
Greysie keluar dari ruangan icu. Wajahnya terlihat sangat lesu. Namun, ia juga diliputi perasaan marah dan benci pada seseorang.
"Harus bunuh sekarang! Harus sekarang! Mereka semua harus mati sekarang! Gua harus bunuh mereka semua sekarang!" batin Greysie.
Sementara itu Riska, Heafen, Rasya, Bibi Nur, Lia, Aric dan Aaron langsung terfokus melihat wajah lesuh Greysie.
"Kamu gak pp, Grey?" tanya Aric, memegang lengan Greysie.
"Grey?" ucap Aric.
Gua harus bunuh mereka semua sekarang. Sekarang, sekarang... Harus sekarang...
"Grey? Grey...!" ucap Aric, mengeraskan suaranya.
"Kalian jagain Cara. Aku mau ngurus sesuatu" ucap Greysie, lirih. Sedang matanya tak melihat Aric, ia terlihat seperti seseorang yang sedang kehilangan pijakan.
Rasya dan Aric saling lirik. Kemudian Rasya menggelengkan kepala pada Aric, seolah mengkode Aric agar tak membiarkan Greysie untuk pergi.
"Kamu jangan pergi ke mana-mana. Di saat seperti ini Cara lagi butuh banget kamu. Kalau Cara kenapa-kenapa terus kamu lagi gak ada, jangan sampai itu terjadi" ujar Aric, memegang pundak Greysie.
"Hmmff... Gak..." ucap Greysie, lirih dan terduduk.
Kaki Greysie melemas seketika, membuat ia duduk tersungkur. Sedangkan Aric berusaha memegangnya. Air mata Greysie lagi-lagi jatuh bagai hujan badai yang tak tau kapan akan berhenti. Ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku gak mau sahabat aku... Jangan ngo..mong gitu ke aku...huhuu. Kita udah janji bakal sama-sama terus. Kenapa Cara janji kalau dia gak bisa tepatin janjinya? Kenapa? Cara udah dua kali ucap janji yang sama ke aku. Aku gak mau, gak mauu..." ujar Greysie, dengan tangisan serta kepedihan mendalam.
Heafen, Riska, Rasya, Bibi Nur dan Lia lagi-lagi meneteskan air mata. Greysie masih menangis dan Aric berusaha untuk menenangkannya. Sementara itu Heafen langsung masuk ke dalam ruangan Icu.
"Siapa yang udah tega lakuin ini ke kamu Ra?" ujar Heafen dengan air mata yang menetes.
"Aku bakal cari tau orang yang udah buat kamu kek gini, aku janji. Kamu bertahan Ra..." ujar Heafen, gemetar.
Mereka bergantian. Riska masuk.
"Raa... Maafin gue soal kemarin. Gue udah bully lo padahal selama ini lo udah baik banget sama gue tapi gue malah bales kebaikan lo dengan jahatin elo, maafin gue..." ujar Riska, lirih dengan air mata yang tak henti menetes, sedang ia diliputi perasaan bersalah.
Mereka bergantian. Rasya masuk.
"Kenapa bukan cuman karakter kalian aja yang mirip? Apa kalian berdua sengaja lakuin ini ke aku? Pliss, jangan tinggalin aku juga. Aku baru aja ngerasa bahagia lagi saat ada kamu" ujar Rasya, meneteskan air mata.
Mereka bergantian. Bibi Nur masuk.
"Kasihan banget kamu neng. Keluarga neng semua udah gak ada dan sekarang neng malah..." ucap Bibi Nur tak selesai karena air matanya terus mengalir, membuat ia tak sanggup lagi berbicara.
Mereka bergantian. Lia masuk.
"Kak, kakak yang kuat. Aku tau kalau hidup kakak udah hancur banget, tapi aku mau kakak bertahan. Aku sayang kak Cara" ujar Lia, diiringi air mata yang tek henti mengalir.
Setelah bergantian untuk melihatku di dalam ruangan Icu, mereka semua duduk di kursi ruang tunggu yang berada di luar ruangan. Sedangkan Greysie bersandar di pundak Aric karena tadinya ia terkena pannic attact dan hampir pingsan.
Beberapa saat kemudian. Malam sudah berganti menjadi siang. Greysie berdiri dan menghampiri Bibi Nur dan Lia.
"Bi, bibi sama Lia pulang aja dulu. Biar aku yang jagain Cara" ujar Greysie.
"Tapi bibi..." ucap Bibi tak selesai.
"Udah Bibi pulang aja dulu terus istirahat. Biar aku yang jagain Cara. Kalau Bibi udah istirahat nanti bakal gantian jagain Cara sama aku. Lia juga mau sekolah kan hari ini?" ujar Greysie.
"Em, iy-ya kak. Tapi aku mau jagain kak Cara. Biar minta izin aja" ujar Lia.
"Jangan... Kamu harus sekolah. Sekolah kita gak bakalan lama lagi bakal ujian, nanti kamu ketinggalan pelajaran. Kita gantian aja jagain Cara kalau Lia sama Bibi udah istirahat" ujar Greysie.
Sementara itu Bibi dan Lia terpaksa harus menuruti kemauan Greysie. Sedangkan Heafen dan Rasya sudah pergi beberapa saat yang lalu. Mereka sama-sama ingin mencari orang yang telah mencelakaiku.
Setelah Bibi dan Lia pergi. Greysie baru sadar dengan wajah seseorang yang tak asing berada di rumah sakit dari kemarin bersama mereka.
"Riska? Ngapain dia di sini?" batin Greysie.
