
Sinar matahari cerah perlahan memudar. Mataku terus melirik keluar jendela mobil, melihat cahaya itu perlahan hilang seakan sulit untuk kembali. Sedangkan awan terlihat tenang dengan iringan hembusan angin, melintasi langit biru penuh makna. Namun, semuanya menjadi nampak suram, setelah awan menjadi gelap menghitam bersama munculnya kilatan biru seolah memberi arti bahwa sinar itu tidak akan kembali.
Hujan tak henti, ia jatuh bersamaan dengan air mata pilu, sedang aku juga menggigit bibir yang gemetar.
********
Tiba di kantor polisi. Aku berada di ruang introgasi, bersama seorang senior polisi dan rekan satu timnya.
"Anda kenapa diam saja dari tadi?" ucap Polisi dengan nada suara yang naik.
"Hey!" teriak rekan polisi berjaket hitam sambil memukul meja. Aku hanya diam, menunduk melihat kedua tanganku yang di borgol.
Selama berjam-jam di dalam ruangan introgasi polisi, aku tak pernah membuka mulut dan hanya terkaget sesekali jika kedua polisi itu kehilangan kesabarannya dengan memukul meja, membentak, juga berteriak padaku.
Setelah itu, mereka membawaku keluar ruangan. Rasya sedang berdiri menugguku. Kami hanya melewatinya. Sedangkan aku juga tak mau melihat Rasya sedikitpun.
"Lista, Lista" panggil Rasya, mengejar.
"Pak, pak. Aku mau ngomong bentar aja ke Lista" ujar Rasya, memohon pada seniornya.
Polisi melirikku, sedang aku langsung menggeleng dengan artian tak ingin berbicara dengan siapapun.
"Pak, tolong biarkan kami melaksanakan tugas kami. Pak Rasya bisa bicara nanti" ujar senior Polisi.
"Tapi, pak.." ucap Rasya tak selesai.
"Permisi" pamit Polisi, langsung membawaku.
Mereka lalu memasukanku ke ruangan yang berlapiskan jeruji besi. Dua hari lagi sidang akan di laksanakan, di karenakan masyarakat mendesak negara, presiden juga polisi untuk segera menjatuhi hukuman padaku. Mereka ingin aku di berikan hukuman mati, atau paling tidak penjara seumur hidup.
Tiga hari kemudian. Sidang di laksanakan. Aku di bawah ke ruang sidang. Tak jarang juga ada warga yang melempar batu, membuat kepalaku sampai mengeluarkan berdarah.
__ADS_1
Di dalam ruangan, telah banyak keluarga korban yang menungguku, mereka memaki, dan mendoakan yang buruk.
********
Tiba di ruangan sidang, aku duduk di tengah-tengah antara hakim, jaksa penuntut umum, pengacara dan orang-orang yang datang. Nampak suasananya juga sangat tegang.
Di kursi penonton, aku menengok ke belakang dan melihat Greysie yang sedang melihatku. Sedangkan Rasya, Heafen, Riska, Aaron, Bibi dan Lia dengan wajah sedih mereka yang tak bisa di hilangkan. Wajah tak asing juga terlihat sedang duduk di kursi penonton, dia adalah Mela. Aku hanya melihatnya sebentar, lalu balik badan sambil menunduk.
Beberapa jam pelaksanaan sidang. Hakim resmi menjatuhkan hukuman selama 25 tahun penjara padaku. Sidang selesai, polisi langsung membawaku pergi.
Beberapa jam di perjalanan, aku sampai di penjara khusus untuk kejahatan paling fatal. Aku di masukan ke ruangan khusus, di mana orang-orang jahat berkumpul.
Saat itu, aku langsung duduk di pojok dinding sambil memegang kepala. Sedangkan tahanan lain merasakan bahaya akan adanya diriku, mereka takut aku akan membunuh mereka, sehingga membuat mereka langsung mengeroyok diriky. Sedangkan aku hanya pasrah membiarkan mereka memukuliku sesuka hati. Toh, aku juga memang ingin segera mati.
Namun dengan ceketan polisi datang untuk menghentikan mereka. Hal itu membuatku sangat kesal, sehingga aku berteriak pada polisi.
"Fuckk! Biarain aja mereka bunuh guaa! Fuckk! Fuc*kk, aaaahh. Anj*ing!" teriakku, mencela sambil memukul dada polisi, juga mendorong mereka. Aku telah kehilangan kendali, tubuhku memberontak ingin memukul semua orang di dalam penjara itu agar mereka segara membunuhku.
