Ilusi

Ilusi
BAB 11 (Part 1)


__ADS_3

Terlahir ke dunia ini adalah pilihan pertama, sekaligus kesalahan terbesarku.


********


Tatapan marah serta benci terlihat sangat jelas di mata Greysie. Wajah datar serta bibir pucatnya yang mengerucut, membuat perasaanku menjadi sangat aneh.


"Gak, gak, jangan, jangan" ucapku mengigau.


"Jangan......!" teriakku, kedua tanganku bersilang di depan wajahku, seperti sedang menahan serangan dari seseorsng. Aku terbangun, duduk di tempat tidur.


Greysie sedang menonton sesuatu di laptop miliknya, ia terkejut setelah mendengarku berteriak.


"Raa... hey, hey, ini aku" ucap Greysie memalingkan wajahku padanya. Aku memjamkan mata dan mengatur napas baik-baik.


"Ra, kamu gak perlu mikirin apapun lagi, biar aku yang ngurus semuanya" ujar Greysie. Aku mengrytkan kening saat mendengarnya. Ia lalu menutup laptonya dan beranjak dari tempat tidur.


"Lo apain gua?!" teriakku, membuat langkah kaki Greysie terhenti, ia melirikku.


"Lo ngapain nying, loe ngapain?" ucapku gemetar.


Beberapa hari yang lalu. Aku berlari menuruni tangga. Greysie melihatku dan segera menghampiriku. Aku hampir saja terjatuh, namun Greysie segera menangkapku.


"Grey...?" ucapku membulatkan mata. Ia menarik tanganku, langsung menyuntikku di bagian lengan tanganku.


Mataku membulat, sementara tanganku berusaha menahan tangannya. Namun reaksi obat itu sangat cepat membuat seluruh tubuhku melemas seketika. Aku jatuh perlahan sementara Greysie memegangku.


Rasya dan Aric yang melihat, langsung menghampiri kami. Aku melihat Greysie, lalu mataku langsung terpejam sempurna. Rasya lalu menggendongku, Aric dan Greysie mengikuti dari belakang.


Mereka menaiki lift, lalu membawaku ke kamar Greysie. Kemudian segera membaringkanku di tempat tidur.


"Kamu nyuntik Callista, Grey? tanya Aric keheranan.


"Iya" jawab Greysie singkat.


"Itu bahaya Grey!" bentak Aric, membuat Greysie sedikit terkejut.


"Maaf, maaf Grey, aku gak bermaksud buat bentak kamu, tapi kalau tubuh Callista terus-terusan nerima obat, itu bisa bahaya bagi dia, aku kasih kamu obat penenang, bukan untuk di pakai sembarangan kek gini, ini udah ngelanggar aturan dokter, Grey" ujar Aric memarahi Greysie.


"Iya, iya aku minta maaf, aku gak bakal ulangin lagi, aku cuman gak mau Cara lihat apa yang terjadi sekarang, aku gak mau dia makin stress" jelas Greysie.


Rasya dari tadi hanya menyimak mereka berdua, ia sibuk memandangiku yang sedang tidur dengan wajah polos tersebut.


"Aku minta obat yang aku kasih kemarin Grey, maaf tapi aku gak bisa biarin kamu makai obat sembarangan kek gini, tanpa ikut anjuran dari aku" ucap Aric.


"Iya, iya... sekali lagi maafin aku" tutur Greysia. Ia segera mengambil kotak obat dari dalam laci, lalu memberikannya kepada Aric.


"Jadi... Gimana kelanjutan kasus papa aku, Rasya?" tanya Greysie. Namun Rasya tak menjawab.


"Rasya!" ucap Greysie sedikit mengeraskan suaranya.


"Hah? emm, kami masih menyelediki, ini aneh banget, kok papa kamu bisa berada di dalam bangunan tua itu, sepertinya itu adalah tempat papa kamu di sekap dulu, aku masih heran kenapa pembunuh itu.. membunuh papa kamu sekarang, bukannya dia bilang gak akan membunuh papa kamu, apalagi setelah tangan dan kaki papa kamu patah sampai dia gak bisa jalan lagi" jelas Rasya.


"Aku bakal cari pembunuh papa aku sampai dapet, dia gak akan bisa lolos dari aku" ucap Greysie dengan tatapan benci.


