Ilusi

Ilusi
BAB 33 (Part 2)


__ADS_3

"Really?!" ujar mereka ber3, serempak.


"Iya, kalian ke sini aja cepetan" perintah Riska.


"Aaah, gua seneng banget sahabat gua balik kek dulu lagi" ujar Mindy.


"Iya, gue juga. Lo kemana aja selama ini, Ka?" tanya Zey.


"Iya, gue juga seneng banget. Gue rasa anak-anak di sekolah udah mulai ngremehin kita semua" sambung Putri.


"Ckk!" gerutu Riska, mematikan telpon.


"Berisik banget" ucap Riska.


Raya hanya bisa diam mendengar sahabatnya itu mencela teman-temannya sendiri. Sementara itu, sahabat-sabahat Riska malah tersenyum setelah Riska mematikan telpon.


Mereka menganggap sikap jutek, tegas, emosian dan ngeselin itu memang ciri khas Riska sejak dulu. Mereka ber tiga pun segera bergegas pergi ke rumah Riska.


Bebrapa saat kemudian, setelah mereka semua sampai di rumah Riska, tepatnya mereka berada di lantai paling atas (ruangan santai).


"Kalian tau kan dulu gue pernah di teror sama orang di dalam wc saat itu?" tanya Riska.


"Hmm" jawab Zey, mengangguk.


"Iya, tau" jawab Mindy.


"Iya" jawab Putri.


"Emangnya kenapa?" tanya mereka ber3, serempak.


"Jadi yang neror gua saat itu ternyata si Cassie. Berani-beraninya dia sama gue. Selama ini dia terlalu di baikin sampai ngelunjak gitu. Emang harus di kasih pelajaran" ujar Risa, dengan mimik kesal.


"Loe yakin, Ka?" tanya Zey.


"Iya, gue yakin banget kalau itu Cassie. Emang siapa lagi kalau bukan dia? Kalian gak inget omongan Cara waktu itu?" jelas Riska, bersilang tangan.


"Hm, iya omongan Cara emang ada benernya juga, tapi... gue kok gak percaya sama dia" sambung Mindy.


"Iya, gue juga gak percaya. Dari dulu gue gak suka lihat dia, apalagi loe Ka, masa loe takut sama dia" ujar Putri, menatap heran pada Riska.


Putri lalu menyilangkan kaki dan menyender di sofa, mukanya terlihat kesal.


"Ckk! Sialan, kenapa mereka semua benci banget sama Cara? Lo semua gak tau aja sebaik apa tu anak. Kalian juga belum tentu bisa ngebuat hubungan gue sama bokap gue jadi sebaik sekarang" batin Riska.


"Siapa bilang gue takut sama si Cara, hah?!" bentak Riska, melihat malas muka Putri.


"Terus.. Kenapa selama ini lo diam aja kakau si Cara ikut campur urusan kita?" sela Zey.


"Sialan!" umpat Riska, dalam hati.


"Gue bukan takut sama dia. Gue takutnya sama bokap gue, bokap gue ngelarang gue buat gangguin dia. Entah gimana mereka sampai kenal, keknya dia ngadu ke bokap gue" jelas Riska, menatap malas muka Zey.


"Hm, jadi loe bakalan diem terus kalau dia ikut campur urusan kita lagi? Emang loe gak malu di remehin mulu?" tanya Mindy.


"Masalah dengan si Cara itu biar jadi urusan gue. Nanti kalau udah selesai, kalian lihat aja. Gue bakal buat hidup dia menderita" ucap Riska.


"Really?" tanya mereke ber 3 serempak.


"Ngarep lo pada" batin Riska.


"Iya" jawab Riska, dengan mimik kesalnya.


Raya hanya diam melihat teman-temannya berbincang satu sama lain.


"Ray, kok loe diem aja, sih?" tanya Putri.


"Gak, pp" jawab Raya singkat. Ia masih menyender di sofa. Matanya terus melihat keluar jendela, menikmati pemandangan.


"Hmff, loe teneng aja Ray. Kita bakal bales perbuatan Cassie sama loe" ucap Mindy mendekati Raya.


Mindy lalu bersender di pundak Raya dan sedikit memeluknya. Sedangkan Raya hanya diam menikmati keindahan pemandangan dari balik jendela rumah Riska.


Kemudian Raya terbayang saat ia berada di rumah sakit, di mana seseorang mengancam dirinya. Tentu saja seseorang itu adalah aku dan Greysie. Kami juga menyuruh Raya untuk memberikan antingku pada Riska.


"Ray...?" panggil Mindy, pelan.


Raya tersadar dari lamunannya. Ia lalu melihat Mindy dengan mimik sedih.


"Loe kenapa Ray?" tanya Mindy.


"Maafin gua" batin Raya.


"Lo tenang aja, Ray. Kita bakalan balas si Cassie taik itu" kata Mindy, menenangkan Raya.


"Lo tenang aja Ray, besok kita bakal ngasih pelajaran sama si Cassie. Gue juga bisa leluasa besok kerena Cara juga gak..." ujar Riska, tak selesai.


Semua teman-teman Riska langsung melihatnya dengan tatapan heran serta tanda tanya.


"Em, maksud gue... Kalian udah pada tau kan kalau selama ini dia selalu ikut campur urusan kita. Terus udah seminggu mereka berdua gak sekolah. Gue juga nanya ke guru katanya si Cara lagi sakit dan Grey jagain dia kerena si Cara gak punya siapa-sapa lagi untuk ngerawat dia" jelas Riska.


