
Hari ini, Greysie masih dengan wajah masamnya. Dari kemarin dia masih marah padaku.
"Grey..." panggilku, lembut.
Greysie masih dengan wajah masamnya, ia sedang duduk menyender di tempat tidur sementara tangannya bersilang.
Aku menatapnya dan menghela napas pelan, tiba-tiba telponku bergetar. Nama seseorang tak asing menelponku, sementara aku melirik Greysie dan tak menjawab telpon tsb.
Akan tetapi telponku terus saja bergetar sampai berkali-kali, karena hal itu aku memutuskan untuk menjawabnya. Sedangkan Greysie nampak penasaran, tetapi ia pura-pura tak peduli.
"Ra!" bentak Riska, di telpon.
Mendengar bentakan, membuatku refleks sedikit menjauhkan telpon dari telingaku sambil memejamkan mata.
"Jangan teriak, sakit telinga gua" ujarku.
"Lama banget ngangkatnya. Sengaja lo gak angket telpon gua?" tanya Riska, emosi.
"Apasih K..." ucapku, tak selesai dan melirik Greysie.
Kemudian, aku berjalan keluar kamar, lalu menutup pintu. Sementara wajah Greysie semakin kesal saja.
"Apasih, Ka?" tanyaku.
"Kata guru, lo di skors selama tingga minggu, kenapa?" tanya Riska.
"Huff, ni anak telinganya banyak banget" batinku.
"Siapa yang ngasih tau?" tanyaku.
"Gua yang dulu nanya tadi, lo kenapa sampai di skor sampai 3 minggu?" tanya Riska.
"Hah? Lo ngomong apa? Gua gak denger. Suara lo gak jelas, Ka. Tut" ujarku, menjauhkan telpon dan mematikan telpon.
"Ckk! Taik" gumam Riska, melihat hpnya.
"Dia pikir gua gak tau kalau dia udah mukulin geng Kesya. Tunggu aja lo, Ra" batin Riska.
Aku masuk kembali ke dalam kamar, dan melihat Greysie berbaring membelakangiku.
"Grey, aku pergi dulu" pamitku, segera pergi.
Mendengarku, Greysie langsung bangun dari baringnya dan menatapku datar.
"Lo pergi, gua gak akan pernah bicara lagi sama lo selamanya" ujar Greysie.
Mendengarnya, membuat langkahku terhenti. Aku pun menoleh ke arahnya, dan menghela napas pelan.
Kemudian, aku berjalan menghampirinya dan duduk di sebuah kursi.
"Grey, aku. Udah. Bulatin tekat." ujarku, perlahan.
Sementara tanganku yang memegang tangan Greysie mulai gemetar. Hal itu membuatku segera melepas peganganku, dan menaruh kedua tanganku di atas pahaku.
"Aku. Aku." mulai terngah-engah.
"Pliss, Ra. Jangan inget itu lagi. Semua ini demi Grey. Lo jangan lemah" batinku, sementara aku memejamkan mata, berusaha tenang.
"Cara kenapa?" batin Greysie.
Kemudian, aku membuka mataku dan menatapnya sangat dalam.
"Aku.. Bakalan tepatin janji aku, kamu gak perlu khawatir lagi. Gak bakalan ada orang yang akan nyakitin kamu lagi" ujarku, lalu tersenyum.
Mendengarku, membuat air mata Greysie mengalir, bibirnya gemetar menahan tangis.
"Tapi, sekarang... kamu harus sembuh dulu baru kita bisa mulai semuanya" lanjutku, masih tersenyum.
Mendengarku, membuat Greysie langsung memeluk erat diriku. Air matanya terus mengalir, sementara aku juga terus berusaha untuk tetap bisa mengontrol diriku sendiri.
********
Lima hari berlalu. Kami pulang ke rumah orang tua Greysie. Tiba di kamarnya, aku langsung menyuruhnya untuk beristirahat.
Kami saling memandang karena memahami pikiran masing-masing, lalu aku duduk bersebelah dengannya.
"Kamu tenang aja, aku bakalan terus jagain kamu. Papa kamu gak akan bisa nyakitin kamu lagi selama masih ada aku" ujarku, memeluk dan mengusap rambutnya.