"Kamu gak usah pikirin soal itu Grey, serahin aja semuanya sama aku, aku pasti bakalan cari pelakunya" ujar Rasya.


********


Hari pertama berlalu. Aku terbangun, Greysie sudah berada di depanku. Ia segera menyuapiku. Padahal kepalaku masih terasa pusing, namun setelah aku makan, aku langsung tertidur lagi.


Hari ke dua berlalu. Rasya menemukan petunjuk terkait pelaku pembunuhan. Ia menemukan boneka beruang di bangunan tersebut. Itu seperti sebuah gantungan kunci.


Sementara itu, di dalam kamar Greysie. Ia sudah duduk di tempat tidur menungguku untuk bangun, seperti sudah terjadwal. Aku terbangun, Greysie sudah siap dengan makanan.


Sendok itu di arahkannya ke mulutku. Aku membuang muka, tak ingin makan. Ia memalingkan wajahku padanya dengan tangan kirinya. Aku kemudian beranjak dari tempat tidur, ingin melarikan diri dari rumahnya. Karena aku merasa seperti tahanan di buatnya.


Greysie menatapku dari belakang, ia mengepalkan tangan. Sedangkan aku memutar gagang pintu, namun pintu itu ternyata terkunci. Kemudian aku melihat Greysie, lalu berteriak padanya.


"Lo apain gua, Grey...!" teriakku, menangis.


"Lo kenapa? Lo kenapa buat gua kek gini" ucapku pelan terduduk, bersandar di pintu.


Greysie menghampiriku dengan membawa segelas susuh putih di tangan kanannya.


"Kamu minum aja dulu, Ra" ucap Greysie tersenyum memberikan minuman di mulutku.


"Gak, gak mauuu, aku salah Grey? apa aku salah? aku salah apa? maafin aku" ucapku lirih menangis. Entah mengapa aku sampai menangis, aku juga tak tahu, tapi kelakuan Greysie sangat menakutiku.


Greysie kemudian mengambil pisau lipat dari kantung samping celananya. Ia menaruh gelas di lantai, lalu ia membuka pengaman pisau dan memencet bulatan kecil, membuat pisau terbuka.


Greysie menaruh bagian tajam pisau itu tepat di urat nadi miliknya. Seperti sedang mengancam diriku.


"Kamu minum atau aku iris tangan aku" ucap Greysie dengan mimik serius.


"Grey... pliss jangan kek gini, kamu buat aku takut, aku.. minta maaf kalau aku salah" ucapku memohon, bibirku gemetar sedang air mataku terus mengalir.


"Aku bilang," mengiris tangan, "minuuum!" ucap Greysie, darahnya mengalir karena tangannya sudah sedikit teriris dengan pisau.


"Grey jangan, jangan, plis.. aku minum sekarang, sruuk, sruukk" ujarku langsung mengambil gelas di lantai dan meminum susunya.


"Habisiinn" ancam Greysie, matanya melirik tangannya sedang aku ikut melirik tangannya, di mana darah terus menetes.

__ADS_1


Selesai meminum susu putih tersebut, aku langsung meletakan gelasnya di lantai. Greysie kemudian mengembalikan pisau lipat seperti keadaan semula dan menyimpannya di kantung celanya.


Kepalaku sudah mulai pusing, mataku sesekali terpejam. Lalu aku pun langsung tertidur, Greysie menangkapku dan menggendongku ke tempat tidur. Dia kuat, karena sering latihan olahraga bela diri, gym, boxing, hiking dan masih banyak lainnya, begitu juga denganku.


Greysie kemudian membaringkanku ke tempat tidur. Ia menatapku yang sedang tertidur.


"Bentar lagi, Ra.. kamu harus lebih bersabar dari biasanya, maafin aku, setelah ini... mungkin hubungan kita gak akan seperti dulu lagi, tapi kalau kamu bisa memahami aku dan gak kebawa perasaan atas trauma kamu, mungkin kamu gak akan salah paham atas apa yang bakalan aku lakuin ke kamu nanti" batin Greysie.


