Ilusi

Ilusi
BAB 17 (Part 2)


__ADS_3

Angin bersama iringan awan tenang melintasi lautan yang luas, ia bernyanyi dan berbisik. Sedangkan hujan tiba-tiba jatuh bersamaan dengan air mata seperti melukis sebuah kenangan. Sedangkan aku melihat langit biru tanpa rasa bersalah.


"Hey, berhenti loe!" ujar Greysie, berteriak. Suara pengaman pistol di lepaskan.


Greysie mengarahkan pistol tersebut pada seseorang di depannya. Seseorang berjubah hitam tersebut seketika menghentikan langkahnya. Kemudian ia perlahan mulai membuka tudung jubah dari kepalanya.


Rambutnya nampak familiar di mata Greysie. Setelah orang misterius tersebut membuka tudung kepalanya, ia perlahan menengok ke samping, sedangkan bola matanya melirik pelan ke belakang.


Bibirnya ikut tersenyum bersamaan lirikan matanya. Di waktu yang sama, tangannya juga perlahan mengambil pistol dari dalam jubahnya.


Waktu terus berjalan. Orang berjubah hitam tersebut perlahan memutar badannya. Greysie sedari tadi juga merasa penasaran dengan orang tersebut, ia terus melihat orang yang berada tepat di depannya. Meskipun mereka terpisahkan oleh jurang yang dalam.


Tak lama setelah itu, Greysie melihat orang berjubah hitam tersebut mulai memutar badannya untuk melihat ke belakang.


Wajah yang familiar nampak terlihat. Seketika mata Greysie membulat kerena terkejut melihatnya.


"Hey, my bestie, you did it, kau berhasil menemukanku," menyapa dengan senyuman manis terukir di bibir.


********


Seminggu yang lalu. Greysie sedang mengobati lukaku yang lain karena terlihat memerah, membiru, bahkan keunguan.


"Kalau aja kamu gak ngilang selama seminggu lebih, Ra. Mungkin luka kamu gak bakal separah ini. Aku bakal ngerawat kamu sampai sembuh. Selama itu kamu kemana aja, Ra?" batin Greysie.


Beberapa saat kemudian, aku terbangun. Mataku pelan terbuka.


"Ergh," memegang perut. Aku bangun, sedang Greysie yang baru saja membuka pintu kamar langsung membantuku duduk.


"Ra, kamu makan dulu terus minum obat" ujar Greysie mengambil sesendok bubur di atas meja.


"Lo masih di sini? kok gak pergi. Gua gak mau lihat muka lo!" ucapku, menepis sendok.


"Besok udah penguman kelulusan. Aku gak bakal pergi dari sini karena aku yakin kamu pasti bakalan pergi lagi entah kemana" ujar Greysis, menatapku.

__ADS_1


"Lo! lo kenapa lakuin hal itu, hah?!" ucapku, kesal melihatnya.


"Maafin aku, Ra. Aku gak maksud buat jahatin kamu, aku sama sekali gak mau nyakitin kamu. Semuanya berubah, aku harus mutar otak lagi setelah aku tau semuanya. Maafin aku karena udah nyaki.." ucap Greysie tak selesai.


"Stop! stop di situ! gak usah ngomong lagi. Gua gak peduli Grey lo mau bunuh gua atau gak. Lo mau apain gua, gua sama sekali gak peduli. Tapi gua gak suka lo ingker janji ke gua, gua gak suka tau gak! Lo udah.. lo udah buat gue," gemetar, "lo ceroboh banget tau gak, aaah. Gua gak mau lo, ckk! gua gak mau lo kenapa-kenapa ngerti gak! bisa-bisanya lo, bisa-bisanya elo sampai segitunya Greyy. Lo buat gua mikir kek orang gila Grey, lo buat gua mikir kalau lo udah hianatin gua, lo juga buat gua mikir kalau lo benci banget sama gua, lo buat gua, lo buat gua sakit banget, sakiitt Grey, sakiitt" ujarku, lirih dengan isak tangis.


"Aku udah bilang jangan mikirin itu Grey, aku ngelarang kamu buat jangan mikirin itu" tuturku, lirih sambil menutup wajah dengan telapak tangan.


"Aku udah ngelarang kamu, tapi kamu malah lakuin semuanya sampai aku bener-bener udah, aku bener udah gak tau lagi mana yang benar dan mana yang salah. Aku bingung harus percaya sama yang mana, Grey. Otak dan hati aku sama sekali gak selaras, aku gak bisa mikir jernih. Aku gak tau, aku sama sekali gak tau. Maafin aku, maafin aku, huhuu. Maafin aku" lanjutku, lirih masih dengan isak tangis.


