Ilusi

Ilusi
BAB 13 (Part 2)


__ADS_3

Manusia di ciptakan dengan rasa takut dan keberanian. Artinya kelemahan dan kekuatan. Setiap manusia selalu bisa memilih. Namun, apakah pilihan mereka sudah tepat?


Jawabannya, ada pada proses. Karena proses akan memperlihatlan perubahan sekaligus jawaban.


********


Mimik wajah Riska berubah setelah melihat video yang di perlihatkan Cassie padanya.


"Jadi lo percaya sekarang sama gua? kalau si Cara yang nakut-nakutin, elo" ujar Cassie, bertanya.


"Gak, gua gak percaya" jawab Riska, ia kemudian pergi meninggalkan Cassie begitu saja.


Cassie tersenyum sambil bersender di tiang pembatas bangunan atap sekolah. Ia tersenyum miring sambil melihat Riska dari belakang.


Setelah Riska pergi, Cassie mulai tertawa pelan, lalu di akhiri senyuman miring yang mengukir bibirnya.


"Hahahahaha, Haaaaa, Hn"


**********


Di dalam kelas. Riska sedang kesal. Ia tak ingin mempercayai omongan Cassie. Namun, semua bukti tak bisa ia hiraukan begitu saja.


Tak lama setelah itu, Riska malah termenung. Memori terlintas di pikirannya, membuat ia mengingat kembali.


Flashback. Dua setengah tahun yang lalu. Sebulan setelah penerimaan kami sebagai murid baru. Riska sedang berada di atap sekolah. Ia sering ke tempat itu untuk sekedar berdiam diri, bahkan juga meluapkan emosinya.


Pintu terbuka, aku sedang berada di atap bangunan sekolah dengan alasan sama seperti Riska. Sebenarnya, aku yang lebih dulu pergi ke atap sebelum Riska. Namun dia tak pernah melihatku, karena aku selalu berada di bagian ujung, di mana tembok menghalangi penglihatan.


Hari pertama masuk sekolah, aku sudah berada di atap sekedar menyendiri untuk sementara waktu.


Seminggu kemudian. Aku masih sering berada di atap sambil menikmati pemandangan sekolah kami. Sedangkan irama musik Cults Gilded, membuat suasana makin terasa nyaman bagiku. Aku sangat menikmati angin yang berhembus menembus pori-pori kulitku.


Namun, karena aku adalah orang yang peka atau mungkin bisa di bilang sensitif akan suara, bahkan suara kecil sekalipun, aku bisa mendengarnya.


Hari itu, aku mendengar suara seseorang yang berteriak meluapkan emosi, kadang juga dia membanting barang yang tak terpakai di atap sekolah ini. Aku melepaskan headsed kananku, lalu melihatnya.


Saat melihatnya, aku tersenyum dan membiarkan dirinya untuk meluapkan emosinya itu. Hal itu berlangsung selama berminggu-minggu sampai sebulan kemudian.


Sebulan kemudian. Seperti sudah terjadwal, aku sangat tahu kapan dia akan datang untuk meluapkan emosinya lagi. Jadi, aku selalu menunggunya.


Saat itu, jam 10:10 siang. Aku sedang menikmati indahnya melodi dari musik berjudul Eminem Mockingbird.


Langit biru terlihat menawan. Hembusan angin meniup awan yang tenang, terlihat bebas seakan hilang semua beban. Aku ingin menjadi dirinya.

__ADS_1


Mataku juga sesekali melirik jam tanganku. Setelah waktu menunjukan pukul 10:30 siang. Aku melepaskan headsed kananku, menunggunya, agar aku bisa mendengarkan luapan emosinya.


"Aaaah.....! fu*ck, fu*ck!! i fuc*ing hate you!" teriak Riska, membanting barang di atap sekolah.


Setelah puas berteriak. Riska naik ke tembok dan berdiri di atas tembok, pembatas di atap sekolah ini. Aku menatapnya, lalu aku juga menaiki tembok. Kemudian berjalan pelan menghampirinya. Namun, ia tak menyadari keberadaanku.


Setelah itu, aku langsung memegang tangannya. Ia melihatku, sedangkan aku hanya memberikan senyuman ceria padanya.


Riska menatapku keheranan. Lalu aku menaruh headsed kananku di telinga kirinya, laguku juga sudah terganti otomatis ke lagu berjudul Sia The Greatest.


"Lo ngapain di sini?" tanya Riska, keheranan.


"Hm, gak ngapa-ngapain" jawabku, tersenyum padanya.


Riska melepaskan genggaman tanganku darinya. Mukanya terlihat sangat malu, namun juga kesal.


"Kok lo tiba-tiba ada di sini? Lo pergi aja, ini tempat gua" ujar Riska, mengusir aku dari hadapannya. Aku semakin tersenyum sumringah mendengar perkataannya.


"Apaansih, gak jelas banget" cela Riska, wajahnya memalas.


"Gua udah lama di sini, sebelum elo sering datang ke sini, gua udah sering ke sini. Sayangnya lo gak bisa lihat gua, karena gua kehalang tembok itu" jelasku, lalu menunjuk tembok.


"Njiirr, jadi selama ini dia lihatin gua di sini" batin Riska, wajahnya semakin kesal.


"Kalau lo punya masalah jangan di pendem sendiri. Lo juga bisa cerita ke gua, teneng aja, gua orangnya bisa jaga rahasia, kok. Lo ada masalah sama orang tua lo?" lanjutku, bertanya.