"Dengan adanya dia di sini itu semakin membuktikan kalau Cara emang deket sama dia" lanjut Greysie, membatin.
"Mending lo pulang. Cara urusan gua" ujar Greysie, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Riska melirik Greysie, kemudian ia berdiri dan segera melangkah pergi sampai di depan mobilnya. Di dalam mobil Riska terus terbayang saat ia bersama Cassie di atap sekolah.
"Cara itu terlalu baik untuk di benci sama orang yang sok suci kek Cassie" batin Riska.
Kemudian Riska segera pulang ke rumahnya dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Sementara itu, di rumah sakit. Greysie terus menatap wajahku. Air matanya jatuh lagi membuat bibirnya gemetar menahan tangis.
"Cara... Jangan lupain janji kamu... Kamu udah janji kalau kita bakal sama-sama terus. Aku gak ijinin kamu pergi" ujar Greysie, gemetar.
Beberapa saat kemudian. Greysie tertidur duduk sedang kepalanya berada di atas tempat tidurku.
#
Sementara itu, Bryan memerintahkan Edrick untuk mengontrol media terkait berita yang akan di keluarkan hari ini. Ia juga menyuruh seseorang untuk mengapload bukti-bukti palsu yang ia miliki untuk memulai rencananya. Tak lupa juga ia segera bertemu dengan pengacara pribadinya untuk membuat alibi baru terkait kasus yang menimpah orang tua Cassie.
Setelah selesai menyiapkan semuanya. Bryan bersama pengacaranya segera ke kantor polisi dan membawa semua bukti palsu yang mereka miliki. Hal itu membuat polisi segera melakukan pemeriksaan di rumahku dan polisi menemukan tas hitam di bawah tempat tidurku yang berisikan semua peralatan pembunuhan berantai, dan karena hal itu orang tua Cassie juga di bebaskan atas semua tuntutan yang menimpah mereka.
Kini Bryan sedang mengurus semua berkas-berkas untuk segera membebaskan kedua orang tua Cassie.
*Di rumah sakit.
Greysie bermimpi tentang aku. Ia melihatku berada di pantai sambil menatap laut dan segera menghampiriku. Kemudian Greysie duduk di dekatku sambil memeluk erat diriku seakan tak ingin melepaskan.
"Raa... Aku kangen... Maafin aku karena udah jahat sama kamu..." ujar Greysie, lirih.
"Melihat laut yang tenang seperti ini..." ujarku, membuat Greysie melepaskan pelukannya, ia lalu melihat laut juga diriku.
"Rasanya buat aku tenang banget. Tapi.. dia bisa tenang mungkin karena amarahnya tentang dunia sedikit meredah karena melihat sinar mentari yang indah" ujarku, tersenyum pada Greysie sedang ia menatapku.
"Raa..." ucap Greysie, gemetar.
"Grey..." ucapku, tersenyum.
"Kalau kamu ninggalin aku sekarang mereka akan datang buat nyakitin aku lagi. Kamu lebih milih untuk balas dendam atau jagain aku? Kalau kamu lebih milih untuk balas dendam berarti kamu siap untuk ngelepas kepergian aku" ujarku sambil menatap Greysie.
"Ra..." panggil Greysie, ingin memegang tanganku, namun aku menghilang dari hadapannya.
Kemudian Greysie terbangun dari mimpinya. Ia langsung melihat kearahku dengan perasaan yang berkecamuk. Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara komputer detak jantung yang berbunyi menemani kesunyian Greysie. Ia tak biasa dengan keadan saat ini, rasanya seperti masih bermimpi, tetapi semuanya adalah nyata.
Beberapa saat kemudian, Greysie keluar ruangan dan pergi ke toilet. Di dalam toilet Greysie masih sedikit termenung mengingat kembali perkataanku dalam mimpinya.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Greysie segera keluar dari toilet. Ia masih melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit. Namun langkah kakinya terhenti ketika ia tak sengaja mendengar berita yang di putar oleh seseorang yang berjalan melewatinya.
"Monsiour Milstone dan Rallenda Lubis telah di bebaskan karena polisi sebelumnya ternyata salah menangkap pelaku. Mereka bukanlah pelaku pembunuhan berantai melainkan seorang.." (suara berita tersebut mengecil karena orang tersebut terus berjalan).
"Melainkan seorang siswa bernama Cara Callista yang sebelumnya menjadi korban kejahatan seseorang yang belum di ketahui identitasnya. Menurut keterangan polisi..." (suaranya menghilang bersamaan orang tersebut semakin menjauh).
Namun Greysie segera mengejarnya dan merebut hp milik orang tersebut, membuat orang itu kaget sambil menatap keheranan.
"Menurut keterangan polisi orang yang telah menembak Cara Callista adalah seseorang yang telah menaruh dendam padanya karena Cara Callista telah membunuh keluarganya. Berikut video Cara Callista yang sedang membawa sebilah pisau juga memakai jubah dan pakaian serba hitam. Di dalam rumahnya juga telah di temukan tas hitam yang berisikan jubah hitam serta peralatan yang di gunankan pelaku untuk membunuh semua korban. Menurut keterangan polisi pelaku ini juga yang telah membunuh korban Arya Allen Wijaya, pemilik perusahaan terbesar di indonesia"
Mendengar hal itu membuat jantung Greysie semakin cepat saat memompah darahnya. Ia juga sempat kehilangan keseimbangan namun segera pergi begitu saja.
