Ilusi

Ilusi
BAB 20 (Part 2)


__ADS_3

(Plot Kejadian bab IV-V).


Waktu menunjukan pukul 02:19 tengah malam. Greysie memarkirkan mobil miliknya di garasi rumahku, ia membuka pintu lalu masuk.


Greysie mencariku namun aku tak ada di dalam kamar, sehingga ia memilih untuk pergi mencariku keluar.


Satu jam sebelumnya. Aku mencabut pisau yang tertancap di bagian perut sebelah kiriku.


"Hmfz, jha.. ang- an, ping- saan, Ra" ucapku, lirih.


Mataku sesekali terpejam, sedangkan suara napas terengah terdengar sebelum aku telah benar-benar pingsan.


Satu jam kemudian. Alam bawah sadarku berteriak keras padaku. Ia ingin aku segera bangun.


Banguuuuuun......!


Seketika mataku terbuka lebar, sedang aku menarik napas panjang, kemudian terbangun duduk dengan napas terengah sambil memegang perut, sementara darahku juga sudah memenuhi lantai di dalam kamar mandi ruangan tsb.


"Haaaa, huh, huh, uhuk, uhuk..," napas lemah,


Aku membuka kotak pk3 dengan tangan yang masih gemetar. Terdapat botol kecil yang berisikan cairan putih di dalamnya, lalu aku mulai menuangkan cairan obat tsb pada lukaku.


"Arghh, haaa," menarik napas.


Setelah selesai mengobati lukaku sendiri, aku lalu membersihkan darah yang terkena tangan serta sekujur tubuhku.


Kemudian dengan badan yang masih belum seimbang, aku membersihkan semua darahku yang menetes di lantai rumahku saat aku berjalan masuk ke dalam rumahku sebelumnya. Namun, aku lupa membersihkan darah yang ada di dekat pintu ruangan rahasia rumahku. Itu karena kepalaku juga masih sangat pusing.


Setelah selesai membersihkan noda darah di lantai rumahku, aku kemudian berjalan pelan ke arah kamarku sambil menopang diriku dengan dinding. Setelah sampai di dalam kamar, aku duduk di tempat tidur sedang tanganku gemetar memegang dua butir obat antibiotik. Lalu aku segera meminumnya bersama dengan air putih.


Setelah meminum obat tersebut, aku langsung kehilangan kesadaranku lagi. Bukan karena aku meminum obat tidur, tapi karena kepalaku menjadi semakin pusing. Artinya pingsan setelah meminum obat tersebut.


Beberapa jam kemudian. Waktu menunjukan pukul 04:50 pagi. Greysie baru sampai setelah lama mencariku dengan hasil nihil. Ia lalu masuk ke dalam rumahku sampai ke dalam kamar.


Greysie memutar gagang pintu, ia melihatku sudah tertidur pulas dengan posisi tak teratur, lalu ia segera menghampiriku. Ia berdiri tepat di depanku sambil bersilang tangan saat menatapku tidur. Mata Greysie melirik aku dari atas sampai bawah, ia juga melirik gelas yang pecah di lantai.


Keningnya mengkerut, sedang tangannya langsung menepuk pipiku.


"Raa?" ucap Greysie, menepuk pipi. Namun tak ada jawaban dariku.

__ADS_1


"Kok dingin banget badan Cara" batin Greysie, sedang jantungnya mulai memompa darahnya dengan sangat cepat.


"Raa?" ucap Greysie sekali lagi sambil meremas pipiku agar aku bangun.


"Hmmf," suara napasku menyauti panggilannya.


Hal itu membuat Greysie bernapas lega sambil kepalanya menunduk.


"Kamu sakit, Ra?" tanya Greysie, cemas.


Kemudian, aku mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk bersikap sok kuat. Lalu aku bangun dan langsung berdiri. Sedangkan Greysie hanya bisa melihatku.


Setelah berdiri, aku malah diam. Sedangkan Greysie menatap heran. Aku diam karena kepalaku sangat pusing, lalu Greysie segera berdiri di hadapanku, ia melihat aku sedang menutup mata.


"Ra, are you okay?" tanya Greysie, memegang kedua pundakku dengan tatapan cemas. Sontak mataku terbuka.


"Ng, gak" jawabku, lirih.


"Muka kamu pucet banget, Ra" ucap Greysie, sementara tanganku bergerak refleks memegang kepalaku.


