Ilusi

Ilusi
BAB 31 (Part 3)


__ADS_3

Setelah kami pergi. Raya masih menangis kecil sambil menutupi mulutnya sendiri.


Sementara itu di dalam mobil Greysie, suasananya nampak hening. Tak ada yang memulai pembicaraan.


"Freya masih marah?" tanyaku, lembut.


Mendengarku membuat Greysie berusaha keras untuk menahan senyuman di bibirnya.


"Cara cumanan temenan sama Freya aja gak sama yang lain. Kalau di suruh milih Cara bakal selalu utamain orang yang namanya Freya Valerie Greysie. Yang lain gak penting" ujarku, tanpa melihatnya.


Aku hanya menatap lurus ke depan untuk melihat banyaknya lampu jalanan dan bangunan.


"Besok... dua hari kedepannya Cara bakalan tepatin janji Cara ke Grey sebelumnya. Syaratnya juga bakal Cara kasih tau kalau udah jalanin rencananya. Grey jangan marah lagi bisa?" ujarku.


Greysie menghentikan mobilnya, ia lalu menatapku dengan wajah haru. Bibirnya gemetar menahan tangis.


"Beneran?" tanya Greysie, memastikan.


"Hmm" jawabku mengangguk, lalu tersenyum lembut padanya.


"Setelah itu... Gak pp yang penting Grey udah terbebas dari rasa sakitnya. Maafin Cara Ayah, Bunda... Cara bakalan malu banget saat ketemu kalian di alam sana. Kalian pasti benci dan kecewa banget sama Cara" batinku.


Beberapa saat kemudian. Kami telah sampai di dalam rumahku. Setelah itu, kami langsung tidur karena marasa sangat capek.


Besoknya, di ruang tamu. Aku terus melamun memikirkan alasan mengapa mereka menggeledah rumahku.


"Apa sebenarnya yang mereka cari di rumah ini?," mengerutkan alis, "apa jangan-jangan bener lagi kalau mereka udah tau yang sebenarnya? Masa mereka dateng hanya dengan alasan ingin ambil satu anting gua? Itupun cuman sebelah lagi. Gak mungkin cuman itu doang alesannya" gumamku, sambil menyilangkan tangan.


Waktu sudah menunjukan pukul 06:55 pagi. Aku segera bersiap-siap begitu juga dengan Greysie. Kemudian kami bertiga bersama Lia berangkat ke sekolah.


"Grey biar aku yang nyetir" ucapku, Greysie mengangguk.


"Lia," melihatnya, "ayo naikk" panggilku melambai padanya.


Beberapa saat di perjalanan. Sebuah mobil hitam bermerek Toyota Vellfire, tiba-tiba mendahului mobil kami, mereka berhenti tepat di depan, aku terkejut, lalu menghentikan mobil.


Ceeeeeiiiiitt.........!


Greysie terkejut dengan raut wajah kebingungan, sedangkan Lia terlihat ketakutan.


Sekelompok orang yang memakai jas hitam dengan tampang terlatih keluar dari mobil tersebut, tampang mereka seperti orang yang bekerja pada seseorang dengan status tinggi.


Mereka kemudian menghampiri kami, lalu menyuruh kami untuk keluar dari mobil.


Tok, tok, tok, tok...., Kaca mobil di ketuk dengan kasar.


"Lia, kamu di dalam aja jangan keluar" pintaku, lalu aku melirik Greysie, dia mengangguk.


Saat kami keluar dari mobil. Mereka langsung menyergap kami dan ingin membawa kami pergi.


Setelah sampai di depan pintu mobil mereka, Greysie langsung memberikan kode padaku untuk melawan.


Pertarungan sengit pun terjadi. Mereka cukup kuat sehingga kami merasa sedikit kuwalahan saat melawan mereka.


Melawan 7 orang terlatih sekaligus memang cukup melelahkan, akan tetapi kami sangat menikmatinya. Sudah lama kami tidak bertarung dengan serius seperti ini, biasanya terasa amat membosankan.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk membuat kami merasa kuwalahan, kami menikmatinya sehingga kami bisa dengan mudah untuk membalikkan keadaan.


Mereka terluka cukup parah, sebagian dari mereka sudah tak sadarkan diri. Aku berjalan perlahan menghampiri salah satu dari mereka, tanganku meraih rambutnya dan membuatnya duduk dengan posisi berdiri dengan lutut.


Wajahku mendekati telinganya, lalu aku membisikan sesuatu padanya.


"Bilang pada Tuan dan Nyonya mudamu. Ini terlalu sedikit. Bawakan lebih banyak orang lagi untuk kesenangan kami" bisikku, lalu tersenyum miring.


Perlahan aku melihat wajahnya dan masih tersenyum remeh, sementara tanganku juga masih memegang erat rambutnya.


Tatapan tajam dariku membuat sekujur tubuhnya gemetar. Kemudian aku langsung menghempaskan dirinya.


Mereka segera mengangkat teman-teman mereka yang sudah tak sadarkan diri dan segera pergi dari sana.


Di dalam mobil, Lia kebingungan saat melihat kami tersenyum seperti menikmati pertarungan.


Sementara itu, aku dan Greysie saling menatap, tak lama kemudian kami pun masuk kembali ke dalam mobil.


"Kakak gak pp?" tanya Lia.


"Kita okk" jawab Greysie, tersenyum.


"Kamu gak pp?" tanyaku pada Lia.


"Aku gak pp, tapi kalian yang luka kak" jawab Lia.


"Kita gak pp kok, cuman luka dikit" jawabku melihatnya dari kaca mobil.


"Kita obatin luka kakak berdua aja dulu" pinta Lia.


"Gak pp Lia, kita ok kok, takutnya ntar kita telat lagi" balas Greysie.


Kemudian aku langsung menyalakan mobil. Sementara itu Lia masih terlihat bingung dengan banyak pertanyaan di benaknya.


"Kak tadi itu.. mereka siapa?" tanya Lia penasaran. Aku meliriknya dari kaca mobil.