Greysie terus menelpon Rasya, namun tak di jawab sama sekali. Kemudian setelah ia sampai di depan ruangan Icu, ternyata sudah ada polisi yang berdiri di sana.
Seorang polisi dengan model rambut bowl cut tersebut sedang mengintrogasi Bibi Nur dan Lia. Polisi itu juga di temani seorang rekannya.
"Greysie? Kamu temennya Cara Callista?" tanya Polisi tersebut.
"Ada apa ini, pak?" tanya Greysie, cemas.
"Kami ingin memintai keterangan dari kamu terkait Cara Callista. Sekarang status Cara Callista sudah menjadi seorang tersangka. Kami harap bantuannya" ujar Polisi.
"Ini... Gak... Cara masih sakiitt..." batin Greysie.
"Tapi pak, temen aku sekarang lagi koma!" ucap Greysie, sedikit membentak.
"Kamu tenang dulu, kami hanya ingin bertanya pada kamu saat ini. Ayo, silahkan duduk dulu" seru Polisi, mempersilahkan. Greysie kemudian duduk sedang polisi mengikutinya.
"Saat malam pembunuhan korban Simon Hiller. Apa kamu tau di mana Cara Callista saat itu?" tanya Polisi.
"Gua harus buat semua alibi untuk Cara" batin Greysie.
"Iya, Cara lagi sama aku. Malam itu dia lagi nginep di rumah aku. Apa itu udah menjelaskan?!" jawab Greysie dengan mimik marah. Kemudian Polisi mencatat penjelasan Greysie.
"Kamu tenang dulu, kamu hanya ingin meminta keterangan. Keterangan kamu juga bakal ngebantu temen kamu kalau memang bukan dia pelakunya" ujar Polisi, menenangkan Greysie.
"Sialan kalian berdua!" batin Greysie.
"Apa kamu yakin di malam itu Cara Callista bersama dengan kamu semalaman?" tanya Polisi lagi.
"Iya, aku yakin!" jawab Greysie. Polisi masih mencatat.
"Okey, em.. terus saat malam pembunuhan korban Kesya dan Hartono, kamu tau dia lagi di mana malam itu?" tanya Polisi lagi.
"Dia ada kantor polisi malam itu. Kalian mau ngefitnah temen aku?! Tanya aja sama detektive Rasya dan temennya. Mereka nahan Cara semalaman di kantor polisi" ujar Greysie, masih dengan nada emosi.
"Hm, baiklah. Satu pertanyaan lagi. Saat malam pembunuhan ayah kamu, kamu tau dia ada di mana?" tanya Polisi lagi.
"Ah?" ucap Greysie, menjawab spontan.
"Emm, dia.. malam itu.. Cara.. dia lagi tidur, gak-gak. Dia lagi sakit. Cara gak tau apa-apa soal papa aku, karena aku udah.. Maksud aku dia sakit gara-gara aku" jawab Greysie, sedikit tersentak saat menjelaskan.
"Sialan lo Bryan! Cassie! Gua bakal bales perbuatan kalian!" batin Greysie.
Beberapa saat setelah banyaknya pertanyaan yang berulang dan tak berujung akhirnya polisi pamit pergi.
"Selanjutnya kami akan memintai keterangan lebih lanjut lagi dari kamu. Mohon kerja samanya" ujar Polisi.
"Baiklah. Kalau begitu terima kasih. Mari bu" pamit Polisi pada mereka.
Setelah polisi pergi.
__ADS_1
"Kak Grey, kenapa semua ini harus terjadi sama kak Cara? Dia lagi sakit sekarang tapi semua orang jadi ngehujat kak Cara. Mereka doain supaya kak Cara mati aja, huhuu...." ujar Lia, menangis.
"Iya neng. Kasian banget neng Cara. Dia cuman sendiri gak ada siapa-siapa lagi. Tapi..." sambung Bibi Nur, sedang ia juga menangis pilu.
Greysie hanya diam, namun air matanya juga ikut menetes. Kemudian mereka bertiga berpelukan dengan tangis menggebu seperti menusuk pada hati terdalam mereka.
Di saat mereka sedang berpelukan. Tiba-tiba telpon Greysie berbunyi, ia pun menjawab telpon dengan nomor yang tak di kenal tersebut.
"Apa kamu tidak membenci sahabatmu? Dia telah membunuh Ayahmu sendiri" ujar Cassie, membuat mimik wajah Greysie seketika berubah menjadi tatapan benci.
Cassie menggunakan alat perubah suara sehingga suaranya nampak terdengar lain. Namun Greysie tahu jika itu adalah salah satu di antara mereka.
"Lo yang udah buat Cara jadi kek gini? Gua bakal cari lo sampai dapat! Lo bakal terima akibatnya berkali-kali lipat!" ujar Greysie, membentak.
"Sanntaii, kalau kamu ingin membalas perbuatanku. Sebaiknya temui aku di tempat ayahmu di bunuh oleh sahabatmu. Hahaha" ejek Cassie dan langsung mematikan telpon.
"Ergraaaaaah! Fuc*k you! B*tch! You fuc*ing ash*le! Fuc- kk yyou!" teriak Greysie, membanting hp miliknya.
"Itu siapa yang nelpon neng?" tanya Bibi, sedangkan Lia penasaran menunggu jawaban.
"Dia yang udah buat Cara jadi kek gini. Aku bakal bales dia" ujar Greysie, memberitahu dengan mimik wajah kesal.
"Dia bilang apa sama neng?" tanya Bibi, penasaran.
"Dia nyuruh aku buat nemuin dia" jawab Greysie.
