Ilusi

Ilusi
BAB 30 (Part 2)


__ADS_3

Setelah selesai membunuh Kesya, Greysie segera pergi dari sana dan jejaknya pun menghilang dari rekaman cctv jalanan.


Greysie hanya terekam di cctv rumah sakit, dan di rekaman itu wajah Greysie tak terlihat. Itu karena Greysie memakai jubah dengan tudung yang dapat menutupi semua area wajahnya.


Greysie juga menggunakan masker, ia membuka masker hanya pada saat ia bertatap muka untuk membunuh korbannya.


Cctv merekam Greysie yang tengah berjalan masuk ke dalam ruangan Kesya.


Beberapa saat kemudian, Ayah dan Ibu Kesya pergi ke kamar Kesya, setelah mereka berbicara dengan seorang dokter sebelumnya.


Ibu Kesya perlahan membuka pintu kamar, sementara di belakang sana, Ayah Kesya sedang menelpon dengan pengacara pribadinya.


"Tuntut anak itu karena telah memukuli anak saya" perintah Ayah Kesya.


"Mohon maaf pak. Anak itu masih usia remaja, kita tidak bisa melakukan hal itu. Ada undang-undang yang mengatur anak remaja seperti mereka" jelas Pengacara.


"Saya tidak mau tau, pokoknya dia harus masuk penjara. Jangan sampai keluar" ujar Ayah Kesya.


"Saya akan usahakan pak. Tapi polisi yang menangani kasus anak bapak adalah Rasya Fernandes, dia adalah anak dari Jendral TNI Graham Friedman. Dan ibunya adalah atasan di kantor polisi itu. Mereka juga adalah orang-orang yang tidak bisa di suap pak" jelas Pengacara.


"Pokoknya saya mau kamu itu..," suaranya mengecil.


Sementara itu, ibu Kesya telah membuka pintu kamar rumah sakit. Ruangan itu terlihat gelap, kemudian ibu Kesya segera menyalakan saklar.


Mata ibu Kesya membulat karena melihat hal mengerikan yang telah menimpa anaknya.


Aaaaahh......! Kesyaaa.....! Mas.....!


Ibu Kesya langsung berteriak, dan terduduk di lantai. Sementara Ayah Kesya yang mendengar teriakan istrinya segera menutup telpon dan berlari ke kamar.


Mata Ayah Kesya membulat, ia bingung harus menghampiri istiri atau anaknya.


Kemudian, Ayah Kesya memilih untuk membantu istrinya berdiri dan berjalan menghampiri anak mereka, Kesya.


"Kesya, ss- sayang. Nak, gak, gak mungkin" ucap Ayah Kesya, gemetar.


Bruukk......!


Ibu Kesya jatuh pingsan. Ayah Kesya yang panik segera memanggil dokter, ia juga mengambil handpone dari kantung celananya dan segera menelpon polisi.


Beberapa saat kemudian. Polisi tiba.


Polisi segera melakukan penyelidikan dan memasang pembatas polisi karena telah banyak orang-orang yang berkerumun.


"Apa anak itu yang telah membunuh anak saya?!" tanya Ayah Kesya, memegang kerah baju Rasya.


"Pak, dia tidak ada hubungannya dengan ini. Dia sedang berada di penjara sekarang, bagaimana bisa dia bisa membunuh anak bapak. Ini pasti ulah pembunuh berntai" jelas Rasya, berusaha menenangkan Ayah Kesya.


Tak lama kemudian, Pacar beserta teman-teman Kesya datang. Mereka menangis terseduh-seduh sambil saling berpelukan.


Sementara itu, Greysie sedang menyimpan jari tangan Kesya bersama anggota tubuh Simon Hiller sebelumnya, di sebuah tempat rahasia miliknya.


"Hm, gua rasa yang ada di lubang itu udah cukup. Dan ini.. Gua harus simpen di rumah keluarga mereka" gumam Greysie.


