Ilusi

Ilusi
BAB 23 (Part 2)


__ADS_3

Sementara itu, di rumah besar milik keluarga Milstone. Orang tua Cassie sedang mengadakan pesta ria karena berhasil merebut, menjebak, memanipulasi atau dalam artian menghancurkan kehidupan orang untuk kesekian kalinya.


"Hahahaha. Gimana kabarmu di sana?" tanya Ibu Cassie, berteriak.


Ibu Cassie berteriak sambil melihat seorang remaja wanita berumur sekitar 18 tahun yang terikat di pohon taman dalam rumah mewah mereka.


Keadaan remaja itu terlihat sangat memprihatinkan. Wajahnya penuh dengan luka lebam, sedang darah terus mengalir dari kepalanya. Mata sebelah kanannya membengkak, bibirnya pecah dan pakaiannya sangat berantakan, basah dengan darah dan keringatnya.


Remaja itu terlihat tomboy. Dia mengenakan jaket warna hitam dan baju kaus dalam setengah perut berwanah putih kebiruan. Sedangkan celana Cargo yang ia kenakan juga berwana hitam.


Mendengar ucapan Ibu Cassie, salah seorang anak buah mereka segera mengambil seember air, lalu menyiramkannya pada remaja tersebut.


Tangan salah seorang anak buah itu juga langsung meremas mulut remaja tsb dan mengangkat wajahnya agar ia bisa melihat Ibu Cassie.


Cassie datang. Ia hanya melirik remaja itu dan segera menghampiri Ibunya.


"Mah, aku mau pergi bareng Bryan sekarang" ucap Cassie dengan wajah kesal dan cemberutnya.


"Hm? Udah dateng Bryan? Kok gak nyapa Mama dulu?" tanya Ibunya.


"Aku yang bilang ke dia supaya nunggu di mobil aja. Lagian aku males lama-lama di sini, lihatin muka dia," melirik remaja tsb, "bikin tambah bete orang aja" ujar Cassie dengan raut wajah manja yang kesal tersebut.


"Okay, okay. Kalian hati-hati ya" ucap Ibunya, memeluk Cassie.


"By, mah" pamit Cassie, segera pergi meninggalkan mereka.


"Daah" ucap Ibunya melambai.


Setelah itu, Ibu Cassie berjalan mendekati remaja tsb. Telinganya di dekatkannya pada mulut remaja tersebut.


"K, ka- li, ann.. K, ki- rra. Gue tak, ut? Hn, haha. Bunuh aja gue, gua sama sekali gak takut" ejek Remaja itu dengan suara serak dan lemah.


Mendengar hal itu, wajah Ibu Cassis menjadi memerah karena emosi. Dia tak terima di remehkan oleh seorang anak remaja seperti ini.


Kemudian ibu Cassie mengkode anak buahnya. Sedangkan anak buahnya langsung mengambil sebuah Stick hockey (tongkat hoki), lalu di berikannya pada Ibu Cassie.


Tanpa basa basi, Ibu Cassie langsung mengambilnya dan langsung memukul remaja tersebut dengan brutal. Wajahnya yang penuh amarah itu seperti sedang kemasukan iblis. Tak ada jedah, ia terus saja memukul sampai remaja itu tewas di tempat.


"Buang mayatnya sekarang. Saya tidak ingin melihat wajah jeleknya itu. Menjijikan!" perintah Ibu Cassie.


Wajah remaja itu penuh dengan darah dan luka. Hal itu membuat wajahnya tak bisa di kenali jika dilihat langsung seperti sekarang.


Kemudian, dua anak buah kelurga Milstone segera membuang mayat tersebut, di sekitaran hutan.


Sementara itu, di dalam mobil Bryan. Wajah Cassie terlihat masih sangat cemberut.


"Babe. Kenapa? Bukannya mama kamu udah kasih pelajaran sama dia?" tanya Bryan, memegang pipi pacarnya.


"Ya kesel lahh Babe. Bikin mood orang ilang aja. Apalagi karakternya itu, ngeselin banget sihh, sok jagoan. Sama kek Cara" jelas Cassie, marah.


"Kamu masih benci sama si Cara-Cara itu?" tanya Bryan lagi.


"Ya masihlah, babe. Aku gak suka sama dia, sok jagoan banget tiap saat. Senyum-senyum ke semua orang di sekolah, sok-sok ngebantuin anak-anak yang di bully. Males banget aku harus balesin senyum dia tiap saat. Pasti dia merasa sok pahlawan banget karena pernah belain aku biar gak di bully sama geng Riska. Apasihh, ngancurin rencana orang aja. Orang akunya sengaja pengen deketin geng Riska, ckk!" jelas Cassie dengan mimik kesal.


