Ilusi

Ilusi
BAB 16 (Part 3)


__ADS_3

Di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Aku berdiri di atapnya sambil melihat pemandangan kota jakarta saat malam, di mana lampu kota memenuhi area, terasa menangkan hati.


"Bunda, Ayah, Tiya. Kalian tenang aja, aku bakal nyusul kalian" ucapku, tersenyum.


Greysie melihatku sedang berdiri di tepi atap bangunan tinggi tersebut, ia segera berlari tanpa berteriak dahulu. Ia langsung menarik tanganku, membuatku terjatuh dari tembok pembatas tersebut. Aku menatapnya heran, lalu segera berdiri, ingin pergi dari sana.


Menurutku Greysie sangat menganggu, padahal aku hanya ingin melihat pemandangan kota saja sambil menikmati melodi indah di telingaku.


Aku segara bangkit, ingin berdiri. Namun, Greysie menahan tanganku dengan tatapan sedih, di mana air bening memenuhi pipinya.


Menurutku ini sangat lebay, apa yang dia pikirkan? apa dia mengira aku bakalan lompat?


"Ahh, meganggu orang saja" batinku.


"Lo kenapa?" tanyaku singkat, sontak membuat Greysie berdiri, langsung memelukku lagi.


"Kamu udah maafin aku, Ra?" tanya Greysie, lirih.


"Haah? Emang lo siapa sampai gua marah ke elo. Maaf gua gak punya waktu. Permisi" ucapku segera pergi.


Namun, lagi, lagi dan lagi. Greysie menahan, menggenggam erat tanganku sampai membuatku marah dan menatap tajam padanya.


"Nying" gerutuku kecil, menatap kesal.


"Ra. Jangan gini, aku minta maaf. Aku beneran minta maaf Raa" ucap Greysie, lirih.


Ingatan juga terlintas di pikiran Greysie, di mana aku berkata bahwa kami sudah bukan sahabat lagi, dan aku amat sangat membencinya.


Greysie juga tak bisa membela dirinya yang sudah benar-benar jahat, keterlaluan, menuduh bahkan memfitnahku, sahabatnya sendiri. Padahal Greysie tahu benar kalau aku sedang sakit karena ulahnya sendiri, bisa-bisanya dia menuduhku membunuh ayahnya.


"Aah sial. Kalau gua gak di semester akhir pasti dari kemarin gua udah pindah sekolah. Males banget ngadepin orang kek kalian. Tenaga gua terkuras abis, capek Anj*ing. Kalian pikir gua gak capek ngadepin kalian semua, hah?!" ujarku, mengeluh berusaha melepaskan genggaman tangan Greysie.


"Lepasin njing!" bentakku, berusaha melepas tangan Greysie. Namun ia tak mau melepasnya, malah genggaman tangannya semakin kuat.

__ADS_1


"Aahh, fuc*k this shitt. Lihat muka gua! Lihat! Lo kira gua lagi becanda sekarang?! Gak usah natap-natap. Gak usah nangis-nangis, gua gak peduli!. Emang lo siapa? Hah?! Siapa anji*ng?! ganggu ketenangan hidup orang aja, kek gak punya pekerjaan lain. Lepasin gak!" ujarku, mencela sambil melepas paksa tangan Greysie.


Tangannya memerah, begitu juga dengan tanganku. Tak ada yang mau mengalah antara kami. Karena aku merasa sangat kesal, aku lalu menamparnya dengan tamparan yang sangat termat kuat sehingga meninggalkan bekas memerah di wajahnya.


"Plaaaak..........!"


Greysie memalingian wajah karena terkena tamparan keras dari tanganku.


"Denger gak lo?! punya telinga gak sih?! aah sial banget hidup gua harus ketemu orang kek gini" ujarku, mengeluh dengan emosi.


"Lepasin gak?!" ucapku, lalu mengambil pisau lipat dari kantung celanaku.


"Lepasin atau gua iris tangan lo!" ancamku, serius menatapnya.


Namun, Greysia tak bergeming sedikitpun. Ia hanya menampilkan wajah dengan ekspresi biasa, seakan tak peduli. Sehingga membuat aku benar-benar mengiris tanganya.


Darah berwarna merah mengental mengalir dari tangannya. Tetapi, hal itu tetap membuatnya tak mau melepaskan tanganku.


"Siaall!" batinku, menatap kesal.


"Keknya lo emamg gak bakal peduli kalau gua ngelukain diri elo. Kalau gitu," mengiris tanganku, "lo lebih suka ini kan?!" ujarku, sambil mengiris tanganku.


