
...**Ilusi**...
Jika dunia ilusi bisa membuat orang-orang bahagia. Lantas mengapa mereka selalu saja memilih hidup di dunia nyata?
********
Sebuah pegunungan/tempat wisata terkenal di idonesia yang menjadi objek wisata sekolah bagi kami yang telah lulus.
Sebelumnya, setelah aku menjelaskan pada Greysie tentang seseorang yang mencelakai kami di apartemen saat itu, ia terlibat sangat marah besar mendengarnya.
"Whattt?!" ucap Greysie, berdiri.
"Berani-beraninya! Gua harus bunuh mereka semua sekarang!" ucap Greysie, ingin segera pergi. Namun aku langsung berdiri sambil menarik tangannya.
"Grey, udahh. Aku gak pp. Orang tadi juga udah mati" ucapku, melarangnya.
"Gak bisa, Ra!" bentak Greysie, menepis tanganku.
"Mereka semua harus di kasih pelajaran, Ra! Berani-beraninya mereka nyuruh orang buat nyelakain kamu lagi. Minta di bunuh juga ternyata" ujar Greysie dengan nada emosi.
"Grey, jangan sekarang, nanti aja. Aku gak pp, pliss. Kamu jangan gegabah lagi kek sebulumnya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, Grey" larangku, memohon.
"Tapi, Ra.. Mereka itu udah keterlaluan! Aku bakal bunuh mereka semua dengan cara yang sama seperti aku bunuh keluarga Milstone dan Walker. That's final, ti- tik!" ujar Greysie dengan nada emosi.
"Tapi, Grey..." ucapku, lirih.
"No, stopp! That's final! Understand?!" sela Greysie, membentak.
"Iya, aku paham Grey. Aku paham, tapi... Kita bisa gak duduk bentar? Aku mau nikmatin malam ini. Langit, bulan dan bintang enak banget untuk di pandang. Aku suka banget sama suasana saat ini. Boleh ya?" pintaku, memohon.
Greysie terlihat berpikir dengan isi kepala yang tercampuk aduk. Ia sangat marah dan ingin membunuh Andrian bersama teman-temannya sekarang. Namun ia menatap mataku yang penuh harap itu, membuatnya tak tega.
Greysie lalu menanganguk dan aku pun tersenyum karenananya. Setelah itu kami sama-sama duduk dan mengingat semuanya kembali. Kami juga saling melihat, tersenyum bahkan tertawa.
"Hnhehehehe...," Greysie tertawa.
"Hnhehehehe," aku pun tertawa.
Beberapa menit berlalu. Kami tak henti tertawa, rasanya sangat bahagia. Kami berhasil membalaskan dendam kami pada keluarga Milstone dan Walker. Mereka sangat menderita bahkan sampai matipun.
Perusahaan milik mereka juga telah hancur sesuai dengan skenario buatan kami. Ini adalah kemenangan besar bagi aku dan Greysie.
"Hahaha, akhirnya selesai juga Grey" ucapku, tersenyum puas.
"Iya, hahaha... Setelah sekian purnama dan halangan, kita bisa balas dendam ke mereka, sampai mereka bener-bener hancur se hancur-hancurnya" sambung Greysie dengan tatapan puas.
"Sumpah, acting kamu Grey, aku aja sampai ketipu, bisa-bisanya kamu nipu aku?" tanyaku.
"Hm, mulai deh... Kamu tuh pasti udah tau kalau aku lagi acting, tapi saat itu kamu terlalu luput dengan rasa bersalah kamu, apalagi trauma kamu tentang keluarga kamu" ungkap Greysie.
"Hm," tersenyum, "Ya.. you right, aku terlalu ke bawa emosi saat itu" ucapku.
__ADS_1
"Hahahaha, but now we win Raa, hahaha... We win hahaha" ujar Greysie, memeluk dari samping.
"Hahaha yess, aku seneng banget mereka menderita di neraka" sambungku tersenyum, sambil menyandarkan kepalaku pada kepala Greysie.
