Ilusi

Ilusi
BAB 37 (Part 3)


__ADS_3

Besoknya, Greysie terbangun dan melihatku tak ada di tempat tidur. Ia lalu beranjak dan segera mencariku.


Sementara itu, aku berada di dapur sedang memasak untuk kami.


"Raa?" panggil Greysie, dengan tangisan.


Greysie kemudian berlari menghampiri langsung memelukku. Sementara aku membiarkan dirinya.


"Grey, kamu tau kan kalau semua badan aku penuh luka?" ujarku, membuat Greysie melepas pelukannya.


"Tapi aku gak meluk kamu kenceng. Apa sakit?" tanya Greysie.


"Hehehe... Emm.. Gak pp... Cuman... Aku lagi masak ini, kamu jadi batasi aku buat gerak kalau terus meluk kek gitu" ujarku, tersenyum.


"Aku cuman gak mau kamu ninggalin aku Ra" ucap Greysie, dengan wajah sedihnya.


"Grey... Apa kamu lagi mikir yang aneh-aneh sekarang? Udah jangan mikirin itu, semua pikiran negatif bakalan buat kita sakit" ujarku.


"Biar aku yang masak. Kamu jangan banyak gerak dulu Ra. Harus banyak istirahat" ujar Greysie sambil mengambil alih dapur.


Greysie lalu menyuruhku duduk di kursi sementara aku mengikuti kemauannya.


"Biasanya kalau kamu masak selalu ngerjain aku. Udah tau aku gak bisa makan pedes, ehh malah di pedesin masakannya" ujarku, melihat Greysie.


"Gak mungkin aku ngerjain kamu yang lagi sakit gini. Udah kamu istrahat aja Ra" sambung Greysie.


Setelah beberapa saat kemudian, setelah Greysie selesai memasak. Kami berdua pun makan.


"Raa... Kita ke rumah sakit ya?" pinta Greysie.


"Emm... Iya deh dari pada kamu minta terus tiap saat. Aku mau ke rumah sakit, tapi setelah kita pergi camping ya?" ujarku, tersenyum.


Namun Greysie hanya diam seakan tak setuju dengan permintaanku.


"Gua harus buat Aric dan Grey makin deket pas di rumah sakit nanti" batinku.


Setelah selesai makan, kami pun kembali ke kamar. Sementara aku meminta Greysie untuk pergi jalan-jalan namun ia menolaknya. Akhirnya kami hanya menonton film di dalam rumahku.


Besoknya, aku sedang duduk di tempat tidur. Sementara Greysie sedang mengganti semua perban di perutku.


Di lain sisi, wajahku terlihat pucat sedang keringat dinginku terus mengalir. Aku berusaha untuk tidak gemetar karena terus menahan diri.


"Huk," hampir muntah.


Greysie langsung melihatku dengan perasan cemas. Jantungnya kembali berdetak cepat sedang tangannya menjadi gemetar saat mengganti perban di perutku.


"Kamu gak pp?" tanya Greysie, cemas.


Aku tersenyum dan mengangguk padanya. Namun aku merasa cairan terus naik ke tenggorokannku dan mulutku sehingga akhirnya membuatku memuntahkam darah.


"Ughh," darah keluar dari sudut bibir kiriku.


"Rhaa~" rengek Greysie, gemetar.


"Uhueghh," memuntahkan darah ke samping.


"Hueeghhh... Arghh, huh, huh, huh...egghhmm...," menarik hembuskan napas lemah.


Sementara itu, Greysie mengambil handuk dan obat untukku dengan tangisan.

__ADS_1


Greysie kemudian mengelap darah di area mulutku, namun aku malah muntah lagi.


"Huuuegghhhh.... Arghhh... Hnh... Sial... Hahahahahaha... Sialan... Hnhhnhikhikhikhik... Aaiisshhh fuuuuuck... Hehhahahikhikhik..." ujarku pelan dan tertawa kecil.


Sementara itu, aku bersender ke tempat tidur sambil tertawa tak jelas sementara Greysie menatapku dengan air mata yang memenuhi pipinya, aku masih tersenyum.


"Rh-aa~" ucap Greysie, lirih dan gemetar dengan air mata yang terus mengalir.


