Ilusi

Ilusi
BAB 28 (Part 3)


__ADS_3

Satu tahun setelahnya. Kejadian di Bab I (Part 3). Saat itu Greysie kembali di pukuli oleh ayahnya hanya karena nilainya sedikit menurun.


Aku tentu saja sedang berada di rumahku, belum pernah aku melihat langsung saat Greysie di pukuli oleh Ayahnya.


Malamnya. Aku terus menelpon Greysie. Entah mengapa perasaanku sangat tidak enak.


"Grey, kok gak di angket sih" batinku.


Setelah itu, aku mengecek lokasi Greysie. Lokasi itu menunjukan bahwa dia sedang berada di rumahnya.


Perasaanku sangat tidak enak, jantungku terus memompa darahku sangat cepat. Aku kemudian memutuskan untuk pergi.


Di perjalanan aku menelpon telepon rumah Greysie.


"Halo" sapa Art.


"Halo, bi. Ini aku Cara. Greynya ada gak?" tanyaku.


"Em, neng Cara..," gemetar, "Tadi Neng Greysie pergi setelah di pukul Tuan. Kasian banget neng Greysie. Bibi khawatir neng kenapa-napa" jelas Art, menangis.


"Sial" batinku.


"Ckk! Bi, aku bakal cari Grey. Kalau dia pulang, hubungun aku" ujarku, langsung mengakhiri panggilan.


Setelah mendengar penjelasan dari Art, aku semakin merasa cemas dan takut. Aku tau pasti bahwa dia akan mencoba untuk bunuh diri lagi.


"Di mana? Dia di mana? Mikir Ra! Mikirr!" batinku.


"Aaahh, fuckk!!" teriakku, menghentikan motor.


"Di mana, di mana. Di manaaaa????" batinku.


Kemudian aku teringat perkataan Greysie beberapa hari yang lalu padaku.


"Ra, aku suka pemandangan saat malam di tempat ini" ujar Greysie, memperlihatkan sebuah bangunan padaku.


Aku mendekatkan wajahku padanya, menatap mata Greysie sampai masuk ke dalam pikirannya.


"Gak! Jangan!" ucapku, menjauh darinya.


"Apa sih, Ra? Aku kan cuman nunjukin foto doang. Gak ngapa-ngapain. Tempatnya kan emang bagus pas malem, apasihh" ujar Greysie, keheranan. Aku hanya diam, semakin duduk menjauh darinya.


"Ra" panggil Greysie.


Kemudian Greysie berdiri di hadapanku, lalu beridiri dengan lutut menghadapku. Ia mendongak untuk melihatku, sedangkan aku menunduk, namun tak mau melihatnya.


"Ra, aku udah janji sama kamu. Aku akan bantu kamu selesain semuanya" ujar Greysie, tersenyum melihatku.


Aku hanya diam, tak menjawabnya. Kemudian air mataku terjatuh. Sedari tadi aku hanya fokus melihat pergelangan tangan kanan Greysie.

__ADS_1


Greysie yang baru tersadar setelah aku meneteskan air mataku, langsung menutup pergelangan tangannya dengan tangan kirinya. Ia ingin menutup bekas-bekas sayatan itu dengan menarik-narik lengan panjang baju kemeja putihnya tsb.


Namun, aku menghentikan pergerakan tangan Greysie dan segera membuka seluruh lengan panjangnya itu. Setelah melihat semuanya, tentu saja aku langsung menangis kecil, dengan air mata yang menyucur deras.


Greysie lalu berdiri dan memelukku, sedang aku masih memegang tangan kanannya.


Selama ini Greysie selalu menggunakan baju lengan panjang, seperti kemeja, kaus, jaket dan lain halnya adalah karena ia tak ingin aku melihat bekas-bekas sayatan di tangan kanannya itu.


Jika aku tak sengaja melihatnya lagi, aku akan langsung menangis terseduh-seduh. Menurutku semuanya adalah salahku.


Setelah teringat hal itu, aku langsung menarik gas motorku dan pergi ke bangunan tsb.


Bebearapa saat kemudian, aku telah sampai. Greysie sedang berada di atap gedung 55 lantai. Aku melihatnya, wajah itu menggambarkan rasa sakit yang luar biasa tak bisa dijelaskan dengan kata, hanya hati yang tau betapa sakitnya hal itu.


Greysie ingin melompat dari atap gedung 55 lantai ini. Aku terus menatapnya, tetapi tak bisa berkata-kata, menangis pun tak bisa, tak bisa kupikirkan apapun, seketika aku membisu, yang aku lakukan hanyalah berjalan dengan sendirinya seakan kaki ini tahu harus melangkah ke arah mana.


Air matanya jatuh menetes. Setiap tetesan itu jatuh entah mengapa hatiku terasa amat sakit. Aku berjalan mendekatinya, menggenggam erat tangannya, mata sayu dan mulut ini terdiam dengan wajahku terus memandanginya. Jika dia ingin lompat dari gedung ini, aku akan mengikutinya.


"Kamu kenapa disini?!" tanya Greysie berlinang air mata. Aku diam tak menjawab.


"Jawab gakk!" bentak Gerysie. Aku terus diam menatap mata hingga pupilnya seakan aku masuk kedalam pikirannya.


"Hey.., loe dengerrr gak sihh?!," memegang pundakku, "heyy, jawabbb guaaaa!" teriak Greysie dengan tangisan meledak. Aku masih diam dan menatapnya.


"Jawaab..." ucap Greysie gemetar. Lalu aku memutar badanku, melihat keindahan kota dari atas gedung ini, memegang tangannya dan bersiap untuk melompat.


