
Kesempurnaan adalah hal yang mustahil bagi manusia. Mencari kesempurnaan di dalam diri manusia, sama halnya seperti mencari setetes air tawar, jatuh ke dalam air laut.
Mereka akan menyatu, seperti halnya manusia yang pada dasarnya baik, mereka juga bisa menjadi sangat jahat. Kedua sifat itu menyatu di dalam diri manusia. Itulah yang di namakan sifat dasar manusia. Tak ada manusia yang benar-benar baik, dan tak ada manusia yang benar-benar jahat.
Kata sempurna, hanyalah ilusi yang di ciptakan oleh pikiran manusia untuk menghibur diri mereka. Pada dasarnya tak ada manusia yang sempurna.
Normalnya, seorang manusia akan berkata, aku tahu, padahal nyatanya mereka tidak mengetahui apa-apa. Setiap manusia yang hidup, mereka butuh cinta dan kasih sayang. Jika hal itu tak mereka dapatkan, maka perkataan cinta dan sayang tak ada artinya di mata mereka. Manusia tak akan mengerti, karena mereka tidak mengetahui, tidak merasakan dan tidak memahami.
Memaknai sebuah kata, artinya memahami pemikiran dan merasakan kehidupan yang sama. Tak ada manusia yang bisa mengerti manusia lain, bahkan diri mereka sendiri.
********
Setelah mendengar penjelasan dari Aric. Greysie juga ikut termenung, ia terbayang saat dimana kami membuat janji bersama.
Sementara itu. Di dalam sebuah apartement. Heafen sedang berbicara dengan Aaron.
"Bro, gua boleh nanya gak? dari dulu gua penasaran, kenapa si Rendi bisa benci banget sama lo, bro" ujar Aaron, bertanya.
"Fuuuh, ck" ucap Heafen menghela napas berat. Aaron sedikit takut karenanya.
"Dia itu kesel sama gua, karena gara-gara gua dia putus sama ceweknya" ucap Heafen, lalu mengingat kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu.
Flashback saat itu, Aku dan Greysie masih duduk di bangku kelas 1 Sma. Itu adalah hari pertama kami masuk sekolah.
Rendi dan Heafen adalah senior kami. Mereka siswa kelas 2 Sma. Hari pertama kami masuk sekolah mereka sudah jatuh hati pada kami. Rendi menyukai Greysie, sedang Heafen menyukaiku. Mereka berusaha mendekati kami berdua, namun kami adalah tipe cewek yang sulit untuk di dekati.
Saat itu, di parkiran. Rendi sedang berbicara pada teman-teman geng motornya. Ia terus melirik Greysie. Kami sedang berbicara, keceriaan masih terpancar jelas di wajah kami. Waktu itu, 6 bulan sebelum aku mengetahui tentang ide ayahku yang telah di curi.
Heafen masih bergabung dengan geng motor Gotreasure sebagai wakil ketua.
"Mereka berdua cantik banget" puji Excel, bertumpang dagu.
"Hm, yaa.. bener, apalagi si Greysie" sambung Nevan, terus menatap Greysie.
"Kalau gua sih lebih suka sama, Callista" sela Geno, ia terus melihatku yang sedang tertawa.
"Kalau gua dapetin si Greysie, kalian berani taruhan berapa" ucap Rendi, mengkode teman-temannya.
"Waduhh, ternyata lo udah ngincer juga" ujar Aldo, ia sedikit mengejek. Mereka tertawa bersama.
"Gua 5 juta" kata Alvan.
"Gua juga" sambung Excel.
"Gua 10" lanjut Geno, membuat teman-temannya bersorak meriah.
"Gua sama juga 10" ujar Nevan dan Aldo bersamaan.
Sedangkan siswa lain selain Heafen, mereka memberikan jawaban yang sama dengan Alvan.
"Lo gimana, bro?" tanya Rendi. Heafen hanya menggeleng, ia tak henti melihatku. Mereka malah tersenyum sambil meledek Heafen.
__ADS_1
"Lo suka yang mana, bro? biar gua bantu" ledek Aldo, mengkode teman-temannya. Namun Heafen tak menjawab pertanyaan temannya.
Kemudian, setelah sebulan lebih Heafen berusaha untuk mendekatiku, aku mulai membuka hati untuknya. Bagaimana tidak, aku tak pernah bertemu seseorang yang sepertinya. Dia sangat lembut saat berbicara denganku, ia juga sangat perhatian dengan hal-hal kecil.
Romantis tak terlalu di butuhkan, aku hanya ingin seseorang yang setia, namun menurutku yang paling di butuhkan dalam sebuah hubungan adalah rasa nyaman. Sedangkan Heafen memenuhi semua kriteria. Aku juga merasa sangat nyaman saat bersama dengannya.
