Ilusi

Ilusi
BAB 9 (Part 1)


__ADS_3

Darah sudah memenuhi telapak tanganku. Sedangkan bajuku sudah merubah warna putih menjadi noda merah mengental kehitaman.


"Oh may.. god! luka kamu pasti ke buka lagi Ra, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Greysie memapahku ke dalam rumah.


"Aku gak mau Grey, baru juga pulang dari rumah sakit, masa kesana lagi" pintaku memohon.


"Tapi ini harus di obatin Ra!" ucap Greysie sedikit membentak.


"Lista, maafin aku" ujar Rasya melihatku.


"Lo, jangan deket-deket" sela Heafen memberikan tiang pemisah antara aku dan Rasya dengan tangannya.


"Kalian diem! ini semua gara-gara kalian! jadi kalian diem sekarang atau aku usir paksa kalian berdua" bentak Greysie.


"Grey, aku gak mau ke rumah sakit, kamu panggil Aric aja ke sini" lirihku pelan menatapnya. Greysie mengangguk setuju.


Kami ber empat berjalan memasuki rumah Greysie dan menaiki lift yang berada tak jauh dari tangga rumahnya.


Greysie memencet tombol angka 3. Lift mulai berjalan mengantarkan kami ke lantai 3 rumahnya. Kemudian mereka mengantarku ke kamar dan menyurhku berbaring.


Greysie mengambil Hp dari kantung celananya, lalu menelpon Aric.


"Halo, Aric" sapa Greysie di telpon.


"Iya, halo Grey" balas Aric.


"Aric, kamu bisa ke sini gak? luka Cara keknya ke buka lagi, pliss" pinta Greysie memohon.


"Ke buka?" tanya Aric.


"Iya" lirih Greysie sedikit gemetar.


"Okay, okay, aku ke sana" ucap Aric.


"Thank u, Ric" balas Greysie.


"Ra, why u lie to me? kata kamu kemarin, kamu cuman demam aja, ini apa kok bo'ong ke aku? tanya Heafen, ia segara duduk menyamping di depanku.

__ADS_1


"Maaf" lirihku pelan.


"Udah, Heafen kamu jangan nanya, kamu juga Ra gak usah di jawab!" bentak Greysie.


Greysie menatap marah Rasya dan Heafen. Ia lalu mengambil kotak P3K dan air di baskom kecil.


Greysie mulai membersihkan noda darah yang memenuhi tangan kiriku dengan air. Tak lama setelah itu Greysie mengusir Rasya dan Heafen keluar kamar.


"Kalian keluar, aku mau bersihiin luka Cara" ucap Greysie melirik mereka berdua. Rasya dan Heafen saling lirik, namun wajah mereka masih kesal satu sama lain.


"Kalian jangan berantem" larangku dengan tatapan memohon.


Rasya menatapku, ia mengangguk iya padaku. Sedangkan Heafen sedikit melirik Rasya, ia lalu memegang tanganku.


"Aku keluar ya" ucap Heafan lembut padaku.


Mereka keluar kamar. Di luar Rasya sedang duduk bersilang tangan di sova. Sedangkan Heafen yang baru saja keluar dari kamar langsung melirik tajam Rasya, ia lalu menyender di dinding dekat pintu kamar. Suasana ketegangan antara mereka menemani kesunyian di ruangan tersebut.


Di dalam kamar,


"Kamu mau gimana sekarang Ra? mereka berdua udah ketemu" ujar Greysie, membersihkan darah di sekitar lukaku.


"Sengaja?" tanya Greysie, matanya melirik ke atas untuk melihat wajahku. Sedangkan tanganya masih membersihkan lukaku.


"Iya, keknya mereka berantem semalam" jawabku, aku ingin mengambil Hp di meja dekat tempat tidur.


"Hmmn, eh mau ngapain?" ucap Greysie memegang tanganku. Aku mengambil hp dan memperlihatkan padanya. Greysie mengerytkan bibirnya.


"Ambilin headsed aku" pintaku pada Greysie. Greysie melirikku pelan.