Beberapa jam kemudiam. Suara telpon bergetar, kami terkejut dan saling menatap. Kemudian aku pergi untuk memeriksanya. Saat aku membuka hp ini, ternyata nomor baru yang menelponku.
Mengangkat telepon.
"Hallo" ujarku, menaruh telpon di telingaku.
"Iya, hallo" sahutnya.
"Ini siapa, ya?" tanyaku penasaran.
"Aku Rasya, detektive yang kemarin" jelas Rasya.
Greysie melihatku dengan wajah penasaran akan siapa yang telah menelponku.
"Oh iya, kenapa ya pak?" tanyaku, sambil melihat Greysie yang sedang kepo.
"Mm, kok manggil pak lagi" celetuk Rasya.
"Siapa? siapa?" bisik Greysie, kepo.
"Detektive kemarin, Rasya" bisikku pada Greysie.
"Detektkve itu? Ini kesempatan yang bagus, haha. Cara harus deket sama detektive itu" batin Greysie, ia tersenyum tipis.
"Mm, yeaahh, maksud aku Rasya, ada apa ya?" tanyaku padanya.
"Gak pp, aku cuman.. emm, tadi aku dapet nomer kamu dari berkas, jadi aku.. iseng pengen nelpon kamu, tapi aku gak lagi ganggu kan?" jelas Rasya canggung.
"Oo, ya gak juga sihh, gak pp, tapi kalau nelponnya karena iseng artinya ini bukan tentang kasus yang kemarin kan?" tanyaku.
"Volumenya naikin, aku juga mau dengar" ujar Greysie, berbisik.
"Iya, iya bukan kok, emm.. mm.., eee" ucap Rasya canggung.
"Yaaa?" tanyaku sambil menaikan volume telpon miliku.
"Kamu mau gak, kalau gak sibuk aku mau ngajak keluar bareng" pinta Rasya.
Greysie yang mendengernya nampak senang bukan main. Ia pun memaksaku untuk menerimanya.
"Mau, mau, terima aja, terima" bisik Greysie memaksa.
"Hah?," menatap heran, "gak mau aku, males keluar, kamu juga masih sakit, aku gak mau" balasku berbisik padanya.
"iihh iyain aja," memegang tanganku, "pliss, plisss" ujar, Greysie kekeh.
Greysie terus memaksa dengan pertanyaan berulang. Hal itu membuatku dengan terpaksa harus mengiyakannnya.
"Hm, yeaahh ok" jawabku spontan mengeraskan suara.
"Yaa? beneran ni?" sahut Rasya di telpon.
Sementara, aku terkejut dan melongo. Lalu menatap kesal pada Greysie.
"Hnh, gara-gara loe sihh ahh, malu banget lagi langsung jawab yeah ok" keluhku berbisik sambil memegang kepala dengan rasa malu.
"Hahahaha" Greysie tertawa pelan.
"Hmh," melihatnya, "ketawa lagi, puass kan loe" protesku pada Greysie.
"Hahahaha, ble... " ledek Greysie menjulurkan lidahnya.
"Lista? aku manggilnya lista aja boleh gak? tanya Rasya.
"Mm.., eee, aaa.. yaaah, eh sory-sory, i mean.. ee, yaa.. boleh-boleh aja" jawabku, kaku.
"Kalau gitu besok gimana?" tanya Rasya.
"Gak bisa" ucapku lantang tanpa berpikir.
"Owh, eem kalau setelahnya?" tanya Rasya, lagi.
"Mm, boleh gak nnti aku aja yang nentuin harinya, soalnya aku masih mau jagain Grey, dia lagi sakit, gak pp kan?" jelasku pelan.
"Owh, iya gak pp, gak pp, Grey sakit? sakit apa ya kalau boleh tau?" tanya Rasya, khawatir.
__ADS_1
"Mm.., mm, eee, dia sakit.. ee, lagi demam, sakit demam" jawabku.
"Oh iya kalau gitu.. titip salam sama Greysie yaa semoga cepat sembuh, and.. nanti kamu call aku kan?" tanya Rasya.
"Mm.. yeahh of course" jawabku sambil duduk.
Suara pintu kamar terbuka.
"Mah?" ucap Greysie.
Sontak aku langsung berdiri kembali sambil menutup telpon. Aku melihat kebelakang dan sedikit terkejut.
"Tante? tante udah pulang" ujarku berjalan ke arahnya dan bepelukan.
