu pembunuh berantai yang udah ngebunuh abang gue!" bentak Elsa pada Adel.
"Iya, paman kesayangan gue juga di bunuh orang tuanya. Lo lupa?! Kalau lo mau belain dia temenin aja dia sekalian sana, biar lo juga di bully sama geng Riska" ujar Caterine.
"Ya, maaf-maaf. Gue kan cuman ngomong doang. Lagian gak mungkin gue belain dia" ujar Adel.
"Bacot lo!" umpat Caterine dan Elsa bersamaan
"Udah, kalian jangan berantem lagi. Kita jangan pada ribut cuman-cuman gara dia. Gak guna" ujar Violin.
Mereka ber 3 pun diam dengan wajah kesalnya masing-masing.
"Kalian perhatiin gak sih?" tanya Violin, tiba-tiba.
"Apa?" tanya Adel dan Caterine.
"Hm?" tanya Elsa.
"Si Riska sama gengnya itu ngebully anak-anak yang mereka benci pas lagi gak ada si Cara dan Greysie doang" jawab Violin.
"Hm, iya. Gue juga udah sadar selama ini. Mereka tuh kek ngehindarin Grey dan Cara. Apa mereka takut sama mereka berdua?" tanya Elsa.
"Kalau menurut gue sih, mereka itu takutnya sama Greysie. Papanya kan punya perusahaan terbesar dan ternama no 1 di negara ini" sambung Caterine.
"Keknya si Riska takut berurusan sama si Cara. Atau gak si Riska itu punya hubungan deket sama Cara, entah hubungan baik atau buruk" ujar Adel.
"Hubungan? Kok lo bisa kepikiran gitu?" tanya Elsa, penasaran.
"Kalau yang gue perhatiin selama ini, si Riska itu gak pernah mau gangguin Cara dalam hal kecil apapun. Coba kalian mikir kalau emang Riska takut sama si Greysie, dia pasti bakal cari cara lain untuk ngebully si Cara tanpa sepengetahuan Greysie, iya kan?" jelas Adel.
"Hm, iya bener juga" ujar Violin, Elsa, dan Caterine bersamaan.
"Hm, gue jadi curiga sama mereka berdua. Apa jangan-jangan mereka itu sebenernya saudaraan? Saudara tiri? Kandung? Atau mungkin mereka temenan?" tanya Caterine.
"Plotwits banget kalau emang beneran" ujar Elsa, tersenyum ejek.
#
Sementara itu, di belakang sekolah. Zey sedang menuangkan minumannya ke baju Cassie, sementara Mindy dan Putri sedang memegangi tangan kiri/kanan Cassie secara bersamaan. Sedankan Raya hanya diam, ia berdiri sedikit berjauhan dari mereka semua yang ada di situ.
"Ray, lo kenapa jauhan gitu? Lo jangan jadi takut gitu dong sama dia. Apa lo lupa kalau kita yang berkuasa di sekolah ini?" ujar Mindy.
"Gue takut bakal di ancem lagi sama orang itu. Kalian kalau gak berhenti sekarang... Kalian pasti bakalan.... Apa kalian gak sadar kalau Vanya mati setelah ngebully Cassie kemarin. Orang tuanya juga udah ke bukti kalau mereka pembunuh berantai. Gimana kalau orang yang ngancem gua saat itu ternyata si Cassie? Terus dia sengaja ngasih anting itu sama gue supaya kalian ngebully dia dan dia jadi punya alasan untuk ngebunuh kalian juga" batin Raya.
Sementara itu, Riska sedang asyik menonton teman-temannya membully Cassie. Kemudian ia segera menghampiri mereka dan memegang kerah baju Cassie.
Sebelum Riska melayangkan pukulan di wajah Cassie, ia teringat akan sesuatu.
Ka, lo jangan ngebully si Cassie. Dia itu gak sepolos yang kalian kira.
Emang kenapa? Salah dia sendiri cari gara-gara sama gue.
Gua kasih tau lo tentang ini demi kebaikan elo. Lo nurut aja napa? Susah amat.
Emang lo siapa berani-beraninya merintah gue? Lo sengaja kan selama ini ngehalangin gue ngebully dia?
Kalau iya, kenapa? Gua emang sengaja. Lo mau apa? Mau ngebully gua juga?
Ngelunjak ya lo Ra. Di baikin malah ngeremehin gue. Mau gue bully juga lo sekarang?