Sedangkan Greysie langsung memeluk erat diriku seakan tak mau melepaskan.


"Aku yang harusnya minta maaf, Ra. Maafin aku" ujar Greysie, pelan dengan air mata yang menetes.


"Kita udah janji, hmf. Kamu udah janji Grey. Tapi kamu malah buat aku jadi jahat banget, aku seharusnya gak mikir gitu. Bodoh banget, aku bener-benar goblok, bodoh, tolol," memukul kepala, "bodoh, bodoh!" ucapku sambil terus memukul kepala.


"Ra, Ra ini bukan salah kamu. Ini salah aku, aku yang harusnya minta maaf ke kamu. Seharusnya aku ngomong dulu ke kamu, maafin aku. Kamu harus ngelewati semuanya gara-gara aku" ujar Greysie, berusaha menenangkan.


********


Tiba di tempat camping, kami langsung membangun tenda masing-masing. Greysie tak membiarkanku banyak bergerak, ia membuat tenda sendiri untuk kami berdua.


"Ra, kamu beneran udah gak marah lagi?" tanya Greysie, menghampiri.


"Gak" jawabku, menggeleng sambil tersenyum.


"Tapi dari kemarin kamu kebanyakan diem. Apa kamu sakit? aku kan udah bilang, kita gak usah ikut camping kalau kamu beneran masih sakit" ujar Greysie, ia menyuruhku masuk ke tenda.


"Aku gak pp" ucapku, lirih sambil duduk.


"Ra, kamu gimana sama Heafen dan Rasya? mereka pasti khawatir banget sama kamu. Kamu belum ngabarin mereka juga?" tanya Greysie.


"Hmf, gak. Aku mau mutus hubungan sama mereka berdua. Aku sama sekali gak pantes buat mereka rebutin, mereka terlalu baik buat aku" ujarku sambil melihat awan.

__ADS_1


"Kamu udah jadian sama Aric?" lanjutku, bertanya sambil melihat Greysie.


"Em, aku nolak dia. Saat itu kacau banget, kamu lagi koma terus Aric ketemu sama Rendi. Jadi, aku muak banget dengan semuanya. Aku juga udah capek banget" ucap Greysie, menjelaskan.


"Maafin aku. Kamu capek karena ngurus aku dan semua masalah aku. Tapi aku malah mikir yang engga-engga" pintaku, memohon maaf dengan mimik penyesalan.


"Aku yang salah, Ra. Udah kita gak usah lagi, lagi dan lagi kek gini. Kamu salah, aku juga salah. Kita sama-sama salah, hm" ujar Greysie. Aku mengangguk, iya.


"Hm, kamu mau cerita soal Aric dan Rendi?" tanyaku.


"Em," bepaling, "saat kamu koma saat itu.." ujar Greysie mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


Di sebuah markas Gotreasure. Rendi sedang melihat foto-foto di hanphone milik Alvan.


"Siaall, siapa cowok ini? lo kenal dia?!" tanya Rendi dengan nada marah.


"Gak bro. Tapi kelihatannya mereka udah deket banget. Mantan lo keknya juga suka sama dia" jelas Alvan dengan mimik takut.


"Besok kita ke rumah sakit. Lo tau Cara di rawat di rumah sakit mana?" tanya Rendi.


"Rumah sakit hospital, Bro. Em, lo yakin bro? soalnya itu kann rumah, sa, kit" ujar Alvan, pelan dengan mimik ragu dan takut.


"Emang kenapa kalau itu rumah sakit, hah?! Kenapa?!" tanya Rendi, membentak.


Besoknya. Anak geng motor Gotreasure tiba di depan rumah sakit Medical Houspitals.


"Kalian tunggu sini" perintah Rendi pada teman-temannya.


Rendi kemudian mempercepat langkahnya. Sementara itu, di depan kamar Icu Aric sedang berbicara serius dengan Greysie.


"Grey, aku tau ini bukan waktu yang tepat. Tapi aku cuman mau jagain kamu di saat-saat kek gini. Aku juga udah janji ke Callista soal ini. Kamu mau gak jadi pacar aku? aku janji bakal selalu ada buat kamu, selalu dukung kamu dan jagain kamu" ujar Aric, memegang kedua tangan Greysie.


Tiba-tiba, pukulan keras langsung mengenai wajah Aric membuat wajahnya membiru keunguan, bibirnya juga langsung mengeluarkan darah. Sedangkan Aric terjatuh sambil memegang wajahnya, ia juga langsung menengok sumber pukulan tersebut dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Rendiii!" bentak Greysie.


Bersambung...


__ADS_2