"Hm, kamu masih mau banget buat masuk geng- gengan mereka itu? Bukannya kamu udah punya sahabat, babe? Temen-temen kamu itu kan juga orang-orang kaya, cabang perusahaan orang tua mereka ada di mana-mana" ujar Bryan berusaha menenangkan pacarnya.


"Ckk! Bukan ituu, aku kepengen gabung ke geng Riska itu karena circle mereka tuh beda. Mereka yang kuasain sekolah. Kalau aku bisa gabung, aku harus jadi pemimpin mereka ber-6. Ayah dan Mamah aja bisa jadi pemilik perusahaan terbesar nomor dua di indonesia, masa aku masuk ke geng mereka aja gak bisa? Ayah juga bilang kalau bentar lagi dia bakalan ngalahin perusahaan papa si Greysie itu" jelas Cassie, masih dengan mimik kesal.


"Hm, iya, iya.. Jangan marah-marah dong, babe. Hm?," mencubit hidung Cassie, "kita pergi seneng-seneng malam ini" ujar Bryan, tersenyum.


"Lucu banget sihh, babey aku satu ini" lanjut Bryan, mencubit pipi Cassie.


Sementara Cassie terlihat salting dengan menahan senyum di bibirnya. Namun wajahnya balik lagi dengan mimik kesal seperti sebelumnya.


Flashbak. Kemarin, pada jam 14:03 siang. Remaja cantik dengan style tomboi sedang membawa mobil miliknya. Namanya adalah Alea Vyora, sahabat dari Anneke Angeline yang juga merupakan rekan satu teamnya di akademi militer.


Saat sedang asyik membawa mobil, ia hampir saja menabrak seorang anak yang tiba-tiba berlari ke arah mobilnya.


Ciiiit.......!


"Oh may god!" ucap Vyora panik. Ia langsung keluar dari mobil dan menghampiri anak tersebut.


"Kamu gak pp dek? Aduuh maaf, maafin kakak. Adek kenapa lari-lari?" tanya Vyora.


"Huhuuu. Kakak aku, dia di pukulin sama orang lain. Tolong kakak aku, kak" pinta Anak kecil berumur 13 tahun tsb.


"Hah? Di mana?" tanya Vyora.


Anak tersebut lalu membawa Vyora ke tempat di mana kakaknya berada.


Di sebuah tempat yang agak sunyi, di taman. Seorang anak remaja cewek seumuran Vyora sedang di bully oleh remaja cowok, namun beranjak dewasa.


Mereka terlihat seperti ingin melecehkan kakak dari anak kecil tersebut.

__ADS_1


"Uwh, punya kamu lumayan" ujar Dirka salah satu remaja sambil memegang dada kakak anak kecil sebelumnya.


"Jangann.. Pliss tinggalin aku. To.." ucap Dela, yang merupakan kakak dari anak kecil sebelumnya.


"Sssttt.. Kalau lo teriak, lo bakal abis sama kita" ancam Arga, ketua mereka.


"Bro, kita pakai aja dia gimana?" tanya Arfan, penuh nafsu.


"Gua setuju" sambung Vino.


"Hmm, hmm, hnhnhn~" Dela terus menangis.


"Diemm!" ancam Arga lagi sambil meremas kuat mulut Dela.


"Hey! lepasin dia" teriak Vyora.


Vyora segera berlari, lalu memukul Arga tepat di wajahnya. Hal itu membuat bibir Arga pecah dan mengeluarkan darah.


"Anj*ing, taikkk! Kurang ajar" cela Arga memukul balik, namun di tahan oleh Vyora.


Melihat hal itu, teman-teman Arga segera membantu Arga untuk memukul Vyora. Namun Vyora sangat kuat, selain tomboy dia juga menguasai ilmu belah diri. Apalagi Vyora adalah kandidat terkuat di team White Wolf yang merupakan calon pasukan khusus TNI.


Vyora merupakan kandidat pertama untuk menjadi seorang kapten di team White Wolf, namun ia tak menginginkan hal itu. Sehingga dia sengaja mengusulkan sahabatnya, yaitu Anneke Angeline untuk menjadi kapten mereka. Selain karena Angeline pintar, dia juga cocok untuk menjadi seorang pemimpin/kapten mereka.


