Ilusi

Ilusi
BAB 7 (Part 3)


__ADS_3

Berita.


Korban kali ini merupakan anak dari pasangan Jendral TNI Graham Friedmen dan Brigjen Pol Elba Ritter. Korban di temukan oleh warga dalam keadan sudah tak bernyawa di sekitar pinggiran sungai.


Saat ini. Di dalam kamar, Rasya merenung karena mengingat kejadian yang menimpa adiknya satu tahun yang lalu.


Rasya kemudian menghapus air matanya, ia meremas foto yang ada di tangannya, lalu membuangnya. Matanya menatap penuh amarah.


********


Sementara itu di dalam kamar rumah sakit. Aku masih tertidur. Greysie sedang pergi ke toilet.


Tak lama kemudian Rasya datang untuk menjenguk aku lagi. Ia melihatku tidur dengan wajah polos tak berdosa.


"Kalau lagi tidur kek gini, kamu kelihatan kek bayi yang baru lahir" batin Rasya, ia tersenyum.


(Suara pintu terbuka).


"Rasya?" tegur Greysie, ia melihat Rasya melamun.


"Ehh Grey" sahut Rasya melihatnya.


"Are you okay?" tanya Greysie berjalan menghampirinya.


"Yaa, i'm okay" jawab Rasya tersenyum.


"Okay, Cara masih tidur ya" ujar Greysie.


"Hm, iya, kamu dari mana?" tanya Rasya.


"Aku ketoilet bentar tadi, kamu udah lama di sini?" tanya Greysie.


"Hm, gak juga, aku baru sampai 10 menit yang lalu" jawab Rasya.


"Hm" ucap Greysie mengangguk.


Di saat sedang asyik berbicara, mereka mendengarku mengingau dan merintih.


"Hmf, pergi, pergi kamu"


"Pergii!" teriakku. Aku terbangun.


"Ra, Raa kamu kenapa?" tanya Greysie. Rasya melihatku dengan tatapan cemas.


"Kalian..., aku..." ucapku melirik sekitar, keringatku terus mengalir keluar dari pori-pori kulitku.


"Raa" panggil Greysie, ia menatap sedih, lalu aku melihat kearahnya.


"Grey pliss," tatapan memohon, "jangan sekarang" ucapku memegang tangannya.


Greysie menghapus air matanya. Sedangkan Rasya melihat kami, ia memahami situasi dan segera berpamitan pada kami. Kemudian Rasya pergi meninggalkan kami berdua.


"Raa, aku mohon sama kamu," tatapan sedih, "aku sahabat kamu, pliss aku mohon.., cerita ke aku, ada apa sebenarnya, kamu kenapa, aku... aku mohon" pinta Greysie memegang erat tanganku.


Mata Greysie berkaca-kaca saat melihatku. Sedangkan aku tak sanggup melihat wajahnya seperti itu, aku berusaha untuk tidak menangis di depannya.


"Aku..." ujarku meneteskan air mata.


"Grey... ada rasa sakit yang gak bisa di ungkapkan dengan kata, hanya aku, bayanganku dan tuhan yang tahu" batinku. Aku menatap sedih Greysie, lalu memalingkan wajah lagi darinya.


"Ak.. ak..." ucapku tak bisa berkata.


"Lihat aku Ra" lirih Greysie, memalingkan wajahku padanya.


Aku tak sanggup melihat wajah serta tatapan matanya, rasanya aku seperti tak bisa berbicara sedangkan air mataku terus mencari jalan untuk keluar.


"Ra, kamu kenapa selalu diam, pliss.. aku gak.. pliss lihat aku" ucap Greysie memohon. Aku masih diam memalingkan wajah darinya.


"Pliss jangan diam aja Ra, aku gak suka kalau kamu diam terus kek gini" jelas Greysie.


"Raaa" panggil Greysie memegang pundakku.


"Raa, pliss jangan diam aja..." ucap Greysie. Setelah itu aku mememalingkan wajah untuk melihat dan menatapnya.


"Apa aku terlalu diam buat kamu Grey? mencari kebenaran gak perlu terlalu jauh, cukup tatap mata aku aja, itu akan menjelaskan semuanya" lirihku gemetar meneteskan air mata.

__ADS_1


"Ap.. apa Ra, aku gak ngerti maksud kamu" jelasnya masih memegang tanganku.


"Kamu sahabat aku kan Grey, harusnya kamu tahu, aku sering gitu ke kamu" ungkapku, air mataku terus mencari jalan untuk keluar.