"Grey lagi sakit? sakit apa?" tanya ibunya penasaran, sedangkan aku bingung harus menjawab apa.
"Mmm, eee, gini tante" jawabku gelagapan.
"Kemarin aku olahraga mah, aku naik sepeda terus jatuh, jadi kegores besi dikit" sahut Greysie menjawab pertanyaan ibunya.
"Kegores gimana sayang? tanya Ibunya, duduk.
"Coba mama lihat" ucap Ibunya, membuka sebagian baju Greysie dan melihat luka di bagian perutnya.
"Ini ke gores doang Grey? kok perbannya tebal gini?" tanya Ibunya, mengerutkan kening.
"Em, i mean.. ketusuk dikit mah" jawab Greysie.
"Ketusuk? sayang kamu ngapain? gimana bawa sepeda kok sampai ketusuk? kamu gak hati-hati? kok bisa kek gini? dalem gak? banyak gak jahitanya?" tanya ibunya, khawatir.
"Cuman lima kok mah" jawab Greysie singkat.
"Cuman kamu bilang? cuman?!" ujar ibunya, mulai marah terhadapnya.
"Tante sabar tan, tan.. maafin Grey. Grey kalau ngejawab mama kamu jangan gitu iihh" ujarku, menahan ibunya yang sudah terlihat marah.
"Tan, kita keluar aja dulu bentar, nenangin diri tante dan Grey, kan baru ketemu tan, masa mau berantem lagi" ujarku, mengajak Ibunya keluar dari kamar.
Di luar kamar.
"Aduuhh, Raaa. Tante juga pusing kalau gini, besok papa Grey bakalan pulang, dengan semua masalah yang terjadi di sini dan Grey juga yang kek gitu, pusiiing tante" keluh Ibunya sambil memegang kepala.
"Iya tan, aku tau tan, sabarr yaa tan" ucapku berusaha menenangkan dirinya.
"Cara, besok papa Grey bakalan pulang. Tante tau dari sekretarisnya, tante bingung Cara. Huhuu" ujar ibunya, mulai menangis.
"Tante Halen sama Grey yang sabar ya. Aku yakin suatu saat om Arya bakalan berubah. Aku yakin kalau om Arya itu sebenernya sayang banget sama tante dan Grey, cuman.. om Arya gak tau aja cara untuk ungkapin rasa sayangnya ke Grey dan Tante" ujarku, tersenyum.
Ibu Greysie lalu melihatku, sementara aku memberikan senyuman tulus padanya.
"Tante makasih banget sama Cara. Cara selalu jagain Grey. Cara selalu ada buat kita berdua. Kata-kata Cara juga selalu buat tante bahagia " ujar Ibu Greysie, memelukku.
Aku tersenyum, lalu mengusap-usap punggung Ibu Greysie. Kemudian, air mataku menetes.
"Aku kangen banget sama, Bunda" batinku.
Pukul 01:20 tengah malam. Isak-isak tangis terdengar dari dalam selimut, suara yang gemetar itu menandakan rasa takut dan sakit yang mendalam, aku terbangun karenanya.
"Grey," membuka selimut, "kamu sakit?" tanyaku memeriksa dirinya, keringat dingin mengalir dari keningnya, dia terlihat sangat pucat.
"Grey, badan kamu kok dingin banget? kamu kenapa nangis?" tanyaku khawatir.
"Aku gak bisa tidur" jawab Greysie, pelan.
Seluruh tunuh Greysie gemetar, suaranya hampir tak terdengar dengan isak tangisnya. Hal itu membuatku langsung memeluknya.
Apakah aku perlu memberitahu ayah dan ibunya jika Greysie sedang sakit, tapi ini adalah penyakit yang tak semua orang bisa mengerti bahkan sebagian orang malah menyepelekannya.
Bagaimana jika kuberitahu ayahnya? Apa ayahnya akan mencoba untuk memahami, Grey? Apa ayahnya bisa berhenti memukulinya? Atau haruskah aku memakai cara terakhirku?
Aku terus menguatkan pelukanku pada Greysie. Beberapa saat kemudian, ia pun tertidur.
