Ilusi

Ilusi
BAB 7 (Part 1)


__ADS_3

...*Kebenaran di balik Trauma*...


Saat ini, di dalam rumah sakit. Greysie sedang duduk di kursi, dia malah melamun mengingat kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu, di mana aku sedang mabuk berat dan mengatakan suatu hal yang seharusnya tidak aku katakan.


"Omongan Cara waktu itu," menatap tanya, "apa semua itu bener?" gumam Greysie masih dengan tangan bersilang.


"Hm, aku harus cari tau soal ini, pasti omongan Cara waktu itu berhubungan sama traumanya sekarang, kemarin juga pas berantem sama aku, kok Cara aneh banget, ngomong soal dia benci sama pembunuh keluarganya, tapi dia juga sayang sama ayahnya, aku gak ngerti apa jangan-jangan ayahnya yang udah bunuh keluarganya sendiri?," tatapan serius, "terus Cara yang udah bunuh ayahnya sendiri?" batin Greysie, terus bertanya.


Greysie menatapku serius, dia berdiri dan menghela napas berat menandakan bahwa dia sedang diliputi perasaan cemas namun juga penasaran akan kebenaran mengenai diriku.


Greysie berjalan mendekati pintu, perlahan tangannya memutar gagang pintu, namun terhenti ketika ia mendengarku berteriak.


"Haaaah" teriak, napas pendek.


Napas pendek, namun cepat keluar dari mulutk. Aku terus melihat samping kiri kanan lalu depan, seperti sedang mencari sesuatu.


Gelisah, serta takut menyeliputi kulit menembus daging hingga tulang-tulangku.


Greysie menghampiriku, dia berusaha menyadarkan aku yang sedang dirundung perasaan gelisah serta ketakutan yang mendalam.


"Raaa" panggil Greysie, berjalan menghampiriku.


"Raa, hey Ra, sadar Raa, ini aku," memagang wajahku," ini aku Ra" ucap Greysie.


"Get the fuckk," menutup telinga, "out of my life!!" teriakku.


"Haah, Raaa," menatap cemas, "Raa, sadar Ra, hey Raa," memegang wajahku, "ini aku Ra, ini aku, hey, hey, ini aku Grey, ini aku, lihat aku, lihat aku" ucap Greysie.


"Grey..." lirihku, menatapnya. Aku duduk termenung.


"Kamu kenapa?" tanya Greysie dengan tatapan cemas.


"Ak..." ucapku, meneteskan air mata.


"Emf.." lirihku, tak bisa berkata-kata lagi.

__ADS_1


Kemudian, aku malah menangis terseduh-seduh, tangisku semakin menjadi, rasanya seakan aku seperti baru saja di terjang ombak yang amat besar.


Suaraku serak dan mengecil. Setiap tarikan napas dari mulutku tersentak, aku merasa seperti akan kehabisan napas. Di saat mereka memberiku tekanan berat, aku tak tau lagi harus berbuat apa pada diriku.


Saat yang sama dengan kesendirian malam sunyi hidupku, di mana terdengar semua suara di kepalaku sedangkan kedua tanganku berada di telingaku. Berharap berhenti mendengarkan suara-suara mengerikan, tapi air bening mengaliri pipiku, mewakili perasaan di mana kegelapan menjadi saksi bisu penderitaan yang aku alami.


Hatiku terus berteriak tolong, namun tak pernah terdengar oleh siapapun.


"Tolong," menatap Greysie, "aku!" teriak, batinku.


Greysie menatap pilu diriku, baru kali ini dia melihatku dengan keadaan menyedihkan seperti sedang terbelenggu dengan kuat. Namun, belenggu itu tak bisa di lepaskan, seakan semuanya menjadi bagian dariku yang tak bisa aku terima.


Greysie memeluk erat diriku seakan tak mau melepaskan aku dari pelukannya.


********


Besoknya. Rasya datang bersama seorang dokter. Itu adalah dokter yang merawat Ayah Greysie dan menjahit lukaku sebelumnya, pantas saja wajahnya tak asing.


"Hai, emm, Lista kamu udah mendingan?" tanya Rasya. Aku mengangguk, tersenyum padanya.


"Em, kenalin ini," melihat Aric, "temen aku namanya dr. Aric, em.. dia dokter ahli bedah di rumah sakit ini" jelas Rasya pada kami.


Dokter Aric kemudian berjabat tangan dengan Greysie untuk saling memperkenal diri masing-masing.


"Salam kenal," berjabat, "emm," tersenyum, " yaa, nama aku Aric" ujar dr. Aric.


"Salam kenal," balas senyum, "Aku Greysie" ucap Greysie.


"Salam kenal," berjabat denganku, "aku Aric" tutur dr. Aric.


"Cal," senyum tipis, "lista" lirihku, menjawab.


"Eh, jadi.. Aric mau ngecek keadaan kamu Lista" seru Rasya. Aku mengangguk tersenyum tipis.


Dokter Aric mulai memeriksa lukaku, lalu mengganti perbannya. Sesekali Rasya dan Aric saling melirik satu sama lain, lalu melihat kami.

__ADS_1


Ruangan nampak sunyi senyap seakan ada ketegangan di antara kami berdua. Greysie menyilangkan tangan, ia terus menatapku. Sedangkan Aric yang sedang mengganti perban di perutku merasa seperti berada di tengah perang dingin antara kami.


"Oky, em.. udah selesai," melihatku, "Callista sebaiknya jangan banyak bergerak dulu" seru dr. Aric melirik Rasya, sedangkan Rasya menatap bingung.


"Kapan saya boleh pulang dok?" tanyaku dengan mimik wajah ceria, memecah keheningan siang hari ini, aku terus tersenyum.


"Hm," tersenyum, "Callista, kamu harusnya lebih tau tentang kondisi kamu, luka kamu ini adalah luka tusukan yang gak di obatin dengan benar selama berhari-hari. Apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya, meskipun lukanya tidak dalam, tapi bisa aja mengancam nyawa kamu jika sampai luka kamu infeksi karena di biarkan begitu saja" jelas dr. Aric, mengomel.


"Hm ok, makasih dok" ucapku, tersenyum.


Greysie tersenyum, dia terlihat sangat senang melihatku di omeli oleh dokter seperti ini. Ia tak berhenti tersenyum sambil memandangi dokter Aric, aku melihatnya.


"Hm, rupanya gitu" batinku. Aku tersenyum, lalu memanggil Greysie dengan melambai padanya, dia menghampiriku


"Kamu suka sama tu dokter kan?" tanyaku, mengeraskan suara.


Greysie terkejut, ia refleks menengok Aric. Akhirnya mereka berdua saling tatap-menatap satu sama lain.


********


Sementara itu. Di sebuah apartemen, seorang pria berparas tampan dengan model potongan rambut korean medium undercut, terlihat sedang marah sambil melihat beberapa foto di telpon genggam miliknya, dia kemudian menelpon seseorang.


"Kapan ini?" tanya seorang lelaki berambut korean medium undercut.


"Sekitar tiga minggu-an yang lalu, Bro" jawab lelaki muda juga tampan dengan gaya rambut taper fade.


"Apa lu kenal sama cowok di sebelahnya?"


"Hm, gua gak kenal bro, tapi muka dia kelihatan bagus, sepertinya mantan lu suka sama dia" jawab pria berambut taper fade.


"Minggu depan gua bakal balik ke indo, lo kumpulin anak-anak" perintah lelaki berahang tegas.


"Siap bro" seru lelaki berwajah tegas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2