Analisis Angeline selalu tepat. Dia bisa menebak semuanya, tak pernah salah. Misinya tak pernah gagal. Nilainya juga sangat tinggi, jadi dia merupakan kandidat terbaik di banding Vyora untuk menjadi seorang kapten mereka.


Meskipun jika dilihat dari kekuatan fisik dan ilmu belah diri Vyora lebih kuat di banding Angeline, akan tetapi di mana-mana panglima memang lebih kuat dari pada Rajanya. Sedangkan Raja pasti lebih cerdik dan pintar (menurut Vyora).


Vyora menghajar rata para remaja cowok tersebut. Wajah mereka lebam, mereka tergeletak lemas tak berdaya.


"Ampun, ampun. Kita cuman di bayar untuk lakuin hal ini" ucap Vino, lemas.


"Hah? Siapa yang nyuruh lo?" tanga Vyora, memegang kerah baju Vino.


Sedangkan Vino melirik Arga untuk meminta persetujuan untuk memberitahukan hal itu. Arga menggeleng, namun Vyora melihat hal itu dan menatap tajam Arga, dan beralih memegang kerah Arga.


Hal tersebut membuar Arga ketakutan, rasanya dia sangat terintimidasi oleh tatapan Vyora sehingga Arga menelan ludah secara kasar dan memberitahukannya sendiri.


"Ampun. Gua bakal kasih tau, gua bakal kasih tau. Itu.. Mereka," ucap Arga menunjuk Cassie serta teman-temannya yang sedang duduk, tertawa terbahak-bahak di sebuah tempat khusus di taman.


"Mereka yang nyuruh kita" lanjut Arga masih menunjuk.


Sedangkan Vyora mencipitkan matanya untuk melihat karena Cassie dan teman-temannya berada sedikit jauh dari tempat Vyora.


"Iya mereka. Kita di kasih duit sama mereka buat ngasih pelajaran sama dia" jelas Arga, melirik Dela.


"Inget ini baik-baik. Kalau kalian berani gangguin dia lagi. Bakal habis lo semua di tangan gua" ancam Vyora, menatap tajam.


Setelah itu, Arga beserta teman-temannya segera berlari meninggalkan Vyora.


"Lo gak papa?" tanya Vyora pada Dela.


"Iya, gak papa. makasih sebelumya" jawab Dela.


"Muka lo perlu di obatin, lebam semua" ujar Vyora melihat wajah Dela.


"Lo ada urusan apa sama mereka yang di sana," menunjuk tempat Cassie, "sampai mereka nyuruh cowok-cowok bajingan tadi buat ngasih pelajaran sama elo?" tanya Vyora.


"Em, tadii.. aku gak sengaja nyenggol Cassie. Tapi aku udah minta maaf sama dia, dan dia maafin aku. Aku kira dia beneran udah maafin..." jelas Dela sambil mengingat kejadian sebelumnya.


Flashback. Cassie bersama teman satu gengnya berjalan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, serius lo?" tanya Cassie.


"Iya, beneran. Gua ngasih gula-gula karet di tempat duduk Cara. Hahaha" jawab Adel, tertawa puas.


"Hahaha. Cas, kok lo pinter banget sihh acting pura-pura baik selama ini. Jadi semua orang di sekolah taunya lo tuh baik, padahal..." tanya Elsa, dengan tatapan mengejek.


"Ckk! apasih lo. Terserah gua lah mau pura-pura baik atau gak, lo kan tau gua sengaja gitu. Gua mau lihat siapa aja anak-anak di sekolah yang bakal berani gangguin gua" jelas Cassie.


"Hmm, yaa. Terus kalau mereka berani gangguin lo, lo pasti bakalan ngasih pelajaran kan?" sambung Caterine.


"Dahh tau, nanya lagi" jawab Cassie, malas.


"Hahahaha. Jangan marah dong, Cas" ujar Violin dengan mimik ejek.


Bruuukk....!


Dela tak sengaja menyenggol Cassie. Ia segera menundukan badan dan meminta maaf.


"Maaf, maaf. Aku gak sengaja" ucap Dela, berulang kali sambil membungkuk.


"Eh, eh udah. Udah gak pp. Gue gak pp" ujar Cassie, memegang kedua pundak Dela lalu tersenyum.

__ADS_1


"Lo mau kemana buru-buru gitu?" tanya Cassie.


"Maaf, maaf benget. Aku.. Mau jemput adik aku di sekolah" jelas Dela.


"Hm. Kalau gitu, udah sana cepetan jemput adik kamu" suruh Cassie.


