Ilusi

Ilusi
BAB 27 (Part 1)


__ADS_3

Kini Angeline berada di sebuah tempat yang kosong. Lampu di tempat itu masih dapat menyala, namun sudah lama tak terpakai.


Seluruh, tubuh, kaki dan tangan Angeline telah di ikat dengan kuat di sebuah kursi, tempat Angeline duduk.


Greysie menyiramkan seember air pada Angeline, yang di mana membuatnya sampai sadar.


Mata Angeline membulat. Saat Angeline membuka matanya, dia malah melihat mata Greysie yang penuh dengan nafsu membunuh.


"Elo gak boleh hidup. Gua gak bisa biarin satu orangpun mengancam kegagalan rencana Cara. Lo gak bisa jamin kalau elo gak bakalan bocorin rahasia kita, jadi sebaiknya dari pada gua pusing. Mending gua bunuh aja lo sekalian. Hn, he hahahahahahaha" ujar Greysie, lalu tertawa.


Pisau yang ada di tangan Greysie, dia arahkan pada leher Angeline sambil ia juga memutari tubuh Angeline.


"Hmm. Ckk!! Sialll. Ini semua karena temen lo Vyora itu. Padahal Cara sebelumnya gak pernah lemah kek gini. Dan kalian berdua," menatap mata Angeline, "udah buat sahabat gua jadi lemahh! Kalau Cara lemah, gimana dia bisa balas dendam hah?! Kalian pikir gua bakalan biarain semua itu? Dia itu.., aaahh.." jelas Greysie, lalu memegang kepalanya.


"Cara itu orang yang berharga bagi gua. Hanya dia yang tau tentang gua sepenuhnya. Dia paham tentang gua, dia tau cara berpikir gua. Dia tau semuanya tentang gua. Dia selalu bantuin gua. Dia selalu ada buat gua. Tapi.. Tapiii!!! Gua gak tau apa-apa tentang rasa sakit dia selama ini tau gak, hah?!!! Jadi.. Setidaknya gua harus berhasil balesin dendam dia sama keluarga mereka itu, Ngertii?!!" ujar Greysie, manaruh pisau di leher Angeline.


Setelah itu, Greysie langsung berjalan membelakangi Angeline sedang tangannya bermain dengan pisau.


"Kalau lo beneran sayang sama sahabat lo, elo seharunya jangan dukung dia buat masuk ke lubang iblis. Tapi sepertinya malah elo yang makin dorong dia supaya masuk ke dalam lubang iblis itu" ujar Angeline.


Greysie menengok Angeline sementara tangannya menggaruk kepalanya dengan pisau di tangannya.


"Gua? Masukin Cara ke lubang iblis?! hn, hehahahahha. Hahahahaha" ucap Greysie, lalu tertawa lagi.


"Guaa?! Guaaa lo bilang, hah?! HAH?!!!" teriak Greysie.


Sementara Greysie berteriak. Ia juga sudah berlari ke arah Angeline sambil mengayunkan pisau yang ada di tangannya.


"Matiiii lo!!!" ucap Greysie.


Tiba-tiba, aku datang dan langsung berteriak.


"Grey....! Jangannn!" ucapku, menahan tangannya sekuat tenaga.


Flashback. Beberapa saat yang lalu. Setelah Greysie pergi. Aku perlahan berjalan ke arah kamar mandi dengan badan yang tak seimbang.


Setelah itu, aku memaksa diriku untuk memuntahkan minuman yang aku minum sebelumnya.


"Hueekkk. Huekkk. Eghhh, Hueekkk"


Sepertinya isi perutku juga termuntahkan. Kepalaku masih sangat pusing, namun aku memaksa diriku untuk bangun.


Kemudian aku meminum minuman yang dapat menetralkan obat dan segera pergi menyusul Greysie.


Di motor, aku mengikuti Gps dari telpon Greysie. Saat ini dia berada di sebuah bangunan yang biasanya kami pakai untuk menyiksa orang yang masuk ke dalam daftar hitam kami.


Sesampainya di bangunan tersebut. Aku langsung berlari ke dalam. Aku melihat Greysie berlari ke arah Angeline, sementara ia telah siap untuk membunuh.


"Grey....!" teriakku, segera berlari.


"Jangann....!" ucapku, menahan tangannya.


"Pliss jangann, Greyy. Plisss" ujarku, terus menahan Greysie.


Saat ini, aku menarik tubuh Greysie untuk menjauh dari Angeline. Sementara aku melingkari tanganku ke tubuh Greysie, seperti sedang memeluknya dari belakang.


