Ilusi

Ilusi
BAB 8 (Part 2)


__ADS_3

Greysie menjelaskan semuanya pada Rasya dan Aric, dari kejadian rumahku yang di geledah sampai saat tingkah Cassie yang terlihat aneh.


Rasya dan Aric menyimak setiap penjelasan dari Greysie. Mereka lalu berhadap-hadapan karena terkejut.


"Kalian kenapa?" tanya Greysie, ia mengerytkan kening karena merasa heran dengan mereka.


"Em, sebenarnya dulu itu Bryan temen kita" seru Aric, ia sesekali melirik Rasya dan menatap ragu pada Greysie.


"Dulu? Berarti sekarang udah nggak?" tanya Greysie menatap heran.


"Em, iya... Ada masalah antara kita bertiga, aku sama Aric sempat nuduh dia atas kasus adik aku" jelas Rasya berdiri, ia merasa tidak nyaman membicarakan hal ini.


Rasya mengkode Aric agar segara pulang. Aric mau tidak mau harus mematuhi temannya, kemudian mereka berpamitan pada Greysie.


"Em, kita pamit pulang dulu Grey" pamit Rasya memberikan senyuman tipis, kakinya segera melangkah keluar. Aric berdiri.


"Ehh, iya, kita balik dulu Grey, em.. Soalnya mau ngurus sesuatu" sambung Aric, ia bertingkah kaku. Greysie berdiri.


"Oh, iya... Hati-hati di jalan kalian" ucap Greysie mengikuti langkah mereka.


Greysie mengantar mereka sampai di depan rumahnya. Suara klakson mobil Rasya berbunyi, mereka pamit pergi, sedangkan Greysie melambai tangan dan tersenyum.


********


Sementara itu, di markas Gotreasure. Ketua geng motor Gotresure telah mendapatkan informasi atas kepulangan musuhnya, yaitu Heafen Immanuel. Lelaki tampan bergaya potongan rambut undercut/the side blow, namanya adalah Rendi Aldrige Zaferino.


"Besok, kita serang markas Alaska, Gotreasure" perintah Rendi tegas pada teman-teman geng motornya, ia lalu mengangkat tangan kanan ke atas, lalu di kepalkan.


"Gotreasure, huuuuu" seru semua anggota, mengagkat tangan kepalan ke atas untuk menyemangati diri mereka.


"Huuuuu" sorak meriah memenuhi markas Gotreasure.


Rendi melirik salah satu teman yang berada di dekatnya. Lelaki tampan dengan potongan rambut Taper Cut tersebut adalah Alvan, dia adalah wakil ketua geng motor Gotreasure. Alvan segera menghampirinya.


"Ada apa bro" tanya Alvan sedikit membungkuk.


"Besok malam gua harus balas dendam sama Alaska, gara-gara ketuanya gua sampai putus sama pacar gua, pokoknya kita harus hancurin markas mereka, gua gak mau geng motor kita di remehin sama geng motor lain" seruh Rendi menepuk leher Alvan.


"Siap bro, tapi.. selama ini gak ada geng motor yang berani nantang Gotreasure selain Alaska, geng motor lain pada takut sama kita" ucap Alvan, ia sesekali melirik takut pada Rendi.


Rendi tersenyum mendengar perkataan Alvan, membuat Alvan merasa seperti terintimidasi.


Perlahan tangan Rendi yang masih berada di leher Alvan mencekam kuat leher Alvan, membuat Alvan menahan sakit, tapi ia tak berdaya untuk melepaskan cengkaman tangan Rendi.


"Lo... laksanain aja perintah gua, mata lo gak bisa lihat kalau geng motor lain mandang remeh gua?! mereka pikir gua takut sama Heafen karena selama dia di Amrik gua gak pernah serang markas dia, lo ngerti gak?!" ucap Rendi mencekam erat leher Alvan.


"Lo ngerti kenapa gua gak serang markas dia?!" lanjut Rendi pelan namun nada suara seperti mengintimidasi lawan bicaranya.


"Ngerti bro" jawab Alvan gemetar, ia merasakan tekanan pada lehernya yang semakin sakit.


"Jelasin!" perintah Rendi, menatap mata Alvan, membuat sekujur tubuh sampai tulang-tulang Alvan ikut gemetar.