"Hm, kita juga gak tau Lia, keknya ada orang yang gak suka sama kita" jawab Greysie.


"Em, sepertinya mereka juga yang berantakin rumah kak Lista kemarin?" tanya Lia lagi.


"Mm.. maybe," mengangkat kedua bahu, "i think" jawabku mengerutkan bibir.


Beberapa saat kemudian, tiba di sekolah. Kami berjalan masuk ke kelas. Namun, di saat kami berada tepat di pintu kelas, Cassie tiba-tiba saja berdiri melihat kami dengan wajah terkejut. Kami melihatnya dan langsung menghampirinya.


"Kamu gak pp?" tanyaku.


"Iya gak pp," tersenyum, "emm, aku.. aku ke toilet dulu" jawab Cassie masih tersenyum, ia berjalan keluar kelas.


Greysie melihatku, mengangkat bahu dan kedua alisnya. Sementara itu, Cassie masih tersenyum saat berjalan keluar dari kelas. Kami melihatnya berjalan.


Saat Cassie sudah berada tepat di luar kelas, ia seketika berhenti tersenyum dengan tatapan matanya.


"Grey, dia yang nyuruh orang-orang tadi" bisikku pada Greysie.


"Hm, dari gelagatnya emang bener dia" balas Greysie berbisik, lalu tersenyum remeh.


Sementara itu, di dalam toilet Cassie sedang melihat dirinya sendiri di depan cermin, raut wajahnya nampak sangat kesal. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya, itu adalah satu kantung plastik, ia kemudian memakai kantung plastik tersebut ke kepalanya dan mulai berteriak kesal.


Beberapa saat kemudian. Cassie kembali dan duduk di tempatnya. Aku dan Greysie lalu saling melirik dan mengkode. Kemudian kami menghampirinya.


"Are you okay, Cass?" tanyaku.


"I'm okay" jawab Cassie tersenyum padaku.


"You look pale Cass, if you need some help, tel us" sambung Greysie, pura-pura.


"I'm okay," tersenyum, "don't worry," perlahan melihat wajah kami, "emm, harusnya aku yang nanya, you guys okay? muka kalian kok.. kalian berantem?" tanya Cassie, juga pura-pura.


"Eem, we're good, tadi..." jawabku, lalu menjelaskan kejadian tadi.


"Oh may god," terkejut, "guys..! kalian beneran gak pp?" tanya Cassie, masih berpura-pura.


"Kita ok kok, kita bukan tandingan mereka" jawab Greysie, tersenyum remeh.


"Kalian udah tau siapa yang nyuruh mereka?" tanya Cassie, pura-pura.


"Of course we know" jawabku, tersenyum sambil melirik Greysie.


"Easy for us to find out" lanjutku.


"What?! Siapa?! Mereka nyurigain siapa? Atau jangan-jangan mereka udah tau lagi kalau itu suruhan gua dan Bryan?" batin Cassie.


"Oh yea?" sahut Cassie kaku, matanya melirik sekitar.


Sementara itu, aku dan Greysie tersenyum saling melirik dan mengkode dengan alis.


"Iyalah. Lo teneng aja. Kita sama sekali gak lemah. Seharusnya orang yang nyuruh mereka itu ngirim semua anak buahnya, supaya kita makin seneng-seneng. Ya kan, Grey?" ujarku, melirk Greysie.


"Iya, Ra bener banget. Ngirim orang yang lemah buat ngelawan kita? Hnh, apa mereka lagi ngelawak? Hnhaha" jawab Greysie, tertawa pelan.


Mendengar perkataan kami membuat Cassie tak tau harus bereaksi seperti apa. Ia hanya tersenyun kaku, dan kembali diam dengan perasaan menduga-duga.


Beberapa jam berlalu. Bell pulang berbunyi. Aku dan Greysie berada di mobilnya dalam perjalanan pulang ke rumahku.


Kemudian, aku memeriksa handphoneku dan mengirim chat whattsapp pada Riska.


Kita kerjain tugas kelompoknya nanti di hari minggu aja. Soalnya hari ini sampai hari sabtu gua bakal sibuk. (Mengirim chat).


Setelah mengirim chat pada Riska. Aku lalu mematikan handphoneku.


"Kamu gak mau ngasih tau aku rencananya kek gimana, Ra?" tanya Greysie.


"Ntar malem" jawabku singkat.


"Kenapa gak sekarang aja?" tanya Greysie.


"Gak pp" jawabku.


"Ckk!" gerutu Greysie.


Sesaat kemudian, tiba di rumahku. Kami masuk ke dalam kamar. Aku langsung berbaring karena capek sementara Greysie bermain guitar dan bernyanyi sendiri.


"Ra, aku bosen. Kita gak latihan boxing atau apalah hari ini? Musuh kita udah nambah lagi. Apalagi sekarang Cassie dan Bryan udah tau tentang kita yang ngejebak orang tua Cassie, pasti hidup kita mulai sekarang gak bakalan aman lagi. Selama ini kita udah tau gimana perlakuan mereka ke musuh-musuh mereka" ujar Greysie.


"Ra? Raa!" panggil Greysie.


"Caraa! Ckk!" panggil Greysie, kesal.


Greysie lalu menghampiriku di tempat tidur. Sedangkan aku masih diam tak menjawabnya, lalu aku menatap wajahnya yang kesal itu.


"Grey, hari ini biarin aku dulu, ya? Aku lagi gak pengen ngomong. Pliss, aku pengen nenangin diri aku. Aku gak mau rencana aku besok berantakan kalau aku gak bisa ngontrol diri aku sendiri" ujarku, menatap penuh harap.


Greysie yang tadinya kesal segera duduk di dekatku dan menatap lembut.


"Em, yaudah. Kalau kamu capek tidur aja. Atau kamu mau makan sesuatu? Mau aku masakin? Atau aku pesenin makanan?" tanya Greysie.


"Gak, aku gak laper" jawabku, berdiri.


