
Di dalam mobil. Angeline terus saja teringat akan tatapan dingin Greysie.
Ciiiiiitttt.........!
Angeline menghentikan mobilnya secera mendadak.
"Fuckk! Gue ke inget terus. Anj*ng!" batin Angeline.
"Aaaarghh. Sadar, hey sadar. Masa lo takut sih, dia itu manusia. Selama ini lo gak pernah takut sama apapun, masa sekarang di tatap gitu doang udah takut sihh" ucap Angeline pada dirinya sendiri.
"Tapi.. tatapan matanya itu.. bener-bener penuh dengan nafsu untuk membunuh, apa dia udah pernah bunuh orang?" batin Angeline.
"Ekspresinya juga manipulatif banget, dia suka main-main. Apa mempermainkan orang lain itu kebiasaan dia? Siapa yang sering dia permainkan? Gue yakin kalau itu bukan si Cara, secara pas dia natap si Cara, tatapan matanya kek jadi beda. Tatapan mata dia yang sebelumnya dingin dan penuh nafsu membunuh seketika berubah jadi tatapan sedih, prihatin dan rasa sayang yang over banget sama si Cara" Angeline terus membatin sendiri.
"Aaargghh. Gua ngapain mikirin mereka berdua sihh" gumam Angeline, meggelengkan kepalanya.
"Gua harus fokus cari tau siapa pembunuh Vyora. Gua yakin kalau itu perbuatan keluarga Cassie. Kalau sampai bener, gua harus balas dendam sama mereka. Vyora udah gak ada, kalau memang gua gak bisa masuk tentara lagi. Itu udah resiko gua kerena milih buat bales dendam" batin Angeline.
Angeline kemudian menjalankan mobilnya kembali. Ia pun pulang ke rumahnya.
Selama berhari-hari, Rasya selalu jarang pulang untuk mengumpulkan bukti terkait kejahatan keluarga Milstone dan Walker.
Namun Rasya terus saja di buat bingung dengan jejak-jejak yang di tinggalkan pembunuhan berantai pada korban keluraga Milstone dan Walker.
Selama berhari-hari itu. Angeline juga terus mencari tau tentang keluarga Milstone dan Bryan. Dia yakin mereka yang berada di ruangan malam itulah yang telah membunuh Vyora.
Sabtu, pada jam 20:03 malam. Aku pergi ke hutan di mana mayat Vyora di buang.
Hal itu karena aku terus saja teringat dirinya, aku merasa bersalah atas perbuatan Greysie padanya. Untung saja Greysie sedang tertidur, jadi aku pergi ke sana untuk meminta maaf padanya.
Vyora terus saja datang ke dalam mimpiku di tempat di mana mayatnya di temukan, dan aku menjadi semakin overthingking dan merasa bersalah padanya.
Sementara itu, Angeline juga sudah tau tentang pembunuhan berantai yang meninggalkan jejak di tubuh Vyora.
Saat ini pemikiran Rasya dan Angeline nampak sama. Mereka menduga bahwa pembunuh berantai yang sebenarnya adalah keluarga Milstone dan Walker.
Akan tetapi meskipun Angeline berpikir bahwa keluarga Milstone dan Walker adalah pembunuh Vyora, Sahanatnya. Angeline juga menemukan keterkaitan antara pembunuhan berantai dengan keluargaku.
Saat sedang memeriksa latar belakang keluarga Milstone dan Walker, Angeline menemukan sesuatu yang janggal. Yaitu keluargaku mati saat menolak bekerja sama dengan mereka.
Dan tak lama dari itu juga terjadi pembunuhan berantai, dan korban-korban keluarga Milstone dan Walker selalu di kaitkan dengan kasus pembunuhan berantai.
Padahal sebelum keluargaku meninggal, tak pernah di temukan hal seperti itu di tubuh korban-korban keluarga Walker/Misltone.
Mendapatkan analisa seperti, tentu saja Angeline telah mencurigai kami. Apalagi ia sempat bertatap mata dengan kami sebelumya.
Berhari-hari sebelumnya Angeline terus saja diam. Sedangkan Rasya merasa cemas dengan adiknya itu.
Saat ini. Angeline berencana untuk mengecek lokasi tempat mayat Vyora ditemukan sebelumnya.
__ADS_1
Angeline ingin mencari bukti, atau mungkin pembunuhnya akan menampakan diri, pemikiran itu bukan hanya asal-asalan belaka. Karena di hutan tersebut sudah banyak di temukan mayat dari korban pembunuhan berantai.
********
Angeline hampir tiba di sekitaran hutan tersebut, namun ia sengaja memarkirkan mobilnya berada sedikit dari hutan.
Setelah itu, Angeline memilih untuk berjalan kaki, namun di saat sedanh berjalan, ujung mata Angeline menangkap sesuatu, ia pun mengeceknya, dan itu adalah motor milikku.
Melihat motor, Angeline segera masuk ke dalam hutan dengan mengendap-endap, lalu mengintip dari salah satu pohon di sana.
Angeline melihat seorang wanita dengan tinggi yang sama sepertinya sedang menatap tanah di mana mayat Vyora di temukan sebelumnya.
Itu adalah aku, aku sedang menggunakan jubah hitam, namun tudung kepalaku tidak terpasang sehingga membuat rambutku kelihatan.
Saat itu juga cahaya bulan sangat terang sehingga dapat menyinari hutan tersebut.
"Vi... Aku janji bakalan bales dendam kamu. Aku bakalan bales keluarga Milstone dan Walker. Mereka akan terima akibatnya, aku akan bunuh mereka semua" ucapku.