Mata Greysie seketika membulat terkejut sambil ia melepaskan genggaman tangannya dariku. Matanya melotot melihatku juga tangannku, ia tak menyangka bahwa perubahan sikapku akan benar-benar seperti ini.


"Raa!" ucap Greysie.


Kemudian aku segera pergi meninggalkan Greysie. Ia ingin mengejarku, namun aku langsung mengancam dirinya dengan menaruh bagian tajam pisau ke leherku.


"Mundur loo!" ucapku, menunjuk Greysie dengan jari telunjuk kiri sambil menaruh pisau ke leherku dengan tangan kanan.


Langkah Greysie terhenti seketika karena melihat leherku sudah sedikit teriris di mana darah juga ikut mengalir. Sedangkan mimik wajahku sangat serius, aku benar-benar akan melakukannya.


"Lo diam di situu atau gua iris leher gua," berjalan mundur, "Jangann ii, kuutin guaa!" ucapku berjalan mundur.

__ADS_1


Kemudian aku segera berlari menuruni tangga, meninggalian Greysie sendiri.


"Raa" ucap Greysie, lirih. Ia kemudian langsung teduduk lemas sampai menangis terseduh-seduh.


Satu minggu kemudian, kami telah selesai melaksanakan ujian kelulusan. Aku masih belum juga berbicara dengan siapapun selain Greysie saat malam di gedung tinggi tersebut. Semua orang yang ingin berbicara termasuk Riska selalu aku abaikan, dan tak mau peduli.


Malamnya di dalam rumahku, aku sedang duduk termenung di tempat tidur. Hanya suara detak jam dinding yang menemani kesunyian malamku. Ingatan mulai terlintas di pikiranku, di mana aku melihat Greysie tergeletak lemas di dalam kamar mandi sedang darahnya terus mengalir karena tertusuk benda tajam.


Saat itu kami berada di hotel Pavillion, aku masih tertidur namun telingaku mendengar penjelasan berita di tv, di mana pelaku pembunuhan berantai di tangkap oleh polisi, lalu aku terbangun karena mendengar berita.


Setelah itu terdengar suara seperti orang yang terjatuh dari dalam kamar mandi. Di dalam Greysie sudah tergeletak di lantai dalam artian pingsan sedangkan darahnya bercucuran. Aku segera menelpon ambulance.


Beberapa saat kemudian, kami tiba di rumah sakit. Dokter langsung mengobati luka Greysie. Pikiranku juga sangat kacau saat itu karena terus mencari tau alasan Greysie sampai terluka.


"Kemarin, kemarin, kemarinn, kemariiiin, gua kemana, gua di mana" batinku terus bertanya, sambil memegang kepala berusaha mengingat kembali.


"Tenang Ra, tenang. Saat itu lo ke rumah dan tidur di rumah lo. Terus paginya Grey gak sekolah. Terus, teruuuss, emm.. terus ada polisi, polisi, polisiii. Grey harus terlibat dengan polisi, polisi," mendongak, "oh may god! jangan-jangan," melirik Greysie, "ni anak ceroboh banget, ngapain sih anjirr, udah di bilangin berkali-kali, aah sialan! kenapa juga polisi harus terlibat" batinku terus meronta, rasanya aku akan berteriak.


Malamnya pada jam 01:03 tengah malam. Greysie sedang tidur. Aku meninggalkannya sendiri karena harus mengurus sesuatu.


Di dalam rumahku (ruangan rahasia). Aku sedang fokus melihat komputer, sedangkan tanganku terus bergerak mengetik keyboard komputer.


"Gua harus ke rumahnya langsung supaya bisa akses semuanya" batinku, sambil tanganku melepas kacamata anti radiasi.


"Virusnya harus buat komputer semua orang yang ngakses jadi rusak juga. Semua video asli dan salinan harus gua hapus. And.. gua juga harus pasang virus ke semua tempat yang pernah nyimpen rekaman video itu" batinku, aku terus mondar mandir sambil bersilang tangan, sesekali juga melirik komputer milikku.


Saat ini, aku tersadar dari lamunan panjangku karena mendengar suara bell rumahku terus berbunyi. Kemudian aku melangkah, berjalan ke arah pintu, membuka pintu ruangan dan segera pergi ke lantai satu untuk membukakan pintu.


Pintu terbuka, wajah seseorang yang tak asing berdiri tepat di hadapanku.


Tangannya memegang sebuah pistol yang di arahkan ke kepalaku, tepatnya di keningku. Aku mengerytkan kening, menatap heran dengan ekspresi biasa saat melihatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2