Hn...hahahahaha. Hahahaha. Lo kalau marah sama kek Grey. Kalian pikir gua takut kalau di ancem kek gitu? Hm, bully aja gua sekarang, gak pp. Lo mau mukul gua? Mau dorong gua dari atas gedung ini? Lakuin aja gua pasrah, gak akan ngelawan. Gua emang butuh seseorang buat ngelakuin hal yang gua gak bisa.
Maksud dia apaan? Apa dia pengen mati? Dari kata-katanya... Keknya sih iya (batin Riska).
__ADS_1
Kenapa diem aja? Ini gua udah pasrah. Mumpung gua lagi baik saat ini. Biasanya gua cuman biarin Grey buat lakuin sesukanya. Kalau dia juga mau ngebunuh gua kapanpun bakal gua biarin. Lo kalau kepengen juga sekarang aja. Gak biasanya gua biarin orang lain selain Grey kek gini ke gua. Lo harusnya ngerasa terhormat.
Emangnya kalau orang lain yang ngelukain elo bakal lo apain?
Bakal gua bunuh.
Gue serius, Ra.
Gua juga serius. Ckk! Kelamaan lo, males gua. Udah pokoknya elo jangan sampai ngebully si Cassie. Ini demi kebaikan elo.
Riska teringat percakapaannya denganku beberapa bulan yang lalu. Karena teringat hal itu membuat Riska tak jadi memukul wajah Cassie.
"Lo selama ini sengaja ngedeketin gue kan?" tanya Riska pada Cassie.
"Hah?" ucap Cassie, keheranan.
Sementara itu, semua teman-teman Riska juga merasa heran dengan pertanyaan yang ia lontarkan.
"Em, sebenarnya sih iya. Gue pengen gabung sama kalian. Makannya gue selalu cari cara buat deket sama kalian, meskpun akhirnya kalian malah ngebully gue" ujar Cassie.
Mendengar hal itu, membuat Putri, Mindy dan Zey tertawa terbahak-bahak. Sementara Raya hanya diam dengan tatapan tak percaya, sedangkan Riska nampak tak bereaksi apapun.
"Bener dong kata si Cara. Dia emang kepengen masuk ke circle pertemanan gua. Anj*ing! Kelihatannya aja kek baik dan polos, ternyata aslinya... Ckk! Jijik gue" batin Riska.
"Kalian jangan pada ketawa!" bentak Riska.
Hal itu membuat teman-teman Riska seketika berhenti tertawa dan menatap heran padanya.
"Ka? Serius lo?" tanya Mindy.
"Dia sekarang temen kita juga. Sekarang dia anggota Six Hell Angels. Kalian jangan berani gangguin dia lagi" ujar Riska, tegas.
Mendengar hal itu membuat bibir Cassie terangkat. Ia pun tersenyum kecil dengan perasaan senang.
"Hm, langkah yang bagus. Bentar lagi kalian semua bakal gue buat sujud di kaki gua" batin Cassie.
"Tapi, Ka..." ujar Mindy, Putry dan Zey bersamaan.
"Apa?! Mau ngebantah lagi kalian?!" tanya Riska, emosi.
"Ckk! Sialan!" umpat Mindy, dalam hati.
Sementara itu, Zey dan Putri nampak kesal namun mereka memilih diam karena tak ingin membuat ketua/sahabatnya itu lebih merah lagi. Sedangkan Raya, ia juga tak tau harus bersikap seperti apa, dan jadilah ia hanya memilih diam.
Riska kemudian segera pergi meninggalkan mereka semua sampai di dalam kelas. Di kelas ia terus saja melihat hanphonya, tepatnya pesan whattsap yang ia kirimkan padaku masih saja tercentang satu.
"Sialannn, gua pengen banget tau keadaan Cara sekarang kek gimana" batin Riska.
Riska kemudian memutuskan untuk pergi bertanya pada guru menganai keadaanku saat ini.
Tuk, tuk ,tuk.....
"Permisi bu" ujar Riska.
"Iya, Eh Riska? ada apa?" tanya wali kelas.
"Saya mau nanya lagi, bu. Si Cara kenapa masih belum sekolah?" tanya Riska.
"Oh, kata Greysie Cara sakit lagi. Tadi Grey nelpon ibu lagi untuk ngasih tau itu. Kamu mau jenguk Cara?" ujar guru.
"Emm, ehh... Iya. Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau saya nanya soal ini" ujar Riska.
"Emm, kalau begitu saya pergi ke kelas bu. Makasih sebelumnya" kata Riska, berjalan pergi.
"Iya..." jawab guru, tersenyum.