"Hahahahahhahahaha"
Kami tak berhenti tertawa. Rasa bahagia yang kami rasakan adalah hal yang telah kami tunggu selama ini. Di mana kami terus berusaha untuk bertahan melewati setiap rintangan, halangan dan keputusasaan dalam mencapai tujuan kami.
Namun di saat kami masih tertawa ria, tiba-tiba saja kepalaku terasa sangat pusing, membuatku melihat Greysie seperti sebuah bayangan.
"Ra? Ra kamu kenapa?" tanya Greysie, cemas.
"Ra, hey Ra, Ra kamu kenapa? Ra, Raa!"
Telingaku tak henti berdengung dan bunyinya itu sangat kuat, bahkan semakin kuat. Sedangkan suara tawa, hinaan, ejekan, teriakan, dan tangisan memenuhi isi kepaku.
Telingaku terus berdengung. Kepalaku juga terasa semakin pusing, seakaan ada sesuatu yang mendekat padaku.
Tiba-tiba cahaya terang terlihat tepat di depan mataku. Cahaya itu semakin terang, sedangkan aku masih saja mendengar suara tawa dan ejekan di kepalaku.
Semakin cahaya itu mendekat kepadaku. Greysie semakin menghilang bahkan hanya sampai tersisa banyangannya saja yang bisa kulihat.
Kemudian, aku tiba-tiba saja berada di dalam kelas. Sedangkan Greysie telah menghilang sempurna dari hadapanku.
Mataku melirik sekitar, namun aku hanya melihat anak seusiaku yang menertawaiku. Hinaan serta ejekan mereka menusuk tepat di dalam hatiku, membuat aku merasa seperti di penuhi perasaan sakit yang mendalam.
Barang-barang di lemparkan padaku. Sedangkan tawa bahagia mereka memenuhi isi kepalaku. Hal itu membuat bekas luka yang termat sangat dalam di hatiku.
Tatapan mata mereka padaku sangat dalam, membuat aku merasa tak sanggup untuk melihatnya.
"Apa salahku? Kenapa kalian bully aku sampai kek gini?" tanyaku pada mereka, sedang air mataku terus menetes.
"Hahaha, salah lo.. karena elo udah hidup di dunia ini! lo adalah sasaran empuk bagi kita, hahaha" ucap mereka terus memukuli serta menertawaiku.
Setiap detik, menit, hari, minggu, sampai tahun berganti aku lewati dengan menahan rasa sakit. Tak terhentikan setiap siksaan yang aku dapatkan dari mereka. Aku merasa tak sanggup lagi.
Mereka melihatku seperti sampah. Tatapan mata yang dingin, hati yang kosong, kenangan yang kejam, pikiran yang berbisik, suara-suara yang mengerikan selalu berkata buruk tentangku seakan mereka tidak lebih buruk dari sampah.
********
Melodi musik terdengar indah di telinga, sampai memenuhi isi kepala dan menusuk tepat di hatiku. Di mana aku salalu mengunakan headsed untuk menenangkan hati juga pikiranku.
Di sebuah gedung menjulang tinggi, aku sedang berdiri di atap gedungnya sedang air mata pilu terus menetes memenuhi wajahku.
Di bawah gedung tinggi ini, terlihat pemandangan yang sangat indah begitu menenangkan hati. Di mana lampu-lampu kota membuat mata orang yang melihatnya terpesona.
Sedangkan angin lembut berhembus bersama dengan tetesan air mata yang jatuh. Aku melihat setiap manusia dari atas gedung ini. Mereka bercanda ria bersama teman mereka, tertawa bersama keluarganya. Bahkan, ada pula yang bertengkar karena hal kecil.
Kemudian aku melihat diriku sendiri. Di mana hanya di temani gelapnya malam, sedang sinar bulan menyinari, membuat aku menangis pilu menatap bayanganku. Dadaku sesak menahan sakit yang mendalam, menusuk tepat di hatiku.
"Peluk aku diriku, aku sayang kamu, kita akhiri saja semuanya di sini" batinku. Aku melompat.
