Ilusi

Ilusi
BAB 23 (Part 3)


__ADS_3

"Anj*ing!" cela Cassie, pelan.


"Apa?" tanya Vyora, menatap tajam.


"Gua peringatin sama elo. Kalau mau gangguin orang, jangan yang lemah kek dia. Cari lawan yang kuat, atau lo takut? Makannya nyuruh orang?" tanya Vyora, mengejek.


"Hn, oowh. Kuat?" ucap Cassie, tersenyum miring.


Mendengar itu membuat Vyora benar-benar tak suka. Tangan Vyora sudah berada di atas, dia akan menghajar Cassie.


Namun, sebelum tangan Vyora sampai pada wajah Cassie. Telpon Vyroa tiba-tiba berbunyi yang membuat Vyora terhenti dan segera mengangkat telpon tersebut.


"Hm" ucap Vyora singkat.


"Lagi di mana?" tanya Angeline.


""Rumah" jawab Vyora.


"Vi... Kamu jangan mukulin orang lagi ya, pliss sifat temperamennya di hilangin dikit" pinta Angeline di telpon.


"Tau dari mana dia?" batin Vyora.


"Gak, gua lagi di rumah. Kok lo bisa mikir gitu?" tanya Vyora.


"Gak tau. Perasaan aku doang keknya. Tapi dari kemarin emang perasaan aku udah gak enak. Aku mimpiin kamu penuh darah. Pliss jangan kek dulu lagi ya Vi. Aku gak mau kenapa-napa" pinta Angeline, memohon.


"Hufff. Ya okay" ucap Vyora.


"Janji?" tanya Angeline, lagi.


"Hm" jawab Vyora, singkat.


"Bilang kalau kamu janji" pinta Angeline, memaksa.


"Huff. Iya, gue janji" ucap Vyora.


Setelah itu panggilan telpon segera di tutup Vyora. Ia lalu menatap tajam Cassie.


"Lo gua biarain saat ini. Awas aja kalau lo berani gangguin dia lagi" ancam Vyora, lalu melirik Dela.


Sedangkan Dela masih dengan wajah takutnya tersebut hanya bisa diam dan menunduk.


Cassie menatap datar Vyora dari belakang. Sementara Vyora menarik tangan Dela dan mengajak Dela dan adiknya pergi dari sana.


Vyora sangat menghormati Angeline sebagai sahabat dan kapten mereka. Hal itu karena Angeline telah menyelamatkan Vyora dari kegelapan yang menyeliputi dirinya sebelumya.


Vyora sering memukuli orang-orang karena sifat temperamenya. Dia begitu karena dari kecil selalu di pukuli Ayah dan Ibunya secara bergantian. Tak sampai di situ kedua orang tuanya juga berpisah yang mana membuat Vyora harus mengurus hidupnya sendiri.


Angeline yang merupakan teman sekelas Vyora selalu memperhatikan tingkah laku Vyora sampai ia juga mencari tau alasan Vyora menjadi sperti itu. Setelah mengetahui alasan kenapa Vyora menjadi seperti itu, Angeline berusaha mendekati Vyora untuk berteman, lalu mengajak Vyora untuk masuk ke sekolah militer bersama dengannya.


Meskipun tak mudah bagi Angeline untuk membujuk Vyora. Namun ia berhasil melakukannya, dan jadilah mereka bersahabat sampai berada pada team yang sama.

__ADS_1


Kombinasi mereka berdua sangat cocok, apalagi di tambah kedua sahabat baru mereka, yaitu Melisa Key dan Azka Katilia.


********


Vyora masih menarik tangan Dela sampai berada di samping mobilnya.


"Rumah kalian di mana? Biar gue anterin" tawar Vyora.


"Em.. Makasih, tapi... kita gak pp, kita bisa pulang sendiri kok. Aku gak mau ngerepotin lagi" tolak Dela, sopan.


"Udah gak papa. Naik aja" ujar Vyora, memaksa.


Vyora lalu membuka pintu mobilnya dan menyuruh Dela dan adiknya untuk segera naik.


Di perjalanan.


Dela dan adiknya hanya diam. Sedangkan Vyora terus membawa mobilnya tanpa bertanya di mana letak rumah Dela.


"Kita ke Apotik dulu" ujar Vyora, memberitahu.


"Ooh.. hehe pantesan. Aku kira tau rumah aku di mana" batin Dela, ia tersenyum malu.


"Em, Aku gak papa. Makasih banget, tapi aku gak mau ngerepotin lagi" tolak Dela, sopan.