Kemudian, aku mengambil headphone milikku. Lalu aku sambungkan ke bluetooth hpku dan memutar musik di dalamnya. Tak lupa juga aku menyalakan fitur jangan ganggu, dan mode silent di hpku. Notifikasi whattsapp juga telah aku blokir agar tak mengganggu.


"Grey, jangan di matiin musiknya. Pliss..." ujarku, menaruh headphone ke telingaku.


Aku tersenyum, lalu bersender di tempat tidur sambil memejamkan mata dan mulai menikmati indahnya melodi di telingaku.


Greysie menatapku, ia lalu berdiri dan pergi keluar kamar sampai di ruang olahraga. Di sana Greysie latihan boxing sendiri.


Beberapa jam berlalu, Greysie latihan hampir semua jenis olah raga. Seperti Gym, boxing, karate, tentu saja dengan pisau di tangannya dan jenis olah raga bela diri lainnya.


Waktu menunjukan pukul 19:40 malam. Greysie seperti sedang mandi dengan keringat milikknya. Ia terengah-engah sambil terduduk sedang kedua tangannya berada di atas lutut.


Setelah mengatur napasnya baik-baik. Greysie lalu mengambil air di botol miliknya dan meminumnya.


"Cara udah selesai belum?" batin Greysie.


Greysie segera pergi ke kamarku. Di dalam kamar aku masih dengan posisi duduk yang sama di mana telingaku masih memakai headphone.


Melihatku masih dengan posisi duduk yang sama membuat Greysie segera menghampiriku. Ia duduk, lalu mendekatkan telinganya ke wajahku.


Hal itu membuat nafasku masuk ke telinganya. Kemudian, ia memeriksa keningku dengan raut wajah berpikir.


"Gak sakit. Biarin aja dulu kali ya. Lagi pula gua juga mau mandi" batin Greysie.


Setelah itu, Greysie pergi untuk mandi. Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi. Greysie keluar dari kamar mandi masih melihatku dengan posisi duduk yang sama. Kemudian, Greysie segera mengganti pakaiannya dan memakai semua skincare miliknya.


Setelah selesai. Ia lalu menghampiriku dan duduk menghadapku sambil terus menatap wajahku dari dekat.


"Sekarang" ucapku, membuka mata.


Saat membuka mataku, aku langsung melihat wajah Greysie tepat di depan wajahku.


"Gua harus lakuin sekarang" gumamku, mendorongnya menjauh, kemudian berdiri.


Setelah berdiri, aku melepas headphone dari telingaku, mematikan musik, menyalakan data, mematikan mode jangan ganggu dan juga mengganti fitur senyap menjadi fitur getar.


Zzt, zzt, zzt, zzt, zzt, zzt, zzt, zzt, zzt, zzt, zzt...


Suara getaran di hpku terus berbunyi. Itu adalah spam wattsapp dari Riska. Ia sedari tadi mengirim chat dan menelponku.


Sementara itu, Greysie yang mendengarnya nampak terheran-heran.


"Siapa sih" batin Greysie.


"Grey, aku...," tak selesai aku berbicara hpku bergetar kembali.


Riska menelponku, dan aku pun langsung menjawab telpon darinya.


"Raaaaaa....!" teriak Riska, di telpon.


Hal itu membuatku menutup mata dan refleks menjauhkan telpon dari telingaku.


"Apasih, Riskaa. Sakit telinga gua. Jangan teriak-teriak" ujarku.


"Hp lo kenapa mati? Lo sengaja kan matiinnya? Supaya pas gua nelpon lo bisa buat alesan kan? Lo udah janji ke gua! Jangan lupain janji lo!" tukas Riska, dengan emosi.


"Gua gak..." ucapku, tak selesai.


"Gua gak mau dengerin alesan lo. Lo kesini sekarang!" ujar Riska, emosi.


"Gua gak bisa hari in..." jelasku, tak selesai.


"Gua gak mau dengerin alesan lo. Pokoknya..."


Tut.........!


Sebelum Riska menyelesaikan kalimatnya telponku tiba-tiba saja mati. Sementara itu, aku langsung memeriksa hpku dan melihat Greysie.


"Grey, aku keluar bentar" pamitku, melangkah pergi.


"Iya, pergi aja sana sama si Riska. Dia kan sahabatnya elo. Dia kan lebih penting dari gua. Gak usah pamit-pamit sama gua. Emang gua siapa? Gua kan bukan siapa-siapanya elo" ujar Greysie, dengan wajah cemberut dan kesalnya.


"Ngeselin banget" batin Greysie.


Greysie lalu bersender ke tempat tidur dengan tangan bersilang sedang wajahnya sangat kesal bukan main.


"Grey... Aku gak pergi sama diaa... Aku harus ngurus sesuatu sekarang. Pliss... Aku lagi gak mood kalau harus berantem sekaraaaanngg..." jelasku, pelan melembut.

__ADS_1


"Gak peduli!" ucap Greysie, masih kesal.


Mendengarnya, aku menjadi diam sambil menatapnya datar. Aku lalu melempar hpku ke tempat tidur dan pergi begitu saja.


#


Di luar, aku langsung menyalakan motor milikku dan menarik gas. Aku membawa motorku dengan sangat laju.


Beberapa saat kemudian, tiba di sebuah club malam. Aku menyelinap masuk ke tempat anak buah Bryan dan mengambil hanphone salah satu di antara mereka.


Anak buah Bryan itu adalah seseorang yang tak berhubungan langsung dengannya. Biasanya untuk menghindari hal-hal yang di luar dugaan.


Setelah mengambilnya, aku pergi ke atap bangunan yang berdekatan dengan Arya Allen Wijaya atau Ayah Greysie.


Waktu menunjukan pukul 20:55 malam. Di apartemen, Ayah Greysie sedang bersama selingkuhannya, mereka berada di dalam kamar.


Sementara itu, aku melihat mereka menggunakan teropong dan juga cctv yang sudah aku retas menggunakan laptop milikku.


"Kau terlihat sangat menyukai wanita itu" sapaku di telpon, tersenyum sambil melihat mereka.