"Cara? Dia Cara kan?" batin Angeline, sedang matanya membulat.
Sementara itu, aku tentu saja sudah menyadari keberadaan Angeline dan satu orang di belakangnya.
Aku mengambil handphone dari kantung jubahku, lalu segera menelpon Greysie.
Di belakang Angeline, Greysie sudah berada di sana. Tangannya sudah berada di atas, dia akan membunuh Angeline saat ini.
Suara telpon Greysie berbunyi.
Tak berselang lama mereka terlibat dalam perkelahian. Angeline dengan tangan kosong terlihat kualahan saat melawan Greysie.
Saat ini, posisi Greysie sedang menindih tubuh Angeline. Pisau di tangan kanan Greysie hampir menusuk lehernya. Sedangkan Angeline sekuat tenaga menahan hal itu.
Aku juga segera berlari menghampiri mereka. Namun sialnya, aku malah sempat terjatuh karena kakiku terkait akar pohon.
Sial, kakiku terikat akar pohon. Aku berusaha keras untuk melepas akar itu dan memotongnya dengan pisau milikku.
Setelah berhasil melepas ikatan itu, aku segera berlari. Hampir saja leher Angeline tertusuk, untung saja aku bisa menahan pergerakan tangan Greysie tepat waktu.
"Lepasinnn, Raa!" bentak Greysie.
"Gak Grey, gak. Kita gak boleh bunuh dia" ujarku, melarang dan menahan tangan Greysie sekuat tenaga.
Saat ini tangan kiri Greysie sedang mencekik kuat leher Angeline.
"Dia tau tentang kita, Ra! Dia harus mati, atau lo mau rahasia kita terungkap, hah?!" tanya Greysie membentak.
"Huukk, uhuk, uhuk," Angeline terbatuk-batuk dan bernapas lemah sambil memegang lehernya.
Sementara itu, aku terus menahan tangan kanan Greysie, aku juga berusaha melepas tangan kiri Greysie yang mencekik Angeline.
__ADS_1
"L, lo. Ha, rus. Per, gihh. Gue t, au. Lo udah, tau yang sebenarnya, tentang. Eghh, tentang kita. Tapi bukan kita yang, ughh.. Yang udah bunuh Vyora. Grey pliss, eghhh. Keluarga Milstone yang udah bunuh dia. L, o dengerin ini" jelasku, tersentak karena berusaha menahan Greysie.
Aku memutar rekaman suara dari rumah Cassie sebelumnya dan membiarkan Angeline untuk mendengarnya.
(Rekaman Suara).
"Mah, dia udah mati?"
"Hm, udah di buang mayatnya"
"Hn, hahahaha. Babe aku seneng banget"
"Udah gak cemeberut lagi, em?"
"Mm, gak.. Hihi aku seneng banget"
"Bryan. Gimana posisi baru kamu sebagai CEO di perusahaan papa kamu? Apa semuanya lancar?"
"Emm, lumayan sih om. Tapi aku mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Karena sebelunya aku udah siap kalau harus mimpin perusahaan papa suatu saat"
"Hmm, bagus, bagus. Itu baru menantu saya. Hahahaha"
"Maaf mengganggu tuan. Saya ingin memberitahukan kalau di luar sedang ada tamu. Namanya Rasya, dia bersama adiknya"
"Rasya?"
"Biarkan mereka masuk"
"Kalian tau Angeline adik Rasya kan?"
"Iya aku tau. Kita sekelas pas Sd, tapi aku gak temenan sama dia"
"Jadi Angeline itu punya temen, namanya Vyora. mereka ketemu pas Smp. Vyora itu anak dari Hermansyah, pemilik usaha nikel. Mamanya juga yang punya bisisnis butik terkenal itu. Orang tua Vyora cerai, terus Vyora di tinggalin sendiri. Mama Papanya nikah lagi dan punya anak. Singkatnya Vyora di ajak sama Angeline untuk masuk ke sekolah Akademi Militer, jadi bisa di bilang hubungan mereka dekat. Orang yang udah buat mood kamu hilang itu namanya Vyora, temen Angeline"
Permisi tuan"
"Ooh, Rasya.. Gimana kabar kamu. Silahkan duduk. Silahkan"
Saat ini, rekam suara itu telah terhenti. Namun Greysie masih saja berusaha untuk membunuh Angeline saat ini.
"Lo bener. Gu, a. Pe- ngen bales dendam ke- mereka. Mereka penyebab semua keluarga, gue matt- ii. Greys pliss sto- pp. Eghhh. Gr- rrey" jelasku.
"Semua dugaan lo bener dan gue gak pengen bun- nuh elo, Lo temen Vyora, dan gua g- akk bisa lakuin hal itu. Gue percaya sama elo, elo gak akan bocorin rahasia kit- taa. Gue harrus bales dendam Vyora. Cuman gua yang bisa lakuin hal itu, lo gak perlu han- currin masa depan elo" ujarku.
Sementara aku mulai memegang tangan kiri Greysie. Sedangkan tangan kananya juga sudah berada dalam penguncian tanganku.
Aku sedang dalam posisi seperti sedang memeluk Greysie dari belakang. Kami juga dalam posisi duduk di tanah, sedang kakiku mengunci kaki dan seluruh tubuh Greysie.
"Pliss, lo lari sekarang. Cepaatttt! Agggghhh" ujarku, lalu berteriak menahan Greysie sekuat tenaga.
__ADS_1
"Tungguuuu! Lo jangan lari, lo harus matiiii!! Harusss matiiiii!!! Lepas! Lepasiinnnn guaaaa!" teriak Greysie.
Bersambung...