Sementara itu, di kantor polisi. Terlihat berita yang memberitakan tentang Kesya.


"Sialllll. Gua udah bilang jangan lakuin itu sendiri, siall. Kalau gini gua harus pura-pura nyesel supaya cepet di bebasinnya. Tu anak kalau gak ada gua pasti selalu gini" batinku.


Besoknya. Rasya bersama rekannya Agus telah melakukan penyelidikan di rumah sakit. Mereka memeriksa semua cctv, memintai keterangan dan terus melihat luka di tubuh Kesya.


Rasya meminta Agus untuk memintai keterangan dari teman-teman, sekolah, kedua orang tua bahkan semua orang yang pernah terlibat dengan Kesya.


Rasya juga sudah menaruh curiga pada Greysie, namun tidak padaku. Alasannya karena aku berada di kantor polisi saat pembunuhan.


********


Beberapa saat kemudian, setelah selesai melakukan penyelidikan. Rasya tiba di kantor polisi, ia ingin mengunjungiku. Namun, ia melihatku aku terus saja menangis.


"Maafin aku. Ini salah aku, aku beneran minta maaf. Huhuuuu" ujarku, menangis terseduh-seduh.


"Ini bukan salah kamu. Ini salah pembunuh berantai, mereka yang salah. Aku bakalan nangkep keluarga mereka" ujar Rasya, berusaha menenangkan aku.


"Aku beneran nyesel. Aku minta maaf, ini semua karena aku. Huhuuu"


"Ini bukan salah kamu. Kamu tenang, gak usah nangis lagi. Hari ini kamu udah di bolehin pulang" jelas Rasya.


Mendengar Rasya, membuat bibirku pelan tersenyum. Namun aku masih saja menunduk sambil memegang kepala dan menarik rambut.


"Huhuuuu. Maafin aku"


Beberapa saat kemudian. Greysia datang untuk di mintai keterangan dari polisi. Kami berdua berada di ruang introgasi yang sama.


"Grey, lo...!! Berani-beraninya elo" batinku, aku menatap tajam padanya.


"Sorry, Ra. Kebablasan" batin Greysie, ia menatapku.


"Hey," menjentik jari," kalian jangan diam saja" tegur Rasya.


"Emang lo mau nanya apaan? Kemarin kan gua udah jawab semua" ujarku, ketus.


"Loh, balik lagi sifat pemarahnya" batin Rasya.


"Waahh, kurang ajar ni anak. Kita ini bukan anak seumuran kalian. Manggilnya yang sopan" protes Antony.


"Kemarin temen lo yang bilang ke kita supaya pakai bahasa santai aja karena umur kita gak jauh beda. Jangan salahin gualah" ujarku, tersenyum ejek.


"Hnhn," Greysie menahan tawa.


"Wah, kurang ajar" keluh Antony, berdiri. Namun, Rasya segera menghentikannya.


"Pak ton, sabar pak sabar. Memang saya yang nyuruh mereka untuk bicara santai kemarin" jelas Rasya.


Rasya menyuruh Antony duduk, sedangkan ia juga langsung duduk dan bertanya pada Greysie.


Rasya bertanya tentang kejadian sebelumnya, di mana Greysie melihat darah dan banyangan dari seseorang. Semua pembicaraan nampak serius, bahkah sedih karena aku membahas masalah Greysie dan kedua orang tuanya (Bab II Part 1).


Setelah selesai di mintai keterangan. Kami berdua di bebaskan karena terbukti tidak bersalah.


Kami ingin segera pergi, dan Rasya juga mengantar kami sampai ke mobil.


Di depan kantor polisi, Andrian bersama kedua orang tua dan teman-teman Kesya yang baru saja sampai, melihat kami yang juga baru keluar saja dari kantor polisi.


"Heyy, kenapa dia di bebasin?!" tanya Andrian, berteriak, lalu menghampiri kami.


Mereka semua pun keluar dari mobil mereka dan menghampiri kami.