"Emm, beneran gak pp? Aku.. Beneran minta maaf" tanya Dela, cemas.


"Iya, gak pp. Udah sana" ujar Cassie, masih tersenyum.


"Btw nama lo siapa?" tanya Cassie.


"Aku Dela, em.. Kalau.." ujar Dela tak selesai.


"Aku Cassie" jawab Cassie, segera memotong perkataan Dela.


"Ooh, salam kenal. Emm kalau gitu.. aku pergi dulu, soalnya adik aku udah nunggu lama and.. makasih juga. Sekali lagi aku minta maaf" ucap Dela, berjalan pelan dan masih membungkuk lalu segera berlari.


Dela segera pergi meninggalkan Cassie dan teman-temannya tersebut. Seketika wajah Cassie yang tersenyum langsung berubah menjadi ekspresi datar. Sedangka teman-teman Cassie dari tadi sibuk menahan tawa mereka, dan.


"Bufft... Ha, hahahahahaha" mereka tertawa serempak, begitu pula dengan Cassie.


Cassie melihat sekumpulan anak cowok yang sedang merokok. Lalu menghampiri mereka.


"Kalian mau duit gak?" tanya Caterine, mnyodorkan beberapa lembar uang merah.


Sementara Cassie berada di belakang teman-temannya sambil bersilang tangan.


Arga dan teman-temannya sontak mendongak untuk melihat, lalu mereka saling melirik dan tersenyum.


"Kalau lo mau duit ini. Kalian harus kasih pelajaran sama cewek yang nabrak kita tadi" ujar Elsa, sedangkan Violin bersama Cassie dan Adel tersenyum licik.


"Hah? Cewek yang mana maksud kalian?" tanya Arga pura-pura tidak tahu.


"Ckk! Najisss, gak usah pura-pura gak tau. Kita lihat dari tadi lo ber 4 ngeliatin kita ber lima" cela Adel, mimik tak suka.


Arga serta ketiga temannya saling tatatap lalu tersenyum layaknya lalaki buaya darat.


"Okay, kita bakal lakuin" ucap Arga, langsung merebut uang dari tangan Caterine.


Hal itu membuat Casterine terkejut dan merasa jijik. Mereka ber lima pun segera pergi dari sana.


Setelah itu, Arga dan teman-temannya pergi mengejar Dela yang sudah bertemu dengan adiknya tersebut.


Melihat kakaknya di bawa paksa oleh sekumpulan cowok, membuat Dino yang merupakan adik Dela segera berlari untuk mencari bantuan ke rumahnya karena sedari tadi orang-orang nampak tak peduli dengan ucapannya. Mereka pikir Dino hanya berbohong.


Saat ini, Dela telah selseai menjelaskan kejadian sebelumnya pada Vyora.


"Hn, licik banget. Kita harus kasih pelajaran sama mereka" ujar Vyora, menatap Cassie dan teman-temannya.


"Ehh, gak usah. Aku gak pp. Emang aku yang salah tadi. Aku gak mau memperbesar masalah" larang Dela, memohon.


"Gua yang gak bisa" ucap Vyora menarik paksa tangan Dela.


Mereka lalu menghampiri Cassie dan teman-temannya.


"Maksud kalian apa nyuruh orang buat lecehin dia?" tanya Vyora, menatap tajam lalu melirik Dela yang berada di sampingnya.


"Hah? Maksud?" tanya Caterine, mimik tak suka.


"Kalian kan yang nyuruh cowok-cowok tadi buat lecehin dia?" tanya Vyora, sekali lagi.


"Enak aja nuduh-nuduh orang sembarangan" ujar Violin, berdiri lalu menatap balik Vyora.


"Ngelak lagi" cela Vyora, mendekatkan badannya pada Violin.


"Kalau iya, emang kenapa lo mau apa?" tanya Cassie menyela mereka.


Hal tersebut membuat semua mata tertuju pada Cassie. Namun Cassie malah tertawa.


"Hn, hahahahah. Hahahahaha" tertawa puas.


Plaakkkkk......!


Tamparan kuat melayang di wajah Cassie. Sementara Vyora sudah berada di hadapan Cassie sambil memegang kuat kerah Cassie.


Cassie memalingkan wajah, lalu menatap tajam Vyora yang menamparnya barusan.


"Anj*ing!" cela Cassie, pelan.


Mata mereka saling menatap tajam. Sementara teman-teman Cassie melotot, terkejut. Begitu pula dengan Dela dan Dino, mereka nampak terkejut melihat Vyora menampar Cassie.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2