Ilusi

Ilusi
BAB 7 (Part 2)


__ADS_3

Greysie sedang berada di dalam toilet rumah sakit, ia membayangkan saat sedang beradu pandang bersama dokter Aric sebelumnya, lalu tersenyum tipis.


Greysie berjalan keluar dari toilet sambil memegang telpon genggam miliknya, namun tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria tampan dengan model potongan rambut korean side bangs.


"Brakkk....!"


"Eh, maaf," saling tatap, "maaf, kamu gak pp?" tanya dr. Aric.


"Em, iya," beradu pandang, "iya gak pp" jawab Greysie tersenyum.


Mereka saling tersenyum dengan suasana yang masih canggung, kemudian mereka berjalan berdampingan di lorong rumah sakit.


********


Greysie dan Aric sedang berada di atap gedung rumah sakit, mereka duduk berdampingan di kursi yang terbuat dari kayu dengan warna cokelat kehitaman.


"Kamu udah berapa lama temenan sama Callista?" tanya dr. Aric.


"Em, bulan depan udah tahun ke empat kita sahabatan" jawab Greysie.


"Hm," mengangguk, "berarti kalian sahabatan dari kelas tiga Smp" ucap Aric


"Mm, yaa, waktu itu aku murid pindahan di sekolahnya, tapi aku kenal Cara sehari sebelum aku masuk" ungkap Greysie.


"Hm," mengangguk, "kok bisa?" tanya Aric.


"Em, aku gak masuk sekolah pas hari pertama karena ada sesuatu, and secara gak sengaja aku ketemu Cara, dan sejak saat itu hubungan kita makin deket sampai sahabatan," jelas Greysie, Aric mengangguk paham.


"Kalau kamu sama Rasya, udah lama juga temenan?" tanya Greysie.


"Hm," tersenyum, "iya, kita udah temenan dari kecil, soalnya orang tua aku dan Rasya deket satu sama lain" jawab Aric.


"Mm," mengangguk, "oh ya, aku boleh nanya gak?" seru Greysie.


"Iya boleh" ucap Aric, menatap Geysie.


"Cara pernah bilang ke aku, kalau Rasya itu sepertinya punya trauma meskipun dia seorang polisi, katanya senyumannya itu hanya untuk menutupi topeng sedihnya aja" tutur Greysie.


"Em," memalingkan wajah, "hmm, iya, sekitar satu tahun yang lalu adik Rasya meninggal, dan menurut Rasya itu adalah ulah pembunuh berantai, dan karena itu juga dia terobsesi buat nangkep semua pelaku pembunuh berantai" jelas Aric.


"Hm" ucap Greysie mengangguk paham.


"Tapi sekarang, pas udah kenal Callisata.., perlahan dia udah kembali seperti dirinya yang dulu, aku bisa lihat kalau sekarang Rasya udah bisa senyum tulus lagi" ujar Aric. Greysie mengangguk paham.


"Oh ya, Callista yang ngomong gitu ke kamu?" tanya Aric.


"Iya, dia sendiri yang bilang ke aku, Cara itu bisa langsung tau karakter atau perasaan orang lain, walaupun baru ketemu" jawab Greysie.


"Hm, dari omongan Callista, sepertinya dia juga sama Grey, selalu pasang banyak topeng untuk memendam perasaannya sendiri" ungkap Aric.


"Iya, aku kadang gak ngerti sama Cara, susah banget buat aku ngertiin, dia juga pernah bilang ke aku kalau dia juga kadang gak ngerti sama dirinya sendiri, jadi dia ngelarang aku buat jangan mempersulit diri aku hanya karena dia, dia gak mau aku cemas soal dia" jelas Greysie.


"Hm, berarti Callista gak mau sampai kamu banyak pikiran hanya karena dia, mungkin menurutnya lebih baik kalau masalahnya dia simpen buat dirinya sendiri, padahal itu bakal jadi boomerang buat dia sendiri" ujar Aric.

__ADS_1


"Iya, ini yang terjadi sama Cara sekarang, Cara gak mau cerita ke aku, padahal aku siap buat dengerin ceritanya, meskipun..." sambung Greyie.


