
(Plot Kejadian, Bab III Part 1-2).
Greysie melirik tangan kiriku yang sedang memegang pisau, sedang darahku juga terus keluar dari bekas tusukan kukunya tersebut, sehingga membuat darah itu terkena bajunya.
"Sini, biar aku obatin" ucap Greysie, tersenyum sambil menjauhkan tangan kiriku dari lehernya.
Greysie berdiri, sedangkan aku langsung duduk secara kasar sambil menendang meja di hadapanku dan membuat piring di atasnya sampai terjatuh. Aku merasa sangat kesal di buatnya, namun ia malah bertingkah biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
Sementara itu, Greysie telah mengambil kotak P3k dan langsung menghampiriku lagi. Ia duduk tepat di sebelah kananku sambil melirik tangan kiriku yang terus mengeluarkan darah. Sedangkan di sisi lain wajahku terlihat sangat tidak enak jika di pandang.
Greysie pindah posisi. Ia duduk tepat di samping kiriku, dan langsung memindahkan tangan kiriku di pangkuannya agar ia bisa mengelap darah yang mengalir tersebut. Cairan putih itu di taruhnya ke dalam lukaku, sehingga membuat ekpresi wajahku yang tadinya kesal, berubah menjadi ekpresi seseorang yang sedang menahan rasa perih. Meskipun begitu, aku tetap tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Setelah itu, Greysie segera menaruh betadin dan membalut tanganku dengan perban. Tangan kiriku juga sedari tadi masih memegang pisau lipat milikku, sehingga membuat Greysie harus turun tangan untuk membuatku melepaskan pisau lipat tsb.
"Jam 01:00, biar ak.." ucap Greysie tak selesai, karena mendengar isak tangis dari mulutku.
"Kamu nangis, Ra? sakit banget ya sampai nangis?" ucap Greysie, sambil menggunting pelekat perban.
"Aku gak nangis!" ucapku, sedikit membentak dan langsung melihatnya sambil menarik ingus agar tak keluar.
"Kalau nangis air mataku ngalir, ini gak" jelasku dengan mata berkaca-kaca.
"Hm, terus kenapa sampai narik-narik ingus. Tuh di mata juga berair semua. Dikit lagi pasti ngalir. Kamu kenapa?" tanya Greysie, sambil memasang pelekat perban.
"Itu.. kasian banget mereka. Ibu dan anaknya udah terpisah selama bertahun-tahun. Mereka janjian mau ketemu, tapi sebelum bisa ketemu anaknya malah meninggal karena di tabrak truk" ujarku, sambil menunjuk tv yang menampilkan berita tsb.
Greysie hanya menggelengkan kepala, lalu ia segera memberikan sebutir obat padaku.
"Ra, minum ini" ujar Greysie, menydorkan obat tepat di mulutku. Sedangkan aku segera membuka mulut dan langsung menelan obat tsb tanpa melihatnya.
"Minum?" tanya Greysie, memberikan minuman.
Kemudian aku langsung mengambil air putih tsb dari tangannya dan segera meminumnya tanpa melihat ke arahnya karena aku terlalu sibuk menonton tv.
Greysie lalu bersender di sova sambil melihat tv dengan ekspresi biasa saja.
"Grey, aku rasa kamu berubah semenjak aku keluar dari rumah sakit kemarin" ujarku sambil bersender di sova, masih menonton tv.
__ADS_1
Greysie langsung melihat ke arahku dengan tatapan biasa. Ia tak menjawab pertanyaan dariku. Ia malah terlihat seperti sedang berpikir sambil bermain dengan jari-jari tangannya.
"Kok ngantuk banget" batinku, sambil mataku terpejam sesekali.
Entah mengapa rasanya aku sangat mengantuk, bahkan penglihatanku juga menjadi sangat buram saat melihat tv. Lalu aku menengok ke samping untuk melihat Greysie.
"Grey" panggilku pelan sambil memegang tanganya.
"Kamu kasih aku obat ap..." tanyaku tak selesai dan langsung tertidur.
Besok paginya. Aku terbangun, sementara Greysie telah bersiap-siap dengan baju seragam sekolah miliknya.
"Grey! kok gak bangunin sih?!" tanyaku, dengan nada emosi.