"Aku.., aku gak.., aku sahabat yang buruk bagi kamu, aku gak tau kamu, aku gak kenal sama kamu, aku gak tau rasa sakit kamu, aku.. aku beneran, hmff" jelas Greysie mulai menangis.


"Aku gak tau, aku harus gimana Raaa?" ucap Greysie menangis pilu.


Tangisan Greysie pecah siang hari itu, ia menangis terseduh-seduh sambil memegang tanganku, kepalanya di sandarkannya di tanganku sedang air matanya jatuh menyentuh kulitku.


Sedangkan aku terus memalingkan wajah darinya, karena aku tak sanggup melihatnya. Air mataku menetes, bibirku gemetar dan suaraku tak terdengar, aku hanya menangis dalam diam.


********


Sementara itu. Di bandara. Seorang lelaki tampan berambut korean medium undercut sedang menelpon seseorang, ia baru saja pulang dari Amerika. Lelaki tampan itu adalah Heafen Immanuel yang merupakan mantan pacar Cara Callista.


"Lo di mana, bro" tanya Heafen.


"Udah di bandara bro, lo pakai baju warna apa?" seru lelaki tampan berwajah tegas dengan model rambut taper fade, namanya adalah Aaron.


"Gua pakai jaket warna item, baju dalem warna putih" jelas Heafen.


"Em," melirik sekitar beranda," eeh... eh gua lihat lo bro," melambai, "bro di sini" ucap Aaron memanggil Heafen.


Heafen membuka kacamata miliknya, ia melambai pada Aaron, kemudian menghampirinya.


"Gimana kabar lo bro" tanya Aaron berjabat pelukan pria.


"Ok aja bro, jadi gimana lo udah kumpulin anak-anak?" tanya Heafen.


"Yoi udah bro" jawab Aaron.


Di dalam mobil,


"Selama gua di Amrik, Gotreasure gak gangguin anak-anak kan bro" tanya Heafen.


"Gak bro, keknya Rendi nungguin lo bro" jawab Aaron.


"Hnh" ucap Heafen tertawa kecil.


"Antar gua ke apartemen gua, bokap sama nyokap belum gua kasih kabar soalnya" seru Heafen.


Di dalam Apartemen, mereka sedang duduk di sofa.


"Jadi, gimana kalian udah cari tau identitas cowok itu?" tanya Heafen.


"Udah bro, cowok itu namanya Rasya Fernandes, tapi permasalahanya bro, dia itu polisi, bokap dia Jendral TNI, dan nyokap dia juga Brigjen Pol, bakal susah nih bro" jelas Aaron.


"Lo tau dia sekarang lagi nanganin kasus apa?" tanya Aaron.


"Gua pernah lihat di tv, ternyata dia yang nanganin kasus pembunuhan berantai" jawab Aaron.


"Hmh," tersenyum, "itu bakal buat lebih mudah, dia gak bakal punya waktu buat cari tahu soal kita, lo cari waktu yang pas buat nyerang dia" perintah Heafen.


"Okelah bro siap, siap" ucap Aaron.


Heafen kemudian mengambil telpon miliknya untuk menelpon seseorang.


Di rumah sakit, telpon milikku berbunyi. Aku dan Greysie masih terlibat dalam perang dingin, kami tak berbicara sepetah kata pun.


Di saat aku ingin mengambil telponku, Greysie berdiri dan mengambilkannya untukku, kemudian aku mengambilnya lalu melihat layar telponku.


"Heafen?" batinku. Aku mengangkatnya.


"Halo Ra" sapa Heafen lembut di telingaku.


"Iya, halo Heafen" ucapku pelan.


"Kamu lagi di mana?" tanya Heafen lembut.


"Aku...," melirik Greysie, "lagi di... em.. di Rumah" jawabku.


"Kamu gak sekolah?" tanya Heafen.


"Emm, gak, aku gak enak badan soalnya" jawabku. Greysie masih melihatku dengan tangan bersilang.

__ADS_1


"Kamu sakit? aku kesana, ya" seru Heafen.


"Kamu udah pulang ke indo?" tanyaku penasaran.


"Iya aku barusan pulang, aku kesana yaa" jawab Hefaen.


"Em, besok aja kamu kesini Heafen, soalnya.. aku lagi.. pengen istirahat aja hari ini" pintaku.


"Hm, yaudah besok aku ke rumah kamu yaa" seru Heafen.


"Em, keknya besok pasti Grey bakal paksa aku ke rumah dia lagi" lirihku pelan.


"Hah? kamu ngomong sesuatu Ra?" tanya Heafen.