"Apa neng?! Neng Greysie jangan kesana. Bisa jadi itu cuman jebakan aja buat neng. Sebaiknya neng Greysie jangan kesana. Kita jagain neng Cara aja neng. Neng Cara lagi butuh kita semua sekarang" ujar Bibi, memohon.
"Tapi Bi, aku.." ucap Grsysie tak selesai.
"Pliss neng, ini demi neng Cara. Bibi juga gak mau neng Greysie sampai kenapa-kenapa" pinta Bibi, memohon.
Greysie dengan terpaksa harus menuruti permintaan Bibi Nur. Namun jauh di lubuk hatinya, ia ingin segera membunuh Cassie dan Bryan sekarang.
#
Sementara itu, di kantor polisi. Rasya sedang berdebat dengan senior Polisinya.
"Pak, pak pliss saya mohon. Biar saya aja yang nangenin kasus ini pak. Saya sudah deket dengan pembunuhnya. Ini bukan perbuatan Lista pak. Mereka sengaja ngejebak Lista buat ngebebasin orang tua mereka. Keluarga mereka yang salah pak, mereka udah hancurin keluarga Lista" ujar Rasya, memohon.
"Maaf pak Rasya, saya tidak punya wewenang mengenai hal ini. Semua ini atas perintah Bu Elba Ritter. Saya hanya menjalankan perintah atasan" jelas Senior polisi tersebut.
Mendengar hal itu membuat Rasya langsung mengamuk dan menendang meja di kantor polisi tersebut. Ia segera pergi untuk menemui ibunya.
*Di dalam ruangan.
"Mahh! Kenapa mama pindahin kasus aku sama polisi yang lain?" tanya Rasya, membentak.
"Kamu gak beri hormat ke mama? Di kantor ini mama adalah atasan kamu. Mama juga lakuin itu karena kamu terlalu terobsesi sama pembunuh berantai, mama gak mau kejadian lagi kek adik kamu. Lebih baik polisi lain aja yang menyelesaikan kasus ini" ujar Ibunya.
"Ma, pliss... Aku gak bisa biarin semua ini. Lista udah.. Dia gak perlu nanggung beban baru lagi Maa, pliss. Dia sekarang koma mah, komma!" pinta Rasya, memohon.
"Kamu kenapa sampai segitunya belain dia? Bukannya buktinya sudah ada?" ujar Ibunya, bertanya.
"Semua itu bukti gak langsung. Mama harusnya juga udah tau. Di foto itu wajahnya gak kelihatan jelas. Sedangkan di video juga gak ngelihatin kalau Lista yang udah lakuin hal itu. Bisa jadi seseorang sengaja ngejebak dia Ma. Terus tas yang di temuin di dalam rumahnya juga aku yakin kalau itu cuman jebakan. Rumah Lista pernah di geledah sama orang, bisa jadi mereka yang udah simpen tas itu di dalam rumahnya. Mama pliss kali ini aja, aku beneran gak.. Dia udah ngalamin banyak hal Maa... Keluarga dia udah gak ada semua. Bahkan sekarang dia koma malah di fitnah kek gini" ujar Rasya, memohon sambil memegang tangan Ibunya.
Sedangkan ibunya hanya diam menatap wajah sedih Rasya.
"Maa pliss. Kali ini aja. Pliss... aku janji setelah nangkep pelaku yang udah buat Lista kek gini, aku bakalan turutin semua kemauan mama. Mama boleh pindahin aku kemana aja" seru Rasya, tatapan penuh harap.
"Okey, okey. Kali ini aja, setelah kasus ini selesai kamu harus pindah ke bagian pelayanan masyarakat. Jangan kriminal lagi nanti kamu malah tetep terobsesi buat nengkep semua pembunuh berantai. Ingat kali ini aja!" jelas Ibunya, tegas.
"Iya, iya.. Thanks banget Ma, thank u" ucap Rasya, mencium tangan Ibunya.
Setelah itu, Rasya segera berlari keluar dan berlari ke arah mobil milknya. Ia melihat tiga panggilan tak terjawab dari Greysie, kemudian segera menelpon balik.
Tutt...
"Halo, Grey" sapa Rasya di telpon.
"Iya, halo Sya" sahut Greysie, menjawab.
"Gimana keadaan Lista?" tanya Rasya.
"Masih sama kek kemarin. Rasya aku mau nanya, gimana kabar kasus papa aku? Kenapa malah jadi Cara yang... Cara gak tau apa-apa soal Papa aku yang udah meninggal. Cara lagi sakit saat itu, dan itu gara-gara aku. Pliss, kamu bantuin Cara" ujar Greysie, memohon.
"Iya, aku tau. Kamu tenag aja, aku bakal cari pelaku yang sebenarnya. Kalau gitu aku tutup dulu, aku harus nyelidiki lagi tempat Papa kamu di sekap saat itu, sepertinya aku ngelewatin sesuatu. Oh ya, aku mau nanya di sekolah kamu ada gak temen kamu yang makai gantungan kunci boneka beruang kecil?" ujar Rasya, bertanya.
"Gantungan kunci?" tanya balik Greysie.
"Em, aku gak yakin ini gantungan kunci atau bukan. Tapi kalau kamu pernah lihat temen kamu punya gantungan boneka beruang, kamu kasih tau aku, ya" ujar Rasya.
"Sebaiknya gua jangan kasih tau dulu" batin Greysie.
"Em, iya. Nanti aku inget-inget lagi" sambung Greysie.