"Hmm, ooh. tapi... Alesan lo nanya ke guru apaan? Lo khawatir ya sama dia sampai harus nanya ke guru?" tanya Mindy, curiga.


"Fuckk this one!" umpat Riska, dalam hati.


"Mindy, lo nantangin gua?!" tanya Riska, emosi.


"Udah berani lo sama gua sekarang?!" tanya Riska, berdiri dengan raut wajah emosi.


"Ka, Ka. Sabar, Ka. Mindy kan cuman nanya doang. Jangan berantem lah, masa persahabatan kita rusak cuman kerena orang lain" ujar Putri.


"Iya, kalian jangan berantem. Lo juga Mindy, ngapain sih nanyain yang gak-gak?" ujar Zey.


"Yaudah, maaf. Maafin gua Ka, plisss" ujar Mindy, memeluk Riska, dengan tatapan memohon.


Riska kemudian berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu mereka ber lima pun segera menyusun rencana untuk membalas perbuatan Cassie besok di sekolah.


********


Sementara itu, di rumah Greysie. Rasya dan Heafen masih terlibat dalam ketegangan. Aric hanya bisa diam.


Sedangkan Greysie mengancam akan mengusir mereka dari rumahnya jika tak mau diam. Sementara aku tak tahu harus berbuat apa pada mereka. Mereka terus saling membalas kata kasar. Heafen juga memberikan perkataan tegas padaku, yakni ia tak akan menerima perkataan putus dariku saat itu. Hal itu membuat hatiku semakin sakit saat mendengarnya berkata demikian (Bab 9, Part 3).


"Ra, aku putusin mulai sekarang status kamu masih sebagai pacar aku, ti-tik!" tegas Heafen mengeraskan volume suaranya, kemudian ia melirik Rasya.


"Ah? Heafen..." ucapku lirih, menatap sedih.


"Gak, Ra. Saat itu kita belum putus karena aku gak setuju sama keputusan kamu" jelas Heafen.


"Tapi kan, aku..." ucapku lirih dan gemetar.


"Gak! Kalau emang kamu mau putus sama aku, kasih aku alasan yang jelas, kenapa kamu minta putus sama aku, kamu bisa jelasin? Gak kan? kalau gak bisa, aku gak bakalan terima kata putus dari kamu, ti-tik!" tegas Heafen, jari telunjuknya menunjuk ke bawah.


"Heafen...," menatap mohon, "Pliss.. kita udah sele..." ujarku, lirih


Ini adalah pertama kalinya Heafen marah padaku. Sebelumnya ia tak pernah mengeraskan volume suaranya padaku.


"Stop! I love you, Ra. Kamu denger? Aku sayang banget sama kamu, aku masih cinta, Raa" sela Heafen, suaranya melembut.


"A, ku gak bis..." ucapku sedikit tersentak.


"Aku pergi" sela Heafen lagi.


Heafen pergi begitu saja tanpa mau mendengar perkataan dariku. Sedangkan air mataku menetes melihatnya, isak tangis dari mulutku terdengar kecil sedang bibirku juga gemetar karena menahan tangisan.


"Maafin aku, aku juga mau hidup normal kek orang-orang Heafen. Aku juga sayang sama kamu, tapi..." batinku.


Kemudian, serpihan-serpihan ingatan pertengkaran kedua orang tuaku mulai terlintas di dalam benakku. Aku mengingat di mana mereka terus bertengkar sampai semuanya menjadi semakin kacau pada malam hari itu.


Setelah aku teringat kembali dengan kenangan-kenangan mengerikan. Hal itu membuatku menangis pelan dengan isak tangis yang terdengar sakit.


Rasya dan Aric terlihat cemas, sedangkan Greysie mulai memeluk erat diriku, ia ikut menangis mendengarku.


Dadaku rasanya sangat sesak, sedangkan hatiku teramat sangat sakit. Air mataku juga tak henti mengalir.


"K.. me, hmf.. iil me, rey.. Gre.. il, me" ujarku lirih dengan isak tangis.


"Hm? Kamu ngomomg apa, Ra? Aku gak denger" ucap Greysie, lembut.


"Pliss.. k, me, rey" ujarku lirih dengan air mata yang menyucur deras.


"Ah? Aku gak denger Ra. Kamu ngomong apa?" tanya Greysie lagi.


"i.., i can't, i can't do this, anymore, please.. kill me" ucapku pelan, tatapan memohon.


Mendengar perkataanku, membuat Greysie terhenti sejenak, jantungnya mulai berdegup kencang, sedang tangannya gemetar.


"Kamu ngomong apa, Ra? aku.. barusan aku salah denger kan?" tanya Greysie, memegang kedua pundakku.


"Pliss...hmf, aku gak bisa lagi, just.. kill me Grey, aku gak pp kalau.. itu, har- us kamu" pintaku lirih, sedang napasku tersentak karena isak tangis pilu.


Mendengar perkataanku, membuat jantung Greysie semakin berdegup kencang, tangannya gemetar, napasnya juga tersentak tak beraturan.


Pandangan Greysie saat melihatku seperti menjauh, ia melihat dirinya semakin menjauh dariku, semakin jauh, sangat jauh, membuat pandangan Greysie semakin menghitam, hanya sedikit cahaya kecil di kegelapan, sampai Greysie melihat semuanya menjadi gelap gulita.


