
...**Gotreasure Vs Alaska**...
Mimpi di dalam mimpi. Bagaimana jika kita bangun hari ini, tetapi ternyata kita masih bermimpi? saat kita terbangun, kita berpikir telah bangun yang ternyata semua itu hanyalah mimpi lain dengan perjalanan baru.
Tetapi ada saatnya, dunia sekarang yang kita anggap nyata hanya tinggal mimpi saja dan yang kita anggap mimpi belaka ternyata adalah kenyataan.
********
Pintu besi, berwarna hitam tepat di ujung sana. Di jalan yang sunyi dan gelap ini terdapat sedikit cahaya yang menemani setiap langkahku. Aku berjalan perlahan mendekati pintu, lalu membuka pintunya.
Kaki ini melangkah masuk, mataku melihat, telinga mendengar, hatiku menangis kesakitan, aku tersadar bahwa semua ini adalah nyata. Aku melihat dia, diriku di dalam rumahku bersama dengan mayat Ayah, Ibu dan Adikku.
Begitu suram kulihat tatapannya. Mata sayu dengan rasa sakit itu terasa nyata, tersampaikan dengan sekali menatap matanya. Aku tahu perasaannya yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, ku sentuh tangannya namun tak bisa memeluknya, semuanya sebatas angan.
Bagaimana bisa kupeluk dia, sedangkan dia berada di balik kaca itu, dia terus menatapku, hatiku sakit melihatnya, begitu hancur melihat dunianya, tatapan kosong itu mengisyaratkan banyak arti yang terseimpan.
Di kelilingi mayat keluargaku. Aku menangis dengan sangat, tapi mengapa tak terdengar suaraku ini? kenapa rasanya sangat sakit?.
Kemudian aku terbangun lagi. Sungguh mimpi ini adalah rasa sakit yang kupendam selama ini, sampai tangisku terdengar di dunia nyata.
Mataku melirik untuk melihat sekitar, Greysie menghilang, hanya aku sendiri di sini. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita, aku berada di dalam rumahku.
Malam tiba, malam sunyi ini begitu berisik, tiupan angin sunyi senyap seakan berbicara padaku. Ada saatnya akan kubalas perbuatan mereka padaku, entah itu jalan terang atau gelap sekalipun, lihatlah akhir cerita bagaimana akan di hadapi, siapa yang membuat siapa, menjadi seperti apa.
Tanganku mengepal, sambil menatap diriku dari balik kaca bening rumahku. Aku terbangun, ternayata ini masih dalam mimpi yang sama.
Di dalam ruangan gelap. Aku melihat kembaranku di cermin yang retak. Suara rintihannya terdengar.
"Apa dia?"
Ia kemudian berteriak padaku.
"Kumohon jangan lakukan itu!"
"Aahh berisik, apa ini? suara apa ini?"
Suara tetesan merah itu sangat mengganggukuaku. Kemudian aku melihatnya lagi.
"Mengapa dia melihatku dengan begitu sangat?"
Saat melihatnya, sesaat aku seperti bisa merasakan apa yang di rasakannya, tetapi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena bercak-bercak merah menutupi cermin.
Aku merintih, "kenapa tanganku sakit? apa dia dan aku?
__ADS_1
Setelah aku melihatnya dengan seksama, ternayata bayangan hitam itu adalah diriku. Dia tersenyum licik, rasa bahagianya menusuk tepat di hatiku. Aku ikut tersenyum melihatnya dari balik kaca bening ini.
Tanganku sakit, kaca itu retak karena aku memukulnya, melihat wajahku sendiri di dalam cermin. Suara tetesan yang mengangguku adalah darahku yang menetes dari tanganku.
"No, no.. No, no.. No" ucapku, mengigau. Aku masih tertidur.
"Nooo.......!" teriakku, tanganku mengepal sedang aku terbangun, duduk di tempat tidur.
Flasback. Satu hari yang lalu. Greysie pingsan setelah mendengar perkataan dariku. Aric menangkapnya. Rasya nampak bingung, ia seperti mematung, rasa trauma akan adiknya masih menghantuinya.
Sedangkan aku hanya melihat mereka. Aku ingin keluar dari kamar ini sesegera mungkin, biarlah Aric yang mengurus Greysie. Namun, saat aku ingin pergi, Aric malah berteriak.
"Bro, jangan biarin Callista pergi!" teriak Aric. Dia segera menggendong Greysie ke tempat tidur.
"Rasya....! Jangan biarin Callista pergi!" teriak Aric sekali lagi, ia segera menaruh Greysie ke tempat tidur.
Tangannya yang sedikit gemetar, mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya. Ia membuka jarum suntik, lalu mengambil botol berukuran sangat kecil yang berisi seperti cairan.
Aric lalu mengambil cairan tersebut dengan suntikan, tangannya masih gemetar. Sedangkan Rasya berusaha menahanku.
"Lepasin! Lepasin aku, aku mau pergi, lepasin Rasya!" bentakku, sedangkan seluruh anggota tubuhku memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan Rasya.
Aric segera menghampiri kami, ia lalu menyuntikan cairan itu, di lengan atas tangan kananku. Cairan itu adalah obat penenang.
Semuanya menjadi nampak buram, mataku sesekali terpejam, lalu bola mataku memutar mencari Aric, tanganku pelan berusaha menahan tangannya, kemudian aku pun tertidur.
Rasya menggendongku ke tempat tidur, berdekatan dengan Greysie. Mereka lalu duduk sambil melihat keadaan menyedikan kami. Rasya melirik Aric, bibir pucatnya bergerak.
