Ilusi

Ilusi
BAB 10 (Part 2)


__ADS_3

...**Psikolog**...


Apakah melangkah membuatmu berjalan? Apakah berjalan membuatmu berlari? Apakah dengan berlari membuatmu kelelahan? Apa lelah membuatmu sakit? jika ya, lantas mengapa kau masih saja mau melangkah? seindah itukah masa depan yang kau lihat sebelum memilih hidup dan lahir di dunia ini?


********


Malam pada pukul 20:01 malam. Rasya berpamitan pada Aric dan Greysie, setelah ia menerima telpon dari temannya.


"Gua balik dulu bro, Grey aku balik dulu" pamit Rasya, ia berdiri. Aric dan Greysie ikut berdiri.


"Em, gua ikut, ada urusan juga, kamu beneran gak pp Grey? tanya Aric memegang pundak Greysie.


"Iya" lirih Greysie tersenyum.


"Kalau gitu kita pamit dulu" pamit Aric.


"Iya, kalian hati-hati, maaf aku gak bisa anterin sampai depan" ucap Greysie pelan.


"Iya, Call kita nanti Grey, kamu juga harus jaga kesehatan" ujar Rasya. Greysie mengangguk, tersenyum.


Sekarang pukul 21:11 malam. Aku terbangun sedikit terkejut karena bermimpi. Tanganku mengepal. Kepalaku terasa sangat pusing.


Greysie masih setia menungguku, saat aku bangun ia langsung memeluk erat diriku.


"Aku tau kamu nahan sakit, Ra" batin Greysie, air mata pilu menetes mengalir dari pipinya.


"Grey..." panggilku lirih, bibirku gemetar menahan tangis. Aku menggelengkan kepala padanya.


"Aku gak mau lanjutin ini lagi, Grey" lirihku gemetar.


"Kita udah janji bakal sama-sama terus, Ra.. kalau kamu milih untuk mengakhiri segalanya, aku bakal ikut kamu" ucap Greysie menatap pilu padaku.


"Why Grey? why...? why, why, why, aah? tanyaku pelan gemetar, air mata kiriku menetes.


"Why..?! am- I living! in this hell world?" tanyaku berlinang air mata, bibirku juga gemetar.


"Why? huhu~ i hate me, i hate me Grey, i hate this world dan semua isinya, i hate all of it, i hate me, i fu*king hate my self, i fu*king hate me" ucapku dengan tangisan menyedihkan.


"I fu*king hate me, Grey... i hate me, huhu... i hate, i hate it" lirihku pelan, aku menyandarkan kepalaku di kedua telapak tanganku.


"Why you hate so much ur self, Ra? aku lebih suka saat kamu ceria, saat kamu tertawa lepas dari pada kek gini" ucap Greysie menatap sedih sedangkan air mata memenuhi pipinya.


"Iya, kamu bener Grey, aku selalu tertawa, tetapi tidak dengan dia, kalau kamu membuka topengnya, maka wajah lain yang nampak hanyalah rasa sakit" batinku.


Mataku terpejam dengan air mata yang menetes. Aku berusaha untuk mengendalikan emosiku saat ini. Aku tak ingin semuanya menjadi kacau jika aku tak bisa mengendalikan diriku.


Greysie melihatku dengan tatapan penasaran, bagi Greysie tidak mudah untuk menahan sebuah pertanyaan di benaknya. Ia mulai mengingat kejadian sekitar dua setengah tahun yang lalu.


Flashback, dua setengah tahun yang lalu. Di dalam rumahku, aku mabuk berat. Itu adalah pertama kalinya aku mabuk.


"Aku lih-at bayi yang baru lahir..," cegukan, "hehe, heg, terus aku cekik dia sampai mati" ujarku tak jelas.


"Hah?! ngomong apaan dahh" ucap Greysie.


"I mean... she should... die, if she wants to live, i'm going to kill her" jelasku menatap benci.


"Aku gak ngerti, kamu jarang mabuk, tapi sekalinya mabuk suka ngelantur ngomongnya" kata Greysie, ia merebut botol minuman dari tanganku.


"Hmff, hihi, heg," mataku terpejam sedang kepalaku bersender di meja yang berbentuk oval tersebut.


Greysie selalu mengambil kesempatan untuk bertanya saat aku mabuk. Menurutnya di saat seseorang mabuk, maka mereka akan mengatakan yang sebenarnya. Selama ini begitu cara dia untuk mengenalku, karena aku selalu menyimpan sejuta rahasia darinya. Greysie tak pernah memberitahuku. Jika aku mengetahui semua itu, aku bersumpah tidak akan pernah mabuk lagi.


"Hey Ra, hey.. why kamu mau bunuh bayi itu? tanya Greysie menggoyangkan badanku.


"Hmff, cause... dia gak seharusnya hidup, aku benci dia, i really hate her" jelasku masih dengan mata tertutup.


"Aku boleh tau bayi itu siapa?" tanya Greysie. Ia sangat penasaran.