"Dia telah menyesali perbuatannya. Maka dari itu saya membebaskan" jelas Rasya.


"Tapi dia udah bunuh pacar saya. Dia harus di penjara!" ujar Andrian, membentak.


"Mohon maaf. Cara Callista tidak membunuh siapa-siapa. Mengapa menuduhnya?" ujar Rasya.

__ADS_1


"Dia yang udah bunuh anak saya?!" tanya Ibu Kesya, emosi.


Kemudian ibu Kesya mendekatiku, sedang tangan kanannya bersiap untuk menampar.


Dug.


Sebelum Ibu Kesya menamparku, Greysie terlebih dahulu menahan tangan Ibu Kesya dan menatap dingin padanya.


"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menahan tangan saya. Lepas! Atau saya akan kasih pelajaran juga sama kamu?!" ujar Ibu Kesya, emosi.


Suasana menjadi semakin menegangkan, mereka semua ingin memukulku dan aku hanya tersenyum menikmati drama yang sedang terjadi.


"Loo! Anj*ing!" teriak Andrian, ingin memukul.


Namun Rasya segera menahan tangan Andrian sambil menatap tajam.


"Ini adalah kantor polisi. Kalian berani melakukan kekerasan di sini? Jangan sampai Anda yang saya masukan ke dalam penjara" ujar Rasya, lalu berbisik pada Andrian.


Polisi lain datang karena melihat keributan. Mereka segera menahan Andrian, teman-temanya dan juga kedua orang tua Kesya.


Sementara itu, Greysie segera menarik tanganku dan mengajakku pergi dari sana.


"Ra, ayo kita pergi" ajak Greysie, menarik tanganku.


Greysie segera menancap gas mobilnya, ia membawa mobil itu selaju mungkin.


"Grey, Grey!" panggilku, mengeraskan suara.


"Apasih, Ra!" bentak Greysie.


"Berhenti dulu. Tenangin diri kamu itu. Kamu mau kita berdua mati sia-sia?" ujarku.


Greysie kemudian menghentikan mobilnya, ia lalu menarik hembuskan napas berat sambil kepalanya bersender di setiran mobil.


"Sebaiknya gua jangan nanya sekarang. Suasana hati Grey lagi gak bagus. Ntar gua yang kena" batinku.


"Kita ke hotel. Rumah aku masih di periksa polisi" ucap Greysie, segera menancap gas mobilnya.


Aku menghela napas pelan, lalu kembali menyender sambil menatap jalan lurus kedepan.


********


Tiba di hotel Pavillion. Greysie segera memarkirkan mobilnya dan kami pun mencari ruangan yang telah di pesan sebelumya.


Lantai 23. No 37 adalah letak kamar hotel kami. Setelah sampai di depan pintu kamar, kami masuk dan langsung mengistrahatkan diri di tempat tidur.


Tak lama setelah itu, Greysie beridiri. Aku melihatnya, ia berjalan ke luar kamar.


Ting nung, ting nung....!


Di luar, sudah ada pengantar makanan. Ternyata Greysie sudah memesan goofud untuk kami.


Greysie kembali dengan membawa makanan yang telah di pesannya.


"Kamu pesan makanan?" tanyaku, duduk. Ingin berdiri.


"Hm, gak usah ke sini. Biar aku siapain" ujar Greysie, berjalan ke dapur.


Di dapur, Greysie menaruh obat tidur ke dalam minumanku.


"Maafin aku, Ra. Kamu harus terus tidur sampai malam ini. Aku harus lakuin sesuatu, kalau kamu bangun kamu pasti gak bakalan biarin aku. Cuman ini satu-satunya cara. Ini adalah rencana terbaik aku, setelah rencana ini sukses, aku yakin kita gak akan di curigai polisi lagi. And... soal untuk membunuh mereka, serahin aja sama aku. Aku bakal cari cara buat masuk penjara" batin Greysie.


"Ra, kita makan dulu" panggil Greysie.