Rasanya seperti aku akan pingsan saat itu juga, namun otakku memaksa badanku untuk tetep berdiri tegak.


Greysie membuka kotak obat dan memberiku obat sakit kepala. Sedangkan aku langsung meminumnya agar ia tak curiga.


"Mending kamu tidur lagi, Ra. Maaf aku bangunin kamu tadi" ucap Greysie, menyuruhku tidur.


Kemudian aku kembali berbaring. Sedangkan Greysie pergi mengambil baskom berukuran sedang yang berisikan air hangat. Ia merasa bingung kenapa seluruh tubuhku sangat dingin. Lalu Greysie segera menyelimuti tubuhku dengan selimut dan menaruh kain dengan perasasan air hangat tsb pada kening hingga leherku. Greysie juga mengusap-usap tanganku agar lebih hangat.


Tak lama kemudian, Greysie tertidur dengan posisi duduk, sedangkan tanganya masih memegang tanganku.


Beberapa jam kemudian. Waktu sudah menunjukan pukul 06:50 pagi. Perlahan mataku terbuka, di mana aku langsung melihat wajah Greysie yang sedang tertidur. Lalu aku bangun dari baringku dengan perlahan agar tak membangunkan dirinya.


Aku juga memakaikan selimutku padanya dan segera pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku langsung meminum obat antibiotik sebanyak 3 butir tanpa makan terlebih dahulu. Untung saja aku juga tidak overdosis karena meminumnya.


Beberapa saat kemudian, aku keluar dari dalam kamar mandi. Kepalaku juga tak sepusing semalam namun badanku masih terasa sangat lemas. Saat sedang berjalan keluar tiba-tiba aku melihat lantai seperti bergoyang yang di mana membuat keseimbangan tubuhku menghilang.


Hal itu membuat aku hampir saja terjatuh jika Greysie tak segera menahan tubuhku.


"Raa" ucap Greysie memegang kedua lengan atas tanganku.

__ADS_1


"Kamu gak pp? Kita ke rumah sakit gimana?" tanya Greysie dengan wajah cemasnya.


"Kamu gak usah sekolah hari ini. Biar aku anterin ke rumah sakit, kita harus ngecek keadaan kamu" ujar Greysie mengantarkan aku ke tempat tidur.


Di tempat tidur, aku duduk sambil memegang kepala dengan kedua tanganku. Sedangkan Greysie juga mengikutiku duduk sambil terus melihatku.


"Ra, kamu gak pp?" tanya Greysie, mengintip wajahku yang sedang menunduk tsb.


"Aku gak papa" ucapku, langsung beridiri.


Seketika tenagaku terasa seperti terisi kembali, meskipun tak sepenuhnya.


"Raa. Kamu.." ujar Greysie tak selasai.


Aku langsung berjalan ke arah lemari pakaianku dan segera memakai seragam sekolah milikku. Sedangkan Greysie hanya menatapku, ia tak bisa memaksaku jika sudah seperti itu.


Tak lama kemudian, Greysie segera mandi. Beberapa saat kemudian ia telah selesai mandi. Kami pun berangkat ke sekolah.


Tiba di sekolah, kami belajar seperti biasanya. Beberapa jam kemudian, bell istirahat berbunyi. Kami pun pergi ke kantin untuk makan.


"Ra, kok kamu pucet banget?" tanya Greysie dengan mimik wajah cemas.


"Hah? Em, aku demam semalam" jawabku.


"Demam? demam apanya, orang badan dia semaleman dingin semua. Kalau demam pasti anget, tapi semalam malah dingin" batin Greysie. Sedangkan keningnya mengkerut.


"Kok gak bilang? sekarang kamu gimana, masih sakit gak?" tanya Greysie, memeriksa kening hingga leherku.


"Dingin banget, ni anak lagi bohong sama gua. Lebih baik gua ikutin aja dulu" batin Greysie.


"Dingin banget badan kamu, Ra" ujar Greysie sambil mengelap keringatku yang mengalir.


"Semalam kamu kemana, Ra. Aku nyariin kamu," mengerytkan kening," heyy, kamu lihatin apaan sih. Aku dari tadi ngomong malah di kacangin" tegur Greysie dengan nada kesal.


"Fans kamu banyak banget" ujarku, meledeknya.


Selanjutnya, alur cerita sama seperti di bab sebelumnya.


Flashback Off.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2