Ilusi

Ilusi
BAB 26 (Part 1)


__ADS_3

Di ruang rawat. Angeline masih belum sadar. Di dalam mimpinya, itu adalah ingatan Angeline.


Vyora sedang berbicara dengan Angeline di markas mereka, setelah selesai melakukan pelatihan.


"Lo bener-bener mirip sama dia" ujar Vyora, tersenyum kecil.


"Dia? Dia siapa?" tanya Angeline, penasaran.


"Cara, namanya Cara Calista"


Cara Callista. Cara Callista. Cara Callista. Cara Callista. Cara Callista. Callista. Callista. Callista.


Suara Vyora yang menyebut namaku di dalam mimpi Angeline terus bergema sehingga membuat Angeline tersadar dari pingsannya.


Angeline terbangun, ia melihat sekitar tak ada siapapun.


"Kok tiba-tiba mimpi tentang itu" batin Angeline, sedang ia memegang kepala karena pusing.


"Vi? Vyora, Vyoraa, gak. Gak, gak" ucap Angeline, lirih. Ia tersadar dan segera berlari keluar.


Saat Angeline hendak membuka pintu kamar rawat rumah sakit, pintunya lebih dulu terbuka.


"Dek? Mau kemana? Kamu duduk dulu, tenangin diri kamu" ujar Rasya, berusaha menenangkan adiknya.


"Vyora gimana kak? Huhuuu~?" tanya Angeline, mulai menangis lagi.


"Em, dia.. Emm, autopsinya udah selesai. Orang tuanya bakal makamin Vyora segera" jelas Rasya, prihatin.


"Huhuuu, kenapa? Kenapa harus sahabat aku? Kenapa kak?" tanya Angeline, lirih dengan isak tangis pilu.


********


Vyora telah di makamkan. Angeline beserta kedua orang tuanya terus saja menangis terseduh-seduh.


Di sana, aku juga melihat pemakaman Vyora dari tempat yang sedikit jauh. Air mataku tentu saja tak henti menetes, sedangkan Greysie sedang menunggu di mobilnya.


Saat ini Greysie tak mau melihatku menangisi seseorang yang tidak dikenalinya, sehingga Greysie hanya menungguku di mobil.


Setelah lamanya, semua orang mulai pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan Rasya. Sekarang hanya tersisa aku dan Angeline yang berada di sana.


Angeline sedari tadi menyadari keberadaanku, ia menungguku untuk pergi, lalu berencana untuk mengikutiku.


Beberapa saat kemudian, aku memutuskan untuk pergi dari sana. Sontak Angeline bergerak untuk mengikutiku.


Di mobil.


"Udah, Ra?" tanya Greysie, sedang aku mengangguk.


Greysie segera menyalakan mobilnya. Kami pun segera pergi dari sana.


Sementara itu Angeline segera mengikuti kami menggunakan mobilnya. Sebelumnya Angeline memang menaiki mobil sendiri begitupun dengan Rasya.


Di perjalanan, mata Greysis tak henti melihat kaca spion samping mobilnya. Sedangkan aku melihat kaca spion tengah yang berada di dalam mobil.


"Grey, mending berhenti. Kita lihat aja dulu, kenapa dia ikutin kita" ujarku, melirik kaca spion.


Kemudian Greysie segera menghentikan mobilnya dan memarkirnya di tepi jalan.


Sementara itu, Angeline juga telah meghentikan mobil miliknya.


"Mereka pasti sadar, lebih baik gue tanya langsung" batin Angeline.


Aku dan Greysie keluar dari mobil, begitu pula Angeline. Kemudian Greysie saat ini sedang bersender di mobilnya sambil bersilang tangan.

__ADS_1


Sementara aku dan Angeline sama-sama berjalan menghampiri satu sama lain.


Dari kejauhan sebelum kami bertatap muka dengan dekat, aku telah menulusuri setiap inci ekspresi wajah Angeline begitu pula dengan dirinya.


"Dia bisa baca gue" batin Angeline.