Saat itu, di pantai. Heafen memintaku untuk berpacaran dengannya. Ia mengetahui semua tentang kesukaanku meskipun ia belum lama mengenalku. Aku adalah tipe orang yang sering merasa tak enak, jadi aku menerimanya. Tapi bukan berarti aku tak menyukai dirinya. Aku menyukainya, namun aku belum merasakan sesuatu seperti yang namanya cinta/sayang. Karena sebelumnya aku belum pernah berpacaran, jadi aku masih bingung dengan perasaan seperti itu.
Heafen menjadi pacar pertama, sekaligus mantan terakhirku. Setelah putus dengannya, aku tak pernah lagi membuka hati untuk siapapun. Selain karena aku masih sayang dengannya, aku juga terlalu sibuk dengan urusanku.
Sementara Rendi, dia harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan Greysie. Padahal Greysie adalah tipe orang yang mudah suka pada seseorang. Tetapi Greysie lebih suka bermain, sehingga membuat orang lain sulit untuk membuat komitmen hubungan yang serius dengannya.
Seseorang dengan kepribadian yang sama seperti Greysie. Menurut mereka komitmen adalah segalanya, membuat mereka harus mencari seseorang yang benar-benar cocok untuk berkomitmen/berhububungan dengan mereka.
Selama 3 bulan pendekatan. Greysie akhirnya menerima Rendi untuk menjadi pacarnya, dia sudah merasa sangat cocok untuk berkomiten.
Enam bulan kemudian. Aku telah mengetahui kebenaran di balik hancurnya bisinis ayahku, di mana membuat aku sampai kehilangan kendali, karena mengingat malam mencekam yang merenggut segalanya dariku.
Saat itu, dua hari berlalu. Setelah aku mengetahui semuanya. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Heafen. Hari itu, aku sengaja untuk menghabiskan sehari waktuku dengannya.
Saat malam tiba, di restoran. Aku memulai pembicaran dengan pelan, karena tak ingin menyakiti perasaannya.
"Heafen, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucapku.
"Hm? iya, kamu mau ngomong apa?" tanya Heafen.
"Aku.. aku mau... em, sebelumnya aku mau.. kamu tau, kalau kamu adalah orang yang spesial bagi aku, kamu adalah orang yang udah buat aku bahagia, aku gak pernah sebelumnya ngerasa sebahagia ini, kamu bener-bener udah ngisi hati aku yang kosong dengan perhatian dan kasih sayang kamu. Sebelumnya hidup aku kerasa hampa banget, kek gak ada apapun, tapi kamu buat aku ngerasa pantas untuk ada di dunia ini. Aku mau berterima kasih sama kamu karena udah buat aku bahagia selama beberapa bulan terakhir ini. Aku.. fuuuh, aku..." ucapku, Heafen tersenyum, namun ia serius mendengar omonganku.
"Apa?!" ucap Heafen, terkejut.
"Maafin aku" pintaku, memohon maaf. Lalu aku langsung pergi meninggalkan dirinya.
Sementara, Heafen langsung mengejarku. Ia terus memanggil, namun aku mengabaikan dirinya.
"Raaaa" teriak Heafen. Ia mengejarku dan langsung memegang erat tanganku. Namun aku melepaskan tangannya, dan segera menaiki taksi.
"Raa, Ra tunggu, Raa" teriak Heafen, melihat mobil taksi berjalan menjauh darinya.
Selama barhari-hari, aku tak muncul ke sekolah. Greysie juga tidak tau tentang keberadaanku. Aku memutus kontak dengan semua orang.
Satu minggu berlalu. Mereka tak tau keberadaanku, rumahku kosong. Greysie sangat khawatir, karena aku memang tak berbicara dengannya setelah aku mabuk berat malam itu.
Sampai saat, aku menghilang setelah memutuskan Heafen. Greysie makin diliputi perasaan takut. Saat itu dia belum mengerti. Greysie hanya tau kalau aku sedang marah akan sesuatu, sampai membanting barang di dalam kamarku, tetapi dia tidak tahu alasannya kenapa.
Greysie meminta bantuan Hendry untuk mencari tahu keberadaanku. Sedangkan Hendry mengerahkan semua orang suruhannya untuk mencariku, tentu saja mereka menemukanku.
Apalagi mereka semua adalah orang-orang yang berpengalaman, bekerja dengan seseorang dengan status tinggi, siapa lagi kalau bukan Ayah Greysie.
Saat itu, aku sedang berada di kota surabaya. Sedangkan Greysie berada di jakarta. Aku selalu berpindah-pindah tempat, makanya mereka merasa sulit untuk menemukanku sampai memakan waktu seminggu lebih.