Saat aku ingin melompat bersamanya, dia menahanku, menarik kembali diriku, sehingga kami terjatuh kebawah (atap) gedung ini.


Greysie bangun dan berdiri di atasku sambil memegang kedua pundakku, wajah yang berlinang air mata itu seolah menjelaskan pertanyaan Kenapa?! serta amarah bercampur perasaan sakit yang mendalam.


"Kenapa..?! kenapa..?! kenapa loe disini?! loe ngapain disini?!" tanya Greysie marah padaku.


Sesekali dia memukulku, memegang kepalanya, dan berteriak tak jelas. Aku bisa melihat dari raut wajahnya yang nampak marah, tetapi dia tidak bisa melampiaskan amarahnya itu padaku.


"Aaaahhh, siaalll, siallllll, fuckkk, fuckk you, fuckk this world" teriak Greysie.


"I hate you so much" ucap Greysie menatapku dengan perasaan bersalah.


Aku bangun dan langsung memeluknya, kubisikan sesuatu di telingannya.


"I hate this world to"


Setelah itu, kami pulang ke rumahku. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 01:50 tengah malam. Dan aku sangat mengantuk, jadilah aku malah tertidur lebih dulu.


Sementara Greysie sedang mendengar sesuatu di laptopnya, itu adalah pembicaraan antara keluarga Milstone dan Walker.


Mereka telah membunuh orang lagi, yakni seorang wartawan yang telah menyelidiki mereka sejak dulu.


Wartawan itu, mendapatkan bukti tentang pembunuhan Angeline, adik Rasya. Wartawan itu melihat cctv, pada saat pembunuhan Angeline, supir pribadi Bryan sedang bersama dengan keluarganya di rumahnya.

__ADS_1


Wartawan itu mendapat sebuah rekaman dari sebuah kamera dashbor mobil yang terparkir semalaman di area dekat rumahnya.


Di Cctv terlihat supir pribadi Bryan masuk dari jam 19:00 malam sampai ia baru keluar besok pagi di jam 08:30 pagi. Hari itu Bryan, sengaja meliburkan supir pribadinya.


Sedangkan wartawan itu adalah anak dari supir pribadi Bryan yang terbilang masih baru.


Mengetahui hal itu, keluarga Walker dan Milstone terpaksa harus membunuh anak dari supir pribadi Bryan meskipun mereka sebelumnya sudah berjanji bahwa keluarga supir itu akan aman.


Setelah Greysie mengetahui hal itu, ia lalu pergi sendiri untuk meninggalkan jejak kami pada mayat wartawan tersebut.


Besoknya. Di rumahku. Pukul 10:30 pagi.


"Lo suka banget buat gua kesel, Grey. Gua udah bilang berkali-kali sama elo. Jaa ngann lakuin semuanya sendiri! Ngerti gak sih?! Hah?! Ngerti gak lo?!" ujarku, membentak.


"I'm sorry, Ra" ucap Greysie, meminta maaf dengan wajah cemberutnya.


"Ckk! Sorry-sorry. Gak! Males gue sama lo" ujarku, ingin pergi dari sana.


Melihatku marah padanya, Greysie berusaha untuk menghiburku dengan cara memutar musik In Hawai, membuat kamarku penuh dengan irama musik tersebut.


Kemudian, ia mengambil dua mic. Lalu menghalangi langkahku sebelum aku bisa keluar dari kamarku.


"Setelah semuanya selesai. Kita liburan ke luar negeri gimana? Kamu kelihatan capek banget, aku cuman ingin bantuin kamu buat cepetin selesaiin semuanya" jelas Greysie, memberikan mic sambil tersenyum padaku.


Greysie lalu menyanyi di lirik berikutnya sambil menarikku ke dapan tv.


"I'll be your baby, on a Sunday. Oh, why don't we get out of town? Call me your baby, catch the same wave. Oh, no, no, there's no slowin' down"


"You and I, I. Ridin' Harleys in Hawaii-i-i. I'm on the back, I'm holdin' tight, I. Want you to take me for a ri-ide, ride. When I hula-hula, hula. So good, you'll take me to the jeweler-jeweler, jeweler. There's pink and purple in the sky-y-y. We're ridin' Harleys in Hawaii-i-i"


"No, no. Uuuuu~"


Setelah itu, Greysie menoleh ke arahku. Ia mengkode agar aku juga bernyanyi di lirik berikutnya. Kemudian, aku tersenyum dan mulai bernyanyi.


"You and I... (you and I, I). Heyeaahh.... HaaaAaaaa~" (Ridin' Harleys in Hawaii-i-i. I'm on the back). "HooOoooo~" (I'm holdin' tight, I. Want you to take me for a ri-ide, ride). "HooOooww~"


"When I hula-hula, hulaa. So good, you'll take me to the jeweler-jeweleraaaa~" (jeweler. There's pink and).


"Purple in the sky-y-y... iii... yeiaaAaaah~ (We're ridin' Harleys in Hawaii-i-i).


"HuuUuuuu. HuuuUuuu...."


Greysie juga terus menyanyi menyambung lirik lagu di dalam kurung tsb.


********


"Bukan saya yang sudah membunuh adik pak Rasya. Mereka juga sudah membunuh anak perempuan saya. Tolong bantu saya, Pak. Hari itu pak Bryan meliburkan saya, dan pak Bryan yang membawa mobil itu. Mereka mengancam akan membunuh anak-anak dan istri saya jika saya tidak menuruti perkataan mereka, Tapi... Mereka malah membunuh anak saya sekarang" ujar Supir Bryan, memohon sambil menangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2