Hari ketiga berlalu. Rasya terus mengikuti setiap petunjuk yang ia dapatkan. Ia sudah dekat dengan pembunuhnya. Rasya menemukan keterkaitan antara pembunuh berantai dengan keluargaku. Ia mulai menyelidiki Cassie dan Bryan serta latar belakang keluarga mereka.


Di rumah Greysie. Aku kembali terbangun, Greysie sudah siap dengan makanan di depanku, tetapi karena aku terus saja di paksa untuk meminum obat atau memakan, meminum yang tercampur dengan obat, membuatku merasa mual.


Di saat sendok itu memasuki mulutku, bubur itu masih berdiam di dalam mulutku. Aku merasa sangat mual sehinga.


"Huek," menutup mulut, "huuk," aku berlari ke toilet, Greysie mengikutiku.


Di dalam toilet, aku langsung muntah.


"Hueeek, hueek, hueeek, erg"


"Hueek, erg"


Greysie menepuk belakangku. Ia lalu memberikan air putih padaku. Aku menatapnya.


"Loe benci sama gua?!" tanyaku, menatapnya.


"Minum!" ucap Greysie, menaruh gelas di bibirku.


Kemudian aku langsung meminunya sampai habis, tetapi karena aku masih merasa mual, aku langsung memuntahi baju Greysie. Ia melihat bajunya, namun tak begitu peduli.


Greysie kemudian berdiri, ia pergi untuk mengambil 3 butir obat untukku, ia juga mengambil air putih.


Setelah itu, Greysie langsung memberikan obat itu padaku bersama air putih.


"Minum" perintah Greysie melihat obat di tangannya.


"I hate you...!" ucapku langsung meminum obat tersebut. Kemudian aku langsung berdiri. Ia ingin membantuku, namun aku tak membiarkan dirinya menyentuhku.


Setelah keluar dari toilet, aku berjalan pelan menuju tempat tidur. Meskipun semuanya menjadi sangat buram, kerena kepalaku masih pusing dan tambah pusing.


Greysie masih berada di dalam toilet, ia bercekak pinggang melihat ke atap plafon kamar mandi. Ia melalukan hal itu untuk menahan air matanya.


"Fuuuuuuh" ucap Greysie gemetar, menghembusan napas.


"Brakkkk........!"


Tentu saja itu suaraku yang terjatuh. Greysie langsung berlari menghampiriku. Ia melihatku terjauh di dekat tempat tidur. Kemudian langsung mengangkatku ke tempat tidur.


Sementara itu, di dalam rumah Greysie. Seperti biasa. Ia sedang duduk, menunggku untuk bangun.


Beberapa menit kemudian, aku terbangun. Lalu aku menatap marah pada Greysie, aku langsung mengambil gelas yang berisikan susu di tangan Greysie dan langsung meminumnya.


Setelah aku selesai meminumnya. Greysie ingin mengambil gelas itu dari tanganku, tetapi aku langsung membuang gelas itu.


"Braaakk..........!"


Greysie melihat gelas yang aku buang, ia lalu berdiri untuk membersihkan gelas itu, air matanya menetes. Sedangkan aku langsung berbaring membelakanginya. Air mataku menetes, lalu akupun tertidur kembali.


Greysie keluar kamar, ia pergi untuk membuang pecahan gelas. Tak lama setelah itu, ia berjalan kembali menuju kamarnya. Telponnya tiba-tiba berbunyi, ia mengangkatnya.


"Halo, mah" ucap Greysie menaruh telpon di telinganya.


"Halo, Grey... kamu baik-baik aja sekarang?" tanya Ibunya.


"Iya mah, aku gak pp" jawab Greysie. Tangannya memutar gagang pintu kamarnya. Pintu terbuka.


"Cara gimana kabarnya? dia masih sakit?" tanya Ibunya.


"Dia udah mendingan ma, bentar lagi Cara udah bisa sekolah lagi"


"Oh iya, syukurlah, maafin mama Grey karena... mama malah pergi sendiri ke LA, ninggalin kalian pas lagi butuh mama" ucap Ibunya, sedih.


"Iya, gak pp, mama kan ngurus bisnis mama juga di sana, aku lebih suka mama di sana aja dulu bentar sampai semuanya normal lagi, aku gak mau mama sampai jadi perbincangan terus di media" ungkap Greysie.