"Em, besok keknya aku bakal nginep di rumah Grey" jawabku.


"Hmm, ok nanti aku ke rumah Grey" seru Heafen pelan.


********


Besok, malamnya pada pukul 20:18 malam. Anak-anak geng motor Alaska berkumpul di depan markas mereka.


"Malam ini kita serang dia. Alaska" seru Heafen mengangkat tangannya.


"Alaska, huuuuu" seru semua anak-anak geng motor Alaska. Mereka kemudian naik ke motor mereka masing-masing.


Sementara itu, Rasya sedang membawa mobil miliknya, dari tadi ia melihat ada satu motor yang mengikuti dia dari belakang, tak lama kemudian geng motor Alaska datang mendahului mobil miliknya. Rasya menghentikan mobilnya secara mendadak untuk menghindari tabrakan.


Ciiiiiiiit..........!


"Ada urusan apa mereka sama Gua" batin Rasya.


"Keluar lo" seru anak-anak geng motor Alaska.


Rasya keluar dari mobil miliknya, Heafen turun dari motornya dan menghampiri Rasya. Mereka berhadap muka dan bertatap tegas.


"Ada urusan apa bocah kek kalian sama gua" seru Rasya.


"Gua mau peringatin lo, kalau Cara itu pacar gua, lo jangan berani deketin dia lagi" jelas Heafen tegas.


"Hnh," tersenyum, "setau gua Lista gak punya pacar" cetus Rasya.


"Hmh," tersenyum, "dia itu pacar gua, mending lo jauhin dia, atau gua kasih pelajaran sama lo" maki Heafen.


Anak geng Alaska memasang badan bersiap untuk menghajar Rasya. Rasya melirik sekelilingnya.


"Kalau gua gak mau, lo mau ngapain" ejek Rasya, kemudian tersenyum.


"Punya nyali juga lo" cela Heafen, ia berjalan mundur memberikan kode pada anggota geng motornya untuk menghajar Rasya.


Rasya mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk melawan. Perkelahian sengit terjadi, tetapi kekuatan Rasya seimbang saat melawan 11 anggota geng motor Alasaka.


Rasya berhasil memukul rata 11 orang anggota geng motor Alaska, akan tetapi dia juga sudah babak belur. Akhirnya Aaron yang tadinya duduk di motor yang bersamping dengam Heafen memajukan diri dan bersiap untuk melawan Rasya.


Mereka berdua sama-sama kuat, tapi Rasya sudah mulai kelelahan, ia sempat jatuh tersungkur dan di hajar habis-habisan oleh Aaron.


Kemudian Rasya bangkit dari jatuhnya dan memukul mundur Aaron, membuat Aaron tergeletak lemas karena terkena tendangan kuat dari Rasya.


Melihat itu, akhirnya Heafen beranjak turun dari motornya, ia sudah selesai melihat pertunjukan dari Rasya.


Kemudian Heafen langsung mengambil ancang-ancang untuk memberikan pukulan pertama di wajah Rasya. Rasya menghindar, akan tetapi ia tak menyadari bahwa tangan kanan Heafen hanya sebagai umpan banginya.


Heafen menendang Rasya, kemudian ia memukuli Rasya yang sudah terlihat lemas kehilangan sebagian kekuatannya akibat melawan 12 anggota geng Alaskan tadi.


Rasya kemudian bangkit dari jatuhnya, ia bersiap untuk melawan Heafen kembali. Sedangkan Heafen sudah bersiap dengan gaya tinju miliknya.


Heafen sudah menggeluti olahraga tinju semenjak ia berusia 12 tahun, selain itu dia juga jago dalam bela diri taekwondo, sehingga membuatnya memiliki teknik tendangan yang di gabungkan dengan tinju miliknya dapat membuat Heafen sulit untuk di kalahkan, apalagi Rasya sudah kelelahan akibat melawan 12 anggota geng motor Alaska.


Rasya tergeletak lemas, wajahnya babak belur, pelipis mata hingga bibirnya pecah sedang darah terus mengalir.


Kemudian setelah Heafen selesai menghajar Rasya, anggota Alaska tadi langsung mengeroyok Rasya.


Tak lama kemudian, Heafen menghentikan teman-temannya, ia berjalan menghampiri Rasya.


"Ingat baik-baik hari ini, kalau lo masih deketin Cara lagi, lo bakal terima akibatnya" ucap Heafen menepuk wajah Rasya.

__ADS_1


"Cabut bro" perintah Heafen pada teman-temannya.


Bersambung...


__ADS_2