"Ok, kalau gitu aku tutup dulu. Telpon aku kalau keadaan Lista udah membaik" ucap Rasya.
Setelah bertelponan dengan Greysie, Rasya segera menancap gas mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi. Tak lupa juga ia menelpon rekannya Agus dan Antony.
#
"Ra, kamu harus bangun. Aku harus cepat-cepat selesaiin semua ini. Aku gak bisa gerak kalau terus-terusan lihat kondisi kamu kek gini" batin Greysie.
"Bangun Raa..." ucap Greysie, gemetar.
Beberapa saat kemudian. Malamnya, di lain tempat pada pukul 21:30. Riska sedang membaca artikel berita tentang kasus yang menimpaku. Kemudian ia teringat akan video yang di perlihatkan Cassie padanya.
"Gua yakin si Cassie yang udah ngefitnah Cara. Dari mana dia dapet semua foto dan video itu? Pasti dia pelakunya" batin Riska, sedang jarinya masih menggeser layar telpon milknya.
Kemudian Riska segera menelpon Greysie untuk memberitahukan padanya.
Tuut.... Tuut... Tuut.... Tuut.... Tuut.... Tuut.....
Di rumah sakit. Greysie masih memandangiku dan tak mendengar suara telponnya karena memakai mode senyap.
"Ra... Aku kangen... Aku kangen dengerin suara kamu. Pliss datang ke mimpi aku lagi" batin Greysie.
"Sebelumnya kamu nyuruh aku supaya jangan ninggalin kamu sendiri. Tapi aku juga harus cepetan selesain semua ini. Aku harus gimana? Pliss kamu bangun. Kalau kamu bangun aku janji bakal nyelesain semuanya dengan cepat" batin Greysie.
Greysie kemudian melihat telpon miliknya untuk melihat berita, namun ia merasa heran saat membaca nama seseorang yang sedang menelpon dirinya sedari tadi. Ia tak mendengar katena telponnya mode sillent.
"Ngapain dia nelpon gua" batin Greysie. Lalu ia menjawab telpon.
"Ya" ucap Greysie singkat.
"Lama amat ngangkat telponnya" batin Riska.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo" ujar Riska.
"Soal?" tanya Greysie, singkat.
"Ini soal Cara. Rumah Cara pernah di geledah sama orang gak?" tanya Riska.
"Kok lo tau?" tanya Greysie lagi.
"Waktu itu si Cassie kasih lihat video ke gua. Dia nyuruh seseorang buat geledah rumah Cara. Terus orang suruhan Cassie nemuin tas hitam di dalam rumah Cara yang dalem tasnya kek ada peralatan gitu, lo tau lah perlatan apa. Tapi gua yakin pasti si Cassie yang udah nyuruh orang buat simpen tas hitem itu di rumah Cara. Di rumah Cara ada Cctv kan? Lo sebaiknya cek Cctv rumahnya. Siapa tau ada bukti yang bisa buktiin kalau Cara lagi di fitnah sekarang" jelas Riska.
"Kok lo peduli banget? Bukannya selama ini elo benci banget sama Cara?" ujar Greysie, bertanya.
"Bener dugaan gua kalau selama ini mereka ternyata emang deket. Tapi... gak pp, dia keknya beneran peduli sama Cara. Kalau gitu gua harus...," melirikku, "Maafin aku Ra. Aku harus ninggalin kamu bentar. Kamu tenang aja, ada Riska yang bakalan jagain kamu" batin Greysie.
"Itu.. Lo tau kan kalau temen lo itu baik banget sama semua orang. Lo pikir aja. Gua juga sebenarnya kepengen bantuin cari buktinya, tapi gua gak bisa akses rumah Cara. Cuman lo yang bisa karena lo sahabat dia. And... Kalau lo butuh bantuan telpon aja gua. Kalau gitu gua tutup" ujar Riska, serius.
"Tunggu dulu. Jangan di tutup. Gua mau ngomong sesuatu" ujar Greysie.
"Ya?" ucap Riska, singkat.
"Gua butuh bantuan elo sekarang. Lo ke sini jagain Cara, tapi dari jauh. Gua bakal pergi buat meriksa Cctv di rumah Cara" ujar Greysie.
"Lo punya rencana buat nangkep orang itu?" tanya Riska.
"Iya, gua yakin mereka mau gua ninggalin Cara saat ini supaya mereka bisa nyakitin Cara lagi. Tapi gua punya rencana. Biarin aja pelakunya masuk, gua bakalan nelpon Rasya supaya dia bisa jaga-jaga kalau orang itu kabur. Aric juga bakalan ada kalau-kalau terjadi sesuatu, dia dokter yang udah ngerawat Cara" ujar Greysie.
"Lo yakin? ini beresiko banget buat Cara. Lo yakin mau lakuin ini?" tanya Riska, memastikan.
"Iya gua yakin. Lo ke sini aja sekarang. Tapi kita jangan ketemuan. Lo telpon gua aja kalau udah di depan rumah sakit, dan gua bakalan langsung pergi ke rumah Cara" jelas Greysie, serius.
"Oky gua otw" ucap Riska.
Riska menutup telpon. Sedangkan Greysie masih memproses informasi yang telah ia dapatkan.
"Gua harus cek Cctv di rumah Cara. Kenapa gua sampai lupa kalau di rumah Cara ada cctv? Padahal bisa jadi bukti kalau tas itu sengaja di simpen di rumah Cara. Untung aja si Riska bilang dan gua jadi inget" batin Greysie, sedang ia melihatku.