"Iya, mama... mama emang gak suka papa kamu selingkuh, tapi... mama juga gak mau kalau ada orang yang nyebarin foto-foto papa kamu pas lagi selingkuh, mama kasihan sama papa kamu, setelah meninggal malah jadi perbincangan orang-orang, Grey..." tutur Ibu Greysie, ia menangis pilu.


"Iya mah, aku paham, aku juga gak suka, aku bakal cari siapa yang udah nyebarin foto itu, aku bakalan bales mereka semua" ujar Greysie. Ia duduk di tempat tidur.


"Jangan sayang, kamu gak perlu ikut campur sayang, biar polisi aja yang urus, mama gak mau kamu kenapa-kenapa, udah cukup papa kamu aja yang jadi korban, mama gak sanggup kalau harus kehilangan kamu juga" ucap Ibunya, makin menangis.


"Iya, iyaa... mama jangan nangis, aku gak akan ikut campur, kok" sambung Greysie.


"Kamu janji, sayang?" tanya Ibunya.


"Iya, mah.. aku janji, kalau gitu aku tutup ya mah, mama baik-baik di sana" jawab Greysie.


"Iya, kamu juga" sahut Ibunya.


Greysie kemudian menutup telpon miliknya. Ia lalu memperbaiki posisi tidurku dan mengelap air mataku.


"Aku udah jahat banget ke kamu, Raa maafin aku, kamu mungkin udah benci ke aku, tapi... kamu pasti akan lebih benci lagi ke aku, aku harap kamu bisa baca pikiran aku kek biasanya, meskipun aku natap benci kamu, tapi aku sama sekali gak benci sama kamu, aku kek gini supaya mereka percaya hubungan kita bener-bener udah rusak, kamu gak perlu tau, aku mau semua orang percaya karena kamu gak lagi acting, aku... bakal jadi orang yang paling jahat yang pernah kamu kenal" gumam Greysie, menatapku.

__ADS_1


Hari ke lima berlalu. Greysie sudah bersiap seperti biasa. Aku terbangun lagi, langsung di hadapkan minuman dan makanan.


Karena merasa kesal padanya, aku langsung membuang piring yang ada di tangan Greysie, karena aku tak ingin makan.


"Raaaaa!" bentak Greysie. Ia berdiri, lalu menaruh gelas di atas meja.


Greysie kemudian membersihkan pecahan piring di lantai. Aku melihat gelas di atas meja dan membantingnya. Greysie terkejut, langsung melihat kearahku.


"Lo mau gua matiii?!" teriakku, aku lalu beranjak dari tempat tidur untuk mengambil pecahan kaca tersebut.


"Hey, hey Ra.. kamu mau ngapain, pliss jangan, jangan" ucap Greysie berdiri, ia berusaha mendekatiku.


"Lo mau gua mati kan? lo benci gua kan?" tanyaku berlinang air mata. Sedang pecahan gelas kaca berada di bagian urat nadiku.


"Gak, gak Ra... i don't hate you, aku gak benci sama kamu" ucap Greysie mendekatiku.


"Hah? Lo benci?" ucapku, melirik kesana kemari.


"Lo benci, lo benci gua, lo benci gua, lo benci, lo benci, lo benci" ucapku pelan berulang. Aku mulai melihat Greysie sedang memberikan obat padaku dan berkata.


"Iya, gua benci lo, lo udah bunuh bokap gua, sekarang minum obat ini, hahahaha" ucap Greysie. Padahal itu hanya ilusiku saja, yang ia katakan sebenarnya adalah.


"Gak Ra, aku gak benci sama kamu, why aku harus benci? kamu sahabat aku, dan aku sayang ke kamu, kamu tenang ya Ra, tenang" ucap Greysie memegang tanganku.


"Huhuuu, aku salah apa Grey, bukan aku.. bukan aku sumpah, aku gak tau apa-apa, bukan aku, itu bukan aku, pliss maafin aku, itu bukan aku" ucapku memegang kepalaku dan terduduk.


"Maksud kamu, Ra? aku.. kamu gak salah apa-apa, aku sama sekali gak benci kamu, pliss kamu tenang, yaa" ujar Greysie memeluk erat.