Melihatnya, aku langsung terdiam dan menghentikan tangan Greysie yang sedang mengelap darah dari area mulutku, lalu aku mengelapnya sendiri dan berjalan ke arah toilet.


Greysie mengikutiku dan aku langsung membasuh mulutku di wasatfel. Sesekali aku juga meliriknya, sementara Greysie terus saja menangis.


Setelah selesai membasuh wajahku. Aku langsung menarik Greysie dan kami pun duduk di tempat tidur.


"Besok kita pergi camping kan?" tanyaku, tersenyum.


"Ra, kita gak usah pergi camping bisa gak? Kita ke rumah sakit aja. Aku takut lihat kondisi kamu yang sekarang" pinta Greysie, memohon dengan tangisan.


"Hmnff," aku menghela napas.


"Tapi... Aku pengen banget nikmati semuanya. Masa-masa kek gini cuman sekali seumur hidup" ujarku, lirih.


"Eghmm... Huhuuu...," Greysie malah menangis.


"Raa, kata-kata kamu kenapa gitu..." batin Greysie, sedang air matanya mulai mengalir lagi.


"Loh, kok malah nangis lagi?" tanyaku.


"Kata-kata kamu kek orang yang bakalan pergi selamanya Ra...." batin Greysie.


Greysie menangis lagi sampai terseduh-seduh, sementara itu kepalanya berada di atas pangkuanku.


Beberapa saat kemudian, Greysie malah tertidur setelah puas menangis.


"Hmmff," aku menghela napas.


Besoknya, setelah bangun. Aku memakasa Greysie untuk pergi camping sehingga ia terpaksa menuruti karena aku berjanji akan ke rumah sakit jika kami pergi camping.


Tiba di tempat camping, kami langsung membangun tenda masing-masing. Greysie tak membiarkanku banyak bergerak, ia membuat tenda sendiri untuk kami berdua.


"Ra, kamu beneran udah gak marah lagi?" tanya Greysie, menghampiri.


"Gak" jawabku, menggeleng sambil tersenyum.


"Tapi dari kemarin kamu kebanyakan diem. Apa masih sakit? Aku kan udah bilang kita gak usah ikut camping kalau kamu beneran masih sakit" ujar Greysie, ia menyuruhku masuk ke tenda.


"Aku gak pp" ucapku, lirih sambil duduk.


"Ra, kamu gimana sama Heafen dan Rasya? mereka pasti khawatir banget sama kamu. Kamu belum ngabarin mereka juga?" tanya Greysie.


"Hmf, gak. Aku mau mutus hubungan sama mereka berdua. Aku sama sekali gak pantes buat mereka rebutin, mereka terlalu baik buat aku" ujarku sambil melihat awan.


"Kamu udah jadian sama Aric?" lanjutku, bertanya sambil melihat Greysie.


"Em, aku nolak dia. Saat itu kacau banget, kamu lagi koma terus Aric ketemu sama Rendi. Jadi aku muak banget dengan semuanya. Aku juga udah capek banget" ucap Greysie, menjelaskan.


"Maafin aku. Kamu capek karena ngurus aku dan semua masalah aku. Tapi aku malah mikir yang engga-engga" pintaku, memohon maaf dengan mimik penyesalan.


"Aku yang salah, Ra. Udah kita gak usah lagi, lagi dan lagi kek gini. Kamu salah, aku juga salah. Kita sama-sama salah, hm" ujar Greysie. Aku mengangguk, iya.

__ADS_1


"Hm, kamu mau cerita soal Aric dan Rendi?" tanyaku.


"Em," bepaling, "Saat kamu koma saat itu..." ujar Greysie mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu dan menceritakannya padaku.


Setelah Greysie selesai menceritakan kejadian di rumah sakit saat itu, ia kemudian menunduk sambil menghela napas berat.


"Mereka sama kek Heafen dan Rasya, lebih baik aku jauhin mereka. Kalau aku milih salah satu di antara mereka berdua pasti salah satu pihak gak bakalan terima. Lebih baik aku sama sekali gak milih" ujarku, menenangkan Greysie.


"Ya, me too. Aku udah capek banget kalau harus ngurus pertengkaran mereka juga" sambung Greysie.


"Tapi... Aku mau nanya sama kamu. Kamu sebenarnya suka gak sama Rasya?" tanya Greysie.