Satu jam kemudian. Riska sampai di depan rumah sakit, ia segera menelpon Greysie. Kemudian Greysie langsung bergegas pergi melaju dengan mobilnya. Riska kemudian masuk ke dalam rumah sakit, ia memakai topi juga masker.
Di perjalanan ke rumahku, Greysie segera menelpon Rasya dan Aric.
"Halo, sya" ucap Greysie.
"Iya, Grey. Ada apa?" tanya Rasya.
"Em, kamu ke rumah sakit sekarang. Aku yakin orang yang udah nyelakain Cara bakal muncul" jelas Greysie.
"Emang kamu kemana? Ini maksudnya gimana? Aku gak ngerti" ujar Rasya, bertanya.
"Nanti bakal aku jelasin. Kamu ke rumah sakit aja cepetan. Aku yakin pelakunya bakal muncul" ucap Greysie, yakin.
Greysie kemudian menutup telpon, lalu segera menelpon Aric.
"Halo, Ric" sapa Greysie, di telpon.
"Iya Grey, kenapa?" tanya Aric.
"Kamu lagi di mana sekarang?" tanya Greysie.
__ADS_1
"Lagi di rumah. Emang kenapa Grey? Kamu butuh sesuatu?" tanya Aric.
"Aku mau minta tolong. Kamu ke rumah sakit sekarang. Aku takut Cara kenapa-kenapa, aku yakin bakalan ada orang yang dateng buat nyakitin Cara lagi. Di sana juga ada temen sekolah aku yang lagi liatin situasi" pinta Greysie, memohon.
"Kamu lagi di mana sekarang, Grey? Kamu gak lakuin sesuatu yang berbahaya kan?" tanya Aric, cemas.
"Gak Ric, aku cuman pergi ke rumah Cara buat ngecek sesuatu. Pliss, kamu ke rumah sakit sekarang" pinta Greysie.
"Okey, okey. Aku kesana sekarang" ucap Aric.
Sementara itu, sebelumnya di luar rumah sakit. Orang suruhan Bryan melihat Greysie keluar dari rumah sakit. Ia pun segera menelpon Bryan untuk memeberitahukan hal itu.
"Hallo, pak. Anak itu baru keluar rumah sakit. Dia terlihat buru-buru" ujar Org tsb.
"Bagus. Apa kamu sudah membayar orang-orang jalanan itu?" tanya Bryan.
"Iya, pak. Semuanya sudah saya lakukan atas perintah pak Bryan" jawab org tsb.
Bryan kemudian menutup telpon. Sementara itu Cassie dengan wajah cemberutnya menatap Bryan dengan perasaan kesal.
"Babe? Kok masih cemberut? Kamu tenang aja. Ini aku sendiri yang bakalan bunuh dia" ujar Bryan, mencubit pipi Cassie.
"Ckk! Kenapa dia gak mati aja saat itu babe? Aku kesel banget, nyawanya banyak banget... Terus dia juga lihat muka aku babe..." ujar Cassie, masih cemberut.
"Iya, iya. Ini kan aku bakalan tuntasin pekerjaan kamu. Kamu kenapa gak dengerin aku waktu babe? Kalau dia kita culik saat itu, dia mungkin udah mati sekarang. Tapi saat itu kamu malah gegabah babe" ujar Bryan, lembut.
"Hmmm...." ujar Cassie, makin cemberut.
"Itu karena si Greysie babe... Kok dia ada di situ? Gara-gara dia Cara sampi selamat. Kalau dia gak saat itu ada pasti si Cara udah mati!" ujar Cassie.
"Iya, iya... Kamu tenang ya... Aku bakal tuntasin semuanya sekarang. Kalau gitu aku pergi" ucap Bryan, mencium kening Cassie.
Beberapa saat kemudian. Bryan sampai di rumah sakit, ia segera mengambil pakaian dokter yang di siapkan Bodyguardnya dan segera pergi ke kamar tempatku berada. Riska yang melihatnya segara mengirim chat pada Greysie.
"Orang itu udah masuk. Dia make baju kek dokter. Lo udah nelpon dokter yang lo bilang?" (mengirim chat wattshapp).
Di dalam ruang icu, Bryan segera segera mencabut masker oksigen (Masker Venturi) yang terpasang di bagian mulut dan hidungku. Ia juga mengambil jarum suntik yang berisikan cairan di dalam kantung bajunya lalu menyuntikannya ke infus sehingga membuat suara komputer detak jantung berbunyi keras.
Tit, Tit, Tit...
Tit.. Tit.. Titt.. Titt..Titt.. Tiiiiiiiiiiiiiiit...........!
Riska kemudian berinisiatif untuk merekamnya dari luar ruangan.
Sementara itu di dalam mobil, Greysie membaca chat dari Riska, ia juga sudah dekat dengan rumahku. Greysie segera mengirim chat pada Rasya dan Aric untuk memberitahukan situasi.
"Orang itu udah sampai" (chat).
Kemudian, Greysie keluar dari mobilnya dan segera membuka pintu rumahku untuk mencari ruang kontrol Cctv.
Sementara itu, di dalam rumah sakit. Setelah menyuntik dan mencabut masker oksigen Bryan langsung keluar ruangan dan Riska juga segera merekamnya.
Kemudian Aric datang, membuat Aric dan orang tersebut saling melewati dengan arah berlawanan. Riska segera menghampiri Aric untuk memberitahukannya.
"Kamu dokter Aric kan? Cepetan tolong Cara sekarang. Orang itu barusan keluar, dia pasti udah ngelakuin sesuatu" ujar Riska, cemas.