Aku segera berdiri, dan menghampiri Greysie. Entah mengapa aku merasa sepertinya ada yang aneh dari tatapannya.


"Grey, kamu marah? Atau sakit?" tanyaku, duduk di kursi.


"Hm, marah iya. Sakit enggak" jawab Greysie.


"Marah karena mereka tadi?" tanyaku.


"Semuanya" jawab Greysie, singkat.


Greysie telah menyantap makanannya sambil berbicara padaku.


"Makan, Ra" ujar Greysie.


"Sebaiknya aku biarin Grey nenangin diri dulu. Aku gak mau nanti dia malah lost control" batinku.


"Aku gak laper" ujarku.


"Gak laper gimana? Kan baru keluar dari penjara. Pasti kamu belum makan" ujar Greysie, kekeh.


"Grey. Janji ya jangan lakuin semuanya sendiri lagi, hm?" pintaku.


"Iya, kamu makan dulu ini" ucap Greysie, memberikan makanan.


"Bilang janji" pintaku.


"Iya, aku janji. Udah kan? Ini makan, nanti kamu sakit" ujar Greysie.


Aku pun memakan makanan tersebut dengan lahap karena aku memang sedang lapar, tadinya aku hanya berbohong.


Setelah selesai makan dan minum, aku mulai menguap dan merasa kantuk.


"Huaaaa. Grey aku ngantuk banget, apa karena gak nyenyak tidur di penjara" ujarku, bertanya.


"Hm, mungkin. Udah tidur aja sana" ucap Greysie.


Rasa kantukku tak tertahankan, sehingga membuat kepalaku hampir saja membentur meja jika Greysie tak segera menghalangi dengan tangannya, ia lalu mengangkatku sampai ke tempat tidur.


"Malam ini. Gua harus ke rumah mereka," menatapku, "si polisi itu ternyata kakak dari Angeline. Maaf kalau gua harus manfaatin elo, maaf juga karena adik lo mati gara-gara gua. Tapi.. Gua lakuin semua ini demi sahabat gua, gua gak bisa biarin satu orang pun tau tentang rahasia kita berdua. Gak boleh ada seorangpun yang mengancam kegagalan rancana Cara atau mereka akan mati di tangan gua" batin Greysie.


Greysie kemudian, menyiapkan semuanya. Ia menyiapkan rencana tentang bagaimana caranya menyelinap masuk, juga melarikan diri dari nanti dari rumah keluarga Milstone.


Beberapa jam kemudian, waktu sudah menunjukan pukul 01:50 tengah malam.


Greysie berada di sekitaran rumah keluarga Milstone. Sebelunya Greysie sudah tau letak titik buta dari cctv, sehingga memudahkan Greysie untuk masuk dan menyelinap tanpa harus membuat keributan dengan cara mematikan cctv.


Hanya saja, Greysie harus tetap mematikan seluaruh aliran listrik di rumah keluarga Milstone, agar membuat Greysie lebih mudah masuk ke dalam secara diam-diam dan membuat pingsan satu persatu anak buah keluarga Milstone.


Sesampainya di ruang bawah tanah. Greysie segera menaruh anggota tubuh korban sebelumnya di ruangan bawah tanah tersebut dengan letak yang berbeda-beda.


Ruangan bawah tanah itu tak terlalu gelap, ada beberapa lampu yang menyala karena listiknya tak terhubung dengan aliran di inti rumah keluarga Milstone.


Setelah selesai menaruh semuanya, Greysie bergegas pergi. Namun tiba-tiba saja Ayah Cassie memukul kepala Greysie.


Hal itu membuat Greysie sempat terjatuh, sehingga dengan ceketan Ayah Cassie menindih tubuh Greysie sementara pisau di tangannya hampir saja menusuk leher Greysie.


Greysie berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangan Ayah Cassie. Lama mereka berada dalam posisi yang sama, kemudian Greysie berhasil menendang ayah Cassie.