"Emmm... Gimana ya... Eeehh... Emm ya i think... Em maybe i like him" jawabku.


"Kalau Hefen? Kamu cinta gak sama dia?" tanya Rasya.


"Hm" jawabku, singkat.


"Berarti selama ini kamu masih cinta sama dia?" tanya Greysie.


"Grey, aku ini tipe orang yang sulit untuk jatuh cintah sama orang. Dan kalau aku udah jatuh cinta sama seseorang bakal sulit bagi aku untuk jatuh cinta lagi sama orang lain. Apalagi Heafen itu adalah orang pertama yang ngisi kekosongan di hati aku yang dulunya hampa banget. Heafen itu gak ada kurangnya di mana aku. Dia baik, lembut, penyayang, pengertian, setia, and sometimes dia bakal jadi romantis. Tapi aku gak bisa untuk sama-sama bareng dia lagi" jelasku.


"Kalau Rasya gimana?" tanya Greysie, lagi.


"Emm... Rasya itu... Dia juga baik banget. Aku bisa lihat kalau dia orangnya tulus banget, tapi... aku gak bisa lupain perbuatan aku sama adiknya. Dia bakalan benci banget sama aku kalau dia sampai tau yang sebenarnya" jelasku.


"Kamu itu suka kan sama Aric? Mending kasih kesempatan sama dia. Aku mau kamu bareng dia aja. Menurut aku dia itu lebih baik dari mantan kamu sebelumnya dan aku yakin dia bisa buat kamu ngerasa bahagia" ujarku.


"Aku juga yakin kalau Aric pasti bisa bantuin kamu untuk ngejalanin hidup ini kalau aku udah gak ada nanti. Kamu gak boleh ikut-ikutan mati sebelum waktunya untuk balik" lanjut batinku.


"Aku males ngurus pertengkaran mereka. Aku juga gak mau mikirin soal itu lagi. Lebih baik aku fokus ngerawat kamu sampai sembuh" ujar Greysie.


"Grey, aku pengen kamu itu dapetin yang terbaik. Aku udah salah banget udah narik kamu buat masuk ke dalam semua masalah aku. Pliss... Kamu jangan..." ujarku tak selesai.


"Ra! Aku bakalan bunuh diri kalau kamu sampai ninggalin aku. Jangan pernah ucapin kata yang paling aku benci dari mulut kamu itu!" sela Greysie, marah.


Mendengar Greysie membuat bibirku gemetar menahan tangis. Akhirnya air mataku jatuh menetes. Sementara Greysie memasang wajah marah yang bercampur sedih saat melihatku.


"Jangan lupain janji kamu ke aku Ra. Kamu tau kenapa aku nyuruh kamu untuk buat janji seperti itu tiga tahun yang lalu? Itu karena aku tau kamu pasti berniat buat ninggalin aku sendiri makannya aku nyuruh kamu janji ke aku kalau kita harus sama-sama terus" ujar Greysie.


"Lo mau mati? Gua juga bakal mati. Lo hidup? Gua juga bakal hidup" ujar Greysie.


Isak tangis kecil dariku pun semakin memenuhi tenda kami. Sementara itu, Greysie langsung memeluk erat diriku sambil meneteskan air mata.


"Maafin aku... Semua ini salah aku. Kamu jadi kek gini itu karena aku... Maafin aku..." batinku.


Beberapa jam berlalu. Semua siswa sudah tertidur di tendanya masing-masing, begitu juga dengan kami. Guru juga bergantian tidur untuk menjaga.


Setelah itu, aku terbangun dan melihat bayangan hitam berada di luar tenda kami. Kemudian aku segera memakai jubah hitam, mengambil pistol dan segera mengejarnya.


Kami terlibat dalam perkelahian dan orang itu hampir saja membunuhku, namun aku berhasil membunuhnya sebelum ia membunuhku.


Tak berlangsung lama Greysie datang untuk mencariku, sementara aku langsung bersembunyi lalu berlari karena tak tau kalau itu adalah dirinya.


Kami saling kejar-kejaran sampai berada di di tepi jurang. Lalu kami juga mulai beracting dan sama-sama menodongkan pistol ke arah kepala masing-masing.


Flasback Off.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2