"Siapa kamu?!" tanya Ayah Greysie, membentak sambil melirik sekitar.


"Kau terlihat sangat menyukai wanita itu" ujarku.


Aku lalu mengirimkan beberapa foto ke nomor ayah Greysie menggunakan handphone anak buah Bryan.


"Lihat pesan yang ku kirimkan padamu" perintahku.


"Apa-apan ini?! siapa kamu?!" tanya Ayah Greysie, emosi.


"Pertanyaan yang salah," tersenyum smrik.


"Seharusnya kau bertanya apa yang akan terjadi padamu karena kau sudah menjadi calon mangsaku saat ini. Yang perlu kau ketahui adalah aku selalu mengawasi setiap gerak-gerikmu. Ku lihat kau sangat menyayangi perusahaan milkmu, jika tak ingin kehilangan barang berharga sebaiknya kau lebih berhati-hati dalam menyembunyikan selingkuhan dan kelakuan kotormu itu. Jangan sampai suatu saat media tiba-tiba memberitakannya" ujarku, mengancam.


Setelah itu, aku langsung menutup telpon sambil tersenyum miring.


Sementara itu, Ayah Greysie terlihat sangat emosi. Ia membanting semua barang-barang di dalam apertemennya.


Setelah puas meluapkan emosinya. Ayah Greysie lalu menelpon seseorang yang tidak lain adalah Hendry, sekretaris pribadi utamanya.


Menelpon.


"Saya ingin kamu melacak sebuah nomor, lakukan dengan hati-hati!" perintah Ayah Greysie lalu mengirimkan nomor tersebut pada Hendry.


"Baik pak" jawab Hendry.


********


Sementara itu, di sebuah ruangan Cassie terlihat sangat marah. Ia berteriak dan membanting barang-barang di sana.


"Aaaaaaaggh" membnting barang, "fuckkk!, fuckkkkkkk!" teriak Cassie.


"Hey, hey. Calm down, babe" ucap Bryan.


"I hate them babe...," menatap Bryan, "They fuckk up my family!" bentak Cassie.


"I know, i know babe" ucap Bryan memegang wajah Cassie.


"But... you have to calm down sekarang, babe. Aku janji bakalan balas mereka dan keluarganya" ujar Bryan, berusaha menenangkan Cassie.


"Kamu janji?" tanya Cassie, cemberut.


"Iya, aku janji. Kamu tenang ya" jawab Bryan, sambil memeluk Cassie.


Beberapa saat kemudian, Cassie tertidur di pangkuan Bryan. Lalu Bryan segera menelpon Edrick Michael, ia merupakan sekretaris pribadi Bryan dan juga orang kepercayaannya.


"Gimana? udah selidiki?" tanya Bryan.


"Iya pak, ternyata sangat sulit untuk menyelidiki seseorang seperti Arya Allen Wijaya. Dia sangat teliti dan berhati-hati di setiap saat, tapi kemarin dia membuat sedikit kesalahan yang membuat saya bisa mendapatkan buktinya" jelas Edrick, lalu mengirimkan foto pada Bryan.


Bryan memeriksa pesan yang di kirimkan Edrick padanya, lalu ia tersenyum licik.


"Kerja bagus" ucap Bryan, tesenyum.


"Terima kasih pak" balas Edrick.


#


Setelah aku selesai menelpon ayah Greysie, aku mengembalikan telpon genggam tersebut kepada pemiliknya. Lalu aku segara pulang ke rumahku.


Saat itu, waktu masih menunjukan pukul 21:40 malam. Greysie sedang duduk manis di sofa, menunggu kedatanganku.


Wajahnya terlihat sangat tidak enak jika di pandang, tentu saja dia sedang marah besar terhadapku. Aku baru saja sampai di depan rumahku, kemudian membuka pintu. Sementara itu, Greysie berada di depan wajahku, aku hampir saja menabraknya jika refleksku tak cepat.


"Greyy" ucapku, dengan mimik heran.


"Lo itu sadar gak sihh, kalau gua masih kesel banget sama elo soal Riska kemarinn. Tapi tadi malah terang-terangan. Seneng lo, hah? Seneng?! Seneng banget ya, hah?!" ujar Greysie, berteriak di telingaku.


Hal itu membuatku menutup mata dan juga menunduk sampai menekuk lutut. Lalu aku segera menahan badanku dengan tangan kiriku di lantai, sedangkan tangan kananku juga telah menutup telinga kananku.


"Emmff...," menutup telinga.


Setelah itu, aku tersadar dan membuka mataku sambil mendongak untuk melihat Greysie.


Kemudian, aku berdiri dan menatap tajam padanya, lalu aku langsung menarik tangannya sampai ke dalam kamarku.


"Lo hobi banget buat gua kesel!" gerutuku, terus menarik tangan Greysie.


Sesampainya di dalam kamarku, aku langsung mendudukan paksa Greysie ke tempat tidur.


"Lo harus di hukum" ujarku, menatap tajam.


Setelah itu, aku berjalan ke arah tv dan mengambil mic di sana. Sesekali aku juga menatap tajam pada Greysie. Aku lalu mencari sebuah lagu yang berjudul Rihana Umbrella.


Sementara itu, Greysie tersenyum kecil sambil bersilang tangan dan kaki saat melihatku.


Sebuah melodi indah mulai memenuhi isi kamarku, sedangkan aku langsung bernyanyi di lirik berikutnya.


"You have my heart," tersenyum melihatnya, "And we'll never be worlds apart, Maybe in magazines," berjalan menghampirinya," But you'll still be my star," memberikan pose hati," Baby, 'cause in the dark," wajah sedih, "You can't see shiny cars.. And that's when you need me there.. With you I'll always share," memeluk erat."


Beberapa saat kemudian. Aku dan Greysie berbaring di tempat tidur sambil berbicara.


"Grey, aku... Sebenarnya tadi pergi untuk jalanin rencana aku. Aku nelpon Papa kamu pakai hp anak buahnya Bryan. Rencana aku.. Aku mau Ayah kamu curiga ke Bryan, makannya aku make hp anak buah Bryan. Aku lakuin semua itu karena syarat yang aku bilang ke kamu saat itu" jelasku.