"Udah Raa, tapi kamu gak mau bangun" jelas Greysie melihatku sambil mengancing lengan jas sekolahnya tsb.
25 menit yang lalu. Greysie keluar dari kamar mandi dan melihat aku masih tertidur sangat lelap. Kemudian, ia egera menghampiriku untuk membangunkanku.
"Ra, bangun Ra" ujar Greysie, menggoyangkan badanku. Namun aku tetap tak bangun.
"Huff, gak bangun juga" gumam Greysie. Ia lalu pergi mengambil remot untuk memutar musik dengan bass tinggi dan vollume full.
"Raaa, banguuun sekolahhhhh. Raaa" ucap Greysie, mencubit pipi, menepuk pipi, menjewer telinga, dan menggoyangkan badanku.
Namun aku tak juga bangun. Greysie juga sampai harus menutup hidung dan mulutku, namun hasilnya tetap nihil. Ia malah takut kalau aku beneran akan mati karena menutup semua aliran nafasku. Kemudian ia segera melepas tangannya yang menutup aliran nafasku.
"Hm, maybe karena efek obat semalam" batin Greysie.
Greysie memilih untuk berhenti dan langsung mengeringkan rambutnya, bermake up sampai saat ia memakai seragam sekolah miliknya. 25 menit berlalu dan aku telah terbangun.
"Hah? anjirrr kok bisa? sejak kapan gua tidurnya kebo gitu?" tanyaku, ekpresi heran.
"Udah, Ra. Mandi aja sana. Ehh, jangan. Kamu gak perlu mandi, tangan kamu dua-duanya masih luka dan itu juga karena aku" ujar Greysie.
"Apalagi luka yang ke tusuk pisau kemarin. Kamu sihh, ngapain nahan pisau dengan tangan kosong? mana pake acara bisik segala lagi, you die, i die. Emang sinetron? ejek Greysie.
"Aaah, berisikk," menutup telinga, "gak denger, gua gak dengerr, gak dengerr" ucapku, sambil berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Aku keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk khusus. Perban di kedua tanganku juga telah basah karena terkena air.
"Greyy! Ini gara-gara lo semua. Aah, gak bersih pasti gua mandi tadi. Gantiin perbannya cepetan, gua mau ganti baju" ujarku, mengomel dan menghampirinya.
Sedangkan Greysie sedang bersender sambil bersilang tangan di depan lemari untuk menungguku sedari tadi.
"Biar aku aja yang.." ucap Greysie tak selesai.
"Gak mau!" ujarku, memberikan kedua tanganku padanya.
"Lahh, kenapa? kita kan sahabatan" tanya Greysie, melihatku dengen ekspresi mengejek.
"Udah, cepetan gantiin perbannya. Kalau lo gak mau, yaudah gua ganti sendiri aja" ujarku, langsung pergi mengambil kotak p3k.
Kemudian aku duduk di tempat tidur sambil melepaskan semua perban dari tanganku. Sedangkan Greysie masih bersilang tangan, ia juga melihatku dengan tatapan mengejek.
"Sssssh," merintih saat menuangkan cairan putih tsb ke dalam lukaku.
"Sini biar aku bantu" ujar Greysie, merebut obat tersebut. Kemudian ia segera mengobati dan membalut lukaku dengan perban.
Setelah ia selesai membalut lukaku, aku segera bersiap-siap. Lalu kami pun berangkat ke sekolah.
Di perjalanan menuju sekolah, kami melihat banyak warga yang sedang berkerumun, sehingga aku meminta Greysie berhenti sebentar untuk sekedar melihat apa yang sedang terjadi.
"Grey, berhenti dulu. Aku mau lihat bentar" ujarku, melihat keluar jendela.
"Harus banget?" tanya Greysie.
"Ya!" ucapku, membentak dengan ekpresi kesal.
Greysie lalu memarkirkan mobil miliknya. Sedangkan aku langsung keluar dari mobil untuk melihat keadaan.
Saat sedang memperhatikan sekitar, mataku langsung terfokus pada satu orang di sana, dia adalah Rasya.
Aku menatap Rasya yang sedang berbicara dengan rekan satu timnya.
Bersambung...
__ADS_1