"Gak mau, kamu pasti dengerin musik lagi sampai volumenya full, nanti gendang telinga kamu rusak tiap hari kek gitu mulu" jelas Greysie, ia sudah selesai membersihkan lukaku.


"Music is my life Grey, tanpa music kek ada yang kurang" ucapku sedikit tersenyum ejek.


"Gak bosen? mana lagunya itu-itu mulu lagi, aku ngomong biasa kamunya gak denger" ucap Greysie, ia berdiri lalu mengembalikan kotak P3K dan baskom kecil. Aku meliriknya berjalan ke kamar mandi.


"Hnh, dasar!," gerutu, "iya, kan kamu tau kalau aku suka sama satu lagu, pasti di dengerin terus berulang-ulang, kalau masih enak di denger berarti belum bosen, kalau udah bosen pasti aku denger lagu yang lain lagi" jelasku menaikan volume suaraku.

__ADS_1


Greysie mencuci tangannya di dalam kamar mandi, ia tersenyum mendengarku berteriak padanya.


"Mana headsed gua sering di gunting lagi, terus habis di gunting, gak ada tuh di ganti, masa gua harus beli headsed mulu tiap saat" keluhku melirik kamar mandi. Aku lalu mencari headsedku di laci dan menemukannya.


Setelah itu, aku langsung memakai headsed di telingaku dan menyambungkannya di telpon milikku. Tanganku menggeser layar telpon mencari satu lagu Favoritku untuk saat ini.


"Hm," tersenyum. Aku langsung mengklik putar dan ulangi 1x pada lagu yang berjudul The Neighbourhood Unfair, lalu menyetel 97% pada volume musik. Kemudian aku memejamkan mata menikmati melody indah di telingaku.


"Headsed kamu.. aku potong kan karena kamu sendiri, siapa suruh gak dengerin aku ngomong" ucap Greysie, ia lalu mengelap tangannya dengan handuk kecil di kamar mandi.


Greysie masih menunggu jawaban dariku, tetapi aku tak menjawab sama sekali.


"Raaa?" panggil Greysie dari kamar mandi, ia lalu melangkah pelan untuk memeriksaku.


Greysie melihatku sedang memakai headsed. Ia lalu berjalan menghampiriku, tanganya bersilang sambil menggerutu kecil.


"Ck, gua bilang juga apa" gerutu Greysie kecil.


Suara notofikasi chat masuk, di layar Hp milik Greysie terlihat chat dari Aric.


"Aku udah di depan rumah kamu" (chat).


Greysie tak mendengar suara notifikasi chat dari telponnya. Ia malah berjalan mencari keberadaan gunting, karena aku selalu menyembunyikan dan membuang gunting miliknya.


Karena Greysie tak juga menemukan gunting miliknya, ia lalu mengambil pisau AK-47 ACCCP dari kantung celananya.


Greysie duduk meghadapku memegang pisau itu di tangannya. Pisau itu berada tepat di depan wajahku. Perlahan jempol Greysie membuka pengaman pisau, lalu di lanjuti memencet bagian bulatan kecil di pegangan pisau, membuat pisau secara otomatis memanjang alias terlepas dari pengaman pegangan. Aku membuka mataku bersamaan dengan pisau lipat yang terbuka dari pengaman tersebut.


Wajahku dengan ekpresi datar melihat Greysie, ia lalu tersenyum memainkan bibir serta alisnya.


Saat Greysie ingin mendekatkan pisau itu ke telingaku, aku menangkap tangan kanannya dengan tangan kiriku. Ekspresi datar dari wajahku membuatnya makin tersenyum sumringah. Ia sedikit tertawa kecil.


"Wrong time, sekarang bukan saatnya main-main" ucapku lantang dengan ekpresi datar. Greysie tertawa kecil menunduk.


"Hahahaha," melirikku, "Okay, i'm sorry, pliss" ucap Greysie tersenyum ejek.


Di saat aku ingin melepaskan genggaman tanganku pada Greysie, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar. Kami serentak melihat ke arah pintu tersebut. Pintu kamar terbuka.

__ADS_1


"Kalian.. ngapain?" tanya Rasya membulatkan mata. Sedangkan Heafen dan Aric terkejut menatap heran.


Bersambung...


__ADS_2