"Lo gak mau nyerang markas mereka, karena gak ada Heafen bro, lo maunya nyerang pas ada ketua mereka" jelas Alvan sedikit tersentak.

__ADS_1


"Alasannya?!" tanya Rendi menunduk mengikuti Alvan, ia ingin melihat wajah takut Alvan.


"Alasannya, karena lo gak mau di remehin karena nyerang mereka pas lagi gak ada ketuanya, lo juga gak mau hancurin markas mereka kecuali di depan mata Heafen" jawab Alvan, ia sesekali melirik takut pada wajah Rendi.


Alvan merasa takut jika jawabannya salah, jantungnya berdegup sangat kencang. Rasayanya seperti kaki dan seluruh tubuh Alvan melemas karena ketakutan.


Rendi menarik tubuh Alvan mendekati dirinya, ia merangkul Alvan dan menepuk wajah Alvan.


"Baguss, itu lo tau" ucap Rendi tersenyum, lalu menepuk pipi Alvan.


*******


Sekarang jam 14:40 siang. Di dalam sebuah rumah mewah, anak-anak sekolah SMA Harapan berkumpul untuk merencanakan sesuatu.


Rumah mewah itu adalah milik lelaki tampan dengan model rambut taper fade klasik, namanya adalah Andrian Morris. Ia merupakan pacar dari Kesya Zola sebelum Kesya meninggal.


Andrian Morris bersama dengan Elyana Wesley, Faith Bettany, Grace Chavarria, Krystal Glass, dan Zwetta Nelson yang notabenenya sebagai sahabat dari Kesya Zola. Tak lupa juga pacar mereka masing-masing yang merupakan teman Andrian Moris.


Mereka ber sebelas merancanakan untuk membalas perbuatanku, saat aku mempermalukan mereka dengan memukul mereka sampai tak sadarkan diri.


Mereka juga ingin membalas kematian Kesya, karena menurut mereka, aku lah yang membunuh pacar/sahabat mereka.


"Gimana, Ndri? orang suruhan kita gak cukup kuat buat ngabisin mereka berdua" seru Krystal bersilang tangan, ia lalu menyender di kursi.


"Iya, masa kalian cowok-cowok pada lemah banget, gak bisa lawan mereka, padahal kan mereka berdua itu cewek" sambung Elyana bersilang kaki, lalu melirik pacarnya Gavin dan semua cowok di ruangan itu.


"Iya..." lanjut Faith, Grace dan Zwetta, mereka menatap tajam pacar mereka.


"Mereka itu emang cewek babe, tapi juga kuat banget" ucap Gavin pada Elyana, ia memijat pundak Elyana agar berhenti memarahinya.


"Hey, hey, tenang dulu kalian, ini bukan saatnya buat kita berantem satu sama lain, gua yang harusnya paling marah di sini, karena Kesya itu pacar gua" sela Andrian menatap mereka satu per satu.


"Jadi, rencana lu sekarang apa Bro?" tanya Ryan bersilang tangan, ia lalu duduk di sampaing pacarnya, Zwetta.


Andrian diam, dia terlihat sedang berpikir. Lalu Ezra yang tadinya sedang bermesraan dengan pacarnya Grace, langsung angkat bicara.


"Hm, gimana kalau kita adu domba aja mereka berdua" usul Ezra tersenyum licik. Grace menatap sayang, ia lalu mencubit pipi Ezra dan berkata.


"Hm, boleh juga ide kamu babe" puji Grace, mencubit pipi Ezra.


"Iya dong demi kamu" ucap Ezra membalas mencubit pipi Grace.


"Hm," menaruh telunjuk di dagu, "gua setuju sama ide Ezra" sambung Leo, ia menatap Andrian.


"Leo, duduk sini, kamu gak capek apa beridiri mulu dari tadi" perintah Krystal, lalu menepuk sofa di sampingnya.


"Tau tuh, si Nathan juga, hnh" sela Faith, ia cemberut karena merajuk pada pacarnya Nathan.


"I'm sorry babe" ucap Nathan berbisik, dia menghampiri Faith dan mengelus rambutnya dari belakang sofa.


"Hm, ok gua setuju," menjentik jari, "ide lu boleh juga bro" kata Andrian pada Ezra.