Setelah kembali ke kelas, Riska segera duduk di tempatnya. Di sana juga sudah ada Cassie serta Putry, Mindy, Zey dan Raya yang sedang duduk di bangku mereka masing-masing.
Tak berselang lama guru datang dan mereka pun langsung melaksanakan proses pembelajaran seperti biasanya.
Bebarapa jam berlalu. Akhirnya bell pulang berbunyi. Semua murid sekolah pun memenuhi jalanan pulang. Ada murid yang naik mobil, bus, motor bahkan berjalan kaki.
Cassie sedang bertelponan dengan Bryan. Kemudian supir langsung membukakan pintu mobil untuknya.
"Babe, hari ini kita bakal ketemu sama mereka. Aku udah atur pertemuan kita sama mereka buat sebentar" ujar Bryan.
"Hmm, aku seneng banget babe. Semua berjalan normal sesuai dengan rencana kita" kata Cassie, dengan wajah bahagianya.
"Iya, aku juga seneng" ucap Bryan.
"Babe, kamu mau tau gak hari ini aku ngapain?" tanya Cassie.
"Hmm, iyaa dong... Emang kamu ngapain?" tanya Bryan.
"Hihihi, hari ini... Aku... Aku gabung sama geng Riska, hahahaha. Senang banget aku babe" ujar Cassie, tertawa bahagia.
"Really? Gimana caranya?" tanya Bryan, ikut senang.
"Emm, gimana ya... Emm... Pokoknya si Riska nyuruh aku gabung sama mereka. Mungkin karena si Vanya udah mati kali ya. Ini kesempatan bagus bagi aku, perlahan aku bakal ngendaliin mereka semua. Hahahahahaa, terus aku bakal bales mereka karena udah berani hina dan injek-injek aku selama ini" ujar Cassie.
"Hmm, aku ikut seneng kalau kamu seneng. Kalau gitu aku tungguin kamu di rumah aku ya. Mereka juga bakal dateng ke sini" kata Bryan.
"Okay, muach... See u, babe" ucap Cassie.
"Umm, see you too my baybe" ujar Bryan.
Beberapa saat kemudian. Cassie telah sampai di rumah Bryan. Ia lalu berpelukan dengan pacar tersayangnya itu.
"Babe......!" panggil Cassie, manja.
"Aku kangen bangett" ujar Cassie.
"Aku juga kangen sama kamu. Kamu cepetan lulusnya supaya aku juga bisa langsung ngelamar kamu nantinya" ujar Bryan, mendongak untuk melihat Cassie.
"Hmm, really? Tapi kuliah aku nanti gimana?" tanya Cassie, cemberut.
"Gak papa. Kita program aja nanti..." jawab Bryan.
"Iiihhhh... Maluuu..." ujar Cassie.
(Haedooh. Gak sanggup akoh🥲😂).
Beberapa saat kemudian. Andrian bersama ke-lima teman-temannya telah sampai di rumah mewah Bryan. Tak lupa juga mereka membawa pacar sekaligus sahabat-sahabat Kesya Zola.
Andrian Morris adalah pacar Kesya Zola. Sedangkan Elyana Wesley, Faith Bettany, Grace Chavarria, Krystal Glass, dan Zwetta Nelson, mereka adalah sahabat dari Kesya Zola.
__ADS_1
"Hai, apa kabar bro?" tanya Bryan, berjabat pelukan pria bersama Andrian, Gavin, Leo, Ryan, Ezra dan juga Gavin.
"Kita baik, lo gimana bro?" tanya mereka ber 6, kompak.
"Gua juga baik" jawab Bryan.
"Kenalin ini pacar gua" ujar Bryan, merangkul Cassie.
Elyana sedang bergandengan tangan dengan pacarnya, Gavin. Sementara Ryan, ia sedang merangkul pacarnya Zwetta. Sedangkan Ezra, bersama Grace juga bergandengan tangan, mereka juga masih saling menggombal di situasi saat ini. Nathan sedang merangkul Faith dari belakangnya, sedang dagunya ia senderkan di pundak pacarnya, Faith. Pasangan terakhir yaitu Leo dan Krystal, mereka hanya berdiri berdempetan.
"Andrian," berjabat dengan Cassie.
"Cassie" ujar Cassie, tersenyum.
"Em... kenalin juga. Mereka pacar temen-temen gua dan sahabat pacar gua. Namanya Zweta, Grace, Krystal, Faith, dan Elyana" ujar Andrian.
Sementara itu, Cassie dan Bryan bersalaman tangan dengan teman-teman Kesya.