"Meskipun...?" tanya Aric penasaran.


"Emm, meskipun.., meskipun Cara.." ucap Greysie.


Suara telpon milik Greysie tiba-tiba berbunyi, dia mengangkatnya.


"Sayang, kamu masih di rumah Cara?" tanya ibu Greysie di telpon.


"Em, iya mah, kenapa mah?" tanya Greysie balik pada Ibunya.


"Gak pp, mama cuman mau mastiin keadan kamu, kamu jangan jauh-jauh dari Cara ya, cuman dia yang bisa hentiin kamu buat ngelakuin hal-hal buruk sama diri kamu sendiri" ujar Ibunya.


"Iya mah" ucap Greysie lirih, menatap Aric.


Selesai menelpon.


"Em, maaf tadi mama aku nelpon" ucap Greysie.


"Iya, gak pp" balas Aric, lalu tersenyum.


Greysie berjalan, dia memandangi kota dari atas gedung rumah sakit. Aric mengikutinya.


"Aku pernah mau lompat dari gedung setinggi ini" ucap Greysie tersenyum.


"Apa yang menghentikan kamu" tanya Aric memandangi Greysie.


"Hm," tersenyum, "Cara yang hentiin aku, aku gak tau kenapa Cara bisa tau dimana pun aku berada" ujar Greysie.


"Hmf," tersenyum, "gimana ya, susah buat jelasinnya, it's.., it's complecated" ucap Greysie. Aric masih memandangnya.


"Cara itu..., dia susah banget buat di ngertiin, kadang dia bisa diam terus, kadang dia juga bisa jadi ngomong terus tanpa berhenti, dan.. aku takut kalau dia udah marah, karena marahnya Cara itu selalu diam, tapi..., kalau Cara udah gak bisa buat nahan amarahnya lagi, itu yang paling menakutkan, karena dia jadi gak bisa ngontrol dirinya lagi, kalau dia udah kek gitu, aku bingung mau ngapain" ungkap Greysie melihat kota dari atas gedung rumah sakit. Aric serius mendengarnya.


"Dia itu aslinya baik, baikkk banget, dia suka ngebatuin orang-orang kalau lagi kesusahan, tapi..., dia juga bisa jadi jahat banget kalau ada orang yang nyakitin aku, dia emang kelihatan cuek, tapi dia bisa jadi perhatian banget dengan cara dia sendiri and jadi care banget, dia bisa tau kalau aku punya masalah, meskipun aku berusaha untuk nyembunyiin masalah itu, dia bakal tahu dengan mudah kalau aku lagi bohong" jelas Greysie. Aric masih setia mendengar omongannya.


"Dia juga pernah bilang ke aku kalau mata itu gak bisa bohong, jadi percuma aja kalau aku bohongin dia, dan Cara itu tau semua tentang aku, tapi aku gak tau banyak tentang dia, aku pikir Cara masih nyimpen rahasia dari aku, Cara gak mau kalau aku kepikiran, padahal aku juga pengen bantuin dia, karena menurut aku semua orang itu berhak untuk di dengar" ungkap Greysie. Aric masih memandangnya.


"Hm, mungkin masalah yang Callista pendem lebih berat dari yang kamu pikirin" ucap Aric.


"Hmf," menghela napas, "iya aku tahu, tapi.., aku kan sahabat dia" sambung Greysie.


********


Sementara itu, di dalam kamar rumah sakit. Aku sedang berbicara dengan Rasya, kami tertawa dan saling memandang.


"Em, aku mau nanya pendapat kamu boleh gak?" tanya Rasya.


"Iya boleh" ucapku, lirih.


"Em, menurut kamu.., kenapa ya setiap orang punya rahasia?" tanya Rasya.


"Hm," tersenyum kecil, "emm, aku boleh pakai kata ungkapan gak?" ucapku.

__ADS_1


"Yah, sure" jawab Rasya tersenyum.


"Hm," aku tersenyum kecil.