Di lain sisi, Rasya melihat Aric dan Riska berjalan berdampingan, mereka berlari kecil menuju ruang Icu. Rasya juga melihat seorang dokter yang memakai masker yang terlihat sangat mencurigakan. Lalu Rasya langsung mengejarnya.
Bryan menyadarinya, ia segera berlari menaiki lift. Hampir saja Rasya menangkapnya. Namun lift itu sudah tertutup terlebih dahulu.
Kemudian Rasya segera berlari menuruni tangga sampai lantai satu. Di lantai satu seseorang tersebut segera mempercepat langkah kakinya, sedangkan Rasya yang baru saja sampai langsung berlari lagi untuk mengejarnya.
Suasana rumah sakit nampak sunyi karena sudah tengah malam. Namun setelah mengejar orang tersebut sampai di depan rumah sakit, Rasya tak bisa lagi mengejarnya karena banyak pengamen yang menghalangi dirinya.
"Pak, mohon kasihani pak. Kami belum makan selama berhari-hari" ujar pengamen bersaman. Mereka terlihat seperti anak usia remaja.
"Hey, hey...! Aahh... Hey berhenti lo! Hey!" teriak Rasya ingin mengejar, Namun pengamen masih menghalanginya.
Sementara itu. Di dalam ruangan Icu, komputer detak jantung terus berbunyi keras. Aku hampir saja kehabisan napas.
Seluruh tubuhku bergetar karena tak bisa menghirup oksigen. Kemudian Aric yang baru saja tiba, segera memakainkan kembali masker oksigen di wajahku. Setelah memakaikan masker oksigen aku tetap mengalami kejang-kejang, sedangkan Aric langsung mencabut infus dari tanganku lalu segera mencek denyut nadi, mata dan juga komputer detak jantung.
Setelah mencek mata dan yang lainnya. Aric segera melakukan Cpr menggunakan tangan padaku. Itu di lakukannya karena jantungku tak bisa memompa darahku sendiri akibat obat yang di suntikan Bryan sebelumnya.
Riska yang berada di dalam ruangan nampak terlihat cemas bukan main. Tak lama suster datang membawakan jarum suntik bersama dengan beberapa obat cair di botol. Lalu suster segera mengambil obatnya menggunakan suntikan dan memberikannya pada Aric, sementara Aric langsung menyuntikku untuk membantu mentralkan obat yang di suntikan Bryan sebelumnya.
Tutt, Tutt, Tutt, Tutt....
Setelah Aric menyuntikku, jantungku perlahan berfungsi normal kembali. Kemudian Aric memeriksa semuanya kembali dan mereka pun keluar dari ruangan Icu.
"Cara gak pp kan?" tanya Riska, cemas.
"Iya, untung aja gak telat. Obat itu sangat berbahaya jika di suntikan dalam dosisi yang banyak karena bisa menghentikan fungsi seluruh anggota tubuh manusia. Bahkan membuat jantung manusia berhenti bekerja" jelas Aric.
Riska yang mendengar penjelasan dari Aric nampak syok berat. Matanya berair, sementara bibirnya gemetar menahan tangis.
"Siapa? Siapa yang udah tega lakuin semua ini sama Cara? Apa si Cassie?" batin Riska.
Sementara itu, Sesampainya di depan rumahku, Greysie langsung membuka pintu rumahku. Membuka kunci pintunya, kemudian memasukan pin pada sistem smart door lock. Pintu pun terbuka.
Greysie segera berlari, mencari ruang kontrol Cctv di setiap ruangan di dalam rumahku. Namun ia tak juga menemukan ruang kontrol tersebut. Hal tersebut membuatnya merasa putus asa dan berjalan perlahan keluar rumah dengan perasaan kecewa.
Greysie menangis, sedang tangannya menutupi wajahnya. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu. Itu adalah saat Greysie sedang melihat tombol misterius di sebuah lorong rumahku.
Mengingat hal itu, Greysie segera berlari mencari lorong tersebut. Ia berjalan pelan memasuki lorong yang gelap, kemudian menyalakan senter hp miliknya untuk menerangi jalan.
Tangan Greysie meraba dinding untuk mencari tombol misterius. Tak lama kemudian ia menggeser penutup tombol yang warnanya terlihat sama seperti dinding di lorong tersebut.
Tombol berwarna merah pun terlihat. Greysie segera memencet tombol itu. Lalu pintu yang warnanya sama seperti dinding juga terbuka, kemudian terlihat pintu lain setelah pintu pertama.
Pintu ke dua itu membutuhkan pin untuk bisa membukanya. Greysie kemudian segera memasukan pin. Namun pin yang ia masukan selalu salah. Greysie terus memasukan pin lagi, namun tetap salah.
Greysie sempat termenung, sedang jarinya berada di sekitar angka pintu tersebut. Ia terlihat berpikir, lalu dengan tatapan penuh harap ia memasukan lagi pin pada sistem pintu tersebut.
"Keluarga Cara...." batin Greysie, sedang matanya membulat. Ia pun segera memasukan pin lagi.
"C' mon.. c'mon Ra, gua harap kali ini bener" batin Greysie.
Greysie memasukan pin, jarinya memencet angka 1,5,0,5,2,0,1,6. Kemudian, pintu pun terbuka.
"Hnh," tersenyum kecil dengan wajah sedih.
"Cara bener-bener benci banget sama keluarga mereka sampai pin pintu ini make hari di mana mereka merenggut segalanya dari Cara termasuk diri Cara sendiri" batin Greysie.