"Dia harus mati, Raa! Harus mati!" teriak Greysie, emosi.


"N- gak Grey. Jangan, pliss jangan. Jang- ann. Pliss, aku gak mau kita bunuh dia Grey" ucapku, memohon sambil terus memeluk erat Greysie.


"Lepassinnnn, Raa! Lepassinnn, lepasiinnnnn!!" teriak Greysie memberontak ingin melepaskan diri.


"Pergiiii! Lo pergi sekarang cepetann, eghhh. Cepetan pergiii dari sinii!" ucapku, berteriak.

__ADS_1


Sementara Angeline berusaha melepas ikatan kuat di tangan dan seluruh badannya. Ikatan itu sangat kuat yang membuat Angeline kesulitan untuk melepasnya dengan tangan kosong.


"Aaaaaaaarghh, fuckkkkkk! Fcukkk! Lepasinnnn! Gua harus bunuh dia, Raa!" teriak Greysie, wajah dan matanya memerah karena emosi.


"Pliss, cepetan pergi dari sini" ucapku dengan isak tangis, sambil menguatkan cengkraman tanganku pada Greysie.


Greysie terus memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan kuatku, ia secara paksa terus berusaha untuk melepas tanganku yang melingkari tubuh serta menahan kedua tangannya itu.


Sementara itu, Angeline nampak gemetar ketakutan bukan main. Dia takut saat melihat pertengkaran kami berdua, sedari tadi Angeline juga bernapas cepat sedang ia terus saja menelan ludah secara kasar.


Tangannya yang gemetar semakin sulit untuk melepas ikatan kuat tersebut.


Karena Angeline tak juga bisa melepaskan diri, aku terpaksa harus mendorong Greysie.


Hal itu membuat Greysie semakin kesal dan berteriak. Namun tak membuatnya sampai terjatuh, Greysie hanya terlihat seperti tengah berlari menjauh dariku.


"Aaarggghhh, Fuckkk! Fuckk you Raa!! Fuckk you! Fuckk. fuckk, fuckk, fuckk, fuuuuckkkkkk!" teriak Greysie, lalu menatap tajam padaku.


Aku sedari tadi telah berlari ke arah Angeline dan segera memotong tali yang mengikat Angeline dengan pisau milikku.


"C, mon. C'mon, c' mon, c' mon, C' moooon" ucapku, sedang tanganku juga gemetar.


Saat ini amarah Greysie sudah berada di puncaknya, sehingga akan sangat sulit bahkan bagi aku untuk menghentikan dirinya.


"Lo harus pergi, lari secepat mungkin. Kalau bisa jangan pernah balik ke negara ini lagi" ujarku, gemetar.


Greysie segera berlari menghampriku sedangkan aku juga telah selesai memotong semua tali yang mengikat Angeline.


Namun, satu kaki Angline ternyata masih terikat di kursi. Hal itu membuat aku segera menghalangi Greysie yang tengah berlari dan mengayunkan pisaunya pada Angeline.


Tangan Greysie terhenti seketika, ia tak bisa dan tak mau melukaiku. Akan tetapi hal itu benar-benar membuatnya sangat marah.


"Fuckkkk! Fuckkk! Minggiiiiiiirrrr!! Lo minggir, Raaa!! Minggirr!!" teriak Greysie.


Angeline masih berusaha melepas ikatan kuat di kakinya dengan tangannya yang gemetar, ia juga sesekali terkejut mendengar teriakan Greysie.


Melihat hal itu, aku segera menghentikan Greysie dengan cara menggenggam erat pisau di tangannya, sehingga membuat darahku juga menetes dari tanganku karena memegang bagian tajam dari pisau tersebut.


"Grey.. plisss" ucapku, lirih sambil meneteskan air mata.


Sementara mata Greysie memerah, ia menarik hembuskan napas berat karena menahan emosi yang meledak tersebut.


"Dia harus Mati! Mati! Matiiiiii......!!!!"


"Grey... Pliss..." ucapku, mendekat padanya.


Lalu aku memeluk erat dirinya. Sementara Angeline juga telah berhasil melepas ikatan kuat tersebut dengan tangan kosong.


Greysie melirik tanganku yang memegang pisau di tangannya. Ia lalu memejamkan mata, sementara itu Angeline telah berlari.


Tadinya Angeline sempat melihat kami terlebih dahulu. Kemudian, Greysie membuka matanya dan menatap dingin Angeline yang tengah berlari tersebut.