"Syaratnya... kamu gak boleh bunuh papa kamu sendiri Grey. Aku gak bisa biarin kamu lakuin hal itu, aku gak mau kamu nyesel kek aku. Aku mau Ayah kamu curiga ke Bryan setelah kita jalanin rencana aku" lanjut, batinku.


Greysie nampak berpikir saat mendengar penjelasan dariku.


"Aku masih gak ngerti, Ra" ujar Greysie.


"Besok aku jelasin" jelasku.


"Raa..." panggil Greysie.


"Aku mau tidur" ucapku, membalikan badan.


Greysie menghela napas pelan. Ia lalu bangun dari baringnya. Kemudian, Greysie mengambil laptop miliknya dan mulai mengerjakan tugas kelompok yang di berikan guru sebelumnya.


"Hmf, siapasih yang ngechat dari tadi pagi" batin Greysie.


Greysie lalu memeriksa hp miliknya, tepatnya pesan di wattsapp. Setelah membuka wattsapp, terlihat pesan dari nomor baru di sana, lalu Greysie membuka pesannya.


Hai Grey aku Athan. Kita sekelompok tadi😁


P


P


Grey?


Grey, kamu save kontak aku gak? Kalau belum di save, kamu save aja Athan.


Grey?


Lagi sibuk ya?


Nanti kalau udah gak sibuk. Cp balik ya. Supaya kita bisa nentuin harinya untuk ngerjain tugas kelompoknya.


Greysie lalu mengetik di keyboard hpnya. Biar gua yang...(menghampus). Nanti aku kerjain sendiri...(menghapus). Gak perlu. Biar aku yang kerjain tugas kelompoknya...👍😀😀 (menghapus). Gak pp, biar aku sendiri aja yang kerjain tugasnya😉 (mengirim chat).


Greysie lalu menyimpan hpnya dan balik mengerjakan tugas kelompoknya.


Setelah lama mengerjakan tugas kelompok. Laptop Greysie lowbet dan ia lupa membawa charger miliknya.


Beberapa menit berlalu sampai waktu munjukan pukul 01:50 tengah malam. Laptop milik Greysie semakin lowbet.


Kemudian Greysie segera mencari charger milikku namun tak bisa menemukannya. Karena tak bisa menemukan charger laptopku, Greysie terpaksa harus membangunkan aku untuk menanyakannya.


"Ra, boleh pinjem charger laptop gak" tanya Greysie, mengecek sekitar.


"Raaa," memegangku, "aku mau pinjam charger laptop" ucap Greysie.


"Hmmf?," menggaruk mata.


"Aku mau minjem charger laptop, aku cari-cari gak ada, sorry" ucap Greysie menatap maaf.


"Emff, aku simpan di tas..," masih ngantuk, "tas aku..," menaruh kepala di bantal, "hmm," masih menutup mata, "mmm..., keknya di bawah. Tadihhmm... Aku buang ke bawah keknya" jelasku, menepuk tempat tidur.


"Okyy, sorry..." ucap Greysie, memeluk.


"Mmff" ucapku, langsung tertidur.


Greysie kemudian melihat ke bawah tempat tidur, lalu ia mengambil tas yang berwarna hitam.


"Hm," menatap heran, "ini tas kamu, Ra?" tanya Greysie.


Aku tak menjawabnya karena sudah tertidur kembali sedari tadi. Sementara itu, Greysie perlahan membuka tas itu. Ia melihat sesuatu yang berwarna hitam di dalamnya, perlahan ia mulai mengerluarkan benda itu dari dalam tas.


Saat Greysie mencoba mengeluarkan kain berwarna hitam itu, tiba-tiba saja sesuatu terjatuh dari dalam kantungnya. Greysie terkejut, matanya membulat ketika melihat sebilah pisau terjatuh.


Benda yang di pegang Greysie adalah sebuah jubah berwarna hitam lengkap dengan topi, masker, kaus tangan, dan sepatu serba hitam.


"Apa ini?," mengerutkan alis, "sejak kapan Cara ngoleksi barang ini?" gumam Greysie, melihatku.


Greysie kemudian memeriksa tas itu secara menyeluruh. Di dalam tas tersebut terdapat benda tajam seperti gergaji, palu, kunci inggris dan lain sebagainya.


"Grey..," masih menutup mata, "kamu udah dapat chargernya?" tanyaku pelan.


Greysie terlihat bingung, ia kemudian mengembalikan semua barang-barang tersebut ke dalam tas serta memeriksa kembali bawah tempat tidur dan mengambil tas milikku.


"i.., iya udah" jawab Greysie.


"Tadi suara apa? kek ada yang jatuh" tanyaku, masih dengan mata tertutup.


"Emm, iya aku gak sengaja nyenggol barang, kamu tidur lagi aja" jawab Greysie.


"Mmfff" ucapku.


Kemudian, Greysie kembali mengerjakan tugas di laptopnya. Setelah selesai mengerjakan tugas kelompok, ia segera berbaring di tempat tidur.


"Ra, kamu beli peralatan baru?" tanya Greysie.


"Nggakmm" jawabku, masih mata tertutup.


"Aku kira tadi udah tidur" gumam Greysie.


"Terus... Itu peralatan siapa?" tanya Greysie.


"Cassieemm, mereka yang berantakin rumah aku naruh tas ituhmf... terus aku simpen peralatan aku juga di dalemnya" jawabku.


"Ooh, jadi itu maksud kamu... cara Cassie untuk ngerusak pertemanan kita kek gitu? Mereka mau aku curiga kalau kamu itu pembunuh berantai?" tanya Greysie.


"Hmmffff" jawabku.


"Hnh, hehahahaha. Hahahaha... So fu*cking funny... Hehahahahaa," Greysie tertawa.


