Ilusi

Ilusi
BAB 8 (Part 1)


__ADS_3

Satu minggu berlalu, kami berada di dalam rumah sakit. Aku telah di perbolehkan untuk pulang.


Hari ini, Greysie memaksaku untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin aku berada di sana agar bisa menjagaku.


Rasya dan Aric juga membantu kami untuk mengurus semuanya. Aku merasa Aric dan Greysie juga menjadi lebih dekat dari sebelumnya.


"Hm, mungkin selama aku di rumah sakit mereka sering bicara bareng" batinku.


(Telpon Berdering).


"Iya Lia?" ucapku menaruh telpon di telingaku.


"Kakak beneran pulang ke rumah kak Grey?" tanya Lia.


"Hm, iya.. aku di paksa sama dia soalnya, kenapa lia?"


"Hmm, gak pp kak, cuman... aku dan ibu bakalan jagain kakak kalau kakak pulang ke rumah kakak, tapi hari ini kakak benaran udah di bolehin pulang?" tanya Lia.


"Hm, iya, ini kita udah di dalem mobil Rasya" jawabku melihat keluar jendela mobil.


"Hm, maaf kak, aku gak bisa bantuin kakak beberes barang-barang hari ini" ujar Lia.


"Iya gak pp, kamu kan sekolah, malah di sini ada orang yang gak sekolah," melirik Greysie, "terus kalau misal papa dia sampai tau kalu dia bolos lagi hari ini, aku yang gak tenang, terus dianya malah tenang-tenang aja bikin orang kesel" ungakpu kesal, menyindir Greysie.


"Maksud kakak, kak Grey?"


"Iya, siapa lagi kalau bukan dia" ucapku.


Rasya dan Aric hanya tersenyum melihatkku dari kaca mobil. Sedangkan Greysie terus menatapku.


"Papa aku lagi sakit, dia gak bisa mukul aku lagi" sela Greysie sambil melihatku.


Rasya dan Aric hanya diam dan melirik kami. Sepertinya mereka juga penasaran dengan semua hal yang terjadi. Mulai dari trauma dan masa laluku, kemudian Greysie dengan masalah bersama ayahnya.


"Loe seneng papa loe sakit" ucapku, mimik serius melihat Greysie.


Greysie menatapku tak senang karena mendengar perkataan yang keluar dari mulutku. Sedangkan aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu. Rasanya sangat puas membuat dia kesal.


"Kamu mau cari ribut lagi sama aku sekarang?" sindir Greysie, ia tak senang.


"Ok Lia, kakak tutup yaa, kita bicara next time" ujarku, lalu menutup telpon.


Aku tak merespon Greysie, lalu aku melihatnya kemudian tersenyum dan bersender di kaca mobil.


"Hey, i'm talking to you!" bentak Greysie.


Rasya dan Aric melirik kami dengan mimik kebingungan. Mereka tak tau harus berbuat apa karena suasana di dalam mobil mulai terasa menegangkan.


"Aric, aku mau nanya boleh gak?" tanyaku masih bersender di kaca mobil.


"Emm, iya..." balas Aric, ia melihatku dari kaca mobil.


"Kok, kamu yang bawa mobil bukannya Rasya?" tanyaku bersender di kursi dengan tangan bersilang. Rasya seketika melihat kearahku.


"Kamu mau aku yang bawa mobil?" tanya Rasya.


"Biarin Aric jawab dulu" ucapku spontan.


"Emm, gak pp... kita emang biasa sering gantian nyetir kalau pergi bareng" jawab Aric, kaku.


"Hmm, ok" balasku.


"Emang kenapa Callista?" tanya Aric.


"Hmm, gak pp sih, it just... sebenarnya aku mau nanya yang lain tadi, tapi malah nanya itu, Hehe" jelasku, lalu tersenyum.


"Kamu mau nanya apaan? tanya aja gak pp, aku bakalan jawab" sambung Aric.


"Serius kamu yakin? kamu yakin bisa jawab?" tanyaku masih bersender di kursi mobil.


"Iya aku seirus, emang kamu mau nanya apaan?" ujar Aric.


"Do you like my best friend?" tanyaku tersenyum kecil.


Greysie seketika melihatku, matanya melotot dengan raut wajah keheranan, ia tak menyangka jika aku akan bertanya seperti itu, sepertinya Greysie juga merasa malu.


"Emm," melihat Greysie dari kaca mobil, "aku... yaa, i like her" jawab Aric. Greysie tersenyum tipis setelah mendengar jawaban dari Aric.


"Terus... kalian udah jadian gak?" tanyaku, ekpresi biasa.


"Emm" ujar Aric kaku, ia terlihat bingung, masih menatap Greysie dari kaca mobil.


"Raa..." sela Greysie memegang tanganku, mimik wajahnya mengartikan agar aku berhenti bertanya.

__ADS_1


"Kamu serius suka sama Grey? aku perlu tahu kamu serius atau gak" ungkapku, aku tak memedulikan Greysie.


"Iya, aku serius" jawab Aric lantang dan tegas.


"Okey.. aku bakalan percaya sama kamu karena kamu temen Rasya, aku boleh minta tolong gak sama kamu?" tanyaku.


"Iya boleh, kamu mau minta tolong soal apa?" tanya Aric.


Rasya dan Greysie hanya diam mendengar kami berbicara satu sama lain. Terkadang mereka juga melihat ke arahku dengan mimik wajah penasaran.


"Aku... aku mau kamu jagain Grey, dia udah ngalamin banyak hal yang sulit selama ini, tolong kamu jagain dia, jangan sampai kamu sakitin dia, aku gak mau sahabat aku nangis, aku gak mau dia sakit, aku gak mau ada seseorang yang nyakitin Grey lagi secara fisik dan mental seperti yang dilakuin papanya selama ini" ujarku, lalu bangun dari senderan.


"I just.. i want she's happy, dia pantas bahagia, selama ini dia udah terlalu banyak menderita, kamu harus janji ke aku kalau kamu bakal buat Grey bahagia, dia harus bahagia, supaya aku juga bisa tenang kalau nanti aku udah gak ada" pintaku menatap Aric dari belakang.


Greysie menatapku setelah mendengar perkataanku. Jantungnya berdetak cepat, perasaan takutnya seperti sedang mengalir di dalam darahnya membuat jantungnya memompa darah dengan cepat. Sementara itu Rasya terkejut mendengarku berkata demikan.


"Ra... kok kamu ngomong kek gitu sih?" tanya Greysie gemetar, meneteskan air mata.


"Jawab aku Aric, kamu bisa janji ke aku gak?" tanyaku dengan tatapan penuh harap.


"Iya, aku janji, aku bakalan buat Grey merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan selama ini, aku janji bakalan jagain dia, dan gak bakalan sakitin dia, aku janji" ungkap Aric, ia terus melihat aku dan Greysie dari kaca mobil.


"Aku harap..., kamu bisa tepatin janji kamu" pintaku.


"Lista, kok kamu ngomong gitu?" tanya Rasya menengok ke arahku.


"Aku cuman.., punya firasat, keknya bakalan terjadi sesuatu sama aku, and... sebelum semua itu terjadi, aku harus mastiin ada orang yang tulus dan bisa jagain sahabat aku menggantikan aku" terangku, kemudian melihat Greysie, dia terlihat seperti tak tahan mendengar omonganku.


"Ric, berhenti!" perintah Greysie dengan tangisan.


"Aku bilang berhenti!" teriak Greysie.


Ciiiiitt.........!


Sontak, Aric menghentikan mobil secara mendadak, lalu ia menengok ke belakang untuk melihat kami.


Greysie melihatku, wajahnya di penuhi air mata dengan tatapan tak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.


Sementara itu, Rasya juga terkejut mendengar pekataanku. Ia merasa trauma mendengar perkataan seperti itu, karena sebelum adiknya meninggal, adiknya juga pernah berpesan padanya agar selalu bahagia.


"Aku gak mau denger yang kek gini, kamu jangan ngomong kek gitu, hmf" ucap Greysie menangis menatap sedih.


"Hmff, aku gak suka, aku gak mau, kamu udah janji ke aku, pokoknya aku gak mau, kamu bilang kamu itu orang yang bisa jaga janji, terus kenapa ngomong gini? hmf" terang Greysie, air matanya mengalir deras melewati bulu mata bawah lentiknya.


"Aku," mengerutkan bibir tangis, "takut kalau itu bakalan jadi janji pertama yang bakalan aku langgar" ucapku, tak sanggup menahan air mata yang sibuk mencari jalan keluar, akhirnya ia jatuh dan menetes.


Greysie tak tahan berada di dalam mobil, ia pun membuka pintu dan keluar dari mobil sambil menangis di bagian belakang mobil. Air mata Greysie jatuh bagai hujan badai, seolah tak akan pernah berhenti.


Suasana jalanan sunyi menemani tangisan mendalam dari Greysie, sedang angin kencang berhembus membawa dedaunan kering dari pohon-pohon di hutan. Aku keluar mengikutinya dan langsung memeluknya.


Tangan Greysie gemetar sedangkan napasnya seperti tersentak tak beraturan. Sepertinya panic attacknya kambuh.


"Hey, hey," megang wajahnya, "Grey, Grey, tarik napas dalam-dalam, hey, hey, dengerin aku" ucapku menghapus tiap-tiap tetesan air matanya yang jatuh.


"Grey, Grey, hey look at me," memegang wajah, "Grey, listen to me, listen to me, aku janji, aku janji sama kamu, aku beneran janji, aku akan tetap di sini jagain kamu, aku gak bakalan tinggalin kamu" ujarku memeluk erat Greysie.


"Aku janji, kamu tarik napas dalam-dalam, dengerin aku, aku janji, aku janji" lanjutku melepas pelukan dan memegang wajahnya, ia masih bernapas pendek.


"Lihat aku, lihat.., aku janji, kamu denger kan? aku janji" lirihku mengusap rambutnya yang menghalangi wajahnya.


"Hmf, kamu beneran janji" seru Greysie gemetar, napasnya masih tersentak.


"Iya, aku janji ke kamu, kamu harus tenang sekarang, tarik napas dalam-dalam, aku di sini sekarang sama kamu, aku gak kemana-mana" ucapku meneteskan air mata, dan memeluk erat dirinya.


"Maafin aku Grey, itu adalah kebohongan pertama yang aku buat dengan perkataan janji, maafin aku" batinku.


Air mataku menetes membuatku menangis dalam diam. Aku merasa tak yakin akan perkataanku sendiri, karena aku tak bisa mengabaikan firasatku mengenai hal buruk yang akan terjadi nanti.


Setelah Greysie sudah tenang kembali, aku membantunya berdiri dan masuk kembali ke dalam mobil. Aric dan Rasya juga membantu kami.


Di perjalanan, kami semua hanya diam. Suasana di dalam mobil sangat hening, hanya suara mesin mobil yang terdengar.


Sementara itu, isak tangis dari mulut Greysie masih terdengar mengisi keheningan siang hari ini. Aku ingin memeluk Greysie tetapi dia tak membiarkan aku melakukannya.


"Grey..., maafin aku, sebelum kamu benci ke aku, aku mau minta maaf, maafin aku" pintaku, lalu memeluknya. Greysie melepaskan tanganku darinya.


"Ergh, mff, haah" lirihku, merintih.


"Are you okay?" tanya Rasya menengok padaku.


Greysie melihatku lagi, wajahnya terlihat cemas, sedangkan aku mengangguk iya pada Rasya lalu memegang perutku.


"Hmff, ya.. aku..." jawabku melihat tanganku, Greysie juga melihat tanganku.

__ADS_1


Ternyata darah sudah menembus bajuku, aku tak sadar, karena tadi tidak terasa perih, baru saja aku merasakan perih, memegang bagian perutku dan ternyata sudah basah dengan darah.


"Itu darah, Raa!" ucap Greysie menaikan volume suaranya.


"I'm okay Grey.. keknya ini karena aku buru-buru keluar tadi dan gak sengaja kena pintu mobil" jelasku menatap maaf.


"Kamu kenapa sih nyebelin banget" keluh Greysie, ia terlihat sangat kesal namun juga cemas padaku.


"I'm sorry Grey" pintaku memohon maaf.


"Kita harus obati luka kamu, nanti bakal infeksi kalau di biarin, bentar lagi kita sampai" sela Aric mengomeliku.


Tiba di rumah Greysie, di dalam kamar.


"Kamu jangan banyak gerak dulu Callista, dan lukanya jangan sampai kena air" seru Aric bersiap berdiri.


"Mm, iya and.. thank you karena kalian udah nganterin kita, aku minta maaf soal kejadin tadi" ucapku melihat Rasya dan Aric.


"Gak pp, kita bisa ngerti" tutur Aric, lalu tersenyum.


"Lista, aku... boleh ngomong berdua sama kamu gak? tanya Rasya sedikit canggung.


"Hm? emm, iyyya" jawabku sedikit terbata.


Di luar kamar, Aric dan Greysie sedang berbicara.


"Ric, aku nanya boleh gak?" tanya Greysie, ia memberikan minuman pada Aric lalu duduk di sofa.


"Iya boleh" seru Aric, lalu tersenyum.


"Menurut kamu, apa aku ini lemah?" tanya Greysie.


"Hm," tersenyum, "gak kok" ungkap Aric.


"Selama ini Cara selalu hentiin aku buat ngelakuin hal buruk sama diri aku sendiri, tapi aku gak pernah tau kalau dia juga punya trauma, padahal kalau secara fisik kita berdua kuat, tapi aku pikir selama ini hanya aku yang lemah jika menyangkut ayah aku, tapi ternyata Cara juga gitu" ungkap Greysie.


"Kalian gak lemah kok, kalian itu kuat karena udah bisa bertahan sampai saat ini" tutur Aric memandangi Greysie dengan wajah sedih.


"Aku gak yakin, menurut aku, aku adalah orang yang lemah, Cara juga pasti mikir kek gitu ke dirinya sendiri, dia pernah bilang ke aku kalau kita gak boleh lemah, tapi.. aku malah sering down gara-gara papa aku, dan Cara yang selalu ada buat kuatin aku" ujar Greysie, ia terlihat kecewa pada dirinya sendiri.


Aric masih memandangi Greysie dengan wajah sedih, ia tahu bagaimana perasaannya.


"Menurut aku..., kuat bukan tentang seberapa banyak kita bisa mengalahkan seseorang, tetapi seberapa mampu kita bisa bertahan sampai akhir, aku tau kalian itu kuat, buktinya sampai sekarang kalian masih bisa bertahan" ungkap Aric, tersenyum.


Lalu tak sampai 10 menit, Rasya pun keluar dari dalam kamar, ia menghampiri Greysie dan Aric.


"Em, Lista udah tidur, sepertinya dia kecapean" jelas Rasya, lalu duduk di sofa dekat Aric.


"Hm, aku kasih Callista obat tidur tadi, dia kelihatan capek banget" terang Aric memegang kedua telapak tangannya.


"Capek?" tanya Greysie mengganti posisi duduknya menjadi serius dengan tatapan penasaran.


"Iya, Callista sepertinya lagi banyak pikiran, kalian akhir-akhir ini sering berantem kek tadi?" tanya Aric melihat Greysie.


"Em, terakhir... seminggu yang lalu, tapi itu bukan berantem, aku... gak tau cara jelasinnya, it's complicated" jelas Greysie menunduk memikirkan banyak hal.


"Hm, mungkin dia mikirin hal itu, aku saranin supaya Callista jangan terlalu banyak mikir, dia kek lagi bingung, sepertinya sangat sulit bagi dia untuk menjelaskan hal itu dengan orang lain" jelas Aric.


"Kok kamu bisa tau?" tanya Greysie dengan mimik penasaran.


"Kami para dokter bisa tau kalau misalkan ada pasien yang lagi stress, mereka sering ngeluh pusing, terus nanya penyebab mereka bisa pusing/sakit kepala, padahal penyebabnya adalah stress itu sendiri" terang Aric.


"Aku boleh nanya gak, Grey?" sela Rasya, wajahnya terlihat penasaran.


"Iya, boleh" jawab Greysie.


"Kalian kenapa sampai bisa di celakai orang kek gini? kalian harus bilang ke aku, supaya aku juga bisa bantuin, keadaan Lista sekarang itu karena kalian nutup-nutupin semuanya, kalau kalian bilang, aku pasti bakalan bantu kalian" jelas Rasya.


"Em," menatap bingung, "em, kita... aku juga gak tau, tapi musuh kita banyak" jelas Greysie.


"Musuh? musuh gimana maksud kamu Grey?" tanya Rasya, ia menatap heran.


"Em... entahlah, i don't know" jawab Greysie mengangkat kedua bahunya.


"Grey... kamu tau gak, adik aku dulu di celakain orang karena dia gak mau cerita apa-apa ke aku, kalau aja adik aku cerita, mungkin sekarang dia masih bareng sama aku, kamu gak mau Lista kenapa-kenapa kan?" cetus Rasya.


"Em, aku gak mau, tapi..." ucap Greysie bingung.


"Grey, pliss" celetuk Rasya memohon.


"Hm, okey.. tapi aku gak yakin soal ini, em, sebenarnya kita curiga sama Cassie dan pacarnya Bryan" ucap Greysie, lalu.


Greysie menjelaskan semuanya, dari kejadian rumah aku yang seperti habis di geledah sampai saat tingkah Cassie yang terlihat aneh.

__ADS_1


Rasya dan Aric menyimak setiap penjelasan dari Greysie. Mereka lalu berhadap-hadapan karena terkejut.


Bersambung...


__ADS_2