Napas Greysie saat ini masih memburu. Amarah masih berada dalam dirinya. Sedangkan aku tak mau melepas pelukanku darinya.


"Siiall" batinku.


Kepalaku sangat pusing saat ini, ternyata efek obat itu masih ada. Greysie memberikan dosis tinggi untukku. Pasti sebelumnya obat itu telah mengalir ke pembuluh darahku.


Kemudian, aku melepas pelukanku dan menatap mata Greysie sangat dalam, itu adalah tatapan memohon.


"Grey... Pli- ss..." ucapku, lirih dan pingsan.


Aku terjatuh pelan ke tubuh Greysie sampai terjatuh di lantai. Sementara itu, Greysie menatapku, sedang tangannya yang memegang pisau mengepal.

__ADS_1


********


Beberapa saat kemudian, Angeline telah sampai di rumahnya. Sekarang sudah jam 21:30 malam.


Rasya sedang menunggu adiknya, ia heran mengapa adiknya tak ada. Sedangkan Ayah dan Ibunya juga telah keluar untuk mencari Angeline, serta meminta bantuan dari para bawahan mereka.


Beberapa lama Rasya menunggu, Angeline tak juga datang. Rasya sedari tadi menggoyangkan kakinya karena cemas. Ia pun segera pergi untuk mencari adiknya juga.


Di saat Rasya akan membuka pintu, Angeline lebih dulu membukanya dari luar.


Wajah Angeline nampak pucat bukan main. Keringat terus membasahi tubuhnya. Bajunya nampak berantakan.


"Dek, kamu dari mana? Kamu kenapa?" tanya Rasya, cemas.


"Kak..." ucap Angeline gemetar, sambil memeluk erat Rasya.


Rasya kemudian menyuruh adiknya untuk duduk di sofa, dan berusaha menenangkan dirinya.


"Dek, cerita ke kakak. Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Rasya.


Angeline hanya diam. Dia merasa sulit untuk menjelaskan.


"Kamu cerita ke kakak dekk," menatap mohon, "pliss, kakak bisa bantuin kamu" pinta Rasya.


"Emf," berkaca-kaca, "aku.., aku gak tau harus mulai dari mana kak" ujar Angeline menangis pilu.


"Cerita ke kakak dek, pelan-pelan aja" ucap Rasya memegang tangan Angeline.


"Pliss, kakak gak bisa lihat kamu kek gini terus" pinta Rasya memohon.


"Ak.., aku.., aku gak.., aku gak bisa" ucap Angeline gemetar sedang air matanya terus menetes.


Angeline yang diliputi perasaan sedih juga takut langsung pergi meninggalkan Rasya tanpa menjelaskan apapun padanya.


Sementara itu, di luar rumah Rasya. Terlihat ada satu mobil hitam yang berada jauh. Seseorang di dalamnya memakai jubah hitam.


Setelah Angeline pergi. Mobil hitam itu terus mengikuti mobil Angeline. Sementara Rasya yang juga mengejar Angeline kehilangan jejaknya karena lampu merah sebelumnya, membuat mobil yang buru-buru langsung tancap gas sehingga menghalangi Rasya. Mereka hampir bertabrakan.


Angeline melaju dengan mobil miliknya, melewati jalanan yang gelap, sunyi, dan jauh dari keramaian, ia tak sadar kalau dirinya terlalu luput dalam kesedihan dan membuatnya membawa mobil tanpa melihat arah tujuan.


Namun, tiba-tiba mobil hitam mendahului mobil milik Angeline. Mobil itu berhenti secara mendadak tepat di depan mobilnya, membuat Angeline refleks mengijak rem mobil.


Ciiiiiit.........!


Angeline terkejut, ia melihat seorang yang memakai jubah berwarna hitam keluar dari mobil hitam tersebut.


Wajahnya nampak familiar membuat Angeline ketakutan, ia lalu menelpon Rasya dengan tangan gemetar.


Menelpon.


"Halo dek, kamu dimana?" tanya Rasya cemas.


"Kak.., t.., to.., tolong ak, akuu kak," ucap Angeline gemetar.


"Kamu di mana sekarang?!" tanya Rasya tegang.


"Ak..."


"Aaaaahh" teriak Angeline.


Orang tersebut menyeret Angeline membuat telpon milik Angeline terjatuh di mobilnya.


"Pliss, pliss, jangan bunuh aku.., kak tolong akuu!" teriak Angeline, suaranya mengecil.

__ADS_1


"Angeline? dek.. dekk, Angeline!" teriak Rasya di telpon.


Bersambung...


__ADS_2