Ilusi

Ilusi
BAB 6 (Part 3)


__ADS_3

...**Bayangan Hitam**...


Di dalam rumahku. Ibu dan adik aku telah meninggal, meninggalkan aku sendiri.


Darah mereka mengaliri lantai rumahku, membuatku terdiam membisu. Malam sunyi ini begitu berisik, aku merasa kosong.


"It feels so empty, I feel nothing, like i'm lost"


"Bunda.., Tiya.., apa mereka udah meninggal?" batinku, bertanya.


Tak lama setelah aku mematung, terdiam membisu. Badanku terasa bergerak sendiri, kakiku perlahan melangkah. Sisi lain dari diriku sepertinya tertawa dengan rasa sakit yang mendalam.


Sementara itu, ayahku masih terkejut dengan tangisan serta rasa bersalah. Dia membuang pisau dari tangannya, lalu memukul dirinya sendiri seakan ingin segera bangun dari mimpi buruknya.


Sesekali dia melihatku dan berteriak, melihat ibu dan adikku lalu berteriak lagi. Teriakan serta tangisan malam itu sangat mencekam seperti memenuhi isi kepalaku, membuat seluruh aliran darahku merasakan tangisan serta kepedihan ayahku. Aku menghampiri adikku yang sudah tergeletak tak bernyawa, memandang wajahnya serta wajah ibuku.


"Ini adalah nyata," menatap, "seseorang tolong bangunkan aku!" teriak, batinku. Namun, aku terus saja mendengar suara-suara bisikan yang memenuhi isi kepalaku.


"Hahaha, bunuh juga ayahmu, dia sudah merenggut bunda dan adikmu" bisikan.


Mendengar bisikan, membuatku gelisah sambil melihat sekitar, memegang kepala serta bibirku ikut memucat. Lalu, aku mendengar tetesan keringatku jatuh bersamaan dengan tetesan darah ibu dan adikku.


"Pliss... hentikann!" batinku, berteriak. Sedang tanganku memegang kepala.


"Hahaha, kenapa? lihat dia, lihat ayahmu," melihat ayahku, "dia juga sudah tidak ingin hidup lagi, lebih baik segera akhiri penderitaanya, hahaha"


"Hmff, gak, gak," memukul kepala, "gak, gak, gakkk!" teriak, batinku. Sedang tanganku terus memukul kepala.


"Ayohlah, darahmu pasti sedang bergejolak, lihat darah merah kental itu," melihat darah, "tanganmu pasti ingin melakukannya juga, apa hatimu tidak bergejolak? dengarkan jantungmu, dia bersemangat memompa darahmu, dia sangat ingin agar kau melakukannya"


"Diamm!," menutup telinga, "diam, diam, diam, diam, diaaaamm!" teriak, batinku.


Selang beberapa menit aku bertengkar dengan diriku. Aku kembali terdiam dengan tatapan kosong. Kemudian, aku melihat pisau yang tergeletak tak jauh dari ayahku. Aku berjalan perlahan, lalu mengambil pisau tersebut.


Senyuman terukir jelas di pisau itu, sedangkan mataku melihatnya dengan tatapan kebencian.


Tanganku bergerak, mengayunkan pisau, menusukkannya tepat di leher ayahku. Ayahku terkejut, ia perlahan melihatku. Sedangkan aku hanya tersenyum, seakan menunjukan perasaan puas dengan apa yang telah aku lakukan.


Darah memuncrat dari mulut dan leher ayahku, mengenai wajahku setelah aku mencabut pisau dari lehernya, dia pun terjatuh. Kemudian aku menusuknya lagi sampai berkali-kali.


Wajahku dipenuhi darah milik ayahku, begitu juga dengan tangan dan tubuh kecilku. Aku hanya tertawa lepas menandakan perasaan puas.


"Hahaha," menusuk, "hahahah," tatapan puas, "hahaha" tawaku, senang.


"Haha, ha ha ha, haaa.. hahaha" tawaku, puas melihat mulut ayahku memuntahkan darah.


"Haaah, hahaha, haaa hahaha, hahaha," tatapan benci, "I Love you dad!" ucapku, mencabut pisau dengan senyuman puas. Ayahku melihatku, perlahan menutup matanya.


********


Saat ini, di dalam rumah sakit. Aku sedang tidur memimpikan kejadian mengerikan yang menimpa keluargaku, lalu aku terbangun, terkejeut karena mengingatnya.


Suara napas pendek terdengar cepat, aku perlahan melihat ke dua telapak tanganku. Pisau yang di penuhi darah berwarna merah segar memenuhi tanganku, lalu aku mendengar lagi bisikan di telingaku.


"Do you recognize me?" bisikan di telinga kiri, membuatku refleks menengok ke samping kiri.


"Apa kau ingat aku?" bisikan di telinga kanan, aku menengok ke kanan dengan perasaan gelisah.