__ADS_1


Hal tersebut membuat mereka terlibat dalam perkelahian yang cukup lama karena sama-sama kuat, dan menguasai ilmu bela diri.


Untung saja kekuatan Greysie seimbang melawan ayah Cassie. Akan tetapi Greysie tak menyadari keberadaan ibu Cassie karena terlalu fokus melawan ayah Cassie.


Ibu Cassie langsung menyemprot mata Greysie di saat dia lengah, hal itu membuat mata Greysie perih, dan ia terpaksa harus menutup dan mengucek-ucek matanya.


"Aagh, fffu..." ucap Greysie, tak selesai.


"Fuckk! Fuckk!" batin Greysie.


Greysie tak ingin suaranya tertdengar di telinga ayah dan ibu Cassie.


Kemudian Greysie tersandar di dinding sambil memegang kedua matanya dengan kedua telapak tangan yang berlapis kaus tangan hitam tersebut.


Sementara itu, ibu Cassie mengambil besi dan langsung di berikannya pada suaminya.


Tanpa basa basi, ayah Cassie yang sudah memegang besi itu akan menusuk Greysie. Sementara Greysie yang baru saja membuka matanya langsung menangkap besi itu, akan tetapi besi itu telah menusuk sampai beberapa centi meter ke dalam perut Greysie.


Greysie segera meraba sekitar sampai ia memegang sebuah tengkorak manusia dan langsung ia pukulkan ke kepala ayah Cassie.


Setelah memukul ayah Cassie, Greysie sesegera mungkin melangkah pergi dari sana.


"Tolong saya. Tolongin saya" ucap Hartono, dari dalam sebuah ruangan.


Greysie yang mendengarnya tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya terus berjalan mencari jalan keluar sambil menopang dirinya dengan dinding.


"Aaghh, sial" batin Greysie, melihat perutnya.


Tanpa sadar tudung jubah Greysie terlepas sehingga membuat wajahnya terekam di salah satu cctv di ruang bawah tanah.


Sedangkan masker yang ia kenakan juga sudah terlepas akibat perkelahian sebelumnya.


********


Beberapa saat kemudian, Greysie berjalan sempoyongan sambil memegang perutnya. Ia segera membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam mobilnya.


Setelah masuk, Greysie segera melepas semua baju pembunuh berantainya dan merobek kain untuk menghentikan perdarahannya.


Setelah selesai, Greysie segera menancap gas mobilnya sampai ke hotal Pavillion.


Tiba di depan pintu kamar, Greysie masuk dan segera mencari kotak P3k. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengobati lukanya.


"Sial, gue harus laporin sekarang kalau gak buktinya bakalan mereka hilangin" gumam Greysie, gemetar.


Greysie lalu mengirim chat pada Rasya yang berisikan video Hartono dan semua anggota tubuh hewan maupun manusia yang terusun rapih di dalam ruangan bawah tanah keluarga Milstone.


Sebelumnya saat Greysie masuk ke dalam ruangan bawah tanah, ia telah merekam keadaan di sana, dan ia juga sempat melihat Hartono yang di sekap dengan kondisi mengerikan karena terus saja di siksa oleh keluarga Milstone.


Sementara itu, di dalam rumah Rasya. Notifikasi chat masuk dari nomor yang tak di kenal.


Ada link di dalam chat tersebut yang berisikan video dengan tulisan "Bukti kejahatan keluarga Milstone"


Rasya yang melihat hal itu langsung mengklik link tersebut karena merasa penarasan, ia yakin itu bukanlah permainan karena membahas tentang keluarga Milstone.


Video terputar setelah Rasya mengklik link tersebut, ia lalu memerintahkan Agus untuk segera melacak lokasi nomor yang mengirimkannya vedeo rekaman tersebut.


Setelah menelpon Agus, Rasya juga segera menelpon Antony untuk segera menyiapkan surat perintah penangkapan keluarga Milstone.