"Heeh, bukan aku, bukan aku.. bukan aku, itu bukan aku, maafin aku, maafin aku, huhuu" lirihku gemetar, suaraku mengecil.


"Apa aku udah bener-bener udah keterlaluan sama Cara?" batin Greysie, air matanya menetes.


"Dia pasti keinget kejadian yang nimpa keluarganya, maafin aku Ra, aku cuman mau kamu diem aja bentar sampai semuanya selesai" batin Greysie.


"Bukan aku, itu bukan aku, itu bukan aku Grey, bukan aku" lirihku gemetar.


Sementara itu, di dalam rumah Rasya. Ia sedang duduk memeriksa berkas kepolisian. Itu adalah laporan kepolisian keluargaku. Saat sedang membaca ia malah melamun mengingat perkataanku padanya saat itu.


Saat itu, setelah pulang dari rumah sakit. Greysie terkena pannic attack karena mendengar perkataanku pada Aric. Aku meminta Aric untuk menjaga Greysie. Kemudian saat sampai di rumah Greysie. Rasya ingin berbicara berdua denganku.


Beberapa minggu yang lalu.


"Lista, aku... boleh ngomong berdua sama kamu gak? tanya Rasya sedikit canggung.


"Hm? emm, iy- yya" jawabku sedikit terbata. Aric dan Greysie kemudian keluar kamar.


"Kamu kenapa ngomong gitu, Lista?" tanya Rasya.


"Ngomong... Gitu gimana maksudnya?" tanyaku tanpa menjawabnya.


"Ngomong kek tadi ke Aric, pas di mobil, kenapa?" tanya Rasya lagi.


"Emm, gak pp, Aku.. cuman.. punya firasat buruk aja, bakal terjadi sesuatu ke aku nantinya, jadi aku mau mastiin Grey baik-baik aja, dan dia di jaga sama orang yang tepat" jelasku.


"Kamu gak boleh ngomong kek gitu, Lista... firasat itu belum tentu benar" ungkap Rasya.


"Tapi selama ini firasat aku gak pernah salah, kamu tau gak apa untungnya jadi seorang introvert?" tanyaku, Rasya menggelengkan kepalanya.


"Firasat mereka selalu bener, itu.. bisa jadi penolong juga buat mereka, apalagi kalau mereka punya firasat buruk akan sesuatu, terus mereka mau ikutin firasat mereka yang berkata tidak, mereka mungkin bisa terhindar dari bahaya" jelasku.


"Kamu gak takut sama kegelapan?" tanya Rasya beralih dari topik pembicaraan.


"Hah?" ucapku, mengrytkan kening.


"Kamu gak takut gelap?" tanya Rasya, mengulangi.


"Em, aku sama sekali gak takut sama kegelapan, yang aku takutkan hanyalah.. aku gak akan bisa keluar dari kegelapan itu, emangnya kenapa?" tanyaku penasaran.


"Gak, gak papa, aku cuman ingin tau pandangan kamu kek gimana" ujar Rasya.


"Kamu lagi scanning aku nih ceritanya?" tanyaku, sedikit tersenyum.


"Emm, gak.. aku cuman.. pengen kenal kamu lebih deket aja" jawab Rasya.


"Ooh," mengangguk, "hahaha" ucapku, tersenyum menulusuri wajahnya.


"Kenapa senyum?" tanya Rasya, tersenyum malu-malu, ia salah tingkah karena aku melihat wajahnya terus menerus.


"Mmm," mengertukan bibir, "gak.. papa sihh" jawabku tersenyum mengangkat kedua alis.


"Hm, Lista?" panggil Rasya masih tersenyum.


"Mmm" sahutku pelan, mataku sesekali terpejam. Entah mengapa rasanya sangat mengantuk.


"Aku... sebenarnya aku udah suka ke kamu dari awal kita ketemu, kamu... mau gak jadi pacar aku" tutur Rasya.


Tak ada jawaban dari mulutku. Mataku juga sudah terpejam, karena aku tertidur.


"Lista? kamu tidur? Lista?" panggil Rasya sedikit menepuk tanganku. Namun aku tak merespon.


"Keknya Lista tidur, apa tadi Aric nyuntik obat tidur ke Lista?" batin Rasya bertanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2