Wajahnya nampak ragu-ragu untuk berkata. Ia takut akan dikira tak tau berteterima kasih. Padahal tinggal terima saja susah banget.


"Duhhh, aku bingung mau manggil apa. Apa aku tanya namanya aja? Tapi aku malu" batin Dela.


Beberapa menit, setelah selesai membeli obat. Vyora masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Ini obat buat lo. Rumah lo di mana btw?" tanya Vyora.


"Em, rumah kita di...." jelas Dela, memberitahu.


"Hmm, btw nama lo Dela?" tanya Vyora, melihat mereka dari kaca mobilnya.


"Em, iya. Kok tau?" tanya Dela balik.


"Tadi gua sempet denger adik lo manggil nama lo" jawab Vyora.


"Ooh, emm.. Hehe, git, tuu" ucap Dela. Kaku.


"Nama gua Vyora. Salam kenal. Nama adik lo siapa?" tanya Vyora lagi.


"Nama aku Dino kakak" jawab Dino, menyela dengan wajah ceria seperti anak kecil pada umumnya.


"Em, iya namanya Dino" sambung Dela, kaku.


"Oh, hai Dino. Nama kakak Vyora" ujar Vyora juga tersenyum.


"Kak Vyora cantik banget" ucap Dino pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu juga ganteng" sambung Vyora.


Mendengar hal itu Dino makin tersenyum. Sedangkan Dela tak tau harus berkata apa. Ia ingin melarang adiknya untuk berhenti mengganggu Vyora, namun ia juga takut jika Vyora malah terganggu olehnya.


"Kalian udah makan belum?" tanya Vyora tiba-tiba.


"Ud..." jawab Dela tak selesai.


"Belum kak" sela Dino.


"Hm, kalau gitu kita malan dulu ya baru pulang ke rumah kalian" saran Vyora.


Vyora tersenyum lalu segera mencari tempat makanan.


Sesampainya di restaurant. Mereka ber 3 langsung menyantap makanan enak. Ada banyak makanan yang di pesan Vyora.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan Vyora langsung mengantar mereka pulang. Tak lupa juga Vyora membelikan makanan untuk kedua orang tua Dela. Serta beberapa Hadiah untuk mereka.


********


Besok, malamnya. Di dalam rumahku, aku mendekat pada tubuh Greysie dan meraba kantung celananya secara pelan menggunakan tangan kiriku karena tangan kananku di borgol olehnya.


Aku tersenyum kecil memegang benda yang ada di kantung celananya. Lalu aku mengeluarkan benda itu secara pelan.


Bibirku semakin tersenyum lebar melihat jenis pisau yang ada di tanganku. Pisau lipat itu sangat panjang, sehingga akan dapat menusuk dalam di jantung manusia.


Aku lalu membuka pengaman pisau tersebut dan segera menggerakan tanganku ke arah dada kiri, tepatnya bagian jantungku.


Tusukan, aku menusuk jantungku. Hal itu membuat aku semakin tersenyum lebar, sedang darah keluar dari mulutku sampai menetes di wajah Greysie.


Hal itu juga membuat Greysie membuka matanya. Ia terbangun, melotot dan melihat pisau yang menancap tepat di bagian jantungku, lalu melihatku yang tersenyum.


Aku melihat pisau di jantungku, dan melihat Greysie, lalu tersenyum lagi. Sementara bola mataku memutar ke atas dan aku pun terjatuh menindis tubuh Greysie.


Darahku mengalir ke leher Greysie. Sementara dia mematung sejenak.


Tangan Greysie pelan bergerak memegang kedua pundakku, dan Ia segera bangun langsung memelukku. Jantungnya berdegup sangat kencang bukan main, sedangkan tanganya gemetar tak karuan.


"C, ca, rra. Gak, ng- gak. Gak" ujar Greysie, lirih dan gemetar sambil melihat aku yang terbaring di penuhi darah milikku.


"Gaak!" ucap Greysie, ia terbangun.


Greysie terbangun langsung menengok ke kiri untuk melihatku.


Sementara aku masih berbaring menatap lurus ke depan sedari tadi. Tentu saja aku sedang larut di dalam pikiranku sendiri sampai tak sadar akan suara Greysie yang sedikit berteriak sebelumnya.


Aku janji. Aku janji. Aku janji. Aku janji. Tapi. Tapi. Tapi. Tapi. Gak sekarang. Gak sekarang. Gak sekarang. Gak sekarang. Gak. Gak. Gak. Gak. Gak. Gak. Kenapa kamu bunuh Ayah Cara??!!


"Raaaa!" teriak Greysie bersamaan dengan teriakan Ayahku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2