"Grey, hnhehe," tertawa kecil, "Mungkin kamu bakalan lihat versi terlemah aku. Aku harap kamu gak lost control, aku tau banget kamu gak bisa lihat aku kek gitu. Tapi... Mau gimana lagi, aku juga truma Grey. Bagaimanapun cara yang coba aku lakukan untuk hilangin trauma itu, aku tetep gak bisa. Aku gak akan pernah bisa lupa dengan malam itu. Malam itu merenggut segalanya dari aku, aku benar-benar kehilangan semua keluarga aku, bahkan diri aku sendiri" batinku.
"Tapi kamu gak perlu khawatir, aku bakalan lakuin semuanya demi kamu. Karena dalam hidup aku saat ini... aku cuman punya kamu, aku cuman peduli sama kamu. Kamu adalah sahabat aku yang paling berharga. Aku rela lakuin apapun demi kamu. Bahkan, kalau kamu minta aku buat hentiin semua rancana aku dan lupain semuanya, aku bisa lakuin semua itu demi kamu" lanjut, batinku.
Besoknya. Aku keluar dan berdiri di depan rumah Greysie sambil memikirkan sesuatu, perasaanku sangat gelisah juga takut.
Sesekali aku melihat jam di tanganku, melihat gerbang, menggigit kuku, mondar mandir, menahan amarah dan tangisan. Rasanya aku ingin teriak saja.
"Greysieee!" teriak Ayah Greysie.
Mendengar hal itu, membuatku terkejut sambil melihat kebelakang.
"Greysiee! mana kamu?! sini kamu!" teriak Ayahnya bercekak pinggang.
"Om, om jangan marah dulu om, biar aku jelasin, Ini semua salah aku, om jangan marah dulu ke Grey" ujarku, menghampiri.
Sementara itu. Di dalam kamar Greysie terkejut mendengar teriakan ayahnya, dia mulai menangis sambil memegang kepalanya.
Greydie kemudian berlari segera menghampiri ayahnya. Sedangkan di dapur, ibunya berhenti dengan aktivitasnya, dan segera menghampiri kami.
"Sayaa gak peduli! kamu tau berapa lama bagi saya untuk membangun perusahaan saya? dan kamu pikir saya bakal biarain anak yang gak tau di untung itu merusak perusahaan dan reputasi saya?!" bentak Ayah Greysie padaku.
Ibunya datang.
"Kamu kenapa sih? perusahaan kamu gak hancur! aku lihat baik-baik aja, kalau emang hancur, itu karena ulah kamu sendiri yang selingkuh terus-terusan sampai aku gak bisa hitung lagi berapa selingkuhan kamu sekarang!" sela Ibunya, marah pada suaminya.
"Kamu lagi, kamu lagi, kamu jangan ikut campurr! ini urusan aku sama tu anak, mending kamu pergi sana!" ucap Ayahnya, mengusir istrinya itu dari hadapannya.
"What?! kamu nyuruh aku pergi?! Okayy!" jawab kesal Ibunya.
Greysie datang.
"Ayo kita pergi dari sini Grey" ucap Ibunya sontak menarik tangan kiri Greysie.
"Mah," tatapan memohon, "mah..." ujar Greysie, menahan tangannya.
"Apa kamu bilang?! kalau mau pergi, pergi aja sendiri!" bentak Ayahnya, menarik tangan kanan Greysie.
"Lepasin gakk!" ucap Ibunya, menarik Greysie padanya.
"Om! tante! Grey kesakitan" ujarku menyela mereka.
"Kamu jangan ikut campur!" bentak Ayahnya padaku.
"Om kok jahat banget sama Grey, Grey kan anak om sendiri, om bener-bener gak peduli sama Grey?" tanyaku berkaca-kaca.
"Itu salah dia sendiri, kamu di bilangin jangan ikut campur, lebih baik kamu keluar sekarang!" usir Ayahnya menunjuk ke luar rumah.
"Apaan sih kamu! gak pp Cara tetap disini" balas Ibunya.
"Tan..," tatapan memohon, "pliss lepasin Grey" ucapku berusaha melerai mereka.
Ibunya kemudian melepaskan genggaman tangannya terhadap Greysie, namun tiba-tiba saja ayahnya mengeluarkan ikat pinggang miliknya dan mulai memukuli Greysie.
Melihat hal itu, sontak tubuhku bergerak refleks berusaha menahan Ayahnya, tetapi aku malah di dorong hingga terjatuh.
