Ilusi

Ilusi
BAB 20 (Part 3)


__ADS_3

Greysie berada di tepi jurang, tepatnya jurang yang berhadapan denganku. Sedangkan aku juga berada di tepi jurang yang di mana terlihat seperti satu gunung terbelah kemudian akar dari dua pohon di atasnya saling memutus dan rusak dengan sendirinya. Kami berhadapan sambil menodongkan pistol ke arah kepala.


Sementara itu, Greysie merapatkan giginya sambil mendesik kesal, lalu dengan pelan ia mulai menggerakan jari telunjuknya.


"Dor.....!"


Satu tembakan di lepaskan, ia menembakku tepat di bagian lengan tangan kananku. Aku melihatnya dengan ekspresi kesal serta tatapan tak percaya, sedangkan amarah juga meliputi diriku.


Setelah itu, aku langsung mengarahkan lagi pistolku padanya, tepatnya di arah kepalanya.


"Fuckk! you shot me!," tatapan tak percaya, "are you out of your mind? udah gila ya lo?!" bentakku, mencela dengan nada kasar.


Greysie terlihat menunduk dengan sangat lama. Sedangkan aku hanya mengamatinya dari tepi jurang di depannya.


Setelah lama menunduk, suara tawa kecil mulai terdengar dari mulutnya. Ia mulai tersenyum dengan mimik wajah baru seakan bukan dirinya.


"Hnh, hn, hn, hahaha," Greysie tertawa kecil dengan senyuman tipis mengerikan. Ia lanjut berkata,


"Kau yang memulainya dasar psychopath!," berbicara dengan nada suara biasa, namun terdengar mengintimidasi.


"Aah," tersenyum, "you there?" ujarku, memiringkan kepala saat melihatnya.


"Hm," memainkan alisnya, "kau berhasil membuatku kehilangan kesabaran!" ucap Greysie, dengan nada suara dingin.


"Hahahahaha," tawa khasku bergegema di ruang hampa jurang tersebut. Aku tersenyum tipis lalu berkata,


"Hmm, bukankah semua ini salahmu?! tidak perlu berpura-pura lagi, aku tau semuanya"


Greysie tak langsung menjawabku, ada jeda di antara jawabannya, sekitar satu menit lamanya.


"Hm, hn, brgh," menahan tawa, "haha" ujar Greysie, tertawa. Sedangkan raut wajahnya seperti sedang dibuat-buat. Ia mulai berpikir dengan mimik wajah yang terkesan berpura-pura. Sedikit memainkan mulut dan bibirnya kemudian berkata,


"Apa kau tidak melihat cermin di wajahku ini?"


"Hnh," Kami tersenyum tipis bersamaan.


Wajah Greysie sangat serius, begitu juga denganku. Tatapan kami sama-sama dinginnya, sedangkan pistol di tangan kami masih mengarah pada kepala lawan bicara masing-masing, seperti telah siap untuk saling menembak kapanpun. Setelah itu, keningku mengkerut, lalu aku berkata.


"Heyy. C'mon..." ujarku, memiringkan kepala saat melihatnya.


Greysie masih saja melihatku dengan mimik serius. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya menatapku dengan tatapan dingin serta mematikan. Sorot matanya sangat tajam seakan ia ingin membuhku saat itu juga.


"Hey. You serious? hey...!" ujarku, sedikit berteriak.


Kepala Greysie kemudian kembali menunduk, sedangkan aku hanya mengamati dirinya. Keningku semakin mengkerut sedangkan aku menatap heran padanya.

__ADS_1


"Brgh," menahan tawa, "kamu takut, Ra?" tanya Greysie, mengejek.


"Hnh, of course not, i know you" jawabku, tersenyum.


Setelah itu, kami menurunkan tangan kami yang memegang pistol tsb dan langsung mengangkat bahu masing-masing. Kemudian tersenyum sambil saling menatap karena menahan rasa lucu.


"Huuf, fuuuhh" ucapku, menarik napas.


"Capek ya?" tanya Greysie.


"Iyaapp" jawabku singkat sambil memegang bagian perutku.


"Aku kesana" ucap Greysie, langsung mengambil ancang-ancang untuk melompat ke tepi jurang tempatku berada.


Setelah melompat, Greysie langsung menghampiriku, dan bertanya.


"You okay, Ra?" tanya Greysie, cemas.


"Of course gak Grey. You shoot me. did you want me dead, hah?" jawabku, dengan nada kesal.


"Maafin," tatapan bersalah, "lagian aku kesel sama kamu, kamu kenapa di sini? aku kira tadi Andrian atau salah satu sahabat Kesya yang aku kejar, or maybe orang suruhan mereka. Kamu muncul tiba-tiba dan mulai acting kek gitu buat aku kesel aja, harusnya kamu istirahat di tenda, kenapa di sini?" jelas Greysie, lalu bertanya.


"So.., kalau lo kesel sama gua lagi, lo bakalan nembak gua di kepala gitu?" tanyaku, dengan nada kesal.