"Luka di hati seseorang akan lebih sulit untuk disembuhkan, gua tau banget soal itu" ucap Rasya. Aric lalu menengok ke samping untuk melihat Rasya.
"Kita... harus jagain mereka berdua, sepertinya mereka udah ngalamin banyak hal pahit di dunia ini, gua ngerti maksud lo, bro" sambung Aric. Rasya mengangguk setuju.
Beberapa jam berlalu, Greysie mulai sadar. Ia langsung bangun dari baringnya dengan napas terengah.
"Haaaa, " Greysie terbangun, ia bernapas cepat, seperti pannic attacknya kambuh.
"Grey, Grey.. tenang Grey, ini aku Aric, kamu tenang ya, tarik napas dalam-dalam dari hidung..," ucap Aric memeragakan.
"Fuuuhh, keluarin pelan-pelan dari mulut, lakuin lagi, uuuff... fuuuuhh" lanjut Aric sedang Greysie mengikutinya. Rasya menyimak.
"Kamu udah tenang sekarang?" tanya Aric, kemudian di anggukan Greysie.
Greysie lalu menengok ke samping, ia melihatku sedang tidur. Bibirnya mendesik mengerucut.
__ADS_1
********
Sementara itu, Gotreasure sudah bersiap-siap untuk menyerang markas Alaska.
"Kita serang markas Alska, sekarang!" perintah Rendi, diikuti sorakan meriah dari teman-teman geng motornya.
Di dalam markas Alaska. Heafen sedang berbicara dengan wakilnya, yaitu Aaron.
"Hari ini Gotreasure bakal nyerang markas kita, bro" kata Aaron memberitahu Haeafen.
"Kita tungguin mereka, hari ini Gotreasure harus kena akibatnya, gua mau ngelampiasin amarah gua sekarang sama mereka" seru Heafen, mukanya sangat tidak enak di pandang, membuat bulu kuduk merinding, emosinya sudah berada pada puncaknya.
"Siap, bro" sahut Aaron.
Beberapa jam kemudian. Geng motor Alaska sudah bersiap di markas mereka. Heafen sedang duduk di kursi miliknya di temani Aaron sebagai wakilnya. Sedangkan 3 orang berjaga di depan pintu ruangannya. 8 anggota lain berjaga di dalam markas.
Detik jam bergerak, suara geng motor mulai memenuhi markas Alaska. Rendi memimpin anggotanya. Mereka kemudian berhenti di depan markas Alaska. Mereka turun dari motornya, segara masuk ke dalam, tak lupa juga mereka membawa alat pemukul baseball.
Perkelahian sengit terjadi, mereka sama-sama kuat, karena semua anggota Gotreasure maupun Alaska menguasai ilmu bela diri masing-masing yang sudah lama mereka geluti. Meskipun geng motor Alaska hanya berjumlah 13 orang dan geng motor Gotreasure berjumlah 15 orang, mereka terbilang sama-sama kuat.
Rendi bersama wakilnya, yaitu Alvan dan ke lima anggota lainnya, segera berlari menju lantai dua, tak jarang juga ada anggota Alaska yang sering menghalangi mereka.
Di sebuah lorong, Rendi dan ke enam temannya berada di lorong tersebut sedang 3 anggota geng motor Alaska sudah menunggu kehadiran mereka. Mereka mulai baku hantam, 6 vs 3. Lalu Rendi dan Alvan segera pergi membiarkan teman mereka yang melan 3 orang tersebut menjadi 4 lawan 3.
Setelah itu, Alvan mendobrak pintu yang berwarna hitam tersebut, ia menendang kuat pintu itu, sehingg pintunya terlepas.
Di dalam ruangan Heafen sedang duduk santai menunggu kedatangan mantan sahabatnya sekaligus musuh bebuyutannya tersebut.
"Haaahaha, akhirnya lo sampai juga" sapa Heafen sopan pada Rendi.
Rendi dan Alvan masuk, sedangkan Aaron menghalangi. Ia membusungkan dada menandakan, jika ingin melawan Heafen langkahi mayatnya dahulu.
Mereka mulai baku hantam lagi, 2 vs 1. Di saat Rendi ingin pergi menghampiri Heafen, ia selalu di halangi Aaron. Aaron tak membiarkan Rendi menyentuh Heafen. Rendi tampak sangat marah, ia memukul Aaron dengan tinju andalannya, membuat Aaron terjatuh seketika, sedangkan Alvan yang tadinya ingin menonjok Aaron hanya terdiam melihat Aaron terjatuh karena terkena pukulan Rendi.
Heafen tersenyum tipis, ia berdiri dan mulai bertepuk tangan sambil melihat Rendi.
"Hahaha... Ini, ini dia tinju andalan mantan ketua gua dulu, hahaha" ejek Heafen, menepuk tangan.
Rendi kemudian melirik Alvan untuk mengkode. Alvan mengangguk, ia lalu berjalan mundur sambil menarik Aaron keluar dari ruangan tersebut.
Setelah itu, Rendi mengambil ancang-ancang untuk memukul Heafen begitu juga dengan Heafen. Mereka berada dalam posisi yang sama. Seperti dua petinju terbaik yang akan saling melawan satu sama lain.
Rendi mengambil langkah pertama, tangan kanannya bergerak ke arah wajah Heafen, sedang Heafen bersiap, kedua tangannya menghalangi tinjuan Rendi pada wajahnya.
__ADS_1
Bersambung...