
Saat sedang berbicara dengan Greysie, tiba-tiba pukulan keras langsung melayang mengenai wajah Aric. Wajahnya membiru keunguan sedangkan bibirnya juga mengeluarkan darah. Aric terjatuh sambil memegang wajahnya, ia juga langsung menengok sumber pukulan tersebut dengan tatapan heran.
"Rendiii!" bentak Greysie.
Rendi tak peduli dan langsung mengeroyok Aric. Namun Aric tak bisa membiarkan hal itu, membuat mereka saling membalas pukulan sampai berkelahi.
Padahal Aric ingat betul kalau dia adalah seorang dokter dan mereka sedang berada di rumah sakit, tepatnya di depan kamar Icu tempat aku di rawat.
"Rendi, Aric berhenti! Cara lagi sakit, kalian jangan berantem di sini, Rendi aku bilang berhenti!" bentak Greysie, menengahi mereka berdua.
Dengan berat hati Rendi harus berhenti, begitu juga Aric. Wajah mereka sama-sama lebam. Kemudian Greysie menarik tangan mereka berdua sampai keluar rumah sakit.
"Lo ngapain di sini Rendi, hah?! lo kalau gak peduli sama kondisi sahabat gua, seenggaknya ngertiin perasaan gua. Cara lagi koma! kalian malah berantem di depan ruangannya. Kamu juga Aric! kamu itu dokter, dokter!" ucap Greysie dengan mimik wajah sangat marah.
Aric hanya diam menunduk dengan perasaan menyesal serta tatapan meminta permohonan maaf pada Greysie.
"Grey, Grey.. maafin aku, tapi kamu kenapa deket-deket sama cowok ini? aku gak bisa biarin dia deketin kamu" ujar Rendi, memegang tangan Greysie dengan tatapan maaf.
"Jangan pegang-pegang!," menepis tangan, "Kita udah putus Rendii, kita udah lama putuss. Lo gak pernah renungin kesalahan lo, hah?! lo itu a lying jackass! ngerti gak?! fuc*ing liar, bitc*h like shi*t!" cela Greysie, membentak.
"Aku tau Grey, tapi aku beneran sayang sama kamu. Aku beneran cinta, kamu tau itu kan? kamu harus kasih aku kesempatan buat perbaikin semuanya, kita bisa mulai dari awal lagi Grey" ujar Rendi, memohon.
"Bullshit, fuc*ing bullshit!" ucap Greysie segera meninggalkan mereka, namun Rendi langsung menarik tangan Greysie.
"Aaah, sakit anj*ing! Lepasin Rendi, lepasin!" ujar Greysie berusaha melepas genggaman tangan Rendi padanya.
Sedangkan Aric yang melihat hal tersebut langsung menonjok lagi wajah Rendi.
"Woy! jangan kasar ke cewek, anj*ing" cela Aric, menonjok.
Kemudian, mereka melanjutkan perkelahian sebelumnya. Tak ada yang mau mengalah, mereka juga sama-sama kuat.
"Fuc*k kalian berdua!" melerai, "mulai saat ini kalian menjauh dari gua. Jangan deketin gua lagi!" ucap Greysie melirik tajam mereka berdua, lalu segera pergi.
Rendi ingin menahan tangan Greysie, namun ia menepis kasar tangan Rendi.
Saat ini, Greysie menunduk sambil menghela napas berat.
"Mereka sama kek Heafen dan Rasya, lebih baik aku jauhin mereka. Kalau aku milih salah satu di antara mereka berdua, pasti satu pihak gak bakalan terima. Lebih baik aku sama sekali gak milih" ujarku, menenangkan Greysie.
"Ya, me too. Aku udah capek banget kalau harus ngurus pertengkaran mereka juga" sambung Greysie.
Beberapa jam berlalu. Semua siswa sudah tertidur di tendanya masing-masing, begitu juga dengan kami. Guru juga bergantian tidur untuk menjaga.
__ADS_1
Pada pukul 11:21 malam. Greysie terbangun, ia melihatku tak ada di dalam tenda. Karena merasa cemas ia langsung keluar untuk mencariku, hutan itu tak begitu gelap karena cahaya bulan menerangi jalam, menembus dedauan pepohonan yang rimbun.
Hembusan angin malam sangat dingin. Greysie juga menerangi jalan dengan lampu senter hp miliknya. Namun, langkahnya terhenti karena mendengar sesuatu. Suara itu layaknya ranting patah, seperti terinjak oleh sesuatu.
Refleks tangan Greysie mengarahkan senter hpnya pada salah satu pohon besar di hutan tersebut, kakinya perlahan melangkah mendekati pohon. Namun sebelum Greysie dapat mengintip pohon itu, ia melihat seseorang berlari dari balik pohon besar tersebut.
Mata Greysie membulat karena melihat ada mayat di hadapannya, tepatnya di balik pohon tempat orang misterius tadi bersembunyi. Wajah mayat itu juga terlihat asing baginya. Kemudian Greysie segera mengejar orang misterius tersebut.
"Hey berhenti lo!" teriak Greysie, mengejar.
Greysie terus mengejar orang tersebut, ia tak mengenali rasa lelah, meskipun ia kadang terjatuh ataupun tersandung dahan pohon.
Orang misterius tersebut mengambil ancang-ancang untuk melompat jauh, karena ia sedang berada di tepi jurang yang terpisah.