Mendengar bisikan-bisikan, membuatku sangat ketakutan, tak henti aku melihat sekeliling bercampur perasaan gelisah terus menghantui. Tetapi, aku tak juga melihat apapun. Namun, bisikan itu terdengar semakin mengacaukan isi kepalaku.


"Apa kau mengenaliku? apa kau ingat aku?"


"Get the fuckk," memegang telinga, "out of my life!!" teriakku.


Greysie terkejut mendengarku berteriak. Dia ketakutan namun juga merasa cemas padaku. Dari tadi Greysie mencoba menyadarkan aku yang sedang tenggelam dalam pikiranku sendiri.


Flashback, satu hari yang lalu. Aku menangis sampai suaraku tak terdengar lagi, begitu menyayat hati, aku di penuhi perasaan marah, benci, sedih, takut dan trauma.


Pandanganku kian menghitam, terasa seperti dunia seakan berputar. Aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku yang membuat aku pingsan saat itu juga.

__ADS_1


Greysie terkejut melihatku, kejadian ini merupakan hal yang tak biasa bagi dirinya sejak dia mengenalku.


Semuanya merupakan hal baru baginya, dia merasa bersalah karena tidak mengetahui apapun mengenai sahabat satu-satunya. Rasya juga terlihat sangat khawatir, dia sepertinya memahami perasaanku.


Rasya teringat akan dirinya dulu, kehilangan seseorang yang dia sayangi karena ulah pembunuh berantai, sehingga hal itu menjadi trauma mendalam dan membekas baginya. Mereka terlihat panik kemudian memanggil dokter.


Beberapa menit kemudian. Dokter datang dan memeriksa keadaanku. Mereka masih terlihat sangat cemas padaku.


"Gimana keadaan temen aku, dok?" tanya Greysie.


"Pasien terlihat sangat lelah, sepertinya dia stres akan sesuatu, apa pasien mempunyai trauma masa lalu?" tanya dokter. Rasya melihat Greysie dengan rasa penasaran.


"Em, iy," gemetar, "iya, dok" ujar Greysie.


"Pasien harus banyak istirahat dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang membuatnya stres. Saya sarankan agar pasien mengambil pengobatan dari seorang psikiater/psikolog" usul dokter berkacamata tersebut.


"Iy, ya.. terima kasih, dok" lirih Greysie, menahan tangis.


"Terima," berjabat tangan, "kasih, dok" ucap Rasya.


Dokter keluar ruangan.


"Grey," tatapan cemas, "aku.. aku boleh nanya gak, kenapa Lista sampai kek gini?" tanya Rasya.


"Hmf, hmf, dia..." ucap Greysie, menahan tangisnya.


Greysie mulai menceritakan masa laluku pada Rasya sepengetahuan dirinya. Dia juga menjelaskan alasan kami bertengkar hebat sebelumnya, mendengar alasan kami bertengkar, Rasya terkejut, dan mengingat kembali semua kecurigaannya selama ini.


(Memories Rasya).


"Apa loe udah bunuh orang?! jangan-jangan itu temen gua?!" tuduhku.


"Emangnya teman aku yang bunuh tu orang pak?!" tanyaku kesal.


"Hm, yaa, temen aku gak bunuh dia, jadi ngapain di bawa ke sana pak?!" kekehku tak mau tau. Ingatan Rasya terus berlanjut.


Rasya keluar dari ruangan, dia melihat aku dan Greysie sedang berbicicara. Namun, ia tak sengaja mendengar perkataanku dan bersembunyi.


Rasya mengingat kembali semua perkatanku, dia merasa heran mengapa aku selalu saja berbicara tentang membunuh seseorang.


Namun, meskipun dia mencurigaiku, dia tetap berusaha untuk mendekatiku dengan alasan untuk menyeledikiku. Padahal itu hanyalah alasan saja, dia tidak bisa membohongi dirinya kalau sudah menyukaiku saat pertama kali melihatku di rumah Greysie. Selain terpesona pada diriku, dia juga sangat menyukai karakterku yang terlihat mirip seperti adiknya Angeline.


Terkadang Rasya merasa bersalah padaku, tetapi di satu sisi dia juga sudah mencurigai kami sejak awal pertemuan. Meskipun begitu dia tetap menyukaiku, malah semakin lama dia berusaha untuk mendekatiku, rasa sukanya padaku semakin dalam.


Di dalam rumah sakit. Rasya malah melamun setalah mendengar penjelasan dari Greysie.


"Rasya?" panggil Greysie.


"Yaa? eh sorry-sorry, aku tadi keinget seuatu" jelas Rasya.


"But.. you okay now?" tanya Greysie.


"Yaa," tersenyum, "ya, ya, i'm okay" jawab Rasya.


"Oky, then.." ucap Greysie, mengangkat kedua alisnya.


Beberapa saat kemudian. Rasya berpamitan pada Greysie karena harus mengurus sesuatu.


"Aku balik dulu Grey, mau ngurus something soalnya" pamit Rasya berdiri.


"Yeah, okk, hati-hati di jalan" ucap Greysie.


"Call aku ya, kalau Lista udah siuman" pinta Rasya.


"Sure" jawab Greysie tersenyum.


Besoknya, di dalam kamar rumah sakit. Greysie sedang duduk di kursi sambil menatapku.


"Raa, apa masih ada rahasia yang belum kamu ceritain ke aku?" gumam Greysie, lalu bersilang tangan.

__ADS_1


"Padahal, aku cuman mau kamu tuh jujur ke aku, karena aku sahabat kamu, aku selalu nungguin kamu buat ceritain semua masalah kamu ke aku, tapi..." batin Greysie, ia masih menatapku.


Greysie mulai mengingat kembali kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu.


Flashback, dua setengah tahun yang lalu. Greysie bersama pacarnya Rendi sedang makan bersama di sebuah restoran.


"Ren, aku mau nanya boleh?" tanya Greysie.


"Nanya apa Grey" jawab Rendi.


"Kamu kok sekarang musuhan sama Heafen? bukannya kalian dulu sahabatan ya?" tanya Greysie.


"Gak pp, dia emang dari dulu mau buat geng motor sendiri" jawab Rendi.


"Alasannya kenapa?" tanya Greysie lagi.


"Hm," berhenti makan, "mungkin dia gak puas sama kepemimpinan aku" jawab Rendi.


"Padahal aku sama Cara kan sahabatan, tapi kalian malah musuhan" ujar Greysie.


"Hm, masalah aku sama Heafen itu biar jadi urusan kita berdua, kalian gak usah cemas" jelas Rendi.


"Hm, tapi awas aja ya kalau kalian berantem lagi" larang Greysie.


"Iya, iya.. tenang aja Grey" ucap Rendi tersenyum.


Setelah selesai makan. Rendi mengantar Greysie ke rumahku, karena kami selalu bergantian menginap di rumah masing-masingt.


Greysie lebih sering menginap denganku dari pada aku yang menginap dengannya, alasannya karena aku juga butuh waktu untuk sendiri, aku merasa nyaman berada di dalam rumahku meskipun hanya seorang diri. Tapi Greysie paling tidak bisa jika harus di tinggal sendiri, dia selalu ingin bersama-sama.


Di depan rumahku. Rendi berpamitan pada Greysie, lalu Greysie masuk ke dalam rumah.


Di saat Greysie ingin membuka pintu kamar, dia mendengar suara barang yang di banting dari dalam kamarku.


"Braakk.......!"


"Cara?!" gumam Greysie segera membuka pintu, dia melihatku sedang membanting dan menginjak-injak tv milikku.


"Fuckk" mebanting tv, "fuckk" menginjak tv, "fuckk, fuckk, Fuckkkkk!" teriakku.


"FUCKKK!," menendang tempat tv, "You're Fuckk up" memukul dinding, "My Family!" teriakku lagi.


"Fuckk You!" teriak sambil melempar barang.


"Fuckkkk!" teriakku dengan air mata yang menetes.


Greysie terkejut melihatku seperti itu. Dia tak berani menegurku, selama ini dia tidak pernah melihatku marah sampai seperti itu, biasanya jika aku marah padanya, aku hanya diam selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu jika dia tidak mengambil langkah awal untuk berbicara lagi padaku.


Tak lama kemudian, setelah mebanting barang-barang, aku mengambil botol minuman dari lemari kecil di dalam kamarku. Itu adalah lemari untuk menyimpan koleksi milikku.


Setelah mengambil minuman, tanpa berpikir panjang aku langsung meminumnya. Biasanya aku meminum itu hanya jika aku benar-benar marah, dan malam itu adalah kedua kalinya aku meminumnya.


Selesai minum, sepertinya aku sudah mabuk, aku mulai mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan.


"You know whatt?," cegukan, "you kn, ow what's my, biggest se, cret of, this life?" ujarku berbicara tak jelas karena mabuk.


"No.. i' don't, emangnya apa rahasia terbesar kamu?" tanya Greysie, dia terlihat bingung.


"Hegh," cegukan, "heh," tertawa kecil, "heh, hahaha, hahahah," aku tertawa lepas.


"Hahaha, haaaahh, hahaha, haaa," berhenti tersenyum, "aaiiishh," menatap benci, "fuckkk!" ucapku, raut wajahku marah bercampur tatapan benci.


Perlahan aku mendekatkan wajahku pada Greysie, lalu aku berbisik padanya.


"I killed, my own fat," tersenyum, "her" berbisik pada Greysie, lalu tertawa.


"Hahahaha, hahaha, aahahah, ha ha ha, hahahah" aku tertawa dengan rasa sakit.


Greysie membulatkan mata, ia terkejut mendengar perkataanku, lalu ia menatapku heran karena tertawa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2