Polisi kemudian memasukanku ke dalam sel khusus sendiri untuk merenung. Mereka mendorngku masuk. Lalu mengunci pintu besi tersebut.
Kemudian, aku meraba kantung celana tahananku untuk mengambil sikat gigi milik salah satu tahanan sebelumya. Aku duduk bersandar di dinding, lalu menggosok sikat gigi tersebut sampai benar-benar runcing.
Setelah sikat gigi itu runcing, perlahan senyuman terukir di bibirku. Aku langsung mengarahkan bagian tajam tepat di leherku, lalu aku memejamkan mata sementara air bening ikut menetes mengaliri pipiku.
Di saat aku ingin mengiris leherku dengan sangat dalam, ingatan tiba-tiba terlintas di pikiranku. Itu adalah saat di mana aku melihat tangan Greysie yang membuat kami beradu pandang sebelumnya.
Setelah teringat hal itu, aku menjadi tak bisa menggerakan tangan untuk mengiris leherku. Sehingga membuatku lagi, lagi dan lagi menangis pilu sambil memukul kepala.
"Grey, aku sama sekali gak tau lagi. Apa aku terlalu luput sama perasaan sedih aku? apa dugaan aku kali ini bener Grey? Aku bingung Grey, aku bingung. Kamu bakal lukain diri kamu sendiri kalau kamu emang bener-bener tersiksa sama sesuatu, aku cuman ingat itu sekarang Grey. Tapi.. kalau aku salah gimana Grey? aku gak mau hidup lagi kalau kamu beneran hianatin aku" batinku, bertengkar. Sedang isak tangis terdengar memenuhi ruangan tersebut.
********
__ADS_1
Tiga minggu lagi sekolah kami akan melaksanakan ujian kelulusan untuk kelas 3 seperti kami.
Di sekolah, seperti biasanya semua siswa sedang bergosip tentangku, sehingga membuat telinga Greysie sakit saat mendengarnya, dia tak tahan lagi dan langsung pergi begitu saja.
Sementara itu Rasya berada di ruangan tempat pembunuhan ayah Greysie sebelumya, sudah beberapa minggu ia terus saja pergi ke tempat itu untuk memeriksa kembali, semua cctv jalanan, ataupun cctv mobil/motor.
Dua minggu kemudian.
Di sebuah rumah mewah. Pada pukul 11:02 malam. Keluarga Walker dan keluarga Milstone sedang berpesta ria untuk merayakan kemenangan besar mereka.
"Bro. Kita balik dulu" ucap Andrian, bersamalan dengan Bryan.
Di samping Andrian terlihat sahabat-sahabat Kesya, serta pacar mereka masing-masing.
"Iya, kita balik dulu Cas" pamit Zwetta, bersama ke empat teman satu gengnya yang lain.
Sedangkan para cowok berjabat pelukan pria dengan Bryan.
"Thanks bro, kalian udah bantuin kita buat ngerusak hubunhan mereka" ucap Bryan, berpeluk ala pria.
"Yoi keten. Kita juga emang pengen balas perbuatan mereka ke cewek gua dulu. Padahal gua mau si Cara itu di hukum mati" ujar Andrian.
Mereka ber sebelas kemudian pamit pada Bryan dan Cassie. Kedua orang tua Bryan dan Cassie juga masih berbicara sampai tertawa terbahak-bahak.
********
Besoknya. Stasiun tv memberitakan berita terbaru yang mengejutkan setiap orang.
"Keluarga Milstone atau pemilik perusahaan Electrikal Group yakni Monsior Milstone dan Rallenda Lubis membunuh rekan bisnis mereka sendiri yang tak lain adalah keluarga Walker pemilik perusahaan W. Electrik dengan cara menembak mereka di bagian kepala"
"Sedangkan anak mereka Cassie yang merupakan tunangan dari Bryan Walker, membunuh kedua orang tuanya karena tak terima jika tunangannya di bunuh oleh kedua orang tuanya sendiri. Setelah membunuh kedua orang tuanya, Cassie lantas membunuh dirinya sendiri.
__ADS_1
"Menurut keterangan polisi, alasan mereka saling membunuh adalah karena saling memperebutkan perusahaan. Kaluarga Walker yang sebelumnya mengambil alih perusahaan milik keluarga Milstone saat mereka masih di penjara, ternyata ingin mengambil alih perusahaan itu sepenuhnya. Namun, kaluarga Milstone menentang hal tersebut, sehingga membuat mereka membunuh rekan bisnis sekaligus calon besan mereka tersebut.
Bersambung...