
Dua hari sebelumnya. Vanya dan Raya sedang membuli Cassie. Karena merasa kesal, Cassie lalu memukul Raya sampai membuat Raya tergeletak lemas tak berdaya. Sedangkan Vanya yang melihat hal itu, langsung menatap tajam Cassie.
Vanya berdiri, ia ingin menampar Cassie. Namun Cassie menahan pergerakan tangannya.
"Lo.. selanjautnya!" ucap Cassie, menangkap tangan Vanya dengan tatapan benci.
Bell pulang berbunyi. Cassie sedang berada di dalam rumah pacarnya Bryan. Mereka sedang berbicara serius.
"Siapa yang udah buat muka cantik kamu jadi kek gini, babe?" tanya Bryan, memegang wajah Cassie dengan tatapan cemas.
"Anggota Hell's Angels di sekolah aku. Mereka temen-temen Riska" jawab Cassie, sambil menahan rasa sakit karena Bryan sedang mengobati luka lebam di wajahnya.
"Oh, anak dari pemlik perusahaan I'll Group seorang investor terkenal itu?" tanya Bryan, sambil memasang hansaplast plester.
"Hm" jawab Cassie singkat.
"Nyokapnya artis terkenal juga kan" ucap Bryan bertanya. Ia telah selesai mengobati luka Cassie.
"Iya, tapi bukan dia yang udah bully aku. Tapi temen-temen dia si Raya dan Vanya, ta*ik itu. Aku pengen bales perbuatan Vanya, babe. Kalau Raya dia udah kena akibatnya" ujar Cassie menatap mohon pada Bryan.
"Hm, iya kamu tenang aja babe. Aku bakal nyuruh orang buat kasih pelajaran sama dia. Entar malem mereka bakal jalananin perintah aku" jelas Bryan, menenangkan pacarnya tsb.
"Aku ikut, babe" pinta Cassie, memohon dengan wajah imutnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Bryan, tersenyum sambil mencubit pipi Cassie.
"Aku mau ngasih dia pelajaran juga lah. Dia udah berani hina keluarga aku" pinta Cassie, memohon.
"Hm, oke, oke. Iya nanti aku bakal nyuruh anak buah aku buat nyekap dia dulu" ujar Bryan, sambil memegang pipi Cassie.
"Thank uu, babe" ucap Cassie, memeluk erat Bryan. Sedangkan Bryan mengelus pelan rambut pacar tersayangnya tsb.
Malamnya pada pukul 21:30. Vanya sedang membawa mobil miliknya. Ia baru saja pulang dari rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya Raya.
Di jalanan nampak sunyi, namun tiba-tiba sebuah mobil hitam mendahului mobil milik Vanya, sehingga membuat ia menghentikan mobilnya secara mendadak.
Ciiiiiiiiit..........!
Vanya ketakutan, tanganya gemetar sambil menelpon ayahnya. Namun sebelum ia bisa menelpon Ayahnya, pergerakan Vanya terhenti karena kaca mobilnya pecah akibat terkena pukulan keras dari besi yang di pegang oleh semua anak buah Bryan.
"Keluar cepat!" ancam seorang yang memakai jaket hitam, berbadan kekar.
Tangan Vanya yang gemetar perlahan membuka pintu mobil miliknya. Lalu ke empat anak buah suruhan Bryan tsb segera menarik tangan Vanya, mereka membawa Vanya masuk ke dalam mobil mereka. Sedangkan Vanya terus memberontak ingin melepaskan diri. Ia juga terus berteriak, namun salah satu anak buah Bryan langsung menamparnya sampai membuat bibir Vanya pecah dan mengeluarkan darah.
Di dalam mobil, mereka langsung memakaikan Vanya penutup kepala dan menyuntikan caiaran ke leher Vanya, membuat Vanya kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Tiba di suatu bangunan tak terpakai. Tangan dan kaki Vanya telah di ikat dengan sangat kuat sampai membekas di kulitnya. Ia duduk di sebuah kursi, sedang wajahnya juga masih tertutup.
Salah seorang anak buah Bryan menyiramkan air ka wajah Vanya, lalu ia membuka penutup tersebut dari wajah Vanya.
Vanya tersadar sambil menarik napas panjang akibat terkena siraman air tsb. Ia pikir tadinya ia sedang tenggelam.
Setelah Vanya membuka mata, dirinya langsung di kejutkan dengan penampakan seseorang yanv berada di hadapannya. Cassie tersenyum, lalu berbisik pada Vanya.
"Ini balasan karena udah ngebully gua kemarin" bisik Cassie, tersenyum lalu ia segera memberikan kode pada semua anak buah Bryan.
"Hmm, hmmm, hmm" Vanya berusaha berbicara, namun tak bisa karena mulutnya juga di ikat.
"Hmm, hnhnhn," rintihan tangis terdengar, sedang air mata Vanya terus mengalir.
Cassie menghampiri Bryan. Sedangkan Bryan langsung merangkul pacarnya tsb. Wajah Cassie tersenyum puas sambil bersilang tangan.
Kemudian, anak buah Bryan mulai menyiksa Vanya sampai ia pingsan, lalu di bangunkan lagi oleh mereka. Mereka terus mengulangi hal tersebut sampai Vanya benar-benar telah kehilangan seluruh kekuatannya.