"Pahh! jangan sakitin temen aku..," memegang tangan ayahnya, "aku aja pah, aku yang salah" pinta Greysie menangis, memohon pada Ayahnya.
"Diam kamu!" bentak Ayahnya menepis tangan Greysie.
"Berani-beraninya kamu nyuruh dan ngatur saya, harusnya kamu tetap diam!" ucap Ayahnya, menendang dan menginjak tubuh Greysie.
Sementara itu, ibunya masih berusaha untuk menghentikan suaminya.
Aku yang tejatuh terdiam sambil menatap mereka. Tanganku mengepal, sedang napasku memberat.
Suara-suara mulai terdengar di kepalaku, telingaku berdengung, sementara aku terus menatap ayah Greysie.
Hahahaha. Ayo, ayo, ayo, ayo, Ayooo...!! Ayo kita bunuh dia, hehahahaha. Bunuh dia, bunuh dia, bunuh dia. Bunuh dia sekarang, bunuh dia sekarang. Bunuh dia sekaraaaang.....!!!
Mendenger teriakan itu, membuat aku berdiri dan melangkah menjauh dari mereka. Aku pergi ke dapur dan mengambil sebilah pisau.
Setelah itu, aku melihat ayah Greysie sambil menggenggam erat pisau di tanganku, kakiku berjalan perlahan menghampiri mereka. Sementara Greysie, ia menatap aku dan pisau di tanganku.
"Ra...?" ucap Greysie membulatkan mata.
Mendenger Greysie, membuat Ibu dan ayahnya terhenti bertengkar, lalu melihatku.
Sementara aku langsung mengayunkan pisau, dan menusuk tepat jantung ayah Greysie. Saat ayahnya terjatuh, aku mulai tersenyum dan menusuknya terus-menerus.
"Hahahahaha," aku tertawa puas melihatnya.
__ADS_1
Di saat aku ingin menusuk ayahnya lagi, tiba-tiba Greysie menghentikan tanganku.
"R-ha?" ucap Greysie gemetar.
Aku menoleh ke arah Greysie. Tatapan matanya seperti orang yang ketakutan melihatku, ia menatap benci padaku.
"Seharusnya gak gini, Raaa!!" teriak Greysie.
Mataku membulat, kemudian perlahan aku melihat ayah Greysie di penuhi darah, lalu darah itu menyentuh tangan kiriku.
Kemudian, aku juga segera melihat tangan kananku yang memegang pisau yang telah bercampur dengan darah ayahnya.
"Grey?" ucapku, lirih sambil melihat Greysie.
Kemudian, aku melihat mayat ayahku dan mayat ayah Greysie bersebelahan, lalu aku melihat kedua telapak tanganku yang sudah di penuhi darah mereka.
Bisikan-bisikan mulai terdengar di telingaku. Suara itu sangat berisik, memasuki ke dalam otakkku, membuat aku memegang kepala.
"Accept yourself, hahaha. Accept it, accept you, accept you, accept you, accept you! Hahahaha, hahahaha. Itu kau bodoh! Hahaha, terima saja kalau itu memang dirimu! Sampai kapan kau akan berpura-pura seperti ini? Sampai kapan, hah?!!"
Bisikan serta teriakan itu memenuhi isi kepalaku. Aku menutup mata karena telingaku terus berdengung.
"Lo harus mati, Ra" ucap Greysie, mengambil pisau dari tanganku.
Greysie lalu mengayunkan pisau itu ke arahku, lalu menusuk jantungku. Hal itu membuat aku tersadar dari ilusiku.
Suara isak tangis masih terdengar jelas, tarikan napas pendek serta detak jantung terdengar semakin cepat.
Aku tersadar dan melihat Greysie sudah tergeletak lemas karena di pukuli habis-habisan oleh ayahnya. Kedua orang tuanya masih bertengkar hebat seakan tak peduli dengan keadaan anaknya.
Melihat Greysie tergeletak lemas, sontak aku langsung berdiri dan menghampirinya.
Greysie menahan sakit, napasnya pendek terdengar cepat, sedang air matanya terus mengalir sambil menatapku. Aku bisa membaca dari tatapan matanya yang mengartikan bahwa.
Aku tak ingin hidup lagi, jika kau bisa, tolong bunuh aku sekarang.
Melihat tatapan matanya, membuat dadaku terasa sesak, aku memeluknya erat dengan tangisan kepedihan.