Kami berhadap muka dengan tatapan masing-masing. Angeline kemudian memegang kerah bajuku.


"Kalian siapa?" tanya Angeline padaku, lalu melirik Greysie.


Sementara Greysie hanya memasang wajah dengan ekspresi datar.


Aku hanya diam, bola mataku dan badanku tak bergerak sedikit pun. Namun aku sedang menatap pupil matanya, seolah aku masuk ke dalam pikirannya.


"Dia sama kek gue. Siapa dia?" batin Angeline.


"Oh, dia temen Vyora. Aku gak nyangka Vyora bisa punya temen lain selain aku" batinku.


Wajahku terlihat datar, sama halnya seperti bibirku. Namun mataku terlihat jelas jika aku sedang tersenyum sekarang.


"Kenapa dia senyum? Tapi.. Dia senyum bukan karena lagi ngejek gue, malah lebih ke senang dan bersyukur. Apa maksud dia? Dia siapa?" batin Angeline terus bertanya, namun wajahnya terlihat biasa saja.


Sementera itu, Greysie terlihat menunduk. Ia lalu tersenyum lebar, menggigit bibir serta mengangkat satu alisnya saat melihat kami.


"Aku, Cara Callista" ucapku, menjawab pertanyaan Angline sebelumnya.


"Hah?" ucap Angeline, melepas tangannya dari kerah baju kemejaku.


Angeline kemudian teringat Vyora yang berkata tentang aku sebelumnya.


"Lo temen Vyora?" tanya Angeline, memastikan.


"Iya, lo juga temen dia?" tanyaku, balik.


"Stop! Stop!" ucapku, sambil menggeleng.


"Berhenti, lo berhenti. Cukup!" lanjutku berkata.


Greysie yang sedang bersender di mobilnya segera bangun dari senderan dan menatap datar.


"Dia tau kalau gua bisa lihat rasa sakitnya" lanjut batin Angeline, sedang ia menatapku.


"Pli- ss. Se- topp. Gak usah di- lanjutinn" larangku lirih.


Sementara mataku berkaca-kaca. Dan aku pun terjongkok sambil memegang kepala.


"Jangan ingetin gua soal itu lagi. Pliss, sse- topp. Pliss. Plissss" ujarku, gemetar sambil menahan tangis.


Greysie kemudian menghampiri kami dan menatap mata Angeline, dingin.


Menatap mata Greysie membuat Angeline menelan ludah secera kasar. Tatapan mata Greysie sangat teramat mengintimidasi seseorang, apalagi untuk seseorang seperti Angeline yang dapat membaca karakter orang lain.


Jantung Angeline berdegup sangat kencang. Keringatnya terus mengalir. Saat ini Angeline sadar sedang berhadapan dengan siapa.


Monster? Iblis?


Itulah yang ada di pikiran Angline. Kaki Angeline sedikit berjalan mundur. Seluruh anggota tubuhnya gemetar dan lemas seketika.


"Ra, kita pulang sekarang" ajak Greysie, segera membantuku berdiri dan menyuruhku masuk ke dalam mobil.


Kami berjalan masuk ke dalam mobil. Sedangkan Angeline baru bisa menarik napasnya, ia tadinya sangat ketakutan sampai lupa bernapas.


"Nafsu membunuh di matanya. Gak, gak. Hampir aja gua mati di tangan dia. Si Cara itu kuat banget bisa natap mata temennya itu tiap saat" batin Angeline, sedang jantungnya masih berdetak cepat.

__ADS_1


Tatapan mata Greysie yang dilihat Angeline adalah tatapan pembunuh. Angeline dapat melihat jauh di dalam mata Greysie yang mengartikan bahwa Greysie sedang bersenang-senang membunuh manusia dan tertawa terus-menerus sambil mandi di dalam kolam yang berisikan darah.


Berpesta Darah! Membunuh secera brutal! Tertawa! Tertawa!


Itulah yang di baca Angeline melalui tatapan mata Greysie sebelumnya.