"Oh my god, hnhehe. So fffunnyyyy... Hahahaha. Hahahahahahaha. Hahahahaha. Oh my god, air mata aku sampai keluar sumpah, hahahahaha. Hahaha" ujar Greysie, tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu, aku terbangun karena mendengarnya tertawa keras.


"Udah Grey? Aku ngantuk, mau tidur tapi kamu berisik banget" ujarku.


"Heeehuhmhehehe. Sorry, hehehehuuu" mengelap air mata, "Sorry, aku kebablasan. Lucu banget soal... Brfffghahahahaha. Hahahahaha. Huuuu... Gak bisa, gak bisa. Kalau aku... Ingettt, hnmm, ingetthnmmm...hahahaha. Hahahahaha. Aduuuhh, sakit banget perut aku... Hahahahaha," memegang perut, "Hahahahaha, aduh sakit perut aku ketawa terus, Raaaa... Hahahahaha" ujar Greysie, masih tertawa terbahak-bahak.


Besoknya. Greysie bangun terlebih dahulu. Setelah bangun, ia segera pergi ke rumahnya kerena mendapat pesan dari ayahnya.


Beberapa saat kemudian, aku terbangun dan melihat sekitar. Greysie tak ada sehingga aku mencarinya ke setiap pelosok rumahku.


Saat aku memeriksa garasi mobil, ternyata mobil milik Greysie sudah tidak ada di sana, lalu aku pergi mengambil telpon milikku untuk menelponnya.


"C'mon.. c'mon...," tatapan cemas, "angket, angket Greyy...," menatap halaman rumah, "Hallo Grey?" ucapku.


"Iya Ra" jawab Greysie.


"Kamu lagi di mana?" tanyaku khawatir.


"Aku lagi di rumah, Ra" jawab Greysie.


"Lah, kok gak bilang? ngapain? emang papa kamu udah pulang dari luar negeri?" tanyaku penasaran.


"Eem, papa aku gak lagi di luar negeri, Ra. Dia udah beberapa hari di Indonesia, and... aku ada urusan bentar, kamu masih tidur tadi, aku gak tega buat bangunin kamu" jelas Greysie.


"Hm, bikin orang khawatir aja" balasku.


"Hehehe. Iya, iya sorry Ra" sambung Greysie.


"So? kapan balik?" tanyaku.


"Ntar malem aku ke sana, gak pp kan?" tanya Greysie.


"Yaaa, aku juga mau ngurus sesuatu" jawabku.


"Oky" balas Greysie.


Greysie lalu menutup telpon. Ia kemudian fokus untuk melihat jalanan lagi.


"Aku gak mau kalau Cara tau Papa nyuruh aku ke apartemennya. Kalau Papa mukul aku lagi... Cara pasti... Aku gak mau Cara trauma lagi" batin Greysie.


Sementara itu, di dalam apartemen. Ayah Greysie telah mengetahui siapa pemilik nomor yang telah menelpon dirinya.


Sebelumnya, Ayah Greysie telah memberikan pelajaran pada semua anak buah Bryan

__ADS_1


Di saat Ayah Greysie mengetahui identitas dari orang yang telah mengancamnya, amarahnya semakin meluap karena mengetahui identitas asli dari bos pemilik nomor tersebut adalah Bryan.


Ayah Greysie kemudian mengumpulkan seluruh anak buahnya untuk memberikan pelajaran kepada Bryan.


"Berani-beraninya dia macam-macam dengan saya. Saya bisa dengan mudah untuk menjatuhkan perusahaan miliknya itu" gumam Ayah Greysie.


"Hendry...! Siapkan peralatan dan bekas-berkasnya" perintah Ayah Greysie.


"Baik pak" jawab Hendry.


Kemudian, ayah Greysie segera menelpon seseorang lagi.


"Di mana kamu?" tanya Ayah Greysie.


"Ini aku udah di jalan Pah. Bentar lagi sampai" jawab Greysie.


"Kamu gak perlu kesini. Saya ada urusan. Besok temuin saya di rumah. Jangan telat!" perintah Ayah Greysie.


"Emm, iya Pah" jawab Greysie.


********


Sementara itu, Bryan telah mendapat informasi dari Edrick kalau ayah Greysie sudah mengetahui jika dia sedang menyelidikinya.


"Aku kehilangan kontak dari orang-orang suruhan kita, Pak. Sepertinya Arya Wijaya sudah tahu kalau kita sedang menyelidikinya, sekarang dia sedang menyelidiki pak Bryan dan bersiap untuk membalas" jelas Edrick.


"Hm, kalau begitu, aku gak punya pilihan selain melawannya secara langsung. Pancing dia untuk pergi ke tempat yang sudah kita siapkan" ujar Bryan.


"Baik, pak" ucap Edrick


Di rumahku, aku mendengar percakapan Bryan bersama Edrick dan bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang mereka maksud.


Tiba di tempat itu, aku langsung menyiapkan banyaknya gas tidur. Gas tidur itu bisa di atur menggunakan sebuah tombol yang aku buat sebelumnya.


Greysie masih berada dalam mobilnya, ia akan pulang ke rumahku. Greysie lalu mencari namaku layar di telpon miliknya untuk menelpon.


Halo, Ra.


Iya, kenapa? (memeriksa kembali alat-alat yang aku bawa sebelumnya).


Kamu lagi di rumah kamu kan? (berbelok di persimpangan jalan).


Gak, aku pergi untuk ngurus semua persiapan buat ntar malem (mengatur gas).


"Kok gak ngajak?" tanya Greysie.


"Kata kamu tadi perlu ngurus something. Jadi aku pikir kamu pasti lagi sibuk" jawabku.


"Aku udah selesai. Sharelock tempatnya" ujar Greysie.


"Yaudah, aku sharelock" ucapku, sambil mengirim lokasi pada Greysie.


"Aku kesana" kata Greysie, sambil mematikan panggilan telpon.


Beberapa jam kemudian. Greysie baru sampai di tempatku berada, yakni sebuah bangunan tua.


"Inih, kamu semprot ke Papa kamu sama anak-anak buahnya nanti" ujarku, memberikan sebuah benda yang di dalamnya berisi gas tidur.