Sementara itu, masih terdengar suara ayah dan ibunya yang bertengkar hebat dan membanting barang-barang di dalam rumah ini.
Tak lama setelah itu, Ayah Greysie menghampiri kami lagi, sedang ibunya masih berusaha untuk menahan.
Kemudian, ayahnya segera memisahkan kami kemudian ia bertanya pada Greysie.
"Kata mama kamu, kamu kemarin dari rumah sakit?!" tanya ayahnya, marah besar.
"I-iya pah.." jawab Greysie, merintih menahan sakit.
"Sakit apa kamu sampai ke rumah sakit, jawab cepat!" bentak Ayahnya, menarik Greysie.
Greysie hanya diam, dia tak menjawab pertanyaan dari Ayahnya. Bibirnya gemetar, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Kemudian ayahnya secara kasar mulai memeriksa pergelangan tangan Greysie, dia melihat tubuh anaknya di penuhi bekas luka sayatan.
Saat melihat hal itu, amarah Ayah Greyssie semakin menjadi, sehingga membuatnya menampar Greysie sampai terjatuh ke lantai.
"Kenapa banyak," menarik tangan Greysie, "bekas luka sayatan di sini?!" tanya Ayahnya, sambil menggenggam erat tangan Greysie.
"Jangan bilang kamu mau coba bunuh diri?! udah berapa kali kamu lakuin itu hah?!" tanya Ayahnya, sambil memperlihatkan bekas luka sayatan.
"Hmfff, ak.. aku.." ucap Greysie menahan tangis.
"Jawabb! jangan nangis!!" teriak Ayahnya geram terhadapnya.
"Heyy, kamu gila ya?!" sela Ibunya, sambil mencoba melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Om, berhenti om, berhenti" ucapku juga berusaha melepaskan genggaman tangan ayahnya.
"Kamu Diam!" bentak Ayahnya menepis tanganku, namun tangannya tak sengaja menampar wajahku.
Plaakk.....!
"Aaah" ucapku, lirih dan memalingkan wajah,
Melihat hal itu, Greysie membuatnya segera memohon pada Ayahnya.
"Pahh, pliss jangan sakitin," memegang kaki Ayahnya, "Ca.. ra..." pinta Greysie, gemetar berlinang air mata.
"Aku.. aku bakalan jawab pah, aku bakalan jawab" ucap Greysie gemetar.
"Yaudahhh cepat jawab!" ujar ayahnya, menekan tangan Greysie.
"Hmff.. en.. enem.. enam kali pah" jawab Greysie, gemetar menahan sakit.
"Hooh, enam?! enam kamu bilang?! berani-beraninya kamu!" ucap Ayahnya, sambil memukul dan menendang Greysie.
"Pahh, sakitt pahh, ampunn pah, maafin aku pah, maafin aku, maafin aku..." pinta Greysie, kesakitan memohon ampun.
Aku terus berusaha untuk melindungi Greysie dari amarah Ayahnya yang semakin meluap karena mengetahui apa yang telah di lakukan anaknya terhadap dirinya sendiri.
Sementara itu, ibunya yang bersusah payah menahan ayahnya, malah di dorongnya hingga terjatuh.
"Om, stop om! Grey lakuin itu semua juga karena om! kalau om gak terus-terusan nayakitin Grey secara fisik dan mental pasti gak bakalan kek gitu, Itu semua salah om!" jelasku, marah pada Ayahnya.
"Udah saya bilangin kamu jangan ikut campur!" ucap Ayahnya, segera menarikku keluar rumah.
"Pahh, noo" menahan kaki Ayahnya, "no, plis pah. Maafin Grey, Grey minta m-maaf..." ucap Greysie, menghentikan Ayahnya.
Kami terus saling melindungi dari amarah Ayahnya sampai ayahnya merasa capek sendiri. Setelah merasa capek, ayahnya pergi lagi dengan perasaan marah.
Setelah Ayahnya pergi, ibunya langsung menghampiri kami.
"Grey, sini mama obatin luka kamu. Cara juga bakalan tante obatin" ujae Ibunya, membantu kami berdiri.
Mereka duduk di sofa, sementara aku masih berdiri. Ibunya mulai saat mengobati luka Greysie, sepertinya luka di perut Greysie terbuka lagi.
