Ilusi

Ilusi
BAB 8 (Part 3)


__ADS_3

Sekarang waktu menunjukan pukul 02:23 tengah malam. Aku terbangun, karena terkaget dengan mimpiku.


Di saat aku bangun, wajah seseorang yang tak asing sudah berada di depanku, tangannya bersiap untuk mengiris leherku kapan saja. Mataku melirik pelan pisau di leherku, lalu aku mengrytkan kening, menatap heran padanya.


"Grey?" ucapku dengan tatapan heran. Greysie tersenyum pelan padaku.


"Ngapain?" tanyaku, aku ingin bangun dari baringku, tetapi Greysie menghentikan pergerakanku.


"Eits, kalau kamu gerak, ntar leher kamu bakal ke iris" ucap Greysie dengan ekspresi biasa, namun sedikit tersenyum. Aku menatapnya keheranan.


"Gua cuman...," memiringkan kepala, "mau lihat, seberapa tajam pisau yang mereka pakai buat nyelakain gua" jelas Greysie dengan ekspresi biasa.


Kemudian aku memaksa bangun dari baringku. Jika tangan Greysie tak menghindar, mungkin saja pisau yang di pegangnya sudah mengiris leherku.


Perlahan wajahku mendekat ke telinganya untuk berbisik, aku tersenyum dan meliriknya. Sedangkan Greysie tersenyum miring mendengar bisikan pelan dari mulutku, ia tersenyum sambil melirikku dan mengangkat satu alisnya.


"Hahahaha, that's right" ucap Greysie, dia segera bangun dari duduknya.


"Iya, darah gua bisa habis" sambungku, lalu menyender di tempat tidur.


Perlahan aku bersilang tangan sambil menatapnya yang sedang berdiri bermain dengan pisau jenis Ak-47 CCCP tersebut.


"Heafen...," menyentuh bagian lancip pisau, "beneran dateng besok?" tanya Greysie, matanya menelusuri bagian tajam dari pisau, ia juga sesekali mirik padaku.


"Iya, gak mungkin dia gak dateng" jawabku melihat tangannya memainkan pisau dengan ibu jarinya.


"Hm," mengerytkan bibir, "okey" lirih Greysie pelan melirikku.


"Besok!" ucap Greysie menunjuk aku dengan pisau di tangannya.


"Gua mau bawa loe ke suatu tempat" seru Greysie tersenyum miring. Aku menatapnya biasa.


"Hn, tumben banget ngoceh pakai loe gua, biasanya gak mau, emang loe mau bawa gua kemana, loe mau matiin gua besok?" tukasku memandangnya tanpa ekspresi.


Greysie menghampiriku, ia secara langsung duduk menyamping di depanku, tangannya masih bermain dengan pisau.


Kepalanya perlahan menengok ke samping sedang badannya mendekati tubuhku. Perlahan Greysie menaruh bagian tajam pisau ke bibirku dan berkata,


"Sec - ret, hn.. hahahaha" ucap Greysie tersenyum, lalu tertawa. Aku sedikit menunduk melirik pisau di bibirku, kemudian aku meliriknya lagi.


"Hnh" ucapku tersenyum miring melihatnya.


Besok Pagi. Waktu menunjukan pukul 09:23. Aku sedang berada di kamar mandi sedangkan Greysie masih tertidur lelap.


Setelah selesai mandi, aku memakai baju kaus setengah lengan, berwarna putih bercampur hitam dan celana model chinos warna hitam.


Di depan cermin (tempat berhias), aku hanya memakai riasan seadanya karena tidak tahu cara berhias diri.


Notifikasi chat Hp berbunyi. Aku berdiri lalu mengambilnya di atas meja dekat tempat tidur. Di layar Hp terlihat pesan chat dari seseorang bernama Heafen.


"Aku bentar lagi sampai ya"


"Mm.., (mengetik). Namum, telponku tiba-tiba berbunyi. Nama yang tak asing terlihat di layar Hp miliku.


"Iya, halo Sya.." ucapku menaruh telpon di telingaku.


"Halo, Lista, aku sekarang di depan rumah Grey" sahut Rasya di telpon.

__ADS_1


"Hah?!" ucapku spontan terkaget.


"Iya, aku di depan" lanjut Rasya.


"Kamu ngapain di sini?!" tanyaku sedikit membentak.


"Aku mau jenguk kamu" jawab Rasya, ia memencet tombol untuk membunyikan bell rumah. Aku segera berlari kecil keluar kamar, lalu menaiki lift rumah agar cepat sampai.


"Aku kan udah bilangin ke kamu sya, jangan ke sini hari ini!" ucapku panik, lalu mulai menekan tombol-tombol di lift.


"Oh may god, shitt!" ucapku pelan menyibakkan rambut kebelakang dengan tangan kiri.


Pintu lift terbuka, aku keluar dan berlari. Saat kekuar aku melihat bibi perlahan membuka pintu, lalu aku segera mempercepat langkahku.


"Assalamu'alaikum, Bi" ucap Rasya sedikit menunduk.


"Wa'alai...," ucap Bibi.


"Rasya!" teriakku menyela. Mereka melihat ke arahku.