"Emff, gak gak" ucapku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Pliss, plis..." ujar Greysie. Ia terus memaksa dengan pertanyaan berulang, mebuatku akhirnya mengatakan padanya.


"Emff, mmff, it's.. it actually me, but not me, but me.. but not me" jelasku tak menjelaskan sama sekali.


"Ah? aku gak ngerti Ra, maksudnya gimana?" tanya Greysie lagi


"I don't know.. aku gak tau.. how to explain, jangan ganggu, aku mau tidur!" ujarku kesal.


"Mm, iya iya maaf" ucap Greysie.


"Hmm" lirihku, tetidur.


Greysie tersadar dari lamunannya, ia kemudian memakainkan selimut padaku karena aku sudah tertidur kembali.


********


Sementara itu, di markas Alaska. Rendi dan Heafen masih adu kekuatan, tak ada yang kalah antara keduanya, tetapi mereka juga sudah sama-sama kelelahan.


Tak lama setelah itu, suara sirene mobil polisi mendekat ke markas Alaska. Alvan masuk dan berteriak pada Rendi.


"Bro, polisi datang, sebaiknya kita pergi sekarang" teriak Alvan. Sontak Rendi dan Heafen berhenti berkelahi, dengan perasaan berat hati Rendi segera meninggalkan Heafen.


Sementara polisi sudah berada di dalam markas Alaska. Sebagian anggota geng motor Alaska dan Gotreasure sudah di tangkap polisi. Aaron segera menghampiri Heafen.


"Bro, ayo kita pergi dari sini" ajak Aaron. Mereka lalu berdiri di atas jendela, segara melompat dari gedung dua lantai tersebut, namun polisi dengen ceketan menghentikan mereka.


"Berhenti, dorr" tembakan di lepas ke atas.


"Berhenti, kalian!" ucap Rasya.


Heafen dan Aaron melirik ke belakang, mengangkat kedua tangan mereka. Wajah Heafen semakin kesal setelah mengetahui kalau itu adalah Rasya.


Agus dan Anthony datang. Mereka kemudian memborgol Heafen dan Aaron, membawanya ke kantor polisi.


********


Besoknya paginya, aku terbangun.


"Okeh, siap- siap sana, kita pergi sekarang" perintah Greysie.


"Hah? pergi kemana?" tanyaku keheranan.


"Udah siap-siap aja sana cepetan" ucap Greysie, ia memaksaku bangun.


"Okeyy, oke oke" ucapku melirik heran padanya. Aku berjalan masuk ke kamar mandi, sesekali melihat ke arah Greysie, ia terus menatapku.


"Ni anak kenapa, bikin takut aja" batinku.


"Luka kamu jangan sampai kenak air" teriak Greysie.


Satu jam lebih berlalu, aku selesai mandi dan bersiap. Kami pun berangkat.


"Kita mau kemana sih sebenarnya" tanyaku penasaran.


"Udah kamu diam aja" ucap Greysue singkat. Aku bersilang tangan, menghela napas berat.


Tiba di tempat tujuan. Aku membaca nama tempat kami berada. Mataku membulat karena membaca nama tempatnya, lalu aku melirik Greysie. Kami keluar dari mobil dan masuk.


"Hey, hey... why? hey, hey" panggilku mengejar Greysie, aku berusaha menghentikan langkahnya untuk berbicara.


Greysie hanya diam, dia terus melangkah, sampai ia berhenti di depan meja resepsionis tempat ini. Ia kemudian mengurus semua keperluan dan menyuruhku masuk ke ruang psikolog. Aku terpaksa mengikuti kemauannya karena terlanjur berada di sini, meskpiun aku masih bingung dengan semuanya.


Di dalam ruangan psikolog.


"Ehh, hai bu el, apa kabar" tanyaku sedikit canggung.


"Ibu baik Callista, kamu gimana kabarnya?" tanya balik Psikolog.


"Em, aku baik bu, hehe" jawabku, masih canggung.

__ADS_1


"Okey Callista, biasanya kamu kesini nganterin Grey, and sekarang kamu yang di sini" ujar Psikolog tersenyum.


"Haha, emm, iya... hehe" jawabku menggaruk leher yang tak gatal.


Satu jam lebih kemudian. Aku keluar dari ruangan. Greysie langsung menghampiriku.


"Udah?" tanya Greysie. Aku menangguk, iya.


"Aku masuk dulu ya, kamu tunggu sini aja dulu" ujar Greysie, tangannya memutar gagang pintu ruangan psikolog.


Di Dalam,


"Kamu tau mbti Callista? tanya Psikolog, tangannya bermain dengan pulpen, menunggu jawaban untuk mencatat lagi.


"Dia Infj, aku Entp" jawab Greysie. Bu el mengangguk, sementara tangannya masih mencatat di kertas diagnosis tersebut.


"Hmm, pantes kalian berteman" ungkap Psikolog tersenyum. Greysie tersenyum canggung.