Tanpa aku sadari juga darah terus mengalir dari tanganku, tetesan-tetesan merah itu jatuh menyentuh lantai, sepertinya jahitannya juga terbuka.
"Sayang" berkaca-kaca, "kamu kenapa gak bilang ke mama, pliss jangan coba untuk bunuh diri lagi, kenapa gak cerita ke mama sayang?" tanya Ibunya, mulai menangis.
Greysie hanya memberikan tatapan kesal pada ibunya itu.
"Emang mama masih punya waktu lagi buat aku?! di mana mama saat aku lagi butuh? mama pasti lebih punya banyak waktu buat mabuk-mabukkan dengan semua cowok di klub itukan!" jelas Greysie, menaikan volume suaranya.
"Kamu tau dari mana? maaf sayang, maafin mama, mama kek gitu juga karena gak tahan sama sikap papa kamu yang terus-terusan selingkuh dari mama" ujar Ibunya, memegang tangan Greysie.
"Kenapa? kenapa mama lahirin aku?! kenapa?! aku mau mati ajaa!" ucap Greysie, menepis tangan Ibunya.
Sementara itu, aku hanya melihat mereka dengan tatapan kosong. Tanpa sadar air mataku ikut menetes, tanganku gemetar dan mengeluarkan darah, sedang kepalaku terasa sangat pusing.
"Maafin aku Bunda, maafin kakak Tiya. Aku gak bisa selamatin kalian dari Ayah. Semuanya emamg salah aku, seharusnya aku gak pernah hidup dan lahir ke dunia ini. Maafin aku, maafin aku. Aku beneran minta maaf" batinku.
Iya, semua itu benar. Semuanya adalah salahmu. Seharusnya saat itu kau membunuh ayahmu dulu sebelum ayahmu membunuh mereka, jika saja kau lebih dulu membunuh ayahmu, mungkin saja adik dan bundamu itu tak akan mati. Kau tau? Itu sebabnya aku sangat membencimu! Karena kaulah penyebab aku telah kehilangan segalanya! Sekarang, kau dengarkan aku! Bunuh ayah sahabatmu itu sebelum ayahnya membuhnya! Dengar?! Cepat bunuh saja ayahnya sekarangg!!!
Mendengar itu, membuat napasku semakin terengah. Isak tangis terdengar, sementara aku terus menutup telingaku.
Napasku tak beraturan, sementara pandanganku juga mulai memudar. Aku melihat dunia seperti berputar, tanpa sadar aku mulai terjatuh.
"Kok kamu ngomong gitu sih, sayang?" tanya ibunya menahan tangis.
Greysie lalu mengambil pisau untuk mengiris pergelangan tangannya lagi.
Brakkk......!
Terdengar suara jatuh. Sontak mereka berhenti bertengkar dan langsung melihat ke arahku.
"Raa," membulatkan mata, "Raa? omaygat Raa!" teriak Greysie, berlari menghampiriku.
Napas pendek dariku terdengar cepat, setiap tarikan napasku terasa seperti tersayat berkali-kali. Pandanganku menghitam lalu suara-suara tawa terdengar memenuhi isi kepalaku.
Hahahaha. Siall, lemah sekali kau ini! dengar diriku yang lemah, suatu saat.. Aku akan menguasai dirimu, jadi kau istrahat saja. Aku akan membunuh semua orang, termasuk sahabatmu itu. Aku tak tega melihatnya hidup, hahahahaha. Hahahahaha.
Air mataku tak henti mengalir, bibirku juga gemetar menahan tangis. Aku menatap lurus ke depan, di mana Greysie menatapku.
"Raa! Raaa!" teriak Greysie.
Semua suara-suara di kepalaku perlahan menghilang di saat aku pelan menutup mataku.
"Raa, kamu kenapa Ra. Raaa, Ra bangun... Bangun Ra, Raaa. Huhuuu, Raa banguuun" ucap Greysie cemas, lalu menangis.
"Mahh, maaa. Mama telpon ambulance cepetan maa!" teriak Greysie, gemetar.
"Cara kenapa Grey?! dia sakit apa?" tanya Ibunya khawatir.
__ADS_1
"Ak.., aku gak tau mahh, Ini pertama kalinya aku lihat Ca-ra kek gini" jawab Greysie, gemetar.
Bersambung...