Greysie perlahan berdiri sambil melihatku, tubuhnya tak seimbang, ia melangkah mundur pelan, sampai ia terjatuh pingsan.


"Grey...!" teriak Aric, langsung menangkapnya.


Rasya nampak bingung, ia seperti mematung, rasa trauma akan adiknya masih menghantuinya.


Sedangkan aku hanya melihat mereka. Aku pergi dari kamar ini sesegera mungkin, biarlah Aric yang mengurus Greysie. Namun saat aku ingin pergi Aric malah berteriak.


"Bro, jangan biarin Callista pergi!" teriak Aric. Dia segera menggendong Greysie ke tempat tidur.


"Rasya....! Jangan biarin Callista pergi!" teriak Aric sekali lagi, ia segera menaruh Greysie ke tempat tidur.


Tangannya yang sedikit gemetar, mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya. Ia membuka jarum suntik, lalu mengambil botol berukuran sangat kecil yang berisikan cairan. Aric lalu mengambil cairan itu dengan suntikan, tangannya masih gemetar. Sedangkan Rasya berusaha menahanku.


"Lepasin! Lepasin aku, aku mau pergi, lepasin Rasya!" bentakku, sedangkan seluruh anggota tubuhku memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan Rasya.


Aric segera menghampiri kami, ia lalu menyuntikan cairan itu, di lengan atas tangan kananku. Cairan itu adalah obat penenang.


"Lepa- sinnn..." ucapku melemas.


Semuanya menjadi nampak buram, mataku sesekali terpejam, lalu bola mataku memutar mencari Aric, tanganku pelan berusaha menahan tangannya, kemudian aku pun tertidur.


Rasya menggendongku ke tempat tidur, berdekatan dengan Greysie. Mereka lalu duduk sambil melihat keadaan menyedikan kami. Rasya melirik Aric, bibir pucatnya bergerak.


"Luka di hati seseorang akan lebih sulit untuk disembuhkan, gua tau banget soal itu" ucap Rasya. Aric lalu menoleh ke samping untuk melihat Rasya.


"Kita... harus jagain mereka berdua, sepertinya mereka udah ngalamin banyak hal pahit di dunia ini, gua ngerti maksud lo, bro" sambung Aric. Rasya mengangguk setuju.


Beberapa jam berlalu, Greysie mulai sadar. Ia langsung bangun dari baringnya dengan napas terengah.


"Haaaa, " Greysie terbangun, ia bernapas cepat, seperti pannic attacknya kambuh.


"Grey, Grey.. tenang Grey, ini aku Aric, kamu tenang ya, tarik napas dalam-dalam dari hidung..," ucap Aric memeragakan.


"Fuuuhh, keluarin pelan-pelan dari mulut, lakuin lagi, uuuff... fuuuuhh" lanjut Aric sedang Greysie mengikutinya. Rasya menyimak.


"Kamu udah tenang sekarang?" tanya Aric, kemudian di anggukan Greysie.


Greysie lalu menoleh ke samping, ia melihatku sedang tidur. Bibirnya mendesik mengerucut.

__ADS_1


#


Beberapa saat kemudian, sekarang waktu sudah menunjukan pukul 20:01 malam. Rasya berpamitan pada Aric dan Greysie, setelah ia menerima telpon dari rekannya.


"Gua balik dulu bro, Grey aku balik dulu" pamit Rasya, ia berdiri. Aric dan Greysie ikut berdiri.


"Em, gua ikut. Soalnya ada urusan juga, kamu beneran gak pp Grey?" tanya Aric memegang pundak Greysie.


"Iya" jawab Greysie, tersenyum.


"Kalau gitu kita pamit dulu" pamit Aric.


"Iya, kalian hati-hati, maaf aku gak bisa anterin sampai depan" ucap Greysie pelan.


"Iya, Call kita nanti Grey. Kamu juga harus jaga kesehatan" ujar Rasya. Greysie mengangguk dan tersenyum.


Greysie kemudian menatapku yang sedang tertidur dengan mimik wajah berpikir.


"Besok gua harus bawa Cara ke psikolog" batin Greysie.


Satu jam kemudian, aku terbangun sedikit terkejut karena bermimpi. Tanganku mengepal sedang kepalaku terasa sangat pusing.


"No, no.. No, no.. No" ucapku, mengigau.


Mimpi itu membuatku terbangun kerena di dalam mimpiku, aku terus berjalan ke arah rumahku kemudian melihat mayat Ayah, Ibu dan aku. Lalu aku melihat diriku sendiri di mana tanganku berlumuran darah. Kemudian, aku melihat lagi bayanganku di dalam cermin sambil menatap benci (Bab 10, Part 1).


"Nooo.....!" teriakku, tanganku mengepal sedang aku terbangun, duduk di tempat tidur.


Greysie masih setia menungguku, saat aku bangun ia langsung memeluk erat diriku.


"Aku tau kamu nahan sakit, Ra" batin Greysie, air mata pilu menetes mengalir dari pipinya.


"Grey..." panggilku lirih, bibirku gemetar menahan tangis. Kemudian aku menggelengkan kepala padanya.


"Aku gak mau lanjutin ini lagi, Grey" ujarku lirih dan gemetar.


"Kita udah janji bakal sama-sama terus, Ra. Kalau kamu milih untuk mengakhiri semuanya, aku bakal ikut kamu" ujar Greysie menatap pilu.


"Why Grey? why...? why, why, why, aah? tanyaku pelan gemetar, air mata kiriku menetes.


"Why.. Am- I living in this hell world?" tanyaku berlinang air mata, bibirku juga gemetar.


"Why? huhu~ i hate me, i hate me Grey, i hate this world dan semua isinya, i hate all of it, i hate me, i fu*king hate my self, i fu*king hate me" ucapku dengan tangisan menyedihkan.


"I fu*king hate me, Grey. I hate me, huhuuu. I hate, i hate it" ujarku lirih. Sedang aku menyandarkan kepalaku di kedua telapak tanganku.


"Why you hate so much ur self, Ra? Aku lebih suka saat kamu ceria, saat kamu ketawa dari pada kek gini" ucap Greysie, menatap sedih sedangkan air mata memenuhi pipinya.


"Iya, kamu bener Grey, aku selalu tertawa. Tapi tidak dengan dia, kalau kamu buka topengnya, maka wajah lain yang nampak hanyalah rasa sakit" batinku.


Mataku terpejam dengan air mata yang menetes. Aku berusaha untuk mengendalikan emosiku saat ini. Aku tak ingin semuanya menjadi kacau jika aku tak bisa mengendalikan diriku.


Beberapa saat kemudian, aku pun tertidur kembali karena efek obat sebelumnya. Sementara itu Greysie melihatku dengan tatapan penasaran.


Bagi Greysie tidak mudah untuk menahan sebuah pertanyaan di benaknya. Ia mulai mengingat kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu. Setekah tersadar dari lamunannya, Greysie kemudian memakainkan selimut padaku.


#


Sementara itu, Gotreasure sudah bersiap-siap untuk menyerang markas Alaska.


"Kita serang markas Alska, sekarang!" perintah Rendi, diikuti sorakan meriah dari teman-teman geng motornya.


Di dalam markas Alaska. Heafen sedang berbicara dengan wakilnya, yaitu Aaron.


"Hari ini Gotreasure bakal nyerang markas kita, bro" kata Aaron memberitahu Haeafen.


"Kita tungguin aja mereka. Hari ini Gotreasure harus kena akibatnya, gua mau ngelampiasin amarah gua sekarang sama mereka" ujar Heafen


Wajah Heafen sangat tidak enak di pandang, membuat bulu kuduk merinding, emosinya sudah berada pada puncaknya.


"Siap, bro" sahut Aaron.


Beberapa jam kemudian. Geng motor Alaska sudah bersiap di markas mereka. Heafen sedang duduk di kursi miliknya di temani Aaron sebagai wakilnya. Sedangkan 3 orang berjaga di depan pintu ruangannya. 8 anggota lain berjaga di dalam markas.


Detik jam bergerak, suara geng motor mulai memenuhi markas Alaska. Rendi memimpin anggotanya. Mereka kemudian berhenti di depan markas Alaska. Mereka turun dari motornya, segara masuk ke dalam, tak lupa juga mereka membawa alat pemukul baseball.


Perkelahian sengit terjadi, mereka sama-sama kuat karena semua anggota Gotreasure maupun Alaska terlatih dalam bela diri masing-masing.


Sementara itu, Alvan dan Rendi segera mencari ruangan Heafen. Setelah menemukannya Alvan langsung mendobrak pintu yang berwarna hitam tersebut, membuat pintunya terlepas.


Di dalam ruangan Heafen sedang duduk santai menunggu kedatangan mantan sahabatnya sekaligus musuh bebuyutannya itu.


"Haaahaha, akhirnya lo sampai juga" sapa Heafen sopan pada Rendi.


Rendi dan Alvan masuk, sedangkan Aaron menghalangi mereka. Aaron membusungkan dada, menandakan jika ingin melawan Heafen langkahi mayatnya terlebih dahulu.


Mereka mulai baku hantam lagi, 2 vs 1. Di saat Rendi ingin pergi menghampiri Heafen, Aaron selalu di halanginya. Hal itu membuat Rendi sangat marah sehingga ia memukul Aaron dengan tinju andalannya, membuat Aaron terjatuh seketika. Sedangkan Alvan yang tadinya ingin menonjok Aaron hanya bisa terdiam melihat Aaron terjatuh karena terkena pukulan Rendi.


Sementara itu, Heafen tersenyum tipis, ia lalu berdiri dan mulai bertepuk tangan sambil melihat Rendi.


"Hahaha... Ini, ini dia tinju andalan mantan ketua gua dulu, hahaha" ejek Heafen, menepuk tangan.


Rendi kemudian melirik Alvan untuk mengkode. Alvan mengangguk, ia lalu berjalan mundur sambil menarik Aaron keluar dari ruangan tersebut.


Setelah itu, Rendi mengambil ancang-ancang untuk memukul Heafen begitu juga dengan Heafen. Mereka berada dalam posisi yang sama. Seperti dua petinju terbaik yang akan saling melawan satu sama lain.


Rendi mengambil langkah pertama, tangan kanannya bergerak ke arah wajah Heafen, sedang Heafen bersiap, kedua tangannya menghalangi tinjuan Rendi pada wajahnya.


Rendi dan Heafen masih adu kekuatan, tak ada yang kalah antara keduanya, tetapi mereka juga sudah sama-sama kelelahan.


Tak lama setelah itu, suara sirene mobil polisi mendekat ke markas Alaska. Alvan masuk dan langsung berteriak pada Rendi.


"Bro, polisi datang. Sebaiknya kita pergi sekarang" teriak Alvan.


"Bro, ayo kita pergi dari sini" ajak Aaron.


Mereka lalu berdiri di atas jendela, segara melompat dari atas gedung dua lantai tersebut, namun polisi dengen ceketan menghentikan mereka.


"Berhenti, dorr" tembakan di lepas ke atas.


"Berhenti, kalian!" ucap Rasya.


Heafen dan Aaron melirik ke belakang, mengangkat kedua tangan mereka. Wajah Heafen semakin kesal setelah mengetahui jika polisi itu adalah Rasya.


Agus dan Anthony juga datang. Mereka langsung memborgol Heafen dan Aaron dan membawa mereka ke kantor polisi.


#


Besoknya paginya. Greysie sedang duduk di tempat tidur. Sementara ia sesekali melirik aku yang sedang tertidur.


"Di rumah sakit saat itu Cara bilang kalau gua gak ngehargain usahanya. Gua seharusnya bisa lebih ngertiin Cara. Kalau dia bangun," melirikku, "Gua harus bisa ngebuat Cara ngerasa kalau gua emang hargain usaha dia" batin Greysie.


"Hari ini Cara juga harus konsul sama Bu El. Gua pengen urutin semuanya supaya bisa paham semua masalah Cara" lanjut Greysie, membatin.


"Hmm," mendekat, "Gua heran kenapa ni anak gak pernah bisa terbuka ya sama gua? Sebenarnya apa sih yang dia sembunyiin dari gua selama ini?" batin Greysie.


Beberapa menit kemudian, aku terbangun dan terkaget karena melihat wajah Greysie sudah berada tepat di depan wajahku.


"Huaaaaa," menguap, "Hah, loe?! Gua kaget nying. Ngapain natap gua kek gitu" tanyaku, heran.


"Okeh, siap- siap sana, kita pergi sekarang" perintah Greysie, bangun.


"Hah? pergi kemana?" tanyaku keheranan.


"Udah siap-siap aja sana cepetan" ucap Greysie, memaksaku bangun.


"Okeyy. Oke, oke" ucapku melirik heran padanya.


Kemudian aku berjalan masuk ke kamar mandi, sesekali melihat ke arah Greysie, sementara ia terus menatapku.


"Ni anak kenapa, bikin takut aja" batinku.


"Luka kamu jangan sampai kenak air" teriak Greysie.


Satu jam lebih berlalu, aku selesai mandi dan bersiap. Kami pun segera berangkat. Di luar rumah Greysie. Ia terus melihat jam tangannya.


"Ra, bentar sore aja kita pergi. Kamu tungguin aku di dalem. Aku harus pergi buat ngurus sesuatu" ujar Greysie.


"Aku gak ikut?" tanyaku.


"Iya, kamu masih sakit. Harus banyak istirahat" jawab Greysie.


Greysie melangkah masuk ke dalam mobil sedangkan aku memasang wajah kesal dan cemberut padanya.


"Aku gak bakalan lama" ujar Greysie, melambai sambil tersenyum.


Greysie pergi untuk menyelidiki Bryan. Hari ini Andrian bersama ke-5 temannya akan bertemu dengan Bryan.


Sesampainya di tempat mereka berada. Greysie segera memarkirkan mobil miliknya dan menguping pembicaraan Bryan dan Andrian.


"Bagaimana kalian bisa tau informasi tentang saya?" tanya Andrian pada Bryan dan Hendry.


"Hnh, itu hal mudah bagi saya untuk mencari tau informasi seperti ini" jawab Bryan.


"Terus? Sebenarnya apa maksud kalian mengundang saya datang ke sini?" tanya Andrian.


"Seperti kata saya sebelumnya. Saya tau kalau kalian telah menyewa seseoarang untuk mencelakai Cara Callista bersama temannya. Maksud saya mengundang kalian untuk datang kesini adalah untuk mengajak kalian bekerja sama dengan saya" ujar Bryan.


Mendengar hal itu, Andrian bersama ke-5 temannya saling bertatap-tatap.


"Kerja sama?" tanya Andrian.


"Iya, saya tau kalau kalian membenci mereka. Jadi saya ingin mengajak bekerja sama untuk merusak hubungan mereka berdua" jelas Bryan.


"Kalian juga berencana untuk ngerusak hubungan mereka?" tanya Andrian, tak percaya.


"Kenapa? Apa kalian juga berencana seperti itu?" tanya Bryan.


"Iya, saya dan teman-teman saya sudah berencana untuk merusak hubungan mereka supaya kedepannya kami bisa lebih mudah untuk menyerang mereka kalau hubungan mereka sudah rusak. Pasti mereka udah gak bisa saling melindungi lagi" jawab Andrian.


"Hnh, hahahaha," Bryan malah tertawa sambil bertepuk tangan.


Sementara itu, Andrian dan kelima temannya nampak kebingunan melihat Bryan.


"Gua suka itu, hahaha. Rencana kalian bagus juga. Kalau hubungan mereka rusak mereka pasti gak bakalan bisa untuk saling ngelindungi lagi. Iya, iya. Bener, bener... Hahahaha" ujar Bryan, masih tertawa.


"Gua suka kalian. Kalian mau gak kerja sama sama gua?" tanya Bryan.


"Sebelumnya saya ingin bertanya. Kenapa kalian minta kami untuk bekerja sama dengan kalian?" tanya Andrian.


"Lo gak perlu kaku lagi. Lo bisa bicara santai saja sama gua. Gua suka sama rencana kalian. And alasan kenapa kita ingin kerja sama dengan kalian karena gua butuh seseorang yang juga benci sama mereka dan lo emamg cocok buat di ajak untuk kerja sama" jelas Bryan.


"Kenapa lo benci sama mereka?" tanya Andrian.


"Hm, mereka udah buat pacar gua nangis. Mereka juga udah buat orang tua pacar gua masuk ke penjara. Gua mau ngancurin hubungan mereka, terus jadiin si Cara Callista itu sebagai kambing hitam untuk membalikan keadaaan" jelas Bryan.


Mereka terus berbincang sampai menjadi semakin akrab. Bryan juga menceritkan tentang orang tua Cassie yang di jebak atas kasus pembunuhan berantai.


Sementara itu, Greysie yang mendengar mereka nampak sedang menahan emosi yang menggebu. Tangannya di kepalkan sedang matanya menatap benci.


Setelah itu, Greysie segera pergi dari sana. Ia menjalankan mobilnya selaju mungkin. Beberapa saat kemudian, Greysie telah sampai di rumahnya.


Sementara itu, aku sedang duduk di sofa di dalam kamarnya, sedangkan telingaku memakai sebuah headsed bluetooth, aku menikmati sebuah lagu yang berjudul Ismail Closed Doors-Sped Up Vers.

__ADS_1


Greysie datang, langsung mencabut headsed sebelah kiriku dan tersenyum bahagia padaku. Hal itu membuatku membuka mata dan menatap wajah bahaginya itu.


"Kamu tau gak, Ra? Aku senang banget Papa aku udah gak bisa mukulin aku dan Mama lagi. Papa juga gak harus mati, jadi mama gak terlalu sedih. Kamu selalu bisa buat keputusan terbaik untuk aku, thank u Ra" ujar Greysie, tersenyum haru.


Greysie berjalan mundur, ia lalu duduk di tempat tidur masih dengan wajah bahagianya.


Sementara itu, aku menoleh ke arahnya dan segera berdiri untuk menghampirinya. Aku lalu duduk tepat di depannya sambil menatap matanya sangat dalam. Sementara tanganku memegang erat tangannya penuh kehangatan dan kenyamanan.


Mimik wajah Greysie yang tadinya senang berubah menjadi tatapan sedih. Aku menatap Greysie dengan tatapan sendu.


"Pliss jangan natap aku kek gitu lagi, Ra..." batin Greysie.


"Kalau gak ada kamu mungkin aku udah nyerah sama hidup ini, Grey" batinku.


Aku terus menatapnya dengan tetapan sendu. Sementara itu, mimik wajah Greysie menatap mohon padaku.


"Pliss, jangan natap aku dengan tatapan itu lagi. Aku gak mau lihat tatapan it-tu Ra. Raaa... aku mohon..." batin Greysie.


Aku memahami maksud dari tatapan mata Greysie padaku. Hal itu membuatku perlahan ingin tersenyum padanya.


"Pliss... Pliss... Pliss jangan... Jangan senyum dengan tatapan sedih itu..." batin Greysie.


Genggaman tangan Greysie padaku semakin erat. tatapan matanya sangat sedih. Kemudian perlahan senyuman kecil mengukir wajahku.


Hal itu membuat air mata kiri Greysie menetes. Sedangkan aku masih menatapnya sendu, lalu aku menghapus air matanya.


Perlahan tanganku meraih tubuhnya, lalu aku memeluknya sangat erat penuh dengan kehangatan dan kenyamanan.


"Kamu jahat, Ra" batin Greysie. Ia memejamkan matanya dan membalas pelukanku.


Isak tangis kecil mulai terdengar dari mulut Greysie. Ia terus menangis sampai terseduh-seduh.


Sementara aku masih memeluknya erat penuh dengan kehangatan, kenyamanan dan kasih sayang.


"Grey udah bisa nebak ekspresi wajah aku sekarang? Dia pasti berusaha keras untuk belajar memahami aku. Maafin aku Grey" batinku.


"Kalau aku udah tau tentang masalah kamu yang sebenarnya, aku janji bakal terima dan bantuin kamu buat nyelesain semuanya. Aku juga janji setelah aku tau nanti, aku bakal buat keputusan yang terbaik untuk kamu" batin Greysie.


Beberapa saat kemudian. Setelah Greysie sudah bisa mengendalikan dirinya kembali. Ia pun mengajakku pergi ke suatu tempat.


"Kita mau kemana sih sebenarnya?" tanyaku.


"Udah kamu diam aja" ucap Greysue.


Sementara itu, aku menghela napas berat sambil bersilang tangan. Setelah beberapa saat di perjalanan, kami tiba di tempat tujuan.


Mataku membulat katika membaca nama tempat yang kami tuju, lalu aku melirik Greysie. Kami pun keluar dari mobil dan masuk.


"Hey, hey... Why? Hey, hey" panggilku, mengejar Greysie dan berusaha menghentikan langkahnya untuk berbicara.


Greysie hanya diam, ia terus melangkah sampai kami berhenti di depan meja resepsionis. Greysie kemudian mengurus semua keperluan dan menyuruhku masuk ke ruang psikolog.


Sementara itu aku terpaksa harus mengikuti kemauannya karena sudah terlanjur berada di tempat ini meskpiun aku masih bingung dengan semuanya.


Di dalam ruangan psikolog.


"Ehh, hai bu el, apa kabar" tanyaku, canggung.


"Ibu baik Callista, kamu gimana kabarnya?" tanya balik Psikolog.


"Em, aku baik bu, hehe" jawabku, masih canggung.


"Okey Callista, biasanya kamu kesini nganterin Grey, and sekarang kamu yang di sini" ujar Psikolog tersenyum.


"Haha, emm, iya... hehe" jawabku menggaruk leher yang tak gatal.


Satu jam lebih kemudian. Aku keluar dari ruangan. Greysie langsung menghampiriku.


"Udah?" tanya Greysie. Aku menangguk, iya.


"Aku masuk dulu ya, kamu tunggu sini aja dulu" ujar Greysie, tangannya memutar gagang pintu ruangan psikolog.


Di Dalam,


"Kamu tau mbti Callista? tanya Psikolog, tangannya bermain dengan pulpen, menunggu jawaban untuk mencatat lagi.


"Dia Infj, aku Entp" jawab Greysie. Bu el mengangguk, sementara tangannya masih mencatat di kertas diagnosis tersebut.


"Hmm, pantes kalian berteman" ungkap Psikolog tersenyum. Greysie tersenyum canggung.


"Em, jadi.. Callista ini mempunyai trauma masa lalu yang sangat mendalam, sehingga membuat Callista tidak bisa menerima dirinya sendiri" lanjut Psikolog membuka penjelasan pertama. Greysie terdiam sedang jantungnya mulai memompa darahnya dengan cepat.


"Bisa di bilang Callista membenci dirinya sendiri dan gak mau menerima sebagian dari dirinya, em... Callista terlalu memendam semua perasaannya sendiri, sehingga membuat Callista tampak seperti baik-baik saja dengan memakai semua topeng palsunya. Callista sangat kesulitan untuk menceritakan masa lalunya. Sepertinya itu adalah sesuatu yang Callista kubur dalam-dalam. Callista tidak mau hal itu menghantui dirinya, akan tetapi... sebenarnya hal itulah yang menjadi penyebab utama yang tidak Callista sadari. Penolakan terhadap dirinya sendiri, tidak mau menerima kenyataan yang telah terjadi menjadikan Callista seperti sekarang" Ujar Psikolog.


"Dia suka membuat lolucon kan? suka tertawa seakan dia baik-baik saja, emm.. dan kelihatannya nampak humoris jika kamu udah kenal dekat dengan Callista" tanya Psikolog.


"Em, iya bu el" jawab Greysie dengan mimik sedih.


"Nah, kelakuan konyol, tawanya, semua lolucon yang Callista keluarkan hanyalah untuk menutupi perasaan sebenarnya, dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Bisa di bilang, Callista... pandai bermain ekspresi untuk menutupi perasaannya, dan kamu bisa dengan mudah tertipu, orang-orang seperti dia diluar sana terbilang sangat manipulatif" jelas Psikolog.


"Kamu pernah bertanya tentang masa lalu Callista, gak?" tanya Psikolog.


"Iya bu, pernah" jawab Greysie, lirih.


"Terus.. gimana reaksi Callista saat kamu bertanya tentang masa lalunya?" tanya Psikolog lagi


"Emm, dia... marah bu, maraah banget, and... setiap aku tanya tuh dia kek selalu menghindar, mengalihkan topik pembicaraan ataupun diam, seakan-akan dia gak bolehin aku untuk tau, bu" jelas Greysie.


"Hm," memgangguk dan mencatat, "kemungkinan besar itu adalah masalah yang sangat serius, di mana Callista tidak ingin orang lain sampai tau, sehingga Callista menutupnya rapat-rapat. Bisa jadi juga Callista telah melakukan kesalahan di masa lalunya yang membuat Callista sulit untuk menceritakan, selain karena Callista sendiri tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah melakukan kesalahan itu, Callista juga takut orang lain akan menyalahkan dirinya atas kesalahan tersebut" ujar Psikolog.


Beberapa menit berlalu. Greysie keluar dari ruangan. Wajahnya seperti sedang memikirkan banyak hal, ia termenung memikirkan semua yang telah ia ketahui.


Greysie seperti orang yang sedang kebingungan. Seakan baru saja melihat sesuatu yang mustahil belaka tetapi malah menjadi kenyataan yang mengejutkan. Ia kemudian duduk dan mengingat semuanya kembali.


"Semua itu bener? Cara bunuh ayahnya sendiri? ak, aku.. aku kira waktu Cara mabuk saat itu..." batin Greysie.


Greysie lalu mengingat perkataanku padanya sekitar dua setengah tahun yang lalu, di mana aku mabuk berat dan mengatakan rahasiaku padanya.


Greysie masih duduk temenung sedangkan aku mencemaskan dirinya dan berusaha untuk berbicara dengannya.


"Grey, are you okay"? tanyaku, memegang tangannya.


"Hemm, hmff, biarin otak aku mencerna semuanya dulu" jawab Greysie, suaranya pelan juga gemetar.


"Hah? Kamu ngomong apaan, aku gak denger" tanyaku, mengrytkan kening keheranan.


Greysie hanya diam. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Ia termenung sangat lama, sedangkan aku berdiam diri, menunggunya sampai ia merasa tenang kembali.


Greysie termenung sangat lama, sesekali ia memegang kepalanya. Berdiri lalu duduk lagi, berjalan kesana kemari, bercekak pinggang, bersender di dinding, menarik napas dan langsung menarikku keluar dari tempat psikolog tersebut.


"Grey..." panggilku pelan, menahan tangannya.


Namun Greyssie hanya diam, tangannya sangat dingin saat memegangku. Ia kemudian membuka pintu mobil miliknya dan menyuruhku masuk.


"Masuk" perintah Greysie. Aku meliriknya dan menuruti perintahnya.


Greysie kemudian menyalakan mobil miliknya, ia membawaku ke tempat yang sangat jauh dan sunyi. Mobilnya berhenti di sebuah hutan belantara.


"Tunggu sini" perintah Greysie.


Aku kebingungan dan hanya menuruti perkataannya. Greysie keluar dari mobil, ia lalu berdiri di dekat pohon besar di hutan tersebut.


"Aaaaaaaaah...! Fuckk, fuuuckkk!" teriak Greysie.


Sementara itu di dalam mobil, aku terkejut mendengarnya dan segera keluar dari mobil, langsung menghampirinya.


"Grey....!" teriakku, berlari menghampirinya.


"Why u screaming? You okay?" tanyaku mencemaskan keadaannya.


Greysie lagi-lagi tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam dan langsung menarik tanganku lagi sampai ke pintu mobil. Greysie membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk.


"Masuk!" perintah Greysie. Aku menghela napas berat, namun tetap menurutinya.


Mobil Greysie melaju. Sepertinya dia sangat marah. Ia sesekali menghentikan mobil untuk menenangkan pikirannya. Sementara aku hanya bisa mengamati kelakuannya.


"Bu el ngatain apa tentang gua? Kok ni anak marah banget, dia marah ke gua atau orang lain?" batinku.


"Tapi keknya dia marah ke orang lain, kalau marah sama gua pasti langsung ngomong tanpa basa basi" batinku. Aku terus melihat ke arahnya.


"Tatapan lo itu Grey, kenapa?" batinku.


"Grey, aku gak mau kamu ngelakuin sesuatu yang lain, kamu berhenti stop jangan mikir itu" ucapku, melihat kearahnya.


Sontak Greysie langsung menghentikan mobil miliknya. Ia lalu melihat kearahku dengan wajah yang masih memerah karena menahan emosi.


"Udah, loe diam aja!" bentak Greysie.


"Gua gak mau, ti-tik! Loe jangan ngelakuin hal-hal aneh" ujarku mengeraskan suara.


"Emang gua mikiran apaan? Loe bisa baca pikiran gua, hah? bisa baca?" tanya Greysie, emosi.


"Gua tau apa yang ada di pikiran loe sekarang. Kalau loe mau ngelakuin hal lain, kita gak usah sahabatan lagi" tegasku, membuat Greysie sangat tak suka.


"Diam gak? loe diam aja anj*ing!" cela Greysie. Itu adalah pertama kalinya dia mengataiku.


"What? what the fu*ck? why did you say to me? anj*ng? loe ngatain gua anj*ng? Fu*ck you!" bentakku.


"Kenapa emangnya? Gak suka? Gak suka kalau gua ngomong gitu ke elo, hah? Makannya kalau gua suruh diem, ya diem aja!" ujar Greysie menyombong, tak peduli.


Aku menghela napas berat dan memilih untuk aku diam karena malas berdebat dengannya. Greysie membawa mobilnya selaju mungkin sampai di depan gerbang rumahnya.


Satpam lalu membukakan pintu gerbang. Sesampainya di depan rumahnya, kami keluar dari mobil. Greysie langsung menghampiriku lagi dan menarik tanganku.


Kami berjalan ke arah lift, tangan kanan Greysie langsung memencet tombol di dalam lift karena tangan kirinya masih menggenggam erat tanganku.


Sesampainya di lantai atas, ia langsung menarikku untuk pergi ke kamarnya. Greysie memaksaku duduk di tempat tidur. Ia lalu mengambil kotak obatku, dan mengambil 3 butir obat untukku.


"Minum!" perintah Greysie.


Tangannya berada di depan wajahku, aku mendongak untuk melihatnya, lalu keningku mengkeyrt dengan mimik keheranan.


"Ini kan obat tidur, 3 biji lagi, dia mau gua mati overdosis apa" batinku.


"Gak, gua gak mau" ucapku menolak.


Greysie tak senang mendengarnya. Ia lalu membuka paksa mulutku dengan tangan kirinya dan memasukan obat itu ke dalam mulutku.


"Telen gak! telen cepetan!" perintah Greysie memolototiku, sedang tangannya masih memegang bagian wajahku.


Sementara itu, aku dengan terpaksa harus menelan obat tidur sambil menatapnya.


"Grey? Kamu lagi ngerencanain apa sekarang? Terus kenapa harus gini caranya? Apa aku udah buat salah?" batinku.


Greysie langsung memberiku minum. Sementara itu mataku sesekali terpejam, aku menjadi sangat mengantuk dan aku pun tertidur. Greysie masih berdiri di depanku. Aku tertidur dengan kepala bersender di bagian perutnya.


"Maafin gua" batin Greysie, air matanya menetes.


Greysie segera membaringkanku perlahan ke tempat tidur. Ia lalu mendongak sambil menarik napas panjang-panjang.


"Fuuuuuuuh"


"Gua harus... Ikutin rencana si Bryan dan Andrian. Kalau mereka ingin ngerusak hubungan kita, aku harus pura-pura benci sama kamu, Ra. Maafin aku kalau harus natap benci kamu nantinya" batin Greysie.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2