Setelah mereka menemukanku, Greysie langsung pergi menemuiku. Saat itulah, kami membuat janji bersama. Ia tak ingin aku sendiri, aku juga tak bisa menolaknya, karena ia terus mengancam ingin bundir.
__ADS_1
Sementara itu, Haefen dan Rendi malah terlibat dalam perang dingin. Heafen menjadi sensitif saat putus denganku, membuat ia sering berkelahi dengan Rendi.
Sebelumnya, hubungan mereka memang sudah kurang baik, karena sering berbeda pendapat. Heafen sering tak menuruti perintah Rendi, membuat Rendi terkadang marah dengannya.
Saat Heafen sedang berpacaran denganku, mereka lagi-lagi terlibat dalam perang dingin. Aku dan Greysie berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, namun tetap saja bakal balik lagi seperti semula. Sepertinya mereka memang tidak cocok untuk berteman.
Kemudian, setelah mereka berkelahi. Heafen memutuskan untuk pindah sekolah, karena ia tak mau melihat wajah Rendi. Mulai saat itulah mereka menjadi musuh.
Di sekolah baru, Heafen membentuk geng motor sendiri yang ia beri nama Alaska. Ia dekat dengan siswa bernama Aaron, mereka berteman baik.
Sampai saat 11 orang bergabung dengan mereka, membuat mereka makin terkenal, menyaingi Gotresure.
Mereka sering tawuran. Aku membaca berita, berniat untuk menelpon Haefen, namun aku mengurungkan niatku. Karena aku tidak ingin menjadi lemah, karenanya.
Setelah dua tahun kemudian. Rendi mengajak Greysie makan di sebuah restoran. Rendi tak menyadari kalau di restoran itu ternyata ada Heafen yang sedang makan bersama salah satu teman cewek di sekolahnya dulu. Namanya adalah Rachel.
Heafen menyadari keberadan Rendi. Ia kemudian bergegas pergi, karena malas melihat wajah Rendi.
"Rachel, kita pergi ke tempat lain aja" ajak Heafen, segara menarik tangan Rachel. Namun Rendi tak sengaja melihatnya.
Rendi sudah lama menunggu kedatangan Heafen. Heafen selama ini berada di Amerika, karena berkuliah di sana. Melihat Heafen keluar, membuat Rendi ingin mengejarnya.
"Grey, aku ke depan bentar, gak lama, kamu tunggu di sini aja" ucap Rendi, segera pergi mengejar Heafen.
Greysie mengrytkan kening, menatap Rendi yang berjalan keluar. Namun Greysie juga tak sengaja melihat Heafen, meskipun hanya sekilas. Sehingga membuat Greysie mengikuti Rendi, ia tak ingin mereka berkelahi lagi.
"Woy! sampai juga lo, urusan kita belum selesai" ujar Rendi, memanggil Heafen.
Langkah kaki Heafen terhenti, karena mendengar Rendi berteriak padanya. Sedangkan Rachel ketakutan.
"Enak aja lo pergi setelah ngancurin markas gua, dasar banci!" maki Rendi.
"Hah? lo kali yang banci, berapa banyak duit taruhan yang lo dapet buat dapetin cewek lo, eloo yang banci!" cela Heafen.
Greysia tak sengaja mendengar ucapan Heafen pada Rendi. Ia terlihat sangat marah, sedangkan Heafen melirik Rendi, seperti mengejek.
"Apa?! kamu buat aku jadi taruhan?!" tanya Greysie, sangat marah.
"Engga.. Grey" ucap Rendi, memegang tangan Greysie, namun Greysie menepis tangannya.
Greysie sangat marah, ia lalu pergi meninggalkan Rendi. Bagi seseorang yang memiliki karakter sama seperti Greysie. Mereka akan langsung memutuskan suatu hubungan jika pasangannya berbuat salah, tak ada kata maaf. Mereka tak akan mentolelir suatu kesalahan.
Rendi mengejar Greysie. Sedangkan Heafen, tersenyum. Menurutnya Greysie terlalu baik untuk Rendi. Dia bersyukur jika mereka akan putus.
"Grey, Grey, tunggu dulu Grey, aku bisa jelasin" ucap Rendi, menahan tangan Greysie.
"Don't touch me! gua mau putus! you fu*king ash*ole, Rend!" cela Greysie pada Rendi.
"Grey dengerin aku dulu, aku bisa jelasin" pinta Rendi, memohon.
"Stop! our relationship is over, nn- ow! you ash*ole, fu*cking, bit*h! lo pikir gua cewek apaan?!" maki Greysie.
__ADS_1
Bersambung...