Orang misterius tersebut melompat ke tepi sebelah jurang. Setelah melompat ke tepi jurang, ia sempat tersandung, namun dengan ceketan ia segera berdiri lagi untuk berlari. Tetapi suara pengaman pistol yang dilepaskan berhasil membuat langkah kakinya terhenti.
"Hey, berhenti loe!" ujar Greysie, berteriak. Suara pengaman pistol di lepaskan.
Greysie mengarahkan pistol tersebut pada seseorang di depannya. Seseorang berjubah hitam tersebut seketika menghentikan langkahnya. Kemudian ia perlahan mulai membuka tudung jubah dari kepalanya.
Rambutnya nampak familiar di mata Greysie. Setelah orang misterius tersebut membuka tudung kepalanya, ia perlahan menengok ke samping, sedangkan bola matanya pelan melirik ke belakang.
Bibirnya ikut tersenyum bersamaan lirikan matanya. Di waktu yang sama, tangannya juga perlahan mengambil pistol dari dalam jubahnya.
Tak lama setelah itu, Greysie melihat orang berjubah hitam mulai membalik badan untuk melihat ke belakang.
Wajah yang nampak familiar terlihat. Seketika mata Greysie membulat kerena terkejut melihatnya.
"Hey, my bestie, you did it, kau berhasil menemukanku," sapaku sopan dengan senyuman manis yang terukir di bibirku.
"Raa?!" ucap Greysie, membulatkan mata.
"Kamu, kamu ngapain di sini?" tanya Greysie keheranan.
"ct, ct, ct, ct," menaruh telunjuk di bibir" "Hahaha, gak nyangka lo bisa segigih ini" ujarku, tertawa.
Tanganku juga melepas pengaman pistol yang mengarah pada kepala Greysie.
"Ra, ini.. heh," tertawa kecil, "kamu.." ujar Greysie, dengan tatapan tak percaya.
Greysie mulai membayangkan semua kejadian dan kecurigaanya selama ini padaku.
"Jadi..? beneran kamu yang udah bunuh papa aku, Ra?" ujar Greysie, bertanya. Sedang air mata kirinya menetes.
__ADS_1
"Hey, hey don't cry.. you know me, aku gak suka lihat kamu nangis" ucapku, sedang wajahku terlihat biasa tanpa rasa bersalah.
"Why Ra? why?!" tanya Greysie, masih tak percaya, tangannya masih memegang pistol yang mengarah padaku, tepatnya kepalaku.
"Hmm" ujarku memainkan bibir, lalu mengangkat kedua bahu dan alis mataku.
"Fu*k youu!" ucap Greysie, mencela. Ia mulai merasa kesal. Namun gemetar karena masih merasa tak percaya.
"Hey, ssstt...!" ujarku, menaruh jari telinjuk di bibirku.
Setelah itu, aku menunduk. Kemudian aku melihat Greysie lagi sedang air mataku mengalir
"Grey, itu bukan aku, bukan aku sumpah. Apa kamu masih tetap gak percaya setelah semua hal yang kamu lakuin ke aku? kamu mau aku bilang sampai berapa kali kalau itu bukan aku, itu bukan aku Grey" ucapku, lirih dengan mimik sedih.
Mimik wajah Greysie yang tadinya terlihat sangat marah mulai berubah menjadi tatapan bersalah. Kemudian, ia mulai menurunkan pistol yang mengarah padaku.
"Brgh," menahan tawa, "hah, hahahah, lo mau gua ngomong gitu? hahahah," mimik wajahku berubah sedih, "Hah, emfz, itu.. Grey.. itu bukan aku, bukann aku," mimik wajah berubah ejek, "hnh, hahahahaha" ujarku tertawa sambil melihat Greysie dengan wajah mengejek.
Greysie menatapku lesu, seakan sebagian kekuatanya menghilang. Badannya terasa lemas, sedangkan tangannya yang memegang pistol masih saja gemetar.
"Te- gga kamu, Ra. Teg- ga" ucap Greysie, lirih dengan isak tangis.
"Ckk! aku tau perbuatanmu, gak usah pura-pura" ujarku, menatap dengan ekpresi kesal.
"Fuckk yyou!" bentak Greysie, sedang air matanya terus menetes.
"Apa begitu caramu berterima kasih? aku sudah menyingkirkan semua orang yang telah membuatmu menderita selama ini" ujarku tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Diamm! atau aku tembak kamu sekarang!" ancam Greysie, namun tangannya masih gemetar.
"Hah, hahaha, sepertinya kau terlihat tak akan sanggup melakukannya, hahaha, kau mau menembakku? hn, i'm your best friend Grey. Loe gak akan bisa nembak gua, ha hahaha" ejekku sambil tertawa lepas, dengan ekspresi tanpa penyesalan.
Mimik wajah Greysie terlihat sangat marah. Ia mengingat kembali semua kenangan saat-saat kami bersama, tertawa lepas, menangis bersama bahkan saling melindungi satu sama lain.
Beberapa menit kemudian, Greysie merapatkan giginya sambil mendesik kesal, lalu dengan pelan ia mulai menggerakan jari telunjuknya.
"Dor.....!"
Satu tembakan di lepaskan, ia menembakku tepat di bagian lengan tangan kananku. Aku melihatnya dengan ekspresi kesal serta tatapan tak percaya, sedangkan amarah juga meliputi diriku.
Setelah itu, aku langsung mengarahkan lagi pistolku padanya, tepatnya arah kepalanya.
"Fuckk! you shot me!," tatapan tak percaya, "are you out of your mind? udah gila ya lo?!" bentakku, mencela dengan nada kasar.
__ADS_1
Bersambung...