Rasya kini sudah berada di dalam mobilnya yang menuju rumah keluarga Milstone, namun chat kembali masuk dengan pesan yang terdapat video lubang tempat Hartono membuang tulang-tulang sebelumya, pesan itu bertuliskan "Hutan Perumahan Indah"


Di dalam hoter Pavillion, Greysie tidak sempat mengobati lukanya. Ia hanya duduk di depan laptop, dan berusaha untuk memblokir lokasi tempatnya berada, dia juga memperluas lokasi hahphonenya menjadi berbeda-beda agar bisa menipu polisi yang berusaha melacaknya.


Setelah selesai, mata Greysie langsung terpejam. Ia pingsan semalaman. Dan aku tidak mengetahui apa-apun, malah terus saja tidur.


Sementara itu, di rumah keluarga Milstone. Ayah dan Ibu Cassie nampak sangat marah, mereka lalu melampiaskan perasaan marah itu pada Hartono pekerja mereka sampai Hartono mati di tempat.


Namun, tak lama setelah itu polisi datang dan langsung menggerbek rumah mereka. Polisi juga segera menangkap semua anak buah keluarga Milstone.


Kemudian, Rasya masuk ke dalam ruang bawah tanah bersama rekan polisi lain dan langsung menangkap Ayah dan Ibu Cassie.


"Berhenti! Jangan bergerak dan angkat tangan kalian" ujar Rasya, menodorkan pistol.


Ayah dan Ibu Cassie sontak mengangkat kedua tangan mereka ke samping telinga.


Rasya lalu mengambil borgol dan menghampiri mereka berdua.


"Kalian di tahan atas kasus pembunuhan berantai" ujar Rasya, memborgol.


********


Besoknya, Greysie terbangun dengan wajah pucat. Ia kembali masuk ke kamar mandi, namun berhenti sebentar di depan televisi untuk memutar tv dan mendengarkan berita. Hal itu karena Greysie ingin mengetahui tentang rencananya, apakah rencananya gagal atau berhasil.


Berita terputar, yang menjelaskan mengenai penangkapan Monsiour Milstone dan Rallenda Lubis sebagai pelaku pembunuhan berantai.


Sementara itu, Greysie masih berusaha untuk mengobati lukanya, namun saat ia membuka kain yang di pakainya untuk membalut lukanya semalam, darahnya kembali mengalir.


Kepalanya masih sangat pusing, rasanya ia tak mampu lagi menggerakan tangannya lagi.


Sementara aku mendengar suara berita di tv yang di mana membuatku sampai terbangun.


"Hah?" ucapku, terbangun.


Polisi menemukan bagian-bagian dari tubuh korban yang di jadikan pajangan oleh pelaku M.S dan R.L pasangan suami istri....


Saat sedang fokus mendengar penjelasan berita di tv, tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar mandi.


Brakk......!


"Grey? ucapku, melihat arah kamar mandi.


Aku segera bangun dan berlari ke kamar mandi meskipun kepalaku terasa pusing.


"Grey...?!" ucapku, tekejut.


Aku melihat Greysie sudah tergeletak di lantai. Sementara darahnya terus mengalir membasahi lantai di hotel ini.


Hal itu membuatku sangat terkejut dan segera menghampirinya, perasaan cemas dan takut mulai menyeliputiku.


"Gr- rey, Grey... Hey bb- angun, bang-unn Grey... oh may.. What the fuckk are you doing?" ucapku, gemetar.


"Grey," menekan lukanya, "sadar Grey, Grey, Grey sadar, huhuuu" ujarku, menangis.


Aku segera mencari telponku dan menghubungi rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, ambulance datang dan langsung membawa kami ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani Greysie. Aku terus saja menangis terseduh-seduh, takut kalau hal yang ada di pikiranku akan benar terjadi.


"Grey, kamu kenapa? Kamu kenapa bisa kek gini? Siapa yang udah lakuin ini? Huhuuu" ujarku, menangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2