"Dan emm... Ya pacar mereka juga, Leo, Ryan, Gavin, Nathan dan Ezra" lanjut Andrian.
"Oh ya, silahkan duduk. Silahian" ujar Bryan.
#
Sementara itu, di sebuah bangunan tua. Tempat di mana kami menyekap Ayah Greysie dulu. Greysie sedang berada di sana. Ia memasang beberapa kamera tersembunyi.
Setelah memasang kamera tersembunyi. Greysie bergegas pulang ke rumahnya. Di perjalanan pulang Greysie sedang mendengarkan percakapan antara Bryan dengan teman-temen Kesya.
"Jadi rencana kalian gimana buat ngerusak hubungan mereka?" tanya Andrian.
"Untung sekarang ini... Gua rasa hubungan mereka udah mulai rusak. Sebelumnya pacar gua ini...," melihat Cassie, "Udah buat rencana buat ngerusak hubungan mereka. Kita udah buat si Greysie curiga sama Cara Callista itu dengan kasus yang nimpah Papanya sekarang. Kemarin juga pacar gua lihat si Greysie udah curiga sama Cara Callista. Mungkin si Greysie udah ngelihat barang yang pacar gua simpen di rumahnya" jelas Bryan, sambil tersenyum sesekali pada Cassie.
"Kalau boleh tau kalian nyimpen barang apa?" sela Leo, bertanya.
"Hmm, itu tas hitem. Di dalam tas itu ada peralatan pembunuhan yang lengkap. Seperti yang udah gua jelasin ke kalian sebelumya. Gua mau si Cara Callista ini jadi kambing hitam untuk membalikan keadaan yang sekarang" jelas Bryan.
"Hmm, boleh-boleh. Jadi rencana kalian selanjutnya apa?" tanya Andrian.
Sementara itu, semua teman Andrian dan sahabat Kesya nampak berpikir dan menyimak setiap percakapan.
"Gua punya usul, Bro" ujar Ezra.
"Kamu lagi, babe?" bisik Grace pada Ezra.
"Hmm, aku kan pinterr yangggg" ucap Ezra, manja. Grace tersenyum sambil mencubit pipi Ezra. Mereka malah membucin saat ini.
"Woy, lihat time bro" ujar Andrian.
"Ah? Eh sorry-sorry" ucap Ezra, sedikit berbisik.
"Jadi... Apa usul elo?" tanya Bryan, menyela.
"Emm, lo mau jadiin si Cara kambing hitam untuk kasus orang tua Cassie kan?" tanya Ezra. Di angguki oleh Bryan.
"Nah, gimana lo bunuh aja orang tua sahabatnya Cara Callista itu dan jebak dia sebagai pelaku pembunuhan Papa sahabatnya sekaligus pembunuh berantai yang sebenarnya. Nah, kalau itu terjadi hubungan mereka pasti makin rusak. Intinya kita harus ngerusak hubungan mereka dulu kan?" usul Ezra.
"Hmm, menarik sih... Tapi... Gimana caranya? Bukannya semua bukti udah memberatkan orang tua Cassie?" sela Leo, bertanya.
"Hn, hahahahaa. Hahaha.... Kalian tenang aja. Hahahahaha... Kita udah kepikiran ide gimana caranya untuk ngejebak dia, ya kan babe?" ujar Bryan, tertawa. Cassie mengangguk dan tersenyum senang.
"Gimana?" tanya mereka serempak.
"Jadi... Si Cara itu ternyata adalah anak dari orang yang pernah keluarga kita rebut idenya sampai bisnis Papanya bangkrut. Terus gak lama dari itu semua keluarganya meninggal. Kita bisa manfaatin hal itu, bilang aja kalau si Cara nyalahin keluarga gua dan pacar gua atas kematian orang tua dia, terus dia juga sengaja jadi pembunuh berantai untuk ngejebak orang tua pacar gua" ujar Bryan.
"Hmm, menarik-menarik" ujar para cowok.
"Tapi... Kita harus hancurin hubungan mereka dulu baru ngejebak si Cara Callista itu. Karena kalau si Greysie masih ngelindungin sahabatnya itu, pasti bakal sulit. Mereka selama ini pasti udah deket banget sampai bisa kerja sama dan berhasil ngejebak orang tua pacar gua. Dan kita gak boleh ngeremehin mereka berdua saat mereka sama-sama. Beberapa kali gua coba untuk nyulik mereka tapi gak bisa. Ternyata mereka jago bela diri walaupun mereka cewek. Jadi, kita harus buat si Greysie itu curiga sama Cara Callista. Kalau kita bunuh Papanya si Greysie, dan si Greysie curiga ke Cara Callista pasti hubungan mereka bakalan rusak dengan sendirinya" ujar Bryan, panjang kali lebar bagi tinggi.