"Udah mau jelasin syartnya, Ra?" tanya Greysie, mengambil benda itu.


"Bentar pas udah mau lakuin rencananya" jawabku.


Mendengarku membuat Greysie menghela napas secara pelan dengan mimik berpikir.


"Apasih sebenarnya syaratnya" batin Greysie.


#


Malamnya. Aku dan Greysie telah lama menunggu kedatangan para tamu-tamu kami di bangunan tua ini.


Beberapa saat kemudian, Bryan datang ke bangunan untuk menunggu Ayah Greysie. Ia lalu duduk seperti seorang bos di sebuah kursi.


Sedangkan anak-anak buahnya terlihat seperti pengawal yang tak akan bisa terkalahkan alias terlihat sangat kuat.


Aku dan Greysie sedang berada di lantai atas sambil melihat mereka yang berada di bawah.


"Gimana?" tanya Bryan.


"Mereka dalam perjalanan ke sini, Pak" jawab Edrick.


"Bagus. Gua bakal kasih pelajaran ke dia karena kesalahan anaknya, hahahahaha" ujar Bryan, berkata sendiri.


"Pd sekali" gumamku. Greysie menoleh ke arahku.


"Papa kamu gak marah, Grey? Hari ini kita gak pergi ke sekolah" tanyaku.


"Gak, dia kan sibuk karena ini" jawab Greysie.


Mendengarnya, aku pun tersenyum sambil memencet tombol. Kemudian, tanganku yang tadinya masih bersilang menjadi posisi siap, sedangkan kakiku melangkah untuk berjalan.


Sementara itu, di bawah sana. Mereka mulai batuk-batuk karena menghirup asap. Tak berselang lama mereka semua pun pingsan.


Sedangkan aku dan Greysie segera turun ke lantai bawah untuk memeriksa mereka. Setelah sampai, kakiku mengecek wajah dan lengan salah satu anak buah Bryan.


"Hm, mereka sangat tidak berguna. Terlalu mudah untuk di buat jadi seperti ini" gumamku, melihat semua tubuh manusia di sekelilingku.


"Kita iket mereka" perintahku pada Greysie, ia mengangguk.


Setelah mengikat Bryan bersama anak-anak buahnya. Kami lalu memindahkan mereka ke ruangan yang berbeda.


Satu jam kemudian, Ayah Greysie baru sampai di depan bangunan tua. Aku telah bersiap-siap untuk mematikan lampu dan menutup pintu. Sementara itu, Greysie juga masih menunggu mereka di balik tembok.


Di saat mereka masuk, lampu mati dan pintu tiba-tiba saja pintu tertutup. Kemudian, aku segera mengunci pintunya.


Mereka terlihat waspada, lalu suara langkah kaki terdengar perlahan menghampiri mereka. Itu adalah suara langkah kaki Greysie.


Ayah Greysie langsung mengambil senter dari tangan anak buahnya, ia mengarahkan lampu senter itu ke dalam ruangan mengikuti suara langkah kaki.


Ayah Greysie melihat kaki Greysie saat mengarahkan senter itu, ia melihat kaki yang memakai sepatu berwarna hitam.


Lalu, Ayah Greysie segera memindahkan sorotan senter ke wajah Greysie, sementara itu Greysie langsung tersenyum dengan wajah iblisnya.


Mata Ayah Greysie membulat ketika melihatnya. Ia sangat terkejut dan ingin menghampirinya, tetapi sebelum Ayahnya bisa menghampiri, Greysie malah menghilang, lalu menyemprotkan gas tidur yang membuat mereka batuk-batuk, merasa pusing hingga tertidur.


Setelah itu, aku langsung menghampiri Ayah Greysie untuk menyeretnya.


"Biar aku yang bawa Papa kamu" ujarku. Greysie menganguk.


Kami menerangi ruangan dengan lampu senter. Sementara itu, Ayah Greysie mendengar percakapan kami dengan samar-samar.


Kamu ok kan? (tanyaku).


Iya, aku ok. Kamu gak perlu khawatirin aku (jawab Greysie).


Yaudah. Aku bawa Papa kamu ke ruangan sebelah. Kamu urus semua anak buah Papa kamu aja. Oh, ya Grey... (ujarku).


Ya? (tanya Greysie).


Setelah ini. Kita acting pura-pura polos kek biasanya di depan semua orang. Bahkan meskipun saat hanya kita berdua aja di dalam satu ruangan. Supaya sikap kita nanti terlihat nyata/real di mata orang-orang (ujarku).


Hmm, kedengarannya seru (ucap Greysie).


Sementara itu, Ayah Greysie masih setengah sadar itu berusaha untuk mengambil pisau miliknya untuk melukaiku.


Di saat Ayah Greysie ingin menusuk perutku, aku langsung menangkap tangannya, sehingga membuat tangannya terhenti sebelum pisau dapat menusuk perutku.


"Dia dari tadi masih sadar? Fuckk!" batinku.


"Ra... Aku..." panggil Greysie.


Mendengar Greysie memanggil, membuat fokusku menghilang dan teralihkan padanya.


Sementara itu, Ayah Greysie langsung mengambil kesempatan tersebut untuk menusuk perutku.


Tusukan.


Tusukan mengenai perutku di sebelah kiri. Hal itu membuat aku langsung beralih pandang untuk melihat Ayah Greysie, sedangkan tanganku refleks menahan tangannya agar ia tak bisa menancapkan pisau itu lebih dalam.


"Argh, emff" merintih sakit sambil mencoba untuk menahan tangannya.


Namun Ayah Greysie makin berusaha keras untuk menusuk perutku dengan sisa-sisa tenaganya.


Hal itu membuat aku terduduk seperti posisi orang yang tengah berada di aba-aba pertama lomba lari, namun sambil memegang perut.


Darah terus mengalir deras pada bagian yang terkena tusukan. Sedangkan seluruh anggota tubuhku mulai terasa lemas.


"Aku... Emm, gak jadi deh" ucap Greysie.