"Gimana?" ucap Cassie, berbisik sambil menyamai posisinya dengan Vanya.
Mata Vanya sesekali terpejam. Ia sangat lemah sedangkan darah terus mengalir dari kepala dan hidungnya.
Cassie mengkode anak buah Bryan untuk membuka penyumbat mulut Vanya. Lalu ia mendekatkan telinganya ke mulut Vanya.
"Gua gak denger apa-apa dari mulut lo. Padahal kata-kata itu bisa buat nyelamatin diri elo sekarang. Babe, bunuh aja dia" ujar Cassie, sambil melihat Bryan.
Besoknya. Seorang pemulung menemukan kantung plastik berwarna hitam yang berisikan mayat Vanya. Pemulung itu lalu memberitahu warga, sedangkan warga segera menelpon polisi.
Beberapa saat kemudian, Polisi datang untuk memeriksa tempat kejadian. Tak lama setelah itu Aku dan Greysie datang dan melihat. Selanjutnya, kejadian seperti di bab (Bab III, Part 2).
Tiba di sekolah (Bab III, Part 2), kami duduk ke tempat masing-masing. Namun tak berselang lama Riska serta teman-teman satu gengnya datang dengan wajah marah. Mereka langsung menghampiri Cassie, lalu memukuli Cassie habis-habisan.
Greysie melirik aku. Sedangkan aku hanya diam sambil melihat mereka membully Cassie. Kemudian Greysie tersenyum licik sambil melirikku.
"Aaah, ide bagus. Cara lebih milih nepatin janjinya sama Riska atau milih gua" batin Greysie, ia tersenyum smrik sambil melihatku.
Tak berlangsung lama Greysie segera beridiri, membuat fokusku tiba-tiba teralihkan padanya. Greysie kemudian berjalan untuk menghampiri Mereka. Namun dengen ceketan aku langsung menarik tangannya sambil menggeleng untuk berkata tidak padanya.
"Aku gak mau kejadian kek kemarin. Papa kamu bisa bunuh kamu" ujarku, pelan.
"Tapi Ra, aku.." ucap Greysie melirik Cassie yang terlihat kesakitan karena menerima setiap pukulan dari teman-teman Riska.
"Gak. Biar aku yang urus" larangku, dengan mimik serius.
"Tapi kan. Kamu..." ucap Greysie, tak selesai. Karena aku langsung berteriak pada mereka.
__ADS_1
"Hey!" panggilku, membuat Riska serta teman-temanya menoleh ke arahku.
Wajah Greysie terlihat cemas. Namun di dalam pikirannya ia tersenyum sumringah setelah mendengar perkataanku padanya.
Greysie kemudian tersenyum lebar sambil ia duduk di atas meja sambil bersilang tangan.
"Hn, hn, hn, hn," Greysie tertawa kecil sambil menunduk. Ia lalu mengingat kejadian semalam di mana ia menggenggam erat tanganku.
Saat itu di depan kamar Greysie. Bibi sedang pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untukku. Namun, telpon milikku tiba-tiba berbunyi.
Nama seseorang yang tak asing terpampang di layar telepon milikku. Greysie membaca nama tersebut, sedangkan aku hanya meliriknya dan segera menjawab panggilan tersebut.
"Mm" ucapku, singkat menaruh hp di telingaku.
Sedangkan Greysie langsung mendekat ke telingaku untuk mendengar percakapan kami.
"Gua mau curhat" sahut Riska di telpon.
"Hm" jawabku, singkat. Greysie mengerykan kening sambil menatap heran padaku.
"Raya masuk rumah sakit gara-gara Cassie. Gua mau bales dia" jelas Riska.
"Kenapa?" tanyaku, singkat.
"Mereka ngebully Cassie kemarin. Terus si Cassie mukul Raya sampai dia harus di rawat" kata Riska menjelaskan.
"Lah, salah dia sendiri ngebully orang. Lo mau ngapain? udah gak usah ikutin temen² elo. Biarin aja mereka" ujarku.
"Mereka itu temen-temen gua Ra, sahabat gua. Biarpun mereka kek gitu. Gua juga gak bisa biarin orang lain nyakitin mereka. Gua mau lo supaya jangan ikut campur besok" jelas Riska, dengan nada suara terdengar kesal.
"Hm" jawabku, singkat.
"Jangan hm, hm doang. Jawabb anjj" ucap Riska, terdengar marah.
"Iya, okey, okey. Gua gak bakal ikut campur" sambungku.
"Awass aja lo kalau sampai ikut campur" ancam Riska, lalu menutup panggilan telpon.
Sedangkan aku langsung melihat layar hp milikku, lalu melirik Greysie yang berada di di hadapanku. Tangannya semakin meremas tanganku, sementara matanya juga menatap tajam padaku. Hal itu, membuat aku sampai menelan ludah karena merasa terintimidasi oleh tatapan matanya.
"Dia ngapain nelpon?" tanya Greysie, namun aku tak menjawabnya.
"Dari cara kalian ngomong kek udah akrab banget. Sejak kapan?" tanya Greysie dengan mimik wajah kesal.
Bersambung...
__ADS_1