Leo pergi mengambil minuman lagi, setelah itu ia duduk di samping pacarnya, Krystal.

__ADS_1


"Jangan cemberut dong, my baybe" seru Leo memberikan minuman pada Krsytal. Krystal luluh, tersenyum malu.


Mereka lalu membuat rencana untuk mengadu domba antara aku dan Greysie.


********


Sekarang, waktu menunjukan pukul 20:15 malam. Rasya sedang menyetir mobil miliknya, namun tiba-tiba saja geng motor Alaska mendahului mobil Rasya, mereka memaksa Rasya untuk keluar dari mobilnya agar mereka bisa menghajar Rasya habis-habisan.


Rasya babak belur karena di pukuli, pelipis dan bibirnya pecah, di bagian wajah banyak luka lebam kebiruan dan merah. Kemudian Rasya bangun dari jatuhnya, ia mencari telpon genggam miliknya.


Suara telpon Rasya terus berbunyi. Ia mencari telponnya yang terjatuh ke bawah mobil akibat perkelahian tadi.


Tangan Rasya berusaha meraih telpon itu, dia berhasil mengambilnya. Ada 3 panggilan tak terjawab di layar telpon miliknya. Rasya segera menelpon balik.


(Bunyi bip telpon).


"Halo Lista" seru Rasya di telpon.


"Iya, halo Sya" sahutku di telpon.


"Em, kamu tadi kenapa nelpon" ujar Rasya membuka pintu mobilnya.


"Kamu lagi di mana sekarang?" tanyaku.


"Em, lagi di rumah" jawab Rasya pelan.


"Ooh, aku sebenarnya, cuman... mau bilang ke kamu kalau besok mantan aku bakal dateng ke rumah Grey buat jenguk aku, and.. aku gak mau kalian sampai ketemuan, nanti kalian berantem lagi" jelasku pada Rasya.


Rasya yang sudah menjalankan mobilnya pun berhenti mendadak.


"Bukannya kalian udah putus ya? tapi kok kek masih deket" seru Rasya.


"Em, it's complicated Sya, kita emang udah putus, tapi... Aku..."


"Tapi kamu masih suka sama dia?" sela Rasya bertanya.


"Em, kamu beneran lagi di rumah kamu sekarang? atau kamu udah ketemu sama Heafen?" tanyaku tanpa menjawabnya.


"Iya, aku di rumah" jawab Rasya singkat.


"Hm, aku mau minta maaf sama kamu, aku bingung gimana jelasinnya, aku sama Heafen sebenarnya baik-baik aja, kita gak ada konflik sama sekali, tapi aku mutusin dia secara sepihak saat itu, dan dia gak terima, and aku juga udah kekeh sama keputusan aku, maybe Heafen masih berharap bakal balikan lagi sama aku, tapi aku gak bakal mau kok, karena dulu itu keputusan aku, mau aku masih ada rasa sayang atau gak ke dia, aku gak bisa buat balikan lagi, kalau aku gak konsiten sama omongan aku sendiri, tujuan aku gak bakal selesai, that's my principle" jelasku panjang kali lebar.


"Tujuan?" tanya Rasya.


"Em, ya maksud aku tujan.. tujuan hidup, emm, like.. Eeeh.. Setiap manusia pasti punya tujuan hidup kan" jawabku.


"Hmm, iya"


********


Sekarang, waktu menunjukan pukul 02:20 tengah malam. Aku sedang tidur, tetapi cahaya dari lampu sangat terang menembus penutup mata membuatku tak nyaman saat tidur. Sepertinya ada seseorang yang menyalakan lampu di dalam kamar, sedangkan telingaku juga mendengar suara barang yang terjatuh.


Bayangan hitam mengejarku di dalam mimpi, tangannya membawa pisau yang di penuhi darah berwana merah mengental. Aku terbangun, kaget karena bermimpi, lalu saat aku membuka mata, mataku membulat terkejut karena melihat wajah yang berada tepat di depanku. Ia tersenyum.

__ADS_1


Pisau tajam sudah berada di leherku, tangan yang memegang pisau sepertinya sudah siap untuk mengiris leherku kapan saja dengan satu kali irisan yang dalam.


Bersambung...


__ADS_2