Tak ada jawaban dariku. Sementara itu, aku berusaha keras untuk tak mengeluarkan suara rintihan sakit.


"Raa" panggil Greysie lagi.


"Ra, you okay?" tanya Greysie, mengarahkan senter padaku.


Kemudian, aku langsung berdiri sambil membelakanginya.


"Kalau Grey lihat ini, dia bisa bunuh ayahnya sendiri detik ini juga" batinku.


"Aku gak pp Grey" jawabku.


"Hm, beneran?" tanya Greysie, memastikan.


"Iya" jawabku, pelan.


"Hmm, ok" ucap Greysie, sambil menarik kembali anak buah ayahnya.


Kemudian, aku langsung berjalan menghampiri Greysie dari belakangnya.


"Grey" ucapku, memegang pundaknya dengan tangan kanan.


"Syaratnya. Syaratnya... Kamu gak boleh bunuh papa kamu sendiri" ujarku.


"What?!" ucap Greysie, terkejut sedikit berteriak.


"Iya, itu syaratnya makannya aku kasih taunya nanti sekarang. Kalau aku bilang sebelum ini, kamu pasti gak bakalan setuju" jelasku.


"Raaa" rengek Greysie.


"Grey... Plis dengerin Cara ngomong dulu" pintaku.


"Aku gak mau kamu jadi pembunuh Papa kamu sendiri Grey. Kamu harus kasih kesempatan sama Papa kamu buat perbaikin kesalahannya. Kasian Mama kamu juga Grey" ujarku.


"Tapi, Raaa" ujar Greysie, masih merengek.


"Papa kamu gak akan mukulin kamu atau mama kamu lagi kalau kamu patahin kaki dan tangannya. Aku izinin kamu buat ngelakuin hal itu kerena Papa kamu juga selama ini udah terlalu jahat sama kamu, dia harus dapet hukuman juga. Tapi bukan hukuman mati Grey, hm? Hukuman itu bisa buat Papa kamu nyesel dengan sikapnya selama ini, Papa kamu pantes dapet hukuman seperti itu" jelasku.


Sementara itu, Ayah Greysie masih mendengar percakapan kami. Matanya sesekali terpejam sampai ia pingsan.


"Grey jangan bunuh ya, bisa?" tanyaku, memohon.


"Grey... Pliss, lakuin ini demi aku? Aku mohon sama Grey, Grey bisa lakuin itu kan?" tanyaku.


Greysie hanya diam dan tak mau menjawabku. Sementara itu, aku semakin meremas perutku karena sakit, kepalaku juga semakin pusing saja.


"Grey?" panggilku, gemetar.


"Grey, pliss lakuin ini demi Cara ya?" pintaku, memohon.


"G-Greyyhmff" ucapku, gemetar menahan sakit.


"Arggh," merintih kecil sambil menunduk.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Greysie.


Greysie mengarahkan senternya padaku sedang tangannya refleks bergerak ke arah perutku. Namun, sebelum ia memegang perutku, aku langsung mendorongnya menjauh dariku.


Aku masih menunduk sehingga Greysie tak melihat pisau yang menancap di perutku.


"Grey, pliss janji ke aku" pintaku dengan suara gemetar.


Greysie kemudian mendekatiku lagi, ia ingin memeluk. Namun aku menghentikannya.


"Iya, aku janji Ra. Aku janji sama kamu. Kamu gak pp kan? Apa kamu sakit?" tanya Greysie, cemas.


"Grey beneran janji?" tanyaku, lagi.


Greysie lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking kananku.


"Iya, Grey janji sama Cara" ucap Greysie, ingin memeluk.


Aku menahannnya agar tak memelukku, kemudian aku berbalik badan.


"Grey, Aku sakit. Kamu bisa lakuin itu sendiri kan? Aku pegen istrahat. Kamu udah janji sama aku, aku bisa percaya janji itu kan?" tanyaku, dengan suara pelan.


"Kamu sakit? Yaudah aku anterin" ujar Grsysie.


"Gak perlu Grey, aku bisa sendiri" ucapku, masih membelakanginya.


"Ra, kamu lebih penting bagi aku di banding semuanya" ungkap Greysie, mengeraskan suaranya.


"Haku tauuh" jawabku, lirih.


"Tapi, aku gak pp. Aku cuman perlu istrahat sedikit aja. Aku pergi Grey, jangan kecewain aku dengan ngelanggar janji kamu" ujarku, melangkah pergi dari sana.


"Raaa...! Raa...! Tunggu dulu, Ra. Raa...!" panggil Greysie, mengejar.


"Grey pliss... Rencananya udah separuh jalan, gak mungkin di batalin. Susah buat dapetin momen pas seperti ini kedepannya. Aku pergi" ujarku, lalu pamit pergi.


Greysie melihatku pergi dengan wajah cemasnya. Ia juga merasa bingung dengan sikapku.


Kemudian, setelah aku pergi Greysie langsung mengikat semua anak buah ayahnya ke ruangan yang berbeda dengan ruangan Bryan.


Setelah selesai, Greysie lalu menyeret Ayahnya dan mengikatnya ke sebuah kursi. Kemudian Greysie menyalakan lampu yang sudah remang di dalam ruangan sambil menunggu Ayahnya sadar.


Beberapa saat kemudian, Ayahnya sadar dari pingsannya. Sementara Greysie berjalan menghampiri Ayahnya dari arah belakang sambil menyayat dinding dengan pisau miliknya.


Greysie lalu memutari pisau ke leher Ayahnya membuat ayahnya sangat ketakutan, keringat dingin membasahi wajahnya, ia gemetar melihat pisau mengelilingi lehernya.


Greysie menggunakan jubah hitam, masker hitam, sepatu hitam, kaus tangan hitam dan juga topi berlapiskan tudung di kepalanya.


"How is it? You know my voice?" bisik Greysie.

__ADS_1


"Look!" ucap Greysie, menatap mata Ayahnya dengan sangat tajam.


Bersambung...


__ADS_2