__ADS_1
Di udara, aku memejamkan mata. Mengingat kembali semua kenangan ilusi dunia. Itu dia adalah diriku, kehidupan yang susah di mengerti. Bagaikan ilusi sempurna, diciptakan oleh dua orang dengan satu kehidupan.
"Bisakah aku hidup dalam ilusiku selamanya? Dunia nyata sangat tidak adil padaku" batinku, bibirku pelan tersenyum.
"Maafin aku Bunda, Ayah, Tiya"
Beberapa orang memilih menyendiri untuk melupakan segala rasa sakit yang di sebabkan dunia fana ini. Meskipun hal itu tidak akan berguna bagi mereka yang sudah berada pada fase ingin mengakhiri segalanya tentang kehidupan dirinya.
Kenyataan membuat setiap orang merasakan sakit sampai mereka merasa tak sanggup lagi untuk bertahan, bahkan memilih untuk mengakhiri segalanya. Aku lebih memilih dunia imajinasi yang menciptakan ilusi indah daripada kenyataan yang pahit.
Ambulance terdengar. Polisi juga sudah tiba. Sedangkan orang-orang berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi.
~Tamat~
Ilusi memang menciptakan kebahagiaan yang indah, sedangkan kenyatan juga menciptakan kesedihan serta kepedihan. Akan tetapi, dua pilihan ini bagaikan pedang bermata dua yang sama-sama bisa menyakiti. Pilihannya ada pada diri manusia, jika manusia bisa mengendalikan keduanya, maka jati diri mereka tak akan hilang.
Hope you like it Guys🤗😅 maaf yaa kalau tulisanku masih banyak yang salah.
Terima Kasih telah membaca🙏🧡
Ungkapan:
Bagi seorang manusia, mereka hanya butuh cukup seorang saja untuk mendengarkan. Jika tak ada seorangpun, mereka tidak akan bisa bertahan di dunia yang kejam ini.
Information:
Siapa tau ada yang bingung sama Endinya🙃
Cara Callista hidup di dalam dunia ilusinya, di mana ia menciptakan seorang sahabat yang selalu siap untuk mendengar dan membantunya dalam keadaan apapun. Ayah, Ibu dan Adiknya Tiya meninggal sekitar 7 tahun yang lalu karena di bunuh oleh keluarga Milstone. Semuanya adalah nyata kecuali sahabat ilusinya Greysie.
Greysie adalah hasil ilusi yang diciptakan oleh Cara Callista. Cara Callista juga tak membunuh Ayahnya sendiri, tetapi ia malah membayangkan bahwa ialah yang telah membunuh ayahnya, bahkan sampai menjadi seorang psikopat (pembunuh berantai) hanya karena ingin membalaskan dendam.
Cara Callista juga menjadi salah satu korban bullying yang terparah di sekolahnya. Alasan inilah yang membuat Cara Callista sampai menciptakan ilusi di dalam pikirannya. Ia sangat ingin membalaskan dendam pada semua orang yang telah berbuat jahat padanya, meskipun semua itu hanyalah sekedar ilusinasinya saja.
Cast:
Cara Callista. Cantik, wajah mungil/kecil, tatapan tajam, manipulator handal, senyuman manis, baik/jahat. Cerdas, pelawak, pendiam, ambivert, sigma female.
Tb: 167 Cm. Bb: 50 Kg.
Infj\= Rela menyakiti diri sendiri demi kebahagiaan orang lain.
Freya Valirie Greysie. Cantiknya underrated. Sangat Manipulatif, Entp (Ektrovert yang lebih introvert). Mudah bosan, memulai debat. Pintar/cerdas, gak peka, kejam dan kejam, possesif, cemburuan, suka memimpin (Alpha Female). Entp yang Anti-sosial namun tetap jahil, suka bermain, pandai bermain ekpresi seperti memainkan kedua alis, memainkan mata, dan juga bibir.
__ADS_1
Tb: 167, 3 Cm. Bb: 50 Kg.
Entp\= Kejam, sangat kejam. Anti sosial & Sangat Manipulatif.