"Hey, i'm sorry, Ra. Sini aku obatin, aku sengaja buat pelurunya gak nembus tangan kamu," ujar Greysie sambil memeriksa lenganku.


Mendengar perkataan Greysie membuat aku makin merasa kesal saja. Tangan kananku yang memegang pistol langsung aku arahkan lagi ke kepalanya. Sedangkan tangan kiriku masih memegang perutku.


"Ra...?" ujar Greysie, mematung sambil melirik pistol di kepalanya. Sedangkan aku hanya diam menatap dingin.


"Brgh. Haha, kena lo. Itu balasan karena udah ngerjain + nembak gua tadi" ledekku, sambil menurunkan pistol dari arah kepalanya.


"Hmf, sini duduk!" ucap Greysie, memaksa


"Argh," rintihan kecil dari mulutku terdengar.


"Ra?" panggil Greysie sambil melihat tanganku yang memegang perut.


Kemudian, Greysie ikut memegang perutku sambil menyuruhku duduk di salah satu batu. Tangan Greysie merasakan basah di area perutku saat ia memegangnya. Lalu Greysie segera melihat tangannya, ternyata itu adalah darahku yang telah tembus.


"Raa!" bentak Greysie.


"Aku udah bilang kamu istrahat aja! kenapa malah keluar malam-malam gini, hah?!" tanya Greysie dengan nada marah.


"Maaf, Grey. Tadi itu.. aku kebangun, terus aku lihat bayangan orang yang megang pisau dari luar tenda. Kamu masih tidur, jadi aku keluar dan ngejar dia" jelasku, sambil mengingat kejadian sebelumnya.

__ADS_1


Flasback. Aku terbangun, lalu melihat Greysie masih tertidur. Tak berselang lama, aku melihat bayangan dari belakang tenda kami. Bentuk bayangan itu seperti badan seorang pria yang bertubuh kekar dan tinggi.


Tanganku mulai meraba sekitar, lalu aku mengambil pistol dari bawah bantalku. Sepertinya orang tsb juga telah menyadari jika aku telah bangun, ia melihat bayanganku mengarahkan pistol padanya.


Hal itu membuat orang tersebut segera menjauh dari tenda kami, sehingga aku keluar dari tenda dan segera mengejarnya.


Lari orang misterius tersebut sangat cepat, sehingga aku harus sekuat tenanga juga berlari agar tak kehilangan jejaknya.


"Hey, siapa lo?! berhenti atau gua tembak!" ujarku, mengancam sambil berteriak.


Kami telah jauh dari perkemahan, sehingga suaraku yang berteriak tak terdengar. Namun jika aku menembaknya sekarang, hal itu aku akan membuat suara yang sangat keras.


"You can't shoot me" ujar orang tsb dengan nada santai, sedang ia berbalik badan untuk melihatku.


Kemudian, ia mengambil ancang-ancang untuk menyerangku dengan pisau di tangannya.


"Siaal, dia sadar kalau gua gak bisa nembak dia sekarang" batinku.


"Who the fuc*king are you?!" tanyaku, nada emosi.


"Look again, don't you remember me?" ujarnya, sambil tersenyum ejek.


"Siall" batinku, sambil mataku melihatnya dari atas sampai bawah.


Saat itu, cahaya bulan menerangi hutan, sehingga aku bisa melihat wajahnya, meskipun aku harus benar-benar fokus.


Setelah aku sadar, mataku membulat ketika aku mengingat dirinya. Tingginya sekitar dua meter, sedangkan badannya sangat kekar dan berotot. Wajahnya nampak tak asing, ia juga memakai bahasa inggris.


"Dia orang yang masuk ke apartemen saat itu?" batinku.


"Ohoh, it's yyou! you're the damn bastard who wants to stab my best friend!" ujarku, dengan nada emosi.


Sementara itu, tanganku juga telah mengambil pisau milikku, dan mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya.


"See? you remember me" ucapnya, mengejek.


"I can't, let you to live!" ujarku pelan, menatap dingin.


"You have to die, now!" lanjutku dengan nada suara berat, sambil berlari ke arahnya untuk menyerang, begitupun dengannya.


Orang tsb mengayunkan pisau padaku dengan tangan kanan, sedangkan aku langsung menunduk untuk menghindarinya. Sementara tangan kananku yang memegang pisau juga telah bergerak ke arah perutnya.


Namun, ia menahan tanganku dengan tangan kirinya. Sedangkan aku juga telah menahan tangan kanannya dengan tangan kiriku. Hal tersebut membuat aku harus mendongak untuk melihat wajahnya karena tinggi badannya berbeda jauh denganku. Bagaimana tidak? tinggiku hanya sekitar 167 cm, sedangkan tinggi badannya sekitar 2 meter.


Hal itu juga membuat kami saling tatap, saling menggeram, dan saling menguatkan tenaga pada tangan kami masing-masing untuk menyerang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2