********


"Dia harus mati, Raa! Harus mati!" teriak Greysie, emosi.


"N- gak Grey. Jangan, pliss jangan. Jang- ann. Pliss, aku gak mau bunuh dia Grey" ucapku, memohon sambil terus memeluk erat Greysie.


"Lepassinnnn, Raa! Lepassinnn, lepasiinnnnn!!" teriak Greysie memberontak ingin melepaskan diri.


"Pergiiii! Lo pergi sekarang cepetann, eghhh. Cepetan pergiii dari sinii!" ucapku, berteriak.


Sementara Angeline berusaha melepas ikatan kuat di tangan dan seluruh badannya. Ikatan itu sangat kuat yang membuat Angeline kesulitan untuk melepas dengan tangan kosong.


"Aaaaaaaaaarghh, fuckkkkkk! Fcukkk! Lepasinnnn! Gua harus bunuh dia, Raa!" teriak Greysie, wajah dan matanya memerah karena emosi.


"Pliss, cepetan pergi dari sini" ucapku dengan isak tangis, sambil menguatkan cengkraman tanganku pada Greysie.


Greysie terus memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan kuatku, ia secara paksa terus berusaha untuk melepas tanganku yang melingkari tubuh serta menahan kedua tangannya itu.


Sementara itu, Angeline nampak gemetar ketakutan bukan main. Dia takut saat melihat pertengkaran kami berdua, sedari tadi Angeline juga bernapas cepat sedang ia terus saja menelan ludah secara kasar.


Tangannya yang gemetar semakin sulit untuk melepas ikatan yang kuat tersebut.


Karena Angeline tak juga bisa melepaskan diri, aku terpaksa harus mendorong Greysie.


Hal itu membuat Greysie semakin kesal dan berteriak. Namun tak membuatnya sampai terjatuh, Greysie hanya terlihat seperti tengah berlari menjauh dariku.


"Aaarggghhh, Fuckkk! Fuckk you Raa!! Fuckk you! Fuckk. fuckk, fuckk, fuckk, fuuuuckkkkkk!" teriak Greysie, lalu menatap tajam padaku.


Aku sedari tadi telah berlari ke arah Angeline dan segera memotong tali yang mengikat Angeline dengan pisau milikku.


"C, mon. C'mon, c' mon, c' mon, C' moooon" ucapku, sedang tanganku juga gemetar.


Saat ini amarah Greysie sudah berada di puncaknya, sehingga akan sangat sulit bahkan bagi aku untuk menghentikan dirinya.


"Lo harus pergi, lari secepat mungkin. Kalau bisa jangan pernah balik ke negara ini lagi" ujarku, gemetar.


Greysie segera berlari menghampriku sedangkan aku juga telah selesai memotong semua tali yang mengikat Angeline.


Namun, satu kaki Angline ternyata masih terikat di kursi. Hal itu membuat aku segera menghalangi Greysie yang tengah berlari dan mengayunkan pisaunya pada Angeline.


Tangan Greysie terhenti seketika, ia tak bisa dan tak mau melukaiku. Akan tetapi hal itu benar-benar membuat Greysie sangat marah.


"Fuckkkk! Fuckkk! Minggiiiiiiirrrr!! Lo minggir, Raaa!! Minggirr!!" teriak Greysie.


Angeline masih berusaha melepas ikatan kuat di kakinya dengan tangannya yang gemetar, ia juga sesekali terkejut mendengar teriakan Greysie.


Karena marasa kesal, Greysie yang tak bisa menahan emosinya itu mengiris lengannya sendiri.


Melihat hal itu, aku segera menghentikan Greysie dengan cara menggenggam erat pisau di tangannya, sehingga membuat darahku juga menetes dari tanganku karena memegang bagian tajam dari pisau tersebut.


"Grey.. plisss" ucapku, lirih sambil meneteskan air mata.


Sementara mata Greysie memerah, ia menarik hembuskan napas berat karena menahan emosi yang meledak tersebut.


"Dia harus Mati! Mati! Matiiiiii......!!!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2