"Saat kamu berada di ruangan yang kecil, kamu akan merasa sesak seperti tercekik, sedangkan ruangan yang luas membuat kamu akan merasakan kenyamanan, sejatinya perasaan nyaman adalah suatu hal yang sulit untuk di temukan, nyaman bukanlah suatu barang yang bisa dengan mudah kamu beli, jika kamu memilih untuk menghilangkan rasa nyaman itu, akan sulit bagi kamu untuk menemukan kenyamanan untuk kedua kalinya, sama halnya jika aku adalah tempat kamu merasakan kenyamanan"


"Namun aku memiliki rahasia yang tak bisa aku ungkapkan, lalu kamu malah memilih untuk mencari tahu apa rahasia itu meskipun kenyamanan antara aku dan kamu akan hilang dengan sendirinya, jika sudah seperti itu maka menerima semuanya adalah jawaban dari setiap persoalan, kamu gak harus menghancurkan kenyamanan antara kita, apalagi seorang manusia adalah makhluk yang sulit untuk menerima sesuatu dengan mudah, manusia akan sulit menerima suatu jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, kalau kamu tahu jawaban atas rahasiaku tapi kamu tidak mudah menerimanya, karena tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, hal itu akan membuat kita sama-sama tersakiti, maka lebih baik tidak mengetahui apapun di bandingkan merusak kenyamanan itu bukan?" ungkapku.


"Tapi.., apa kamu merasa nyaman jika harus terus menutupi rahasia itu? apa kamu tidak merasa sesak jika terus menyimpannya?" tutur Rasya.


"Hmf," tersenyum, "kamu tau gak? di dunia ini.., gak semua rahasia harus di ketahui, ada rahasia yang lebih baik tetap menjadi rahasia daripada harus di ungkapkan" ujarku.


Rasya termenung setelah mendengar perketaanku, dia mengingat kembali kejadian sekitar satu tahun yang lalu.


Flashback, satu tahun yang lalu. Rasya sedang berada di dalam rumahnya, ia sedang berbicara dengan adiknya Angeline.


"Kamu cerita ke kakak dekk," menatap mohon, "pliss, kakak bisa bantu kamu" pinta Rasya.


"Emf," berkaca-kaca, "aku.., aku gak tau harus mulai dari mana kak" ujar Angeline menangis pilu.


"Cerita ke kakak dek, pelan-pelan aja" ucap Rasya memegang tangan Angeline.


"Pliss, kakak gak bisa lihat kamu kek gini terus" pinta Rasya memohon.


"Ak.., aku.., aku gak.., aku gak bisa" ucap Angeline gemetar sedang air matanya terus menetes.


Angeline yang diliputi perasaan sedih juga takut langsung pergi meninggalkan Rasya tanpa menjelaskan apapun padanya. Rasya mengejar Angeline, namun kehilangan jejaknya.


Angeline melaju dengan mobil miliknya, melewati jalan yang gelap, sunyi, dan jauh dari keramaian, ia tak sadar kalau dirinya terlalu luput dalam kesedihan dan membuatnya membawa mobil tanpa melihat arah tujuan.


Namun, tiba-tiba mobil hitam mendahului mobil milik Angeline. Mobil itu berhenti secara mendadak tepat di depan mobilnya, membuat Angeline refleks mengijak rem mobil.


"Ciiiiiit.........!"


Angeline terkejut, ia melihat seorang yang memakai jubah berwarna hitam keluar dari mobil hitam tersebut.


Wajahnya nampak familiar membuat Angeline ketakutan, ia lalu menelpon Rasya dengan tangan gemetar.


Menelpon.


"Halo dek, kamu dimana?" tanya Rasya cemas.


"Kak.., t.., to.., tolong ak, akuu kak," ucap Angeline gemetar.


"Kamu di mana sekarang?!" tanya Rasya tegang.


"Ak..."


"Aaaaahh" teriak Angeline.


Orang tersebut menyeret Angeline membuat telpon milik Angeline terjatuh di mobilnya.


"Pliss, pliss, jangan bunuh aku.., kak tolong akuu!" teriak Angeline, suaranya mengecil.

__ADS_1


"Angeline? dek.. dekk, Angeline!" teriak Rasya di telpon.


Bersambung...


__ADS_2