"Em, jadi.. Callista ini mempunyai trauma masa lalu yang sangat mendalam, sehingga membuat Callista tidak bisa menerima dirinya sendiri" lanjut Psikolog membuka penjelasan pertama. Greysie terdiam sedang jantungnya mulai memompa darahnya dengan cepat.


"Bisa di bilang Callista membenci dirinya sendiri dan gak mau menerima sebagian dari dirinya, em... Callista terlalu memendam semua perasaannya sendiri, sehingga membuat Callista tampak seperti baik-baik saja dengan memakai semua topeng palsunya. Callista sangat kesulitan untuk menceritakan masa lalunya. Sepertinya itu adalah sesuatu yang Callista kubur dalam-dalam. Callista tidak mau hal itu menghantui dirinya, akan tetapi... sebenarnya hal itulah yang menjadi penyebab utama yang tidak Callista sadari. Penolakan terhadap dirinya sendiri, tidak mau menerima kenyataan yang telah terjadi menjadikan Callista seperti sekarang" Ujar Psikolog.


"Dia suka membuat lolucon kan? suka tertawa seakan dia baik-baik saja, emm.. dan kelihatannya nampak humoris jika kamu udah kenal dekat dengan Callista" tanya Psikolog.


"Em, iya bu el" jawab Greysie dengan mimik sedih.


"Nah, kelakuan konyol, tawanya, semua lolucon yang Callista keluarkan hanyalah untuk menutupi perasaan sebenarnya, dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Bisa di bilang, Callista... pandai bermain ekspresi untuk menutupi perasaannya, dan kamu bisa dengan mudah tertipu, orang-orang seperti dia diluar sana terbilang sangat manipulatif" jelas Psikolog.


"Kamu pernah bertanya tentang masa lalu Callista, gak?" tanya Psikolog.


"Iya bu, pernah" lirih Greysie pelan.


"Terus.. gimana reaksi Callista saat kamu bertanya tentang masa lalunya?" tanya Psikolog lagi


"Emm, dia... marah bu, maraah banget, and... setiap aku tanya tuh dia kek selalu menghindar, mengalihkan topik pembicaraan ataupun diam, seakan-akan dia gak bolehin aku untuk tau, bu" jelas Greysie.


"Hm," memgangguk dan mencatat, "kemungkinan besar itu adalah masalah yang sangat serius, di mana Callista tidak ingin orang lain sampai tau, sehingga Callista menutupnya rapat-rapat. Bisa jadi juga Callista telah melakukan kesalahan di masa lalunya yang membuat Callista sulit untuk menceritakan, selain karena Callista sendiri tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah melakukan kesalahan itu, Callista juga takut orang lain akan menyalahkan dirinya atas kesalahan tersebut" ungkap Psikolog.


Beberapa menit berlalu. Greysie keluar dari ruangan. Wajahnya seperti memikirkan banyak hal, ia termenung memikirkan semua yang telah ia ketahui.


Greysie seperti orang yang kebingungan. Seakan baru saja melihat sesuatu yang mustahil belaka tetapi malah menjadi kenyataan yang mengejutkan. Ia kemudian duduk dan mengingat semuanya kembali.


"Semua itu bener? Cara bunuh ayahnya sendiri? ak, aku.. aku kira waktu Cara mabuk saat itu..." batin Greysie. Ia lalu mengingat perkataanku padanya sekitar dua setengah tahun yang lalu.


"You know whatt?," cegukan, "you kn, ow what's my, biggest se, cret of, this life?" ujarku berbicara tak jelas karena mabuk.


"No.., i' don't, emangnya apa rahasia terbesar kamu?" tanya Greysie, dia terlihat bingung.


"Hegh," cegukan, "heh," tertawa kecil, "heh, hahaha, hahahah," aku tertawa lepas.


"Hahaha, haaaahh, hahaha, haaa," berhenti tersenyum, "aaiiishh," menatap benci, "fuckkk!" ucapku, raut wajahku marah bercampur tatapan benci.


Perlahan aku mendekatkan wajahku pada Greysie, lalu aku berbisik padanya.


"I killed, my own fat," tersenyum, "her" berbisik pada Greysie, lalu tertawa.


"Hahahaha, hahaha, aahahah, ha ha ha, hahahah" aku tertawa dengan rasa sakit.


Greysie membulatkan matanya, ia terkejut mendengar perkataanku, lalu ia menatapku heran karena tertawa.


Greysie masih duduk temenung sedangkan aku mencemaskan dirinya, berusaha untuk berbicara dengannya.


"Grey.. Grey, are you okay, Grey"? tanyaku, memegang tangannya.


"Hemm, hmff, biarin otak aku mencerna semuanya dulu" jawab Greysie, suaranya pelan juga gemetar.


"Hah? kamu ngomong apaan, aku gak denger" tanyaku, mengrytkan kening keheranan.


Greysie hanya diam. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Ia termenung sangat lama, sedangkan aku berdiam diri, menunggunya sampai ia merasa tenang kembali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2