"Hmm, bener tuh bro. Gua sampai heran kenapa orang suruhan gua bisa kalah sama mereka berdua yang notabanenya sebagai cewek. Padahal orang suruhan gua itu bukan orang sembarangan" sambung Andrian.
"Iya, pantes aja kalian ber-enam di keroyok sama Cara Callista sendiri" sela Krystal, tersenyum ejek.
"Gua suka ide kalian, bro. Tapi... Kita harus punya foto atau video si Cara yang ngebunuh Ayah Greysie" ujar Bryan.
"Emm, gua punya kenalan. Dia bisa ngedit sesuatu dengan mulus banget, kek aslinya. Gak bakalan ketahuan kalau itu fake" ujar Leo.
"Hahahaha, hahahaha. Ya, yaa. Yaaa.. Hahaha"
Bryan lalu bertepuk tangan sambil tertawa. Ia merasa sangat senang karena bekerja sama dengan teman-teman Kesya.
"Gimana kalau bentar malam aja kita jalanin rencananya? Gua bakal nyulik Papanya si Greysie dari rumahnya. Dan kalian siapain aja videonya" ujar Bryan.
"Emang bakalan mudah untuk nyulik Papanya si Greysie itu?" tanya Gavin.
"Tenang aja. Papanya sekarang gak bisa apa-apa. Dia lagi terbaring lemah di rumahnya. Anak-anah buahnya juga bisa di urus. Papanya itu berbahaya kalau masih bisa jalan. Sekarang dia lumpuh. Bisa apa apa orang lumpuh?" jelas Bryan.
Sementara itu, Greysie sudah sampai di depan rumahnya. Sedari tadi ia menahan amarah mendengar ejekan dan hinaan dari Bryan serta teman-teman Kesya di telinganya.
Greysie kemudian bergegas keluar dari mobil. Ia berlari menaiki lift dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Sesampainya di dalam kamarnya, ia langsung terjun ke atas tempat tidur dan memeluk erat diriku sambil menangis pilu.
"Huhuuuu, Raaa... Aku... Maafin aku. Mereka bakal ngebunuh Papa aku. Dan aku harus biarin semua itu terjadi. Maafin aku, aku harus nuduh kalau kamu yang udah bunuh Papa aku. Aku harus ikutin permainan mereka dengan pura-pura benci sama kamu. Maafin aku Raa. Pliss kamu tahan, pliss kamu bertahan demi aku. Aku tau kamu trauma dengan Ayah kamu. Kamu pasti bakal lebih sakit lagi kalau nanti aku nuduh kamu yang udah ngebunuh Papa aku. Maafin aku, maafin aku" ujar Greysie, berlinang air mata.
"Kenapa kamu harus terus tersiksa kek gini? Kenapa tuhan jangat banget sama kamu Ra?" ujar Greysie, menangis pilu.
Sementara itu, aku masih tertidur sedang ia memeluk erat sambil menangis terseduh-seduh.
"Kamu pasti makin benci sama diri kamu sendiri. Kamu pasti gak mau hidup lagi kalau aku yang nuduh kamu kek gitu. Aku tau, aku tau karena kamu cuman punya aku di dunia ini. Pliss maafin aku, maafin aku... Huhuuu" lanjut Greysie, masih menangis.
********
Malamnya. Para bodygyard Bryan segera menyelinap masuk ke dalam rumah Greysie. Mereka juga sengaja mematikan semua lampu.
Sementara itu, tak ada satupun bodyguard Ayah Greysie yang menjaga rumahnya sehingga hal itu memudahkan para bodyguard Bryan untuk menculik Ayah Greysie.
Setelah sampai di dalam kamar Ayah Greysie. Mereka segera menutup wajah Ayah Greysie menggunakan kain yang bercampur dengan obat bius.
"Hmmm, hmm, hmmm," Ayah Greysie ingin berteriak namun tak bisa.
Greysie mengintip mereka semua. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan emosinya yang sedang naik.
"Gua bakal bales kalian semua" batin Greysie, menap benci.
#
"Grey?" ucapku, membulatkan mata.
__ADS_1
Greysie menarik tanganku lalu menyuntikku. Sorot matanya sangat berbeda dari biasanya, ia menatap benci dan marah padaku.
Bersambung....