"Kamu ngapain di sini?" tanyaku menarik tangannya keluar rumah.


Suara klakson berbunyi. Mobil Heafen terlihat masuki pintu gerbang. Setelah itu mobilnya berhenti di depan rumah Greysie. Heafen melihatku memegang tangan Rasya.


"Ngapain sih anj**ng itu ke sini" batin Heafen, ia sangat marah.


"Woy, ngapain loe megang tangan Cara!" teriak Heafen keluar dari mobil miliknya. Aku melepaskan genggaman tanganku pada Rasya.


"Hn, emang kenapa?" cela Rasya membusungkan dada menghampiri Heafen.


"Anj**ng, berani lo?!" bentak Heafen mendorong Rasya.


"Hn, apa? lo mau apa?" ucap Rasya mendorong balik Heafen.


"Rasya! kamu jangan ikutan" larangku menahan tangannya.


"Anj**ng!" cela Heafen langsung menonjok muka Rasya.


Bibir Rasya kembali mengelurkan cairan berwana merah. Kemudian Rasya mengelap darah di bibirnya, ia tersenyum melihat Heafen, lalu membalas menonjok Heafen.


Mereka langsung terlibat dalam perkelahian, tak ada yang mau mengalah antara keduanya.


"Heyy, stop! kalian berdua stop!" teriakku. Namun mereka tak memedulikanku.


"Aku bilang stop!" bentakku menarik tangan Heafen.


"Rasya, aku bilang stop! stop" ucapku menahan tangannya.


Rasya berhenti, begitu juga dengan Heafen. Mereka berhenti karena aku berdiri di antara mereka.


"Rasya, aku kan udah bilang kamu hari ini jangan ke sini" ujarku menengok padanya.


"Iya, tapi aku cuman mau mastiin keadaan kamu aja" jelas Rasya.


"Lo mau gua hajar lagi? Gak puas semalam gua hajar hah?!" sela Heafen menunjuk Rasya. Rasya lalu menepis kasar tangan Heafen.


"Anj**ng!" ucap Heafen, ia ingin memukul Rasya lagi.

__ADS_1


"Heafen, stop! kamu stop, Stop!" bentakku memegang bagian dadanya, menyuruhnya mundur.


"Kamu belain orang itu Ra?" tanya Heafen menunjuk Rasya. Aku kesal melihat mereka bedua.


"Kalian berantem semalam?!" tanyaku marah melihat mereka berdua. Mereka hanya diam menatap.


"Oh may god, you both.. oh may god" ucapku memegang kepala.


"Kalian pergi" usirku menunjuk keluar gerbang. Mereka hanya diam menatapku.


"I said, leave!" bentakku melihat mereka. Mereka hanya diam saling melirik, seperti ingin memulai babak baru perkelahian.


"Fuckk! i said go!" ucapku kasar manunjuk keluar gerbang.


"Gua tunggu lo di depan" seru Heafen menjuk Rasya.


"Lo kira gua takut?" cemooh Rasya dengan ekspresi siap untuk melawan Heafen kembali.


"Anj**ng" cela Heafen pelan.


"Aku pergi" pamit Rasya memegang tanganku, lalu ia segera pergi, tetapi Heafen malah memukulnya. Ia tak terima jika Rasya memegang tanganku.


"Anj**ng!" teriak Heafen memukul Rasya dari bakang. Rasya terjatuh, ia di pukuli habis-habisan.


"Heafen berhenti!" ucapku menahan tangannya.


Kemudian Rasya bangkit dari jatuhnya, ia membalas pukulan Heafen. Mereka baku hantam tak ada yang mau mengalah.


Di saat aku berusaha untuk menghentikan perkelahian mereka. Secara tak sengaja aku malah terjatuh ke bawah tangga teras depan rumah hingga kepalaku membentur mobil Heafen.


Sementara itu, Greysie keluar kamar. Ia mencari keberadaanku. Lalu menuruni tangga, ia melihat Heafen dan Raya sedang adu kekuatan alias baku hantam.


Mata Greysie membulat ketika melihatku terjatuh dari tangga teras rumahnya.


"Aah" merintih menahan sakit.


"Ra? Raaa!" teriak Greysie berlari.


Heafen dan Rasya sontak berhenti berkelahi. Mereka melihat keaarahku dan langsung menghampiriku.


"Ra, kamu gak papa? tanya Heafan dan Rasya kompak. Mereka terlihat cemas.


"Anj**ng, lo pergi sana! gara-gara lo Cara kek gini" cela Heafen.


"Gara-gara lo" ucap Rasya tak mau mengalah.


"Dieeem!" ucapku sedikit gemetar.


"Raa, kamu gak pp?" tanya Greysie langsung menghampiriku yang terjatuh.


"Kalian!" bentak Greysie menatap marah Heafan dan Rasya. Kemudian Greysie membantuku untuk berdiri.


"Biar aku bantuin" ujar Greysie menaruh tangan kananku di bagian lehernya.


"Ergh.., hnf," merintih. Aku melepas genggaman tanganku dari perutku.


Darah sudah memenuhi telapak tanganku. Sedangkan bajuku sudah berubah warna yang di mana putih menjadi noda merah mengental kehitaman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2