"Gak bisa, aku gak bisa biarin mereka merasa menang semudah ini. Kamu tenang aja, Ra. Aku janji bakalan selesaiin semuanya" batin Greysie.
Greysie pun segara masuk dan mengecek komputer untuk melihat rekaman Cctv. Di dinding dalam ruangan terlihat banyak foto keluarga Milstone dan Walker, foto korban pembunuhan mereka dan juga foto korban pembunhan kami juga ada di sana. Arah panah dan beberapa catatan terlihat saling mengaitkan yang hasil akhirnya akan membuat keluarga Milstone dan Walker sebagai pembunuh berantai.
Greysie segera memutar rekaman Cctv. Di Cctv terlihahag seseorang masuk membawa sesuatu ke dalam rumahku, wajahnya tak terlihat karena ia menggunakan masker dan jubah hitam untuk menutupi wajahnya. Sementara itu Greysie juga menyadari kalau orang tsb adalah Cassie karena ia membanting semua foto keluargaku di dalam kamar, jika itu Bryan atau orang suruhannya mereka tak mau repot-repot hanya membanting semua foto keluargaku.
Kemudian kedua Bodygurd Bryan masuk ke dalam kamar. Mereka menaruh tas hitam di dalam kamar, tepatnya di bawah tempat tidurku. Setelah selesai mereka merekammnya menggunakam hanphone. Telpon Greysie tiba-tibe berbunyi, lalu ia menjawabnya.
"Grey, orang itu lolos" ujar Rasya, di telpon.
"Apa?!" ucap Greysie, terkejut.
"Iya dan Cara hampir aja... Kamu ke sini aja Grey" ujar Rasya.
Greysie menutup telpon dan ia segera berlari keluar dari ruangan, sampai masuk ke mobilnya. Mobil Greysie melaju dengan kecepatan tinggi, ia tak peduli dengan lampu merah. Hampir saja ia menabrak kendaraan lain, namun ia langsung pergi begitu saja, menancap gas mobil miliknya.
Sesampainya di rumah sakit. Aric, Rasya, dan Riska sudah berada di sana. Sedangkan Greysie masih dengan perasaan tercampur aduk antara cemas dan takut berlari menghampiri mereka.
"Cara, Cara gimana? Dia gimana?" tanya Greysie, gemetar, sedang wajah cemasnya terlihat jelas.
"Dia gak papa Grey. Ini semua berkat kamu" ucap Aric, memegang kedua pundak Greysie.
Mendengar perkataan Aric, membuat Greysie langsung terduduk lemas. Ia merasa bersyukur setelah mendengarnya.
"Pelakunya, pelakunya gimana? Udah ketangkep?" tanya Greysie.
"Aku ngejar dia tadi tapi dia berhasil kabur. Sepertinya dia udah menduga hal ini. Saat aku ngejar dia ada banyak orang yang halangi aku seperti udah di rencakan. Keknya mereka orang sewaan. Tapi aku gak punya bukti, jadi mereka gak bisa di tahan" ujar Rasya, menjelaskan.
"Si-alan..." umpat Greysie, dalam hati.
"Gue udah bilang kalau ini beresiko buat Cara. Hampir aja Cara..." ujar Riska, tak selesai.
Sementara itu, Rasya dan Aric tak tau harus berbuat apa. Mereka sama-sama bingung. Namun Rasya nampak kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa menangkap orang tadi.
Riska kemudian memperlihatkan video yang ia dapatkan. Lalu memberikannya pada Rasya.
"Gua tadi sempat rekam orang itu" ujar Riska, memberikan hpnya pada Rasya.
Mereka pun segera menonton rekaman videonya. Di dalam video itu, terlihat jelas postur tubuh seorang lelaki. Namun wajahnya tak begitu jelas karena hanya terekam sekilas di dalam video, hanya sekitar 0,1 detik saja. Aric juga tak terlau memperhatikan. Namun, ia sempat melirik orang tersebut saat mereka saling melewati. Ingatannya lumayan kuat.
"Bro, tadi gua sempat jalan berlawanan arah sama dia dan gua lihat dia sekilas. Tingginya sama kek kita, sekitar 175 cmn. Tatapan matanya tajem, alisnya juga agak tebal. Lo tau kan bro artinya?" tanya Aric.
Tangan Rasya mengepal. Sedangkan Aric juga terlihat marah.
"Meskipun dia make masker sekalipun, gua bisa tau kalau itu dia. Gua bisa kenal dari tatapan matanya, dia itu Bryan" ujar Aric pelan, lalu berbisik setelah menyebut nama Bryan.
Sementara itu, Riska melihat Greysie sedang duduk diam di kursi. Kemudian ia langsung mendekatinya untuk bertanya terkait Cctv di rumahku.
"Jadi gimana Grey? Lo udah nemuin buktinya?" tanya Riska, melihat Greysie duduk. Ia pun ikut duduk di sebelahnya.
"Gua harus cari cara untuk nyelesaiin semua ini. Tapi gimana? Gimana?" batin Greysie.
"Cara pliss banguunn... Aku gak bisa mikir kalau lihat kondisi kamu" lanjut batin Greysie.
"Grey?" ucap Riska, menyadarkan.
"Gak, gua gak nemuin apa-apa di rumah Cara" jawab Greysie, tak melihat Riska.
Tangan kiri Greysie mengusap-usap tangan kanannya yang mengepal. Bibirnya juga mendesik menggerutu kecil.
"Apa gua harus...?" batin Greysie.
__ADS_1
Bersambung...