Riska hanya diam. Ia menunduk, memikirkan banyak hal.


"Kok dia tau" batin Riska. Raut wajahnya, memperlihatkan pertanyaan. Aku tersenyum, membuat dia semakin keheranan.


"Menurut gua, bagi sebagian orang, rasa sakit yang mereka rasakan 65% berasal dari keluarganya sendiri. Mulai dari trauma, kecewa, marah, cemburu, sakit hati, takut dan sering juga menjadi penyebab utama rasa sedihnya. Sedangkan untuk 35% sisinya berasal dari luar lingkungan. Seperti tuntutan orang-orang, kata-kata dari mereka yang sakit untuk di dengar. Bahkan kritikan yang kita dapatkan. Dan kita hanya bisa tersenyum seakan semua baik-baik saja" ungkapku.


Riska diam, termenung setelah mendengar omongan dariku. Selama ini dia merasa tertekan dengan tuntutan orang tuanya.


Ayahnya ingin Riska menyukai seni sepertinya. Bahkah ayahnya sering mendaftarkan Riska ke lomba-lomba tingkatan internasional. Seperti bermain biola, bermain piano, dan melukis. Sedangkan ibunya menginginkan agar Riska menjadi aktris terkenal sepertinya.


Padahal Riska lebih menyukai berbisnis seperti ayahnya. Dia sangat ingin memimpin suatu perusahaan seperti ayahnya. Itu adalah impiannya sejak kecil.


Riska mengingat setiap saat keluarga mereka makan bersama. Ayah dan ibunya pasti akan memulai memberikan tekanan lagi padanya.


"Kalau nanti kamu gak bisa dapet peringkat satu di sekolah, lebih baik ambil jurusan seni aja, jangan bisnis" ujar Ayahnya, sementara tangannya masih memotong daging, lalu memakannya.


"Hm, kalau gak bisa juga, lebih baik kamu ambil jurusan perfileman. Siapa tau kamu jadi director atau sutradara terkenal" sambung Ibunya.

__ADS_1


Sedangkan Riska dari tadi sudah berhenti makan. Kedua tangannya yang berada di bawah meja, malah sibuk untuk saling menyakiti. Ibu jarinya mengeluarkan darah, karena ia terus saja melukai jarinya dengan kukunya.


"Hm, kuliah nanti kamu ambil seni aja" lanjut Ayahnya.


"Lebih bagus jurusan perfileman mas. Kamu ambil jurusan perfileman aja, atau modeling. Mama mau kamu jadi aktris terkenal kek mama" sela Ibunya.


Setelah lama diam termenung. Riska mulai menangis. Aku menariknya untuk turun, lalu membiarkan dirinya menangis sampai ia merasa tenang kembali.


Sementara dia menangis, aku melihat jari-jarinya di penuhi bekas luka. Sepertinya dia sering melukai dirinya dengan tangannya sendiri.


"Gua benci sama semuanya, gua benci" ucap Riska, sedang air matanya terus mengalir. Aku menepuk pundaknya, untuk menenangkan dirinya.


"Apa gua salah? orang tua gua gak pernah mau dengerin gua. Mereka gak pernah dukung kemauan gua" lanjutnya, dengan tangis pilu.


"Hm, menurut gua Kekecewaan mendalam seseorang itu berasal dari keluarganya sendiri. Lo gak salah. Mereka yang salah. Harusnya mereka sebagai orang tua ngedukung impian lo" ujarku, tanganku masih menepuk pundaknya.


"Manusia itu cerdas Ka, gua yakin elo bisa kalau lo berusaha. Buktiin sama orang tua lo kalau lo serius sama impian lo" lanjutku.


"Manusia emang cerdas, tapi karena cerdas mereka juga bisa membodohi diri dengan angan-angan mereka, gua salah satunya" jelas Riska.


"Hm?" ujarku. Riska hanya diam, aku sedikit termenung karena omongannya, lalu berpikir.


"Hm, sepertinya dia sering ngebayangin keluarganya hidup harmonis. Dan orang tuanya juga ngedukung impian dia" batinku, bertanya.


"Semua usaha gua selama ini sia-sia. Orang tua gua gak pernah puas dengen pencapaian gua. Padahal gua udah susah payah" ujar Riska, sedikit gemetar karena isak tangis.


"Hm, menurut gua, semua yang kita lakukan gak pernah sia-sia, kenapa sia-sia? padahal kita bisa terus mendapatkan pengalaman. Dari pengalaman itu kita juga terus belajar kan? and.. make us strong. Lo kuat, gua yakin lo bisa. Gua juga bakal bantuin lo, hm" sambungku, mengkode dengan alis, sedang tanganku memegang kedua pundakknya.


"Hn, gimana caranya? tanya Riska, lirih.


"Udah tenang aja, bokap lo pasti bakal dukung lo kok. Kalau soal nyokap elo, dia pasti bakak ngikut bokap lo" ujarku, tersenyum padanya.


"Bener? apa gua bisa percaya sama ucapan lo?" tanya Riska, ia mengelap air matanya.


"Tenang aja, gua orang yang bisa di percaya, kok" jawabku, masih tersenyum.


"Thank u Ra, gua pegang omongan lo. Lo adalah orang baik yang pernah gua temuin" ujar Riska, segera memelukku.


Sedangkan aku sedikit terkejut karenanya. Setelah itu, perlahan tanganku menepuk pundaknya.


"Hm, menurut gua, gua adalah orang jahat yang di anggap baik oleh orang-orang" ucapku, pelan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2