Ilusi

Ilusi
BAB 18 (Part 1)


__ADS_3

Tuhan. Bolehkah aku melihat sekali lagi skenario saat itu? Aku benar-benar telah kehilangan arah. Aku ingin tahu alasan mengapa aku menyutujuinya.


Sampai saat ini tak pernah ada satupun yang sesuai dengan apa yang aku harapkan dan inginkan. Pertanyaan saat itu, sebenarnya apa yang ku lihat sampai aku memilih setuju? Aku sama sekali tak ingin menjadi seperti ini, Tuhan.


********


Flashback On.


Sekikat 7 tahun yang lalu. Aku sedang berjalan pulang dari sekolah, namun seekor kucing tiba-tiba melompat ke arahku sampai meninggalkan bekas cakaran di tangan kiriku.


"Dek kamu gak pp? Maaf ya kucing saya lagi sensitif akhir-akhir ini. Kamu gak pp dek?" tanya seorang wanita berumur 27 an tahun, berbadan langsing, memakai baju agak ketat.


"Aku gak pp, tante. Kucingnya imut" jawabku tersenyum sambil mengelus kepala kucing berwarna putih polos tersebut.


Setelah itu aku segera pergi. Besoknya, setiap aku lewat di jalan itu aku selalu melirik salah satu rumah untuk melihat seorang wanita yang sebelumnya pernah aku temui, di mana ia selalu bermain dengan kucing miliknya.


Seminggu kemudian, aku telah mengamati mereka sejak seminggu yang lalu. Kucing itu selalu berlari keluar rumah untuk menemui pasangannya.


Aku sedang berjalan saat melihat kucing itu keluar dari rumah, lalu aku mengikutinya sampai kucing itu akan balik lagi ke rumah pemiliknya, tetapi aku langsung menangkapnya dan membawanya ke sebuah tempat kosong. Kaki kucing itu sengaja aku ikat agar ia tak bisa melarikan diri. Aku membiarkannya kelaparan selama berhari-hari sebelum membunuhnya.


"Kasian banget kamu. Lebih baik kamu mati. Hm luka akibat cakaran kamu juga masih punya bekas di tangan aku. Hm, jadi.. maaf ya, aku gak bisa maafin kamu" ujarku, cemberut.


Lalu tanganku segera memukul kepalanya dengan batu yang berukuran sedang. Setelah itu aku membuang mayat kucing tersebut.


Pemiliknya terus mencari kucing miliknya selama berhari-hari, namun ia tetap tak bisa menemukannya.


Tanganku di penuhi darah kucing, lalu aku tersenyum manis. Entah mengapa jantungku berdebar kencang, aku merasa seperti ingin melakukannya lagi. Dan yah, semenjak saat itu aku terus membunuh kucing jalanan.


Pada hari berikutnya, setelah aku membunuh kucing-kucing jalanan tersebut. Aku tak sengaja melihat seseorang yang memakai jubah berwarna hitam membunuh seorang manusia, lalu aku bersembuyi untuk mengintip setiap gerakan tangannya. Mataku berbinar sedang bibirku ikut tersenyum saat melihat hal tersebut. Entah mengapa aku menjadi sangat bersemangat saat melihat itu.


Mengintip psikopat tersebut telah menjadi hobi baruku, membuat aku terus membunuh lebih banyak kucing setiap harinya. Aku juga sempat mengikuti psikopat tersebut sehingga aku tau di mana alamat rumahnya dan identitasnya.


Di dalam rumahku, ibuku sedang mengumpulkan pakaian kotor. Ia melihat noda darah menempel di baju sekolahku.


"Ra, sayang. Kakak, kakak di mana?" panggil Ibuku.


"Iya bunda" jawabku sedikit berteriak dari dalam kamar Tiya.


"Kakak kesini bentar. Bunda mau nanya" ucap ibuku sedikit berteriak.

__ADS_1


"Tungguin kakak ya" kataku pada Tiya, ia mengangguk dan lanjut menggambar.


Di dalam kamarku, ibuku memeriksa setiap jengkal baju sekolahku. Aku melihatnya dengan ekspresi datar, lalu mendesik kecil karena kesal.


"Iya bunda, kenapa?" tanyaku dengan mimik wajah ceria.


"Sayang ini.. di baju kamu ada darah. Kakak gak papa? Kakak gak luka kan?" ujar Ibuku bertanya dengan mimik cemas.


"Aku gak papa bunda. Em, itu.. cuman darah temen aku, kemarin jari dia luka terus kena baju aku" jawabku tersenyum.


"Beneran? Coba sini bunda lihat" ujar ibuku, segera memeriksa seluruh badanku. Sedangkan aku terus saja tersenyum.


"Hm, gak ada luka. Kakak hati-hati ya sayang. Bunda gak mau kakak sampai luka. Em, temen kakak luka karena apa?" ujar ibuku bertanya dengan nada lembut.


"Em, (membayangkan saat membunuh kucing) tangannya kena penggaris bunda, soalnya penggarisnya agak tajem" jawabku masih tersenyum manis.


"Hm, kakak hati-hati ya, jangan sampai kena juga" ujar Ibuku mengusap rambutku.


Beberapa minggu kemudian. Bisnis ayahku bangkrut karena ulah keluarga Milstone sampai saat malam mencekam yang merenggut segalanya dariku. Di mana ayahku tak sengaja membunuh Ibu dan adikku, lalu aku membunuh ayahku karena kesal.


Setelah aku membunuh ayahku sendiri, aku selalu saja di hantui rasa bersalah. Apa bener aku yang melakukanya? Aku benar-benar sudah gila malam itu. Aku juga menjadi pribadi yang lebih pendiam dari biasanya, selalu saja melamun. Sampai saat aku bertemu dengan Greysie. Perlahan keceriaan mulai kembali di wajahku, namun hal itu tak berlangsung lama. Aku menjadi diriku yang dulu setelah mengetahui bahwa ide ayahku di ambil oleh keluarga Milstone dan mereka adalah penyebab utama semua anggota keluargaku mati. Mereka menghancurkan segalanya.


Setelah membunuh ayahku sendiri. Aku lalu pergi ke kediaman seorang psikopat yang kulihat seblumnya sambil membawa telapak tangan milik ayahku. Sebelum ke tempatnya, aku juga telah menelpon polisi. Saat itu tak ada siapapun di dalam rumahnya, karena psikopat tersebut sedang pergi untuk mencari mangsanya.


Beberapa saat kemudian polisi datang ke rumahnya. Sedangkan psikopat tersebut juga baru saja sampai, langkahnya terhenti saat melihat telapak tangan dan segera mengambilnya. Polisi yang barus saja tiba melihat psikopat tersebut memegang telapak tangan manusia, yakni milik ayahku.


Sementara itu di rumahku juga telah ramai orang yang berkumpul, polisi juga segera menenangkan diriku dan meminta keterangan dengan halus padaku, tentu saja begitu karena saat itu aku masih berumur sekitar 12 tahun.


Setelah mengetahui kebenaran di balik hancurnya keluargaku sehingga membuatku menjadi seorang pembunuh ayahku sendiri. Hal itu benar-benar sangat membuatku marah sehingga aku memutuskan untuk menghilang sementara waktu. Di saat aku telah selesai merenungkan semuanya, aku juga sudah siap dengan sebuah rencana yang besar. Sebelumnya aku telah menyelidiki keluarga Milstone dan aku memutuskan untuk memanfaatkan hal tersebut.


Mereka selalu membunuh orang-orang yang tak mau di ajak bekerja sama dengan perusahaan mereka bahkan sampai mengawetkan anggota tubuh korbannya hanya untuk kesenangan belaka karena menurut mereka itu adalah sebuah kemenangan besar yang harus selalu di ingat.


Beberbeda dengan Ayahku, keluarga Milstone tak ingin membunuhnya karena mereka ingin ayahku menderita, mereka juga ingin ayahku menyadari bahwa semua itu adalah karena kesalahhannya.


Rencanaku adalah membunuh semua orang jahat dan melimpahkan semua kesalahan pada keluarga Milstone, toh mereka juga sering membunuh orang dan mengawetkan anggota tubuh korban-korban mereka hanya untuk kesenangan tersendiri.


Jadi, aku harus membuat kasus pembunuhan berantai ini menjadi sangat populer supaya presiden dan negera terlibat karena desakan warga sehingga perusahaan keluarga Milstone bisa hancur dan mereka tak bisa berbuat banyak karena harus melawan presiden juga negara. Bahkan aku juga membunuh anak prisiden, alasannya sederhana karena anak presiden tersebut pernah menabrak seseorang namun melimpahkan kesalahan pada seorang supir taksi sehingga membuat keluarga supir taksi menderita di tuntut oleh keluarga korban tabrakan.


Setelah aku kembali. Aku langsung mengikuti semua rencana yang telah kubuat sebelumnya. Aku membunuh semua orang yang jahat. Mereka yang korupsi, menyiksa orang, membully orang, dan mereka yang berkelakuan bejat akan menjadi targetku.

__ADS_1


Orang-orang jahat seperti itu sangat cocok untuk menjadi mangsaku. Banyak orang yang mendukung perbuatanku bahkan mereka sampai memberikan julukan Seorang Iblis Berhati Baik padaku. Tak sedikit juga orang yang mengutuk perbuatanku, mereka ingin aku segera di tangkap dan di jatuhi hukuman penjara. Namun semuanya tak semudah itu, rencanaku benar-benar matang dan aku sangat teliti sehingga tak pernah meninggalkan jejak pembunuhan, kalaupun ada jejak yang aku tinggalkan, itu karena aku sengaja melakukannya.


(Plot Kejadian Bab 1). Saat malam pembunuhan Simon Hiller, aku berada di sebuah hutan sekitar perumahan elit di mana aku sedang menyeret seseorang yang tak lain adalah Simon Hiller manajer dari perusahaan Mekar J.


Sebelumnya aku melihatnya keluar dari sebuah hotel bintang lima. Setelah itu aku mengikuti mobilnya. Sampai di jalanan yang sunyi aku langsung menancap gas mobilku untuk mendahului mobil miliknya, lalu berhenti mendadak di depannya.


"Ciiiiiiiiiiit...........!"


"Siall, siapa orang ini" batin Simon Hiller, ia segera keluar dari mobil.


"Hey! Keluar kamu! siapa kamu?! sudah gila ya?!" tanya Simon, berteriak menghampiri mobil di depannya.


Perlahan pintu mobilku terbuka dan aku keluar dari mobilku. Mata Simon Hiller langsung terpesona saat melihatku, padahal tadinya ia terlihat sangat marah, tetapi setelah melihatku ia langsung terdiam sambil menatapku.


Padahal aku sedang memakai jubah hitam yang membuat seluruh tubuhku tertutup kecuali mukaku. Tetapi ia malah terus menatap wajahku, tepatnya di bagian bibir dan leherku setalah aku membuka tudung kepalaku.


"Kamu siapa?" tanya Simon pelan.


"Em," menggerutkan bibir, "Aku Cara Callsita" jawabku, tersenyum sambil mengulurkan tangan.


Simon Hiller mengulurkan tangan untuk bersalaman denganku. Senyuman terus mengukir wajahnya sedang tangannya langsung meraba kulit lembutku, dan aku hanya tersenyum padanya.


Di saat ia tak melihatku lagi, wajahku langsung berubah menjadi ekpresi dingin.


"Umur kamu berapa?" tanya Simon meraba tanganku sampai atas sampai meraba pelan ke leherku sedang aku hanya tersenyum.


"Em, aku 19 tahun. Btw rumah om di mana?" tanyaku masih tersenyum.


"Haah, kamu masih muda banget pasti.." ujarnya mendekatkan dirinya padaku.


"Pasti apa om?" tanyaku memberikan tatapan manis.


"Em, kamu pasti masih ****. Rumah om ada di perumahan indah, emang kenapa? kamu mau ikut om kesana?" tanyanya meraba bagian punggungku.


Wajah kami semakin mendekat sedangkan tanganku berada di bagian dadanya untuk menghalangi itu membentur karena ia menarikku padanya. Tangannya di lilitkannya di area punggung serta pinggangku. Sedangkan aku juga mendekatkan wajahku padanya, membuat ia terlihat sangat bernafsu ingin menciumku.


Di saat wajahku semakin mendekat pada wajahnya, aku langsung mempelesetkan wajahku ke telinganya dan berbisik.


"Aku boleh ke rumah om, gak?" bisikku pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah aku berbisik, ia langsung memeluk erat diriku sambil meraba bagian belakangku. Sedangkan tanganku yang telah mengambil pisau sedari tadi dari kantung jubahku langsung menggenggam erat pisau